
Dalam sepuluh menit pertama sejak makan malam dimulai hanya diisi oleh suara garpu dan piring yang saling beradu.
Psyche tidak tahu bahwa Adam bisa memasak. Tetapi ia benci dengan tomat yang terlihat memenuhi setiap hidangan pria itu. Ia menyisihkan potongan benda—yang entah termasuk dalam sayur atau buah-buahan—itu ke pinggir piring. Ia hanya menyuap potongan daging yang tanpa diduga bisa dimasak dengan sempurna oleh Adam.
"Kau tidak suka?"
"Apa?"
"Tomatnya," Adam melirik ke arah piring Psyche. "Kau menyisihkan semuanya."
"Aku bisa makan satu atau dua potong, tapi kau memasukkan terlalu banyak sebagai hiasan."
"Well, itu bukan hiasan. Kau pikir untuk apa menaruh sesuatu di atas piring kalau tidak untuk dimakan?"
Payche menggeleng, "Kau tidak bisa menaruhnya di piringku dengan porsi seperti ini. Sesuatu yang kau sukai belum tentu disukai orang lain."
Adam sempat menatapnya cukup lama sebelum pria itu kembali mengiris potongan dagingnya. "Ya, kupikir kau bisa menghargai sedikit usahaku karena telah menyiapkan makan malam."
Psyche buang muka, "Tentu saja aku menghargainya. Tapi aku rasa kau tidak memikirkanku saat membuat hidangan ini," Ia melirik pria itu dan melanjutkan, "Seolah kau membuatnya untuk dirimu sendiri."
Jadi mereka berdebat karena makanan? Ya. Psyche bahkan masih bisa merasakan ego yang begitu tinggi di dalam masakan pria itu. Adam hanya fokus pada apa yang disukainya meski ia tahu Psyche duduk di meja makan yang sama.
"Kalau tidak suka kau bisa memuntahkan makanannya." Pria itu meneguk minumannya dengan kasar, "Lain kali aku tidak akan memasak untukmu lagi ataupun berbuat romantis seperti ini."
Mendengar kata romantis justru membuat Psyche terkekeh. Ia tahu Adam kesal padanya, tapi seolah ia tidak peduli. "Jadi kau sedang berusaha bersikap romantis?"
"Lupakan. Aku tidak ingin membahasnya."
"Apa aku sedikit keterlaluan?"
"Sedikit katamu?" Adam tertawa sumbang, "Aku melakukan semua ini untukmu—untuk menyenangkanmu. Tapi lihat? Reaksimu lebih buruk dari yang kubayangkan." Pria itu tidak menahan kekesalannya lagi, "Kalau kau tidak suka dengan semua ini kita bisa kembali ke London malam ini juga."
Psyche menyembunyikan senyumannya saat ia mengelap bibirnya dengan serbet. "Hei, kau masih saja suka marah-marah."
Adam mendengus, "Dan kau selalu memancingku."
Psyche mengangkat alisnya, "Aku hanya memberi sedikit saran, supaya kau tahu bahwa aku tidak bisa menyukai tomat sepertimu."
Ia tidak bisa menyukai sesuatu yang disukai Adam hanya agar pria itu menjadi senang karenanya. Ia lebih baik menjadi dirinya sendiri dan membuat Adam paham bahwa sebuah hubungan bukan sekadar memaksakan menjadi apa yang salah satu pihak inginkan. Garis besarnya itu—jika Adam memahaminya.
"Ya, ya, ya, bicaralah sesuka hatimu."
Adam bangkit dari kursi untuk kembali ke kamarnya, tapi tangan itu terlebih dulu menahan lengannya.
Psyche tersenyum tanpa dosa, "Kita tidak perlu kembali malam ini. Aku masih ingin melihat matahari terbenam."
Mereka berpandangan cukup lama, lalu setelahnya Adam mengalihkan pandangan seraya menghela napas. Selalu ada sesuatu yang menarik hatinya untuk mengikuti setiap apa yang diucapkan wanita itu. Meski ia merasa apa yang dilakukan Psyche telah menggores harga dirinya.
Psyche menganggap kediaman Adam sebagai sebuah persetujuan, jadi ia mengeratkan pegangannya pada lengan pria itu. Memeluknya seraya mendongak, "Aku ingin jalan-jalan di sekitar pantai malam ini, kau bersedia menemaniku 'kan?"
.
.
.
Mereka bergandengan di sepanjang jalan yang dipenuhi kios penjual pernah pernik dan jajanan laut.
