HEART

HEART
17



"Apa yang Ibu lakukan di rumah Psyche malam-malam begini?"


Tatapan tajam Adam beralih pada dua wanita itu secara bergantian.


Sophia mengulas senyum palsunya dan melirik putranya tanpa gentar. "Ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran ibu, jadi ibu pergi mengunjungi Psyche."


"Apa yang membuat Ibu terganggu sampai malam-malam begini Ibu mengunjungi Psyche?"


Terjadi keheningan cukup lama. Suasana tegang tak bisa diabaikan, tapi seseorang harus dengan cepat mencairkan suasana.


Psyche berdeham pelan, ia harus mengirim dua Louvander ini kembali ke rumahnya dengan cepat agar ia bisa kembali ke tempat tidur dengan tenang. "Hanya kekhawatiran seorang Ibu terhadap anaknya." Katanya dengan nada datar, "Dia bilang itu aneh ketika Adam membawa seorang wanita ke hadapan Ibunya dan memperkenalkannya sebagai kekasih."


Psyche dengan berani menatap mata Adam yang jelas-jelas menaruh kecurigaan yang begitu besar. Ya. Pria itu tidak pernah mempercayai siapa pun, seperti dirinya.


"Dia hanya ingin tahu keadaanku seperti apa. Apakah aku layak...untuk putranya yang sempurna." Psyche menambahkan, dengan terpaksa.


Sophia dengan cepat menoleh ke arah Psyche. Tak percaya bahwa Psyche akan mengatakan hal itu sebagai pengalihan. Tapi ia juga tak punya opsi lain untuk beralasan.


"Benar begitu, Ibu?"


Sophia meraih lengan putranya dan tersenyum lembut. "Ibu hanya khawatir padamu, kau tahu semenjak Ayahmu meninggal ibu selalu merasa khawatir terhadap hal yang berkaitan dengan keluarga kita."


Adam menghela napas, "Lain kali jangan berbuat seperti ini lagi. Aku tahu apa yang aku lakukan, jadi jangan berlebihan." Ia sempat melirik Psyche yang hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sepertinya besok, Ibu harus kembali melakukan pemeriksaan rutin ke psikiater."


Sophia mengangguk cepat, "Akan ibu lalukan."


Adam berbalik, "Kalau begitu minta maaflah pada Psyche karena sudah mengganggu waktu istirahatnya."


Sophia tertegun. Sekilas ia bisa melihat senyuman Psyche setelah kepergian putranya.


Samar-samar wanita itu bergumam, "Seperti inilah rasanya ketika seseorang yang kau cintai berpihak pada orang lain."


.


.


.


Tak sulit bagi Adam untuk memesan dua buah tiket perjalanan musim panas beserta penginapan mewah pribadi yang terletak persis di tepi pantai.


Dengan jendela-jendela besar yang mengantarkan langsung pada pemandangan laut dan langit senja, Psyche bisa menyaksikan keduanya dari atas ranjang. Persis ketika ia terbangun dan menyadari bahwa ia masih mengenakan pakaian yang sama menuju Hawaii.


"Indah..." Psyche bergumam pelan seraya melangkahkan kakinya untuk lebih dekat pada jendela-jendela itu. Selain pemandangan yang luar biasa, kau juga akan menemukan sebuah kolam renang yang membuatmu ingin berendam seharian di sana.


Adam tahu cara memanjakan para wanita dengan uangnya, tapi ia tidak pernah mengerti bagaimana cara menyenangkan wanita dengan sikapnya.


Adam memang sudah sedikit jinak, tapi ia masih punya taring. Kapan saja bisa melukainya, setiap ada celah dan kesalahan pria itu tak akan pernah tinggal diam. Pria itu tak akan mengampuninya.


Dan rencana liburan musim panas kali ini adalah salah satu hal yang tidak bisa diprediksi Psyche. Sebab ia tahu bahwa Adam akan menggunakan waktu luangnya untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya. Bukan untuk berjemur dan merusak kulit putihnya atau menikmati seafood sambil melihat matahari terbenam.


"Kau sudah bangun?"


Psyche tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk dan berdiri di depan pintu. Ia hanya mengangguk pelan, matanya bisa melihat matahari yang sedikit demi sedikit mulai tenggelam di ufuk barat.


Sudah berapa lama, ya? Rasanya Psyche tidak ingat kapan terakhir kali melihat pemandangan seperti ini. Sementara Adam yang selalu dimakinya memberikan ia kesempatan untuk melihat semua keindahan yang tak pernah ditemuinya lagi.


"Makan malam sudah siap," Adam tahu Psyche tak mendengarkan ucapannya karena ia bisa melihat bagaimana wanita itu seolah terpaku pada sesuatu yang tampak dari balik jendela. Jadi ia menggiring langkahnya untuk menghampiri wanita itu, berdiri di sampingnya dan melihat pada hal yang sama.


"Kau suka tempat ini?"


Psyche mengerjap pelan, aroma tubuh pria itu menjelaskan semuanya. Termasuk keberadaannya yang begitu dekat hingga ia bisa merasakan sisi tubuh mereka bersinggungan.


