
Happy reading.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Aira sudah terlelap dalam tidurnya. Ilham menggeliat kecil tatkala mendengar suara tangisan putra kecilnya. Laki-laki itu mencoba bangun dan mengumpulkan kesadarannya.
Ilham beranjak dari kasur dan melangkah mendekati box bayi yang berada dekat dengan tempat tidurnya. Perlahan tangannya meraih sang putra ke dalam dekapannya. Ia menimang-nimang putranya dan menepuk-nepuk pantat mungilnya.
Namun, tangisan putranya belum juga berhenti. Ilham mendesah pelan dan melirik istrinya yang baru saja tertidur satu jam yang lalu.
“Kamu kenapa sayang? Sama Ayah dulu ya, Bundanya lagi tidur.” bujuk Ilham seraya menimang-nimang baby A.
“Oekk, oekk,” bukannya berhenti, tangisan baby A malah semakin histeris hingga membuat Aira terbangun dari tidurnya.
“Mas,” suara serak Aira membuat Ilham menoleh pada sang istri.
Ilham menghampiri istrinya dengan tangan menggendong sang putra yang masih menangis.
“Arka kayaknya haus Mas,” ujar Aira seraya membuka dua kancing bajunya.
Ilham dan Aira memberikan nama Arka Nugraha kepada putra kedua mereka. Mereka sangat berharap jika bayi mungil nan tampan ini bisa menjadi kebanggaan kedua orang tuanya kelak.
Jangan lupakan rupa wajah putra mereka yang sangat tampan. Wajah baby Arka sangat mirip sekali seperti Aira. Matanya, bibir tipisnya, serta hidungnya. Hanya rambut serta alis yang mirip dengan Ilham.
Namun, Ilham sangat senang dan bahagia memiliki Arka dihidupnya. Kehidupannya perlahan membaik setelah berbagai masalah besar maupun kecil menerpa dirinya serta keluarganya.
“Kok anak bayi sering banget haus?” tanya Ilham penasaran.
“Anak bayi memang begini Mas. Makanya setiap dua jam sekali, aku selalu beri Arka asi.” tutur Aira lembut.
“Dulu juga Irzan kayak gini ‘kan?” tanya Aira.
“Mas nggak tahu, sejak bayi Irzan diurus sama nany dan Arabella.” ucap Ilham dengan sedikit tercekat. Laki-laki itu takut membuat perasaan istrinya kembali tersakiti jika mengungkit masa lalunya.
Sementara itu Aira hanya menganggukkan kepalanya paham.
Aira pun membawa tubuh kecil sang putra ke dalam gendongannya. Salah satu tangannya mengeluarkan pa*udara dan langsung direspon baik oleh Arka. Bayi kecil itu menatap wajah Ibunya dengan tatapan lekat. Mulutnya sangat kuat menyedot sumber asi karena ia sangatlah haus.
Sementara itu, Ilham menelan salivanya kasar melihat pemandangan live di depannya. Istrinya sudah tidak malu lagi dan sudah terbiasa memberikan Asi di depannya. Ilham ikut terduduk dan memeluk pinggang istrinya dari belakang.
“Uluh, kuat banget sih nyedotnya. Tenang aja, Ayah nggak akan minta kok,” goda Ilham seraya menoel-noel pipi sang putra.
Aira tersenyum simpul mendengar ocehan suaminya itu yang ditujukan pada putra mereka. Tatapan mata Ilham memang terarah pada wajah putranya yang kini menatapnya balik. Namun, bukan itu fokusnya. Tatapannya buyar tatkala melihat benda putih yang menjadi sumber kehidupan sang putra.
Bayi mungil yang bernama Arka itu pun melepaskan mulutnya dari sumber makanannya. Dengan cepat pula tangan Aira kembali membenarkan bajunya. Namun saat ia hendak mengancingkan kembali, tangan Ilham menahannya.
“Kenapa Mas?” tanya Aira bingung sembari melirik sekilas pada suaminya.
“Jangan dikancingkan dulu. Mas, belum kebagian Ra,” ujar Ilham dengan wajah memelas.
Sontak wajah Aira memerah bak kepiting rebus mendengar ucapan frontal sang suami. Salah satu tangannya yang bebas ia gunakan untuk mencubit pinggang suaminya cukup keras.
