HEART

HEART
4



Cinta sepihak selalu menyakitkan.


Kenyataannya seperti itu.


Saat melihat Leon, Psyche selalu berpikir bahwa ini mungkin karma baginya karena pernah menolak pria itu beberapa tahun lalu.


Perasaannya pada Leon tidak pernah lebih dari kepedulian sebagai seorang sahabat. Tapi ia mengerti sekarang, meskipun Leon sering berkata bahwa pria itu bahagia ketika melihatnya bahagia, itu adalah caranya menyembunyikan luka.


Tidak ada yang benar-benar bahagia selain menerima balasan cinta dari orang yang kita cintai.


Mengapa Leon yang baik hati tidak sanggup membuatnya berpaling lebih lama, sementara Adam yang dibencinya malah sanggup membuat Psyche merasa sepatah ini?


“Aku melihatnya,” Leon menenggak sekaleng soda berperisa lemon sambil menatap langit. Bayangan Psyche bersama si Louvander itu membekas dalam ingatannya. “Bukan hanya denganmu saja. Sebelumnya, dengan wanita yang berbeda.”


Hening menyelimuti mereka berdua. Pscyhe memeluk kedua lututnya dan menghela napas.


“Mengapa...” Leon menahan kata-katanya dan melirik wanita itu sebelum Psyche sempat menjawab. “...harus dia?”


Mengapa harus dia?


Psyche pun mempertanyakan hal yang sama.


Cinta pertamanya...mengapa harus pada Adam...


“Psyche?”


Kali ini Psyche mendongak. Membalas tatapan Leon dan mendapati kepedihan di balik kedua manik itu.


Bukan untuk perasaannya yang tak terbalas, melainkan untuk Psyche.


“Entahlah...” Psyche tertawa pahit. Meski banyak kata yang ingin ia sampaikan, rasanya semua itu tertelan dalam dada.


Perasaannya pada Adam membuat ia seperti seorang psikopat. Dalam kesakitan itu ia tetap bertahan dan seolah dungu oleh alasan klasik bernama cinta.


Tapi semua itu tidak benar. Perasaan cintanya lebih tulus dari apa pun.


Belum habis semua kekesalannya, Psyche harus kembali di hadapkan dengan pemandangan di mana Adam bercengkerama bersama seorang wanita menuju sebuah lift.


Ia ingat rambut merah muda itu.


Miranda—sekretaris cantik bertubuh langsing yang konon katanya berstatus janda.


Psyche berusaha untuk mengalihkan perhatiannya ketika mereka saling tertawa saat memasuki lift. Tubuh mereka berdekatan tanpa canggung.


Namun matanya seolah tak bisa diajak kompromi.


Sebelum pintu lift tertutup, ia sempat melihat bagaimana Miranda memukul pelan bagian perut Adam dengan kepalan tangannya.


Wajah wanita itu bersemu.


Psyche terlihat dalam mood yang baik saat mereka pulang dari kantor.


Pria itu bahkan bersiul saat lampu merah mencegat mereka di tengah jalanan London yang padat.


Psyche melirik pria itu beberapa kali. Ia sebenarnya penasaran tentang kedekatan pria itu dengan Miranda. Sejauh apa mereka mengenal, hingga Adam bisa seakrab itu dengan wanita yang bukan siapa-siapanya.


“Mau makan apa?”


Adam bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan. Pertanyaan yang cukup mengejutkan karena pria itu jarang membahas hal semacam ini dalam perjalanan pulang.


“Terserahmu saja.”


Adam berdecak. “Itu bukan jawaban.”


Psyche memutar bola matanya bosan. “Pizza,” jawabnya asal.


“Kalau makan pizza kita harus memutar arah, yang lain saja.”


Psyche mendelik. Ia menahan umpatannya hingga rahangnya mengeras. Namun sedetik kemudian ia mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Terserahmu, lah,” katanya tak acuh.


Adam menangkap nada kekesalan itu. “Baiklah. Tidak usah makan,” sahutnya terpancing emosi.


Psyche tak menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menyaksikan gerimis yang mulai membasahi kaca mobil. Ia merasa lelah untuk berdebat dengan pria itu. Jadi, ia memilih untuk membawa ingatannya pada masa kecilnya. Membayangkan hal-hal yang membuatnya senang.


Terlarut dalam pemikirannya, Psyche hanya bisa mendengar sayup-sayup suara Adam yang sedang bercakap dengan seseorang melalui telepon.


Lalu ketika mobil Adam melewati arah jalan menuju apartemennya, Psyche menegakkan tubuhnya dengan cepat.


“Kenapa kita—“


Protes yang hendak dilayangkannya hilang begitu saja saat ia menangkap ekspresi tak biasa dari pria itu.


Pasti sudah terjadi sesuatu, ia pastikan bukan sesuatu yang baik.


Asam menambah laju mobilnya dan berkata tanpa menoleh, nadanya datar namun terselip gemetar. “Ayahku meninggal.”


Psyche tercenung.


Untuk pertama kalinya ia merasa simpati pada pria itu.


“Aku akhirnya mengerti mengapa kau tak pernah melibatkan perasaan dalam hal apapun—itu hanya karena kau tak sanggup menahan sakitnya.”