HEART

HEART
23



"Apakah itu kau..."


Langkah demi langkah terasa berat. Jarak yang begitu dekat tampak seperti jalan panjang yang tiada akhir.


Kakinya gemetar, sosok itu terlihat lebih nyata, bukan sosok yang dikira sebagai Psyche. Telinganya berdengung, mendadak kepalanya pusing hingga ia hampir kehilangan keseimbangan untuk berdiri.


"Kau..."


Mengapa...wanita itu menangis?


Bukankah ini yang dia inginkan?


Lalu langkahnya terhenti. Buliran bening jatuh di bawah kakinya. Menetes lebih deras sehingga membasahi bagian depan sepatunya.


Mereka sangat dekat.


Tapi Adam masih belum sanggup untuk sekadar menyapa atau menyumpahi wanita itu seperti saat ia menyadari bahwa Psyche telah pergi dari sisinya tanpa pamit.


Masih sakit, tapi ada rasa lega yang luar biasa. Seolah ia begitu bersyukur setelah menemukan wanita itu di antara ratusan orang di kota ini.


"Kenapa kau ada di sini?"


Psyche berbisik lirih. Dengan berani menatap kedua manik kelam itu dengan kedua matanya yang basah.


Adam tiba-tiba merendahkan tubuhnya, membuat Psyche sedikit terenyak dan mundur beberapa langkah.


Pria itu berlutut, tanpa peringatan meraih sebelah kaki Psyche dan mengangkatnya.


"Apa yang kau lakukan?!"


Psyche nyaris terjungkal jika saja ia tidak berpegangan pada bahu pria itu. Sementara Adam sempat tertegun saat menemukan benda yang masih melingkar di pergelangan kaki Psyche.


Ia mengangkat kepala, membuat setetes air mata wanita itu terjatuh di pipinya.


Psyche tidak pernah benar-benar melupakannya.


Pasti ada alasan mengapa ia pergi.


Sama seperti ketika ia berada di sini, bukan tanpa suatu alasan yang pasti.


"Adam,"


Ia tidak akan berjanji untuk menjadi lebih baik, ia hanya ingin berubah untuk lebih memahami Psyche. Menciptakan kebahagiaan mereka dengan cara mereka sendiri.


Ia ingin mewujudkan itu, memilih mundur dari ego yang selalu menuntunnya. Ia sadar bahwa cinta tidak pernah cukup untuk membentuk sebuah komitmen. Butuh yang lebih dari itu.


Dan masa lalu...adalah masa lalu. Yang telah lalu cukup diambil pelajarannya saja, bukan untuk disesali seumur hidup.


Dan untuk sisa waktu hidupnya, ia ingin menikmati detik-detik itu bersama—


"...Psyche,"


Ia tersenyum, pandangannya sendu.


Adam tak perlu merangkai kata,


"Ayo kita menikah."


.


.


.


"Mandy sedang tidur?"


Miranda mengangguk pelan. Menaruh teh panas di atas meja bersama sepiring biskuit beraroma lemon.


"Hari ini Mandy masuk sekolah dasar." Jelas Miranda, mengambil tempat duduk di seberang Adam. "Dia sangat antusias, tapi sempat membuat beberapa anak menangis."


Adam tersenyum kecil. "Persis seperti ayahnya." Ia melirik sebuah pigura yang terletak di atas nakas yang tak jauh dari sofa. "Ngomong-ngomong kau tidak ada niat untuk kembali bekerja?"


Miranda menggeleng pelan. "Entahlah, setelah hamil aku tidak diperbolehkan untuk bekerja."


"Istri penurut, eh?"


Miranda buang muka, pipinya sedikit merona. "Aku melakukannya demi Mandy."


Alis Adam terangkat. "Bahkan sampai sekarang?"


Tak ada jawaban. Atau mungkin, Miranda memang belum memiliki jawaban itu. Tak mudah bagi seorang yang pernah gagal sepertinya untuk kembali percaya. Tapi setidaknya ia punya alasan untuk bertahan—Mandy—putra semata wayang yang sangat ia kasihi.


"Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama lagi." Adam melirik arlojinya. "Masih ada jadwal ke makam dan ke rumah Ibu."


"Tidak ingin menunggu Jacob?"


"Kudengar dia banyak lembur setelah menikah denganmu." Adam bangkit dari kursi sambil meraih coat yang tersampir di sofa. Kalau ada waktu ia akan mengunjungi kantor dan menemui Jacob di sana. Sekalian reuni dengan rekan-rekan kerjanya.


Miranda mendengus. "Semua Louvander memang gila kerja."


"Jangan lupa, kau juga seorang Louvander sekarang." Adam terkekeh pelan.


Miranda mengantarnya sampai pintu. Semenjak menikah, Jacob telah meninggalkan apartemennya dan memilih sebuah rumah—mini malis modern—untuk di tempati.


"Kau bahkan tidak menyentuh tehnya." Miranda melipat kedua tangan di dada. Rasa-rasanya waktu cepat berlalu dan Adam terlihat sangat dewasa.


Pria itu lebih banyak tersenyum, meski tak selebar senyuman Jacob. Aromanya juga berbeda, terasa sedikit lembut dan manis. Seperti ada aroma khas seorang wanita yang menempel di tubuhnya.


"Kau lebih mengkhawatirkan teh?" Adam menyeringai. "Suamimu tidak akan suka kalau aku berlama-lama di sini."


Miranda menghela napas pelan. "Terserahmu sajalah."


Wanita itu menatapnya, pura-pura tak mengerti.


Lalu Adam kembali tersenyum kecil, menatap ke arah langit musim semi dengan perasaan damai. "Kau sudah memiliki semua yang kau butuhkan. Kau sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk menjadi istri yang setia. Maka...berbahagialah. Jangan pikirkan apa pun, hanya cukup berbahagia."


Miranda menatap kepergian pria itu cukup lama. Perasaannya menghangat, Adam telah menjadi saudaranya, mereka telah berbagi marga. Terikat dalam sebuah hubungan yang lebih erat dari sekadar sebuah pasangan.


Tapi lebih dari itu Miranda baru menyadari, bahwa perasaannya pada pria itu telah lama menghilang.


Mungkin saja ia harus lebih banyak bersyukur karena memiliki Jacob yang begitu mencintainya dan segala kekurangannya.


.


.


.


Sophia sedang menyiram beberapa tanaman yang sudah mekar di sekitar pekarangan rumah. Ia hampir menjatuhkan selang airnya ketika menemukan seseorang berdiri tak jauh darinya.


Matanya berkaca-kaca, dengan penuh haru menatap pria itu. "Adam..."


Adam tersenyum, sedikit berlari ke arah Sophia dan memeluk tubuh yang mulai renta. Wanita itu sudah tidak muda lagi.


"Adam..."


Ibunya menangis. Meluapkan segala kerinduan.


"Aku senang Ibu baik-baik saja." Adam melepas pelukannya, menghapus air mata yang menetes di pipi ibunya.


"Kau ke sini sendiri?"


Adam mengangguk. "Ingin menengok kota kelahiranku. Menantu Ibu tidak bisa ikut karena ada urusan mendadak." Katanya sambil menuntun sang ibu memasuki rumah.


Tidak ada yang berubah. Kecuali sebuah potret yang tergantung di dinding dekat ruang tamu. Tampak bertambah satu, ada potret Ariel yang mulai tumbuh dewasa dengan mengenakan pakaian kelulusannya.


"Ariel sudah besar, ya."


Langkah Sophia terhenti. Ikut melemparkan pandangannya pada benda yang menarik perhatian Adam. "Dia tumbuh menjadi wanita yang sangat kuat dan cerdas seperti dirimu."


Tiba-tiba Adam menghela napas. Ia melirik ibunya dengan perasaan bersalah. "Maaf karena tidak bisa menemani Ibu di sini."