“Aww, sakit sayang,” rengek Ilham dengan tidak tahu malu.
“Diem deh Mas, aku malu sama Arka.” ucap Aira seraya mendengus kecil.
“Ngapain malu? Tadi aja kamu santai kok waktu ngasih Arka Asi,” tutur Ilham kelewat santai.
Aira berdiri dari duduknya dan langsung menimang-nimang putranya agar putranya itu tertidur. Setelah tujuh menit lamanya, akhirnya baby Arka sudah kembali terlelap dengan mulut sedikit terbuka. Aira menympan putranya di box bayi.
Wanita itu melangkah dan merangkak menaiki kasur. Aira langsung merebahkan tubuhnya dan hendak memejamkan kedua matanya. Namun, ucapan sang suami mampu membuat wanita itu terkekeh kecil.
“Ra, bagian Mas loh sekarang,?” rengek Ilham dengan sedikit merajuk.
“Aku ngantuk Mas,” ujar Aira yang langsung memejamkan kedua matanya.
Ilham mendengus kecil melihat tingkah istrinya. Dengan perasaan sedikit kesal dan tidak rela, ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh Aira. Ilham membawa Aira ke dalam dekapannya. Ah, rasanya ia benar-benar nyaman ketika memeluk sang istri tercinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Nindia tengah berada di sebuah taman yang tak jauh dari kawasan rumah majikannya. Perempuan dengan balutan pakaian sederhana serta memakai rok itu memejamkan kedua matanya tatkala angin berhembus pada wajahnya.
Rasa rindunya kepada Ibu dan Bapak panti tidak bisa ia bendung. Nindia juga merindukan tawa serta kebisingan adik-adiknya yang berada di panti asuhan. Ah, sudah berapa lama ia tidak bertemu mereka? Mungkin ada sekitar satu bulan lebih? Pikir Nindia dalam hatinya.
“Boleh saya ikut duduk disini?”
Sebuah pertanyaan dari seseorang membuat Nindia membuka kembali kedua matanya. Perempuan itu melihat seorang laki-laki yang berdiri menjulang tinggi di depannya.
“Boleh saya duduk disini?” tanya laki-laki itu mengulangi pertanyaannya tadi.
“Ah, iya boleh.” jawab Nindia kikuk.
Sontak laki-laki itu pun mendudukkan tubuhnya di samping Nindia.
“Sendirian saja?” tanya laki-laki itu lagi.
“I-iya.” sahut Nindia dengan suara pelan.
“Perkenalkan nama saya Lintang, ini kartu nama saya.” ujar laki-laki itu yang tak lain ialah Lintang.
Masih ingat dengan Lintang? Teman laki-laki Aira semasa sekolah menengah atas.
“N-nama saya Nindia.” ujar Nindia seraya membalas uluran tangan Lintang.
Lintang menganggukkan kepalanya mengerti. Laki-laki itu beralih menatap ke depannya. Sudah satu tahun lebih ia meninggalkan Indonesia karena mengurus beberapa anak cabangnya yang ada di luar negeri.
Dan, laki-laki itu tidak tahu kabar wanita yang sudah menjadi pujaan hatinya kini seperti apa. Ia hanya berharap wanita itu selalu sehat dan kebahagiaan selalu berada di hidupnya.
“Saya pemilik toko bunga di jalan xx. Kebetulan toko saya sedang kekurangan karyawan. Jika kamu berkenan, kamu bisa menjadi pegawai saja.” ujar Lintang membuat Nindia menatap ke arahnya.
“A-ah i-iya,” Nindia bingung harus merespon dengan kata-kata seperti apa. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Tak jauh dari tempat Nindia duduk, Reno melihat interaksi antara perempuan itu dengan seorang laki-laki yang tak dikenalnya. Kedua tangannya mengepal kuat ketika melihat Nindia tertawa kecil bersama laki-laki itu.
Entah guyonan seperti apa yang diberikan Lintang sampai-sampai membuat Nindia tertawa. Reno meremas kuat botol mineral yang ia beli tadi. Jujur saja, Reno tidak suka melihat Nindia berdekatan dengan laki-laki lain.
Nindia hanya boleh berdekatan dan berinteraksi dengannya. Bukan dengan laki-laki lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