Meski terasa aneh bagi Adam, tapi sikap Psyche yang entah mengapa terlihat antusias membuat hatinya cukup menghangat. Ini adalah pengalaman pertama baginya, berlibur musim panas dengan orang yang bukan keluarganya, memasakan makan malam, berkeliaran di tepi pantai dengan sandal, semuanya terasa asing namun di sisi lain tidak membuatnya keberatan.
Mereka sesekali berdebat untuk sesuatu yang tidak penting, tapi setelah menyadari bahwa tangan mereka selalu bertaut erat, Adam memahami bahwa ia mungkin saja telah terbiasa dengan semua itu. Bahwa mungkin saja ia mulai tak mempermasalahkan lebih jauh lagi tentang sesuatu yang dapat menyinggung harga dirinya.
Ia semakin tenggelam lebih dalam tanpa pernah disadari.
"Eh?" Langkah mereka terhenti di depan sebuah kios aksesoris. Lebih tepatnya Psyche yang berhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian.
Adam mengikuti pandangan Psyche dengan kening mengernyit, "Kau mau itu?" Ucapannya merujuk pada sebuah benda yang terus diperhatikan oleh Psyche dengan mata berbinar.
Tapi seperti dugaannya, wanita itu hanya menggeleng pelan sembari kembali membawa langkah mereka menjauh dari sana.
"Kau yakin?" Adam kembali bertanya dan Psyche tahu bahwa pria itu bisa membelikan apa pun untuknya.
"Hanya terlihat cantik saja, bukan berarti aku ingin memilikinya." Psyche menjawab tanpa ragu. "Lagi pula aku tidak terlalu suka aksesoris."
"Oh ya?" Adam menyeringai, "Kau baru saja terang-terangan memujinya dan matamu berbinar saat menatap benda itu." Pria itu memalingkan wajahnya seraya terkekeh, "Dasar munafik."
Psyche tidak tersinggung atau pun marah karena kekehan Adam yang terdengar lebih tulus tanpa ada niat untuk menyindir. "Kau harus meralatnya—kita sama-sama munafik."
Dan reaksi yang ia dapatkan pun sama. Adam hanya meliriknya untuk kembali menyeringai, "Nah, cocok 'kan? Mungkin kita jodoh," katanya asal.
Psyche tersenyum pahit, ia menatap pada sepasang kakinya dan milik Adam yang berjalan di atas pasir. Jejak mereka terbentuk sepanjang jalan, namun akan terhapus karena pasir tak pernah meninggalkan bekas yang permanen. Seperti itu Psyche ingin menghilangkan semua hal buruk yang pernah dilaluinya. Tidak. Bekas yang ditinggalkan masa lalunyalah yang ingin ia hilangkan.
Ia ingin menggenggam tangan besar itu lebih lama. Tanpa ada benci, tanpa ada perdebatan, tanpa ada trauma masa lalu, mungkin...tanpa ada dendam.
Sekalipun Adam adalah seseorang yang tak pantas untuk mendapatkan cinta darinya.
"Hmm? Kau melamun?"
Psyche mendongak, "Aku? Tidak."
"Lihat? Kau benar-benar munafik." Adam meluruskan pandangannya ke depan, lalu menengadahkan kepalanya ke langit, kembali mereka terjebak dalam keheningan. "Jadi kita hanya akan terus berjalan seperti ini?" Katanya kemudian.
"Kenapa? Kakimu pegal?"
"Kau sedang mengejekku?"
Alis Psyche terangkat, matanya kemudian tak sengaja melirik salah satu kedai makanan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
.
.
.
"Woah!" Mata Psyche berbinar cerah setelah menggigit sepotong cumi bakar yang masih mengepul. Sementara di sampingnya Adam tampak meniup-niup cuminya dengan kening mengerut.
"Ini benar-benar enak,"
Adam melirik Psyche yang terlihat lahap meski wanita itu telah menghabiskan makan malamnya. Mereka memutuskan untuk berjalan di sekitar pantai setelah membeli cumi bakar. Sebenarnya Adam tidak terlalu familier dengan seafood, tapi setelah mencoba satu gigitan, ia rasa cuminya memang tidak terlalu buruk. Sama seperti ramyeon dari kedai sederhana yang pernah dikunjunginya bersama Psyche.
Karena tidak ada kursi yang disediakan, Psyche mengajaknya untuk duduk di atas pasir dengan sandal sebagai alasnya. Ia sempat memprotes tapi sang wanita tak menghiraukan. Adam hanya bisa menghela napas dan duduk di samping Psyche yang kembali sibuk dengan makanannya. Sekadar informasi, wanita itu membeli dua porsi cumi bakar untuk dirinya sendiri.
