
Happy reading.
Hari ini adalah hari kelima Ilham dan Devan berada di Bali. Keduanya sangat disibukkan dengan proyek baru ini. Mereka akan kembali ke hotel setiap pukul delapan malam. Terkhusus hari ini, Ilham dan Devan memiliki waktu senggang.
“Sudah menikah, Dev?” tanya Ilham dengan tiba-tiba.
Devan menoleh pada sang atasan. “Belum Pak.” Jawabnya ringan.
“Loh, kenapa? Waktu saya lihat data kamu, umur kamu sudah memasuki usia kepala tiga ‘kan?” tanya Ilham menaikkan salah satu alisnya.
“Memangnya, belum ada calonnya?” tanya Ilham lagi.
“Tidak Pak. Hanya saja, saya belum berani untuk menyatakan perasaan saya kepadanya.” sahut Devan tersenyum simpul.
“Nyatakan dong. Jika memang dia pilihan hatimu, perjuangkan dia. Kejar dia. Kamu tidak ingin ‘kan kalau ada lelaki lain yang mendekatinya? Bahkan memilikinya.” tutur Ilham.
“Tidak, pak. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” gumam Devan yang masih terdengar oleh telinga Ilham.
Ilham tersenyum simpul melihat respon sekertarisnya. Ilham hanya ingin membantu lelaki itu agar ia bisa mendapatkan sang pujaan hatinya. Dan benar saja, usaha Ilham berhasil. Ilham melihat Devan yang sedang sibuk dengan ponselnya. Sepertinya, lelaki itu tengah menghubungi sang pujaan hati.
“Saya ke mini market dulu.” ucap Ilham yang berdiri dari duduknya.
“Baik, Pak.” balas Devan.
Ilham memasuki mobil yang disediakan untuknya dan untuk sekertarisnya jika ingin berpergian di Pulau Dewata ini. Ilham melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Ilham memutar lagu kesukaan Aira di dalam mobil tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan mini market, Ilham segera keluar dari mobil itu. Langkah kakinya memasuki mini market itu. Ilham berjalan menuju rak makanan ringan.
Beberapa snack keripik kentang ia masukan ke dalam keranjang sedang. Setelah merasa cukup, lelaki itu berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Ilham kembali ke dalam mobilnya. Saat ia akan melajukan mobilnya, matanya tak sengaja melihat seorang wanita yang ia lihat di pantai waktu itu.
Ilham menajamkan kedua matanya. Kedua alisnya bertaut menatap wanita yang sedang berjalan di pinggir jalan itu dengan lekat. Tanpa lelaki itu sadari, ia telah mengikuti wanita berbadan dua itu sampai di depan rumahnya.
Saat wanita hamil itu membalikkan tubuhnya, tubuh Ilham membeku. Pria itu beberapa kali menepuk pipinya berusaha menyadarkannya dari halusinasi yang kembali terjadi. Akan tetapi, wajah wanita itu sangat mirip sekali dengan Aira.
Dengan segera Ilham keluar dari mobilnya. Lelaki itu berjalan menuju wanita yang berada tak jauh darinya dengan langkah tergesa-gesa. Ilham memegang pergelangan tangan wanita itu.
Wanita itu yang merasakan ada yang memegang pergelangan tangannya pun menoleh ke belakang. Matanya terbelalak. Ia sangat terkejut. Jantungnya berdebar tak karuan. Bagaimana ini? Ucap wanita itu dalam hatinya yang kini tengah gelisah.
“Aira,” gumam Ilham tak percaya.
Ya, pergelangan tangan yang Ilham pegang ialah tangan milik Aira.
“Lepas!!” seru Aira mencoba melepaskan cekalan tangan Ilham.
“Nggak. Mas nggak akan pernah lepaskan kamu lagi.” bantah Ilham mencengkeram kuat tangan Aira.
“Lepas! Atau saya teriak?” ancam Aira yang tidak digubris oleh Ilham.
“Teriak aja Ra, Mas yakin nggak akan ada yang dengar.” sahut Ilham.
Aira kembali memberontak dari Ilham. Tanpa sepengetahuan Aira, tangan Ilham beralih memegang erat pinggang wanita itu. Ilham menarik Aira ke dalam dekapannya. Akan tetapi, lelaki itu merasa ada yang janggal. Ilham melirik ke bawah. Betapa terkejutnya lelaki itu saat melihat perut besar Aira.
“Ra, i-ini anak k-kita?” tanya Ilham dengan mata berkaca-kaca.
Aira tidak menjawab pertanyaan Ilham. Wanita berbadan dua itu kembali memberontak dan berteriak meminta tolong berharap akan ada yang menolongnya.
“Tolong Pak, Bu! Ada orang jahat disini!” teriak Aira dengan keras.
Beberapa warga pun datang beserta Ibu Tini selaku pemilik kontrakan yang Aira sewa. Mereka beramai-ramai mengerubungi Aira dan Ilham. Para bapak-bapak pun segera menjauhkan Aira dari jangkauan Ilham.
“Pak, dia istri saya!” protes Ilham saat Aira sudah tak berada di sekitarnya.
“Walah, bohong inimah. Sudah banyak penculikan yang terjadi di desa ini.” sahut seorang Ibu-Ibu yang memakai daster rumahan.