"Aku hanya...suka melihat matahari terbenam."


Diam-diam Adam menghela napas, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana ia berbalik. "Aku tunggu di meja makan."


Mendengar langkah Adam membuat Psyche menolehkan wajahnya untuk pertama kali. Menatap punggung lebar yang mulai menjauh seperti matahari yang mulai tenggelam.


Saat itu ia menyadari bahwa tubuh jangkung pria itu dibalut sebuah celemek hitam. Psyche tak ingin menerka, tapi mungkin saja Adam memang telah melalukan sesuatu yang tak lazim dilakukan olehnya.


.


.


.


Perbedaan yang paling mencolok di antara Miranda dan Psyche mungkin adalah warna rambut keduanya. Tapi di mata Sophia, cara kedua wanita itu menyikapinya adalah yang paling kontras.


Miranda adalah sosok yang akan membaur dan tak segan menghabiskan teh yang dituang Sophia ke dalam cangkirnya, sementara Psyche seolah menjadi cerminan saat ia muda. Meski ia tahu bahwa rasa sakit hatinya mungkin yang telah mengubahnya menjadi seperti itu.


"Jadi Adam pergi berlibur tanpa Bibi dan Ariel?"


Sophia selalu suka Miranda yang ramah dan terlihat dewasa terlepas dari status yang selalu membuatnya dipandang sebelah mata.


"Dia bilang ingin berlibur bersama kekasihnya." Sophia mendapati kedua sewarna zamrud itu meredup. Dan ia bisa langsung mengetahui bahwa Miranda ternyata menganggap Adam lebih dari sekadar rekan kerja. Tentu saja, bagaimana mungkin ia tidak mengerti akan semua perhatian wanita itu selama ini?


Miranda tersenyum masam. Ia kembali menyesap teh yang tinggal setengah dalam cangkir. "Tumben sekali, seperti bukan Adam 'kan?"


Benar. Seperti bukan putranya. Seperti bukan Adam yang gila kerja dan mencemooh hal-hal tidak berguna seperti itu.


"Ngomong-ngomong, kau juga kenal dengan Psyche?"


Miranda mengangguk pelan, "Tidak begitu kenal, sih. Dia cuma anak baru di perusahaan, belum sampai satu tahun kok. Aku tahu karena dia anak buah Adam di divisi keuangan." Setelahnya tersenyum canggung. Jadi bahkan Sophia pun sudah tahu perihal Psyche.


Sungguh sebuah fakta yang menambah daftar sakit hatinya.


"Bibi sudah pernah bertemu langsung dengannya?" Ragu Miranda bertanya, tapi rasa penasaran tak bisa diabaikan. Sejauh mana ibu dari pria yang dicintainya mengetahui perihal Psyche.


"Ya," Sophia mengangguk singkat. Kedua tangannya tampak saling bertaut di atas paha. "Dia...seseorang yang sederhana."


Miranda setuju. Dari cara berpakaiannya Psyche benar-benar sosok yang sangat sederhana jika dibandingkan dengannya atau untuk disandingkan dengan Adam. Tapi ia tahu, ia telah meremehkan sosok sederhana itu. Dalam kedipan mata Psyche telah membuat Adam tunduk padanya.


"Tapi saat melihat matanya, Bibi akan tahu bahwa Psyche adalah orang yang tidak mudah untuk ditebak. Dia tidak pernah 'sesederhana' itu." Miranda menimpali. "Apa Bibi menyukainya?"


Sophia mengerjap pelan. Miranda tidak tahu apa pun, dia adalah wanita yang terluka karena putranya lebih memilih wanita asing daripada dirinya yang telah mengenal Adam lebih lama. Tapi kalau ditanya bagaimana perasaannya pada Psyche, maka Sophia hanya bisa merasakan sebuah ketakutan yang luar biasa. Menjadikan ia waspada terhadap wanita itu, takut kalau suatu saat segala sesuatu yang dikuburnya bisa saja dibongkar oleh Psyche kepada putranya. Sekalipun wanita itu berkata bahwa ia tidak akan membongkar rahasianya.


"Entahlah," ia menjawab setelah menghela napas pelan, "Kami baru bertemu beberapa kali."


Miranda hanya kembali mengangguk, meski hatinya tersayat. Ponsel yang bergetar di samping meja tampak menginterupsi. Nama Leon muncul di layar ponsel canggihnya.


Sophia memperhatikan ekspresi Miranda yang terlihat berbeda sambil menyesap tehnya.


Tak lama kemudian wanita itu tersenyum kaku, "Sepertinya aku harus pamit, ada urusan mendadak."


"Miranda?"


Wanita itu hampir meninggalkan ruang tengah ketika Sophia kembali memanggil.


"Ya?"


Sophia susah payah menelan ludah, mempertimbangkan apa ia perlu melakukan ini demi putra sulungnya. "Apa kau sudah menyerah?"


Miranda mengerjap pelan. "Hmm?"


Sophia tahu ini sulit, tapi ia tak punya pilihan lain. "Apa kau tidak keberatan untuk meyakinkan Adam sekali lagi?"