"Aku harus ke toilet, kau jangan ke mana-mana, oke?"
Psyche melirik pria itu sebentar dan mengangguk singkat. Sementara Adam sudah hilang dari pandangannya.
"Hei, manis..."
Suara berat dan aroma alkohol yang menyengat membuat Psyche mendongak, menatap seorang pria yang terlihat sempoyongan berjalan ke arahnya.
Firasatnya buruk.
"Kau sendirian saja? Mau kutemani?" Pria itu tertawa aneh sambil kembali meneguk minuman dalam botol yang dipegangnya.
Psyche dengan cepat berdiri, mengambil jarak sejauh mungkin dari pria bertindik itu. Ia berpikir apa yang dilakukan Adam sehingga pria itu belum juga kembali. Menangani orang mabuk akan sangat merepotkan, meski berada di tengah keramaian sekalipun.
"Hei, hei...kau mau ke mana?"
S*alan. Meski mabuk, tapi pria itu cukup gesit. Lengannya dicengkeram dengan erat, memaksa Psyche untuk kembali berbalik dan menghempaskan tangannya.
"Jangan sentuh aku!"
"Wow kau galak sekali~"
Secepat kilat pria itu bergerak ke arahnya dan nyaris mencium pipinya jika Psyche tak segera menghindar. Tepat saat itu Adam datang, berlari tergesa melihat Psyche bersama orang asing dengan gelagat yang mencurigakan.
"Apa-apaan kau!"
Dalam situasi seperti ini, Psyche sangat bersyukur melihat Adam datang dan berdiri di depan tubuhnya dengan tegak. Seolah bersiap melindunginya dari segala bahaya yang bisa dilakukan kapan saja oleh pria mabuk itu.
"Huh? Kau yang apa-apaan! Minggir! Aku tidak punya urusan denganmu..."
"B*jingan ini." Adam menggeram pelan sambil mendorong pria itu hingga terjebab ke atas pasir. "Pergi dari sini sebelum aku mematahkan lehermu." Ancamnya tanpa main-main.
Psyche meraih lengan pria itu dengan cepat, takut-takut Adam akan membuat keributan. Ia tak mau jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar. "Sudah, Adam, dia hanya orang mabuk. Lebih baik kita kembali ke penginapan."
Adam berdecap pelan. Ia sempat mengacungkan jari tengahnya ke arah pria itu sebelum membalikkan tubuhnya.
"S*alan kau!"
Tapi yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak pernah terduga. Pria mabuk itu bangkit dan mengayunkan botol minumannya ke arah Adam.
Keduanya menoleh, mata Psyche sedetik lebih cepat menyadari pergerakan itu.
Lalu semuanya gelap.
.
.
.
"Psyche?"
Itu...suara seseorang. Psyche membuka matanya, menatap sekeliling yang tidak terasa asing.
"Psyche?"
Itu...suara...
"Ibu?"
Wanita itu tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. Dengan gaun putih mencapai mata kaki ia duduk di tepi ranjang. Wajah cantiknya masih sama seperti terakhir kali ia melihat ibunya. Dan ia ingat, tempat itu adalah kamar masa kecilnya.
"Ibu masih hidup?"
Wanita itu hanya tersenyum.
"Hiduplah dengan bahagia, Psyche."
Kepalanya menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika Ibu tidak ada di sampingku?!"
Sosok ibunya perlahan memudar, tubuhnya seolah menjadi serpihan yang tertiup angin.
"Ibu!"
"Ibu, jangan tinggalkan aku!"
"Ibu—"
"—Psyche?"
Semuanya berubah menjadi langit-langit putih ketika ia kembali membuka mata. Napasnya masih memburu, sementara wajahnya dipenuhi keringat.
"Kau sudah sadar? Apa kau baru saja bermimpi buruk?"
Psyche melirik ke arah pria berambut hitam yang duduk di sampingnya dengan wajah...khawatir?
"Apa yang terjadi padaku?"
Adam menghela napas, "Lebih baik kau minum dulu." Pria itu mengambil gelas dari atas nakas dan mengarahkannya pada Psyche, tapi wanita itu berpaling.
"Psyche,"
Ah, ia ingat. Adam yang ke toilet. Pria mabuk. Dan botol minuman keras.
Ia menyentuh perban di kepalanya dan meringis pelan. Lukanya tidak main-main, pantas saja kepalanya terasa sangat pusing.
"Berapa jahitan?"
Adam tampak enggan, tapi ia tetap menjawab, "Lima belas." Kemudian mendengus kasar, "Seharusnya kau tak melarangku untuk menghabisi pria itu."
