HEART

HEART
3



Tujuh hari pertama yang Psyche lewati bersama Adam seperti neraka—meski ia tidak pernah tahu persis seperti apa neraka itu.


Pria itu adalah madu dan racun secara bersamaan.


Psyche tidak sanggup berhenti mengecap karena manisnya, namun harus terus tersiksa karena racun yang menghancurkannya.


Watak pria itu ternyata lebih buruk dari apa pun yang ada di dunia ini.


Bahkan ketika Psyche tak sengaja mengabaikan beberapa panggilannya, pria itu akan mendiaminya seharian.


“Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam,” itu yang Adam ucapkan ketika Pscyhe meneleponnya setelah mengirimi berpuluh pesan tanpa balasan. “Tapi kau seolah menyepelekanku dan berbuat seenaknya.”


Dengan nada dingin yang bercampur ketidakpedulian, Adam melanjutkan, “kalau begini caramu berhubungan dengan seseorang, lebih baik kita akhiri saja.”


Sungguh? Semudah itukah?


Psyche tertawa. Sambil menggenggam ponsel yang hampir hancur jika saja ia terbuat dari kaca.


“Bukankah aku sudah meminta maaf?”


“Aku memaafkanmu, jangan khawatir. Hanya saja aku tak suka diabaikan dan kau telah membuatku merasa diabaikan. Tidak ada lagi yang harus kupertahankan darimu.”


Psyche menutup kedua matanya dan melafalkan kata sabar berulang-ulang dalam hati.


Melawan Adam dengan emosi hanya akan membuat rencananya gagal.


“Aku tidak ingin berakhir. Keputusan sepihakmu tak masuk akal. Lagi pula kita masih bisa pergi makan malam tanpa perlu ribut karena hal sepele.”


Adam berdecih. “Sepele katamu? Baiklah. Kita lihat sejauh mana kau bertahan.”


Panggilan ditutup oleh Adam tanpa membiarkan Psyche berbicara lagi.


Pria itu tak akan pernah membiarkannya menang.


.


.


.


Adam tidak akan pernah mengecewakan pasangannya dalam hal apa pun kecuali dalam urusan emosi.


Makan malam mewah dengan steak dan anggur kualitas tinggi seolah menjadi jamuan biasa baginya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengajak para wanita yang digandengnya makan di sebuah kedai pinggir jalan.


Dan Psyche mengerti, mengapa para wanita itu selalu menurut pada Adam—seperti yang pernah dikatakannya.


Tunduk akan membuat Adam senang. Tunduk akan membuat Adam memperlakukan mereka bak seorang putri.


Tapi tunduk akan mengubah mereka menjadi orang lain. Menjadi seorang wanita yang mudah dikendalikan. Menjadi seseorang yang Adam inginkan.


Psyche tidak akan luluh dengan segala kemewahan yang Adam tawarkan meski ia tidak begitu kaya sepertinya.


Ia tidak akan mengemis demi barang-barang mewah atau makan malam mewah seperti ini.


“Kau akan mendiamiku terus?” Psyche melirik pria itu dari balik gelas anggur yang tengah disesapnya. “Aku sungguh minta maaf jika aku menyinggung perasaanmu.”


“Yang kau bisa hanyalah terus meminta maaf.” Adam mengelap pinggiran bibirnya dengan serbet. “Kau bilang kau mencintaiku, kan?”


Tatapan pria itu terasa menghunus ulu hatinya. Psyche ingin berpaling, tapi seolah seluruh syarafnya membeku.


Perhatiannya adalah kata cinta yang Adam ucapkan. Ia benci pria itu menggunakan kalimat sakral yang seolah melambangkan kelemahan seorang Psyche.


“Kau pikir berapa banyak wanita yang menyatakan cintanya padaku, hm?” Adam menggoyang-goyangkan gelas anggurnya sambil menatap Psyche. “Sejujurnya aku tahu apa yang mereka inginkan. Mereka menginginkan semua yang aku miliki dan aku menginginkan mereka untuk berada di bawah kendaliku dan membuatku senang.”


Psyche tersenyum pahit.


Ah, ternyata begitu. Ia hanya dianggap sebagai salah satu wanita yang sama dengan yang lainnya.


Tapi Psyche tak percaya. Hati wanita adalah serapuh-rapuhnya pertahanan. Tak mungkin dari semua wanita yang pernah berhubungan dengan Adam semuanya hanya main-main seperti yang pria itu lakukan.


“Dan aku tidak membuatmu senang?” Satu pertanyaan yang akan mewakili segalanya. Kita buktikan bahwa Adam memang benar-benar hanya menganggap dirinya sebagai permainan.


Adam mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum jengah. “Untuk apa aku meminta hubungan ini berakhir jika aku merasa senang bersamamu?”


“Kau menganggap semua ini hanya sebatas hubungan mutualisme.” Psyche menarik sebuah kesimpulan. “Jangan pikir aku bermain-main dengan apa yang pernah aku katakan padamu, Adam.”


Senyum Adam luntur saat matanya menemukan ekspresi Psyche yang lebih tenang dari sebelumnya.


“Bukan salahku jika kau mencintaiku,” kata Adam hampir seperti sebuah gumaman. “Aku tidak pernah memintanya darimu, Psyche.”


Psyche berkedip. Lalu kembali meraih gelas anggurnya dan meneguknya hingga tak tersisa.


Terbuat dari apa hatinya? Mengapa begitu mudah tergores dan menimbulkan perih yang tak kunjung sembuh?


Padahal semua itu adalah kebenaran yang terjadi. Psyche yang mencintainya dan Adam yang tidak bisa ia kenali bahkan sampai pria itu lebih dari sekadar teman kerja dan atasan baginya.


“Aku tidak akan pernah mengemis untuk perasaanku,” Psyche memilih untuk melirik separuh daging yang masih tersisa di piring. “Tapi suatu saat kau yang akan mengemisnya sendiri.”


.


.


.


Semuanya masih terasa pening hingga Psyche harus berpegangan pada dinding saat menaiki tangga menuju apartemennya.


Keheningan menjadi satu-satunya yang ia dapati semenjak meninggalkan restoran.


Ini belum sampai tengah malam dan Adam memilih untuk tak berkunjung—tentunya tidak—saat keduanya saling menatap seolah ingin membunuh satu sama lain.


Tapi mungkin Psyche tidak akan menghabiskan sisa malamnya seorang diri meski Adam tak ada di sisinya.


Pria berambut putih sudah berdiri di depan pintu apartemennya dan menatap Psyche yang saat ini tengah menatapnya juga.


Ia tersenyum simpul sambil mengangkat sebelah tangannya yang menjinjing sesuatu beraroma harum. “Chicken party?”


Psyche hanya mengedikkan kepala sebagai jawaban.