Sophia kembali menahan tangisnya, ia menganggukkan kepalanya berulang kali sambil mengusap punggung putra satu-satunya. "Tidak apa-apa, Adam. Sungguh tidak apa-apa."


Jika itu berarti bisa menebus segala dosa-dosanya di masa lalu, Sophia rela. Asalkan Adam berbahagia, asalkan Adam bisa bersama dengan orang yang ia cinta sampai akhir hayatnya.


.


.


.


"Kau sudah menerima paketnya?"


Psyche menatap belasan kardus yang baru diturunkan dari dalam truk sebuah jasa pengiriman. Ia pikir pria itu hanya bergurau ketika mengatakan akan mendonasikan barang-barang yang sudah tak terpakai lagi.


"Ya, terima kasih Leon. Semoga Tuhan memberikan imbalan untuk kebaikanmu."


"Santai saja, bicaramu sudah seperti seorang biarawati saja."


Di ujung telepon Leon terkekeh.


"Kapan mau berkunjung ke London? Aku merindukanmu, tahu."


Psyche tersenyum kecil. Masih terbayang wajah Leon yang lugu dan kafenya yang entah sudah sebesar apa sekarang.


"Entahlah, mungkin kau yang harus berkunjung ke sini."


"Nanti malah jadi pengganggu lagi, suamimu 'kan posesif."


Psyche terkekeh. "Dasar penakut."


Leon ikut terkekeh. Kalau sudah terpisah, bicara di telepon saja rasanya begitu berharga. Tapi kalau sudah jadi orang dewasa mau bagaimana lagi? Banyak kesibukan yang tak bisa ditunda. Apalagi mengingat Psyche yang sudah berumah tangga.


"Semoga barangnya bermanfaat, kapan-kapan kutelepon lagi, ya."


"Tentu. Sekali lagi terima kasih."


Sambungan diputus.


Psyche menengok kardus-kardus itu, sedikit mengintip benda yang ada di dalamnya. Sebagian besar yang dikirim Leon adalah baju-baju bekas dan beberapa sepatu branded-nya. Masih terlihat bagus dan layak untuk dipakai. Pria itu memang apik, sayang sekali sampai sekarang masih sendiri. Sedangkan dua wanita yang pernah ditaksirnya sudah melepas masa lajang.


"Anak-anak masih belum selesai makan siang?"


Psyche menghampiri Olla, seorang wanita paruh baya yang ia percayakan untuk menjadi kepala panti asuhan. Wanita itu adalah seorang janda beranak satu—sekarang anaknya sedang kuliah di Manchester—sedangkan suaminya sudah lama meninggal.


Olla mengangguk. "Aku mendengar suara mobil, apa suamimu sudah kembali?"


"Belum." Psyche menggeleng. "Karena kemarin menginap, jadi mungkin sekarang masih di jalan. Kalau yang tadi itu kiriman paket dari temanku."


Olla tersenyum, Psyche sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Kemuliaan hatinya bukan sekadar kata-kata, baru beberapa tahun pindah ke Canterbury, Psyche dan suaminya sudah berani membeli lahan di depan rumah mereka dan mendirikan sebuah panti sederhana.


Mereka menampung anak-anak yang ditelantarkan dan nyaris menjadi budak para penjahat yang tidak bertanggung jawab. Memberi mereka rumah, pendidikan, dan tentu saja kasih sayang. Hati Olla selalu tergerak saat melihat ketulusan dua pasangan muda itu, terutama Psyche.


"Hmm? Bibi pasti lelah, istirahatlah dulu, biar nanti aku dan Merry yang mengangkat barang-barangnya ke dalam."


"Tidak perlu, aku sama sekali tidak merasa lelah."


"Begitu?" Alis Psyche terangkat. "Tapi aku rasa Bibi harus istirahat." Katanya sambil mendorong wanita itu ke dalam sebuah ruangan.


Meski Olla menolak, tapi Psyche kadang masih mempertahankan sifat keras kepalanya.