“Saya nggak bohong Bu! Kalau kalian tidak percaya silahkan. Saya punya kok buktinya.” Teriak Ilham menahan amarahnya.
“Saya tidak percaya!” celetuk Bapa-Bapa yang sedang memegang sapu lidi.
“Sudah Bapak-bapak, mari kita hajar saja lelaki ini.” seru salah satu warga.
“Betul Pak, lelaki seperti dia sangat berbahaya.” sahut para Ibu-Ibu.
“Ya, benar. Tampangnya saja tampan, tapi kita ‘kan tidak tahu jika di belakang, dia bisa saja berbuat hal yang tidak-tidak.” celetuk kakek-kakek.
“HAJAR SAJA DIA!!” seru para warga.
Ilham yang akan berlari pun dicekal oleh kedua Bapak-Bapak berkumis tebal.
Ilham terbatuk sampai mengeluarkan darah. Bagaimana tidak? Saat ini dirinya tengah dihajar oleh seluruh warga. Wajahnya yang tampan, kini sudah terlihat menyeramkan dengan beberapa lebam dan darah diwajahnya.
Perutnya ditendang kuat oleh para Bapak-Bapak. Tubuh Ilham sangat lemas. Tenaganya tidak sekuat pagi tadi.
“D-dia istri s-saya.” gumam Ilham yang membuat para warga yang akan menghajarnya seketika terdiam.
Tak lama kemudian, lelaki itu pun tumbang tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Neng sebenarnya ini ada apa?” tanya Ibu Tuti penasaran.
Aira masih tidak mau menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu. Wanita berbadan dua itu kini tengah menangis tersedu-sedu. Isakan tangisnya membuat Ibu Tuti menatapnya tak tega.
Naluri seorang Ibu meluap begitu saja saat dirinya melihat Aira. Ibu Tuti pun membawa Aira ke dalam dekapannya. Tak lupa tangannya mengelus-elus punggung Aira dengan lembut penuh kehati-hatian.
Saat Aira sudah dirasa tenang, Ibu Tuti melepaskan pelukannya. Wanita paruh baya itu menatap Aira yang sedang memandang ke depan dengan tatapan kosong.
“Neng,” panggil Ibu Tuti pelan.
Seakan tersadar ada yang memanggilnya, Aira menoleh ke samping. Wajah Aira terlihat sangat menyedihkan. Wajah yang sembab, hidung yang memerah, dan kedua matanya yang sedikit membengkak.
“I-iya Bu?” sahut Aira yang sejak tadi melamun.
“Kalau neng punya masalah, ceritakan pada Ibu. Jangan dipendam terus ya, neng.” tutur Ibu Tuti.
Aira menatap wanita paruh baya di depannya dengan perasaan campur aduk. Matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Ibu Tuti yang menyadari kembali perubahan Aira pun mengusap bahu wanita itu. Mencoba menenangkannya.
“Neng nggak boleh banyak pikiran. Nggak boleh stress, ingat ‘kan pesan dokter harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran?”
Aira menganggukkan kepalanya lemah.
“Sekarang mending neng istirahat dulu ya,” ujar Ibu Tuti.
“Nanti kalau ada apa-apa, neng panggil Ibu saja. Ibu akan jagain neng di ruang tamu.” ujarnya lagi.
“Terima kasih Bu,” gumam Aira yang dibalas dengan senyuman hangat Ibu Tuti.
Setelah itu pun wanita paruh baya itu keluar dari kamar Aira, tak lupa beliau menutup pintunya kembali.
Aira menghela napasnya yang terasa berat. Wanita berbadan dua itu mengusap perutnya. Sebuah tendangan dari dalam perut ia rasakan.
“Utun kangen A-ayah ya?” bisik Aira berujar lirih.
“M-maafkan B-bunda. S-saat ini, B-bunda tidak m-mau bert-temu dulu dengan A-ayahmu.”
Cairan bening kembali lolos membasahi pipi Aira. Dengan kasar, Aira menghapus air matanya yang kian turun deras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Para Bapak-Bapak melongo setelah mendengar cerita dari Ilham. Saat ini, lelaki itu sedang berada di rumah Pak RT.
“Makanya, jangan main hakim sendiri.” gerutu Ilham dengan menampilkan raut wajah kesalnya.
“Tapi ‘kan, nggak ada salahnya juga kami memukuli lelaki yang tidak setia.” cibir seorang Ibu-Ibu yang membuat Ilham melototkan matanya.
“Sudah, sudah.” ujar Pak RT menghentikan perdebatan yang akan kembali terjadi.
“Pak Ilham, sebelumnya saya sebagai RT disini, meminta maaf atas sikap warga saya yang berlaku tidak sopan. Dan, untuk masalah rumah tangga yang tadi Pak Ilham ceritakan, lebih baik segera Bapak selesaikan dengan baik-baik.” tutur Pak RT.
“Saya juga mohon maaf karena sudah membuat kegaduhan di kampung ini.” ujar Ilham.
“Semoga masalah yang dihadapi Pak Ilham segera selesai. Dan semoga Pak Ilham bisa kembali bersama dengan istrinya serta calon anaknya.” ucap Pak RT yang di aamiinkan oleh Ilham.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Semoga suka sama bab 26 😊...
...Mau bilang apa sama Ilham? ...
...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...