Psyche melirik pria itu dengan ekor matanya. "Aku rasa pria itu sekarang sudah mendapat ganjarannya."
"Tentu. Dia akan membusuk di penjara selamanya." Ragu, Adam menatap Payche. Apa yang membuat ia bertindak sejauh itu? Padahal jelas ia masih bisa melihat kebencian itu dari matanya.
Adam tidak dungu. Meski selama ini ia bertindak sedikit lunak, bukan berarti ia tidak waspada. Mana bisa ia percaya begitu saja saat Psyche menerimanya kembali padahal wanita itu telah mati-matian memakinya?
Tidak pernah semudah itu untuk meruntuhkan pertahanannya. Adam tahu ada sesuatu yang disembunyikan Psyche,
—dan juga ibunya.
"Adam?" Terasa aneh bagi Psyche melihat Adam terdiam sambil menatap lantai kayu di bawah kakinya.
Pria itu mengerjap. "Ah—apa kau lapar?
Psyche mengangguk pelan. Ia sempat melirik semangkuk bubur di atas nakas. "Tapi aku tidak ingin memakan itu."
Adam mengerti. Pria itu menghela napas pelan sebelum bangkit dari kursi. "Aku akan pesan makanan lain kalau begitu."
"Terima kasih. Maaf merepotkanmu."
Langkah pria itu terhenti sebelum membuka pintu.
Apa Psyche baru saja meminta maaf?
Adam menggigit bibir, sambil menutup matanya pria itu berkata, "Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf dan berterima kasih."
Sungguh, apa benar semua ini hanya sandiwara yang dilakukan Psyche? Bahkan untuk nyawanya yang sempat terancam benarkah semua ini hanya tipuan belaka?
Tanpa melirik lagi wanita itu, Adam keluar dari dalam kamar dan kembali menghela napas—kali ini lebih berat dari sebelumnya.
Tubuhnya kemudian kembali mematung saat menyadari seseorang yang sudah berdiri di ruang tengah dan menghambur ke dalam pelukannya.
.
.
.
Psyche merasa kehadiran ibunya sangatlah nyata. Senyuman itu dan perkataan yang masih jelas di telinganya seakan bukan mimpi belaka.
Dan wanita itu memintanya untuk bahagia.
Tapi semua tak semudah kelihatannya, bagaimana ibunya bisa mengatakan semua itu setelah ia bunuh diri karena cinta sepihak yang tak pernah terbalas dari ayahnya?
Tapi ia pastikan, ia tak akan pernah berakhir seperti ibunya. Entah bahagia atau tidak, ia tak akan pernah mati untuk alasan yang sama. Dan pada kenyataannya ia telah mencoba mengorbankan nyawanya untuk pria yang dicintainya semalam.
Seperti kata Adam, munafik. Ya. Sangat munafik. Di dalam hati, ia sedang menertawakan dirinya sendiri sekarang.
Dengan susah payah Psyche mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Cahaya mentari menyelusup ke dalam kamar dari balik tirai putih yang dibuka setengah. Tepat mengenai selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
Lalu ia mengernyit, merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana. Disingkap selimut itu dengan cepat, lalu benda yang melingkar di bawah kakinya pun ikut berkilau tertimpa cahaya mentari.
Psyche tertegun. Ia ingat gelang kaki itu adalah benda yang mencuri perhatiannya saat berjalan di sekitar kios pernak-pernik dan aksesoris.
Mungkinkah semalam Adam tidak benar-benar pergi ke toilet dan hanya menjadikan alasan untuk membeli benda itu?
"Kau harus bahagia, Psyche..."
Bolehkah?
Bolehkah ia mencoba untuk mengikhlaskan segalanya dan mengakhiri semua ini?
"Adam..." Gelang kaki itu disentuh pelan. Dengan sedikit tertatih, Psyche berjalan mencapai pintu. Berniat mencari Adam dan menjelaskan segala hal yang belum sempat tersampaikan kepada pria itu.
Ia ingin hidup bahagia seperti yang dikatakan ibunya..
Ia ingin bersama Adam dan hanya mencintai pria itu dengan tulus...
Ia tidak ingin menjadi pendendam dan berakhir seperti ibunya..
Ia ingin...
Langkahnya terhenti.
Pemandangan dua orang yang sedang berciuman itu kembali menghancurkan harapannya yang baru saja kembali tumbuh.
.
.
.
.
.
.
"Kau adalah langit dan aku adalah laut, meski terlihat bersisian nyatanya selalu ada jarak di antara keduanya."