HEART

HEART
Bertemu



Happy reading.


“Ayo. Gue izinin lo buat ketemu Aira.”


Ilham menatap laki-laki yang kini berdiri di depannya dengan tidak percaya. Ia hanya takut sedang berhalusinasi saja sampai-sampai mendengar ucapan yang keluar dari mulut Reno. Ilham kembali menundukkan kepalanya menatap kedua gundukan itu.


“Lo nggak mau ketemu istri lo?” celetuk Reno.


“Ya sudah kalau gitu.” gumam Reno dengan suara pelan namun masih dapat di dengar oleh Ilham.


“Tunggu!” seru Ilham sembari berdiri dari jongkoknya.


Reno yang hendak berbalik dan pergi dari area pemakaman mengurungkan niatnya. Laki-laki itu menunggu apa yang dikatakan oleh suami dari sepupunya itu.


“Saya mau bertemu dengan Aira.” ujar Ilham dengan suara nyaris tak terdengar.


Setelah mendengar ucapan Ilham, Reno melangkahkan kakinya menuju tempat mobilnya terparkir. Ilham melirik sekilas pada sekertarisnya-Devan.


“Tolong kamu handel dulu perusahaan. Saya ___ saya butuh istirahat.” ucap Ilham sambil meraih tubuh Irzan ke dalam dekapannya.


“Baik Pak.” sahut Devan patuh.


“Nany, saya minta tolong. Tolong siapkan acara pengajian buat Mama dan Papa nanti malam sehabis isya.” ujar Ilham kepada Nany.


“Siap Mas.” Jawab nany.


Perlahan tapi pasti Ilham beserta nany dan Devan meninggalkan kawasan pemakaman ini. Ilham menempatkan tubuh putranya di samping kursi kemudi yang sudah dilengkapi kursi khusus untuk Irzan. Sementara itu, Nany pulang diantarkan oleh Devan.


Perlahan Ilham mendudukkan pantatnya di kursi kemudi. Mobil yang ia kendarai melesat pergi meninggalkan kawasan TPU yang sudah terlihat sepi kembali.


Ekor mata Ilham melirik sekilas pada putranya yang sudah terlelap. Mungkin putranya itu kelelahan akibat menangis tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya mobil Ilham sudah sampai di dalam halaman rumah Mami Dita. Ia meraih tubuh Irzan dan menggendongnya. Ilham membuka pintu mobil dan keluar dari sana dengan tangan yang menggendong Irzan.


“Loh ada Mas Ilham toh,” celetuk Pak Man saat ia menyadari kehadiran Ilham.


Ilham meresponnya dengan senyuman simpul. Ah, rasanya ia melihat sisi Papanya di jiwa Pak Man. Ilham ingat, lelaki paruh baya itu pernah menolongnya.


“Itu putranya ya Mas?” tanya Pak Man sambil menatap Irzan yang masih terlelap.


“Iya Pak, ini putra saya.” Jawab Ilham singkat.


Reno keluar dari mobilnya setelah memarkirkannya. Laki-laki itu menatap interaksi Ilham dengan satpam rumahnya. Saat matanya bersitatap dengan mata Ilham, ia pun membuka suara.


“Ayo masuk.” ajak Reno yang sudah berjalan terlebih dulu memasuki rumah.


Ilham mengganggukkan kepalanya singkat setelah mendengar ajakan Reno. Ia menoleh kepada Pak Man sambil menerbitkan senyum tipis.


“Saya masuk ke dalam dulu ya Pak. Doakan saya, semoga Aira bisa kembali bersama saya lagi.” tutur Ilham dengan tulus.


“Pasti Mas, saya selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.” balas Pak Man.


Ilham pun melangkah kecil dan memasuki rumah mewah nan megah milik temannya-Reno. Setelah berada di dalam rumah, ia mendapatkan tatapan tidak suka dari Mami Dita.


“Kenapa kamu bawa dia kesini sih,” ketus Mami Dita menatap Ilham dan Irzan dengan tatapan tidak suka.


“Mi, Ilham baru saja mendapat musibah. Mau bagaimana pun dia, Ilham masih temanku Mi.” sambar Reno dengan cepat.


Reno menatap kedua mata Ilham, lalu dia berkata. “Ham, lo masuk aja ke kamar Aira. Ini kuncinya, Nindia tolong kamu antar Ilham ke kamar Aira.” ujar Reno sembari memerintahkan Nindia untuk mengantar Ilham.


Nindia yang berada di sana pun menganggukkan kepalanya patuh. “Mari Mas, saya antar.” ucap Nindia sambil melangkah menuju kamar Aira diikuti oleh Ilham yang sedang menggendong Irzan di belakangnya.


“Ini kamar Mbak Aira.” ucap Nindia dengan tangan menunjuk ke depan pintu kamar.


“Aira, kenapa dikunci di kamar?” tanya Ilham dengan kening berkerut.


“Anu Mas, T-tuan Reno sengaja mengurung Mbak Aira di kamar. Supaya-“


“Supaya apa?” tanya Ilham lagi.


Ilham menghela napasnya berat. Temannya itu memang selalu melindungi orang yang disayangnya dengan benar-benar.


“Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu,” ucap Nindia yang diberi anggukan kepala oleh Ilham.


Ilham menatap pintu kamar yang kini berada di hadapannya dengan tatapan sulit diartikan. Perasaannya membuncah dan rasa haru kini menyelimutinya. Sekarang, ia bebas menatap istrinya tanpa harus ketahuan oleh orang lain.


Perlahan tangan Ilham memasukkan kunci yang tadi diberikan Reno kepadanya. Tangannya memutar knop pintu dengan pelan dam hati-hati.


Ceklek


Setelah pintu terbuka, hal pertama yang ia lihat ialah Aira yang sedang membelakanginya karena fokus menonton televisi. Ia mematung untuk beberapa saat. Sudah berapa lama ia tidak melihat istrinya?


“Aku belum lapar Nin. Taruh saja makanannya di atas nakas.” ujar Aira yang menganggap orang yang memasuki kamarnya ialah Nindia.


Jantung Ilham terasa memompa dengan cepat saat telinganya leluasa mendengar suara merdu nan indah milik Aira.


“Aira..” cicit Ilham dengan nada lirih.


Sontak Aira langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar suara yang sudah tidak asing didengarnya. Beberapa saat Aira terpaku melihat keberadaan suaminya beserta putranya yang masih terlelap.


“M-mas Il-ham,” gumam Aira menatap Ilham dengan tatapan tidak percaya.


“Iya, ini Mas sayang.” tukas Ilham sambil melangkah mendekati Aira.


Ilham melirik sejenak pada tempat tidur yang berukuran besar. Lalu ia meletakkan tubuh putranya disana. Ilham kembali mendekati Aira yang masih terdiam sambil menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


“Mas, M-mas kangen sama kamu Ra,” ujar Ilham lirih.


Tanpa aba-aba Ilham langsung menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya. Ilham menaruh kepalanya pada bahu Aira dan mendekap erat istrinya.


Aira masih terdiam tidak membuka suara. Tatapannya buyar ketika mendengar isakan kecil yang keluar dari mulut Ilham. Saat Aira akan melepaskan pelukannya, dengan sigap Ilham menahannya dan kembali mendekap lebih erat lagi tubuh Aira.


“Sebentar saja Ra..” bisik Ilham tepat ditelinga Aira.


Aira merasakan bahunya basah. Ia kembali mendengar isakan tertahan dari suaminya. Dengan tangan bergetar, tangan Aira mengelus punggung tegap suaminya dengan lembut.


“Mas Ilham kenapa menangis,” gumam Aira.


“Mama Ra, hiks,” ucap Ilham disela tangisnya.


“Mama kenapa?” tanya Aira yang memang tidak mengetahui apa pun.


“Mama dan Papa sudah t-tidak ada,” dengan susah payah Ilham mengatakan kalimat itu.


Tubuh Aira menegang. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia, tidak salah dengar ‘kan? Pikirnya dalam hati.


“M-maksud Mas gimana? Tolong jelaskan pada Aira.”


Ilham menguraikan pelukannya dan menatap kedua bola mata Aira dengan tatapan sayu. Laki-laki itu menghela napasnya panjang sebelum memulai bercerita dan berkeluh kesah kepada sang istri.


“M-mama dan Papa mengalami kecelakaan tadi siang. D-dan mobilnya menabrak pembatas jalan. M-mereka meninggal di tempat Ra,” lirih Ilham dengan kepala menunduk dalam.


Jujur saja, Ilham sangat malu jika Aira melihat sisi lemahnya seperti sekarang.


Aira menatap suaminya dengan perasaan terluka. Diraihnya kembali tubuh Ilham untuk didekapnya. Tangannya terulur mengusap rambut suaminya dengan sayang.


“Aku turut berduka cita Mas,” ujar Aira dengan lirih.


“Kamu tidak sendiri Mas. Kamu masih punya aku. Kamu boleh ceritakan semua keluh kesahmu kepadaku.” ucap Aira dengan tulus.


Ilham sungguh terharu mendengar penuturan istrinya. Di lain sisi, ia sangat senang bisa kembali bertemu dan memeluk tubuh Aira. Namun, disisi lain ia merasa sedih dan kehilangan akan sosok kedua orang tuanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...⚠️awas ada typo⚠️...


Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😍