
Happy reading.
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Hari ini adalah hari Senin. Dimana semua kegiatan dan kemacetan kembali dimulai. Setelah kemarin menghabiskan hari weekend, kini Ilham sudah berada di dalam mobilnya menuju kantor.
Laki-laki itu berulang kali berdecak sebal. Jalan raya sangat macet sekali. Membuatnya sangat lambat untuk sampai ke kantornya. Setelah lampu lalu lintas berganti menjadi hijau, dengan gesit Ilham melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sekitar 20 menit ia memakan waktu di perjalanan. Ilham memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran kantor. Laki-laki itu merapikan kembali jasnya dan beranjak keluar dari dalam mobil.
Ilham sudah menginjakkan kakinya di lantai 8. Ia memasuki ruangannya dan langusng duduk di kursi kebesarannya. Ilham menatap tumpukan berkas yang ada di atas mejanya dengan tatapan jengah.
Dengan mengumpulkan niat ia pun langsung memeriksa berkas-berkas tersebut. Sebuah kacamata yang bertengger manis di hidungnya membuat ketampanan Ilham berkali-kali lipat. Saat sedang fokus, Ilham terlihat sangat menawan dan berkharisma.
Tok tok tok!
Ilham menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu ia pun membiarkan orang yang mengetuk pintunya agar masuk ke dalam ruangannya.
“Masuk!” sahut Ilham dengan suara sedikit berteriak.
Ceklek…
Ilham melirik sekilas pada orang yang sudah memasuki ruangannya. Ternyata itu ialah Devan-sekertarisnya.
“Ada apa Dev?” tanya Ilham.
“Begini Pak, surat pengajuan pengunduran diri sudah diterima oleh bagian HRD. Dan, sebagain karyawan sudah membereskan barang-barangnya setelah mendapat uang pesangon.” ucap Devan dengan suara sedikit pelan.
Devan sungguh tidak mengerti dengan para karyawan di Perusahaan Nugraha yang berniat mengundurkan diri. Padahal, untuk masuk ke dalam perusahaan ini saja membutuhkan perjuangan yang membuatnya berjuang mati-matian.
Tidak bisakah mereka sedikit bersabar? Devan yakin, jika keadaan perusahaan ini sudah stabil, mereka yang sudah memutuskan mengundurkan diri pasti akan menerima penyesalan yang tiada tara.
“Oh ya. Apakah ada lagi yang ingin kamu katakan?” tanya Ilham lagi tanpa menatap wajah sekertarisnya.
“Ada Pak.” jawab Devan cepat.
“Perusahaan Widjaya sudah mengonfirmasi pengajuan surat kerja sama yang dikirimkan satu minggu yang lalu. Dan … mereka menyetujui untuk bekerja sama dengan Perusahaan Nugraha.” ujar Devan dengan nada senang.
Sontak Ilham mendongakkan kepalanya menatap Devan dengan tatapan tidak percaya.
“Benarkah?” tanya Ilham mencoba memastikan bahwa yang ia dengar tadi bukanlah sebuah ucapan semata.
“Benar Pak, nanti saya akan membuat jadwal untuk pertemuan dengan CEO Perusahaan Widjaya.” tutur Devan.
“Baiklah, terima kasih informasinya. Kamu boleh kembali ke tempat kerjamu.” ujar Ilham.
Devan menganggukkan kepalanya singkat. “Saya permisi Pak.” Pamitnya seraya berjalan keluar dari ruangan atasannya.
Ilham terdiam dengan beberapa pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Rasa senang dan haru kini menyelimuti laki-laki itu. Jika Perusahaan Widjaya menerima tawaran kerja sama dengan perusahaannya, ini menjadi kabar baik untuknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Saat ini, seorang wanita berbadan dua tengah menyandarkan punggungnya pada sofa. Tatapan matanya fokus ke depan menatap sebuah film kartun kesukaan Irzan.
Tak jarang Aira menampilkan senyum geli saat melihat tingkah Irzan yang menggemaskan. Anak kecil itu selalu bertepuk tangan dan tertawa kecil saat melihat tayangan kartun kesukaannya.
Mengenai Mami Dita, wanita itu sedang ada acara bersama teman-temannya. Apalagi jika bukan arisan bersama? Aira jadi mengetahui jika Tantenya itu tak jarang selalu menyisihkan waktunya untuk para teman-teman seusianya.
Aira menoleh sekilas pada Irzan saat dirasa ia tak mendengarkan pekikan heboh serta suara tepuk tangan dari batita itu.
Ah, ternyata Irzan sudah terlelap. Wajahnya sangat lucu dan damai saat sedang terlelap seperti ini. Mulutnya sedikit terbuka membuat Aira tidak tahan melihat wajah menggemaskan Irzan.
“Nany, tolong pindahkan Irzan ke kamar ya.” Pinta Aira kepada nany.
“Baik Mbak.” sahut nany yang segera menggendong Irzan dan membawanya ke kamar.
Aira beranjak dan berdiri dari duduknya. Wanita itu dengan penuh kehati-hatian melangkah menuju kamarnya mengikuti langkah kaki nany.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Gimana kabar kalian? Sudah lama rasanya kita nggak kumpul-kumpul kayak gini ya jeng,” ucap salah satu wanita yang sedang memangku cucu laki-lakinya.
“Iya betul, sudah lama kita tidak kumpul.” sahut yang lainnya dengan heboh.
Mereka pun memulai acara arisannya. Setelah kurang lebih 30 menit menyelesaikan kegiatan arisan hari ini, sekumpulan wanita itu pun memulai acara ngerumpinya. Bagi mereka, tidak afdhol rasanya jika sedang berkumpul namun tidak merumpi.
“Ah iya, anakku bulan depan mau tunangan. Nanti jangan lupa ya pada datang.” ucap seorang wanita bernama Lita.
“Wah, selamat ya. Nanti aku datang bersama ponakanku.” ucap Mami Dita kepada temannya itu.
“Terima kasih,” ujar Lita sembari tersenyum tipis.
“Eh jeng, saya dengar-dengar nih ya. Kalau suaminya ponakan jeng Dita itu menikah dua kali ya?” tanya seorang wanita yang mempunyai mulut ember.
Siapa lagi kalau bukan Sasti. Sasti itu seringkali membahas gosip yang sedang trending topik. Seperti sekarang misalnya, ia sedang memulai aksinya dengan mulutnya yang sudah gatal ingin menggosip itu.
“Wah beneran tuh? Kok mau sih keponakan jeng Dita dimadu? Kalau saya sih ya, nggak akan izinin anak saya.” sahut seorang wanita bernama Tuti.
Mami Dita hanya mampu menampilkan senyum tipis mendengar ucapan para teman-temannya. Moodnya yang tadi membaik kini seketika menurun drastis. Jujur saja, ia sangat malas jika Sasti sudah memulai aksinya itu.
“Iya memang benar.” Jawab Mami Dita pada akhirnya.
Tidak ada gunanya juga ia berbohong, toh memang kenyataannya seperti itu. Biarkan saja teman-temannya berpikiran sampai lelah. Pikir Mami Dita dalam hatinya.
“Ternyata itu benar? Kok mau sih dimadu.” Cibir Sasti seraya mengibaskan tangannya.
“Terus itu istri keduanya gimana?” tanya Tuti yang memang penasaran dengan kehidupan rumah tangga Aira.
“Eh tapi-tapi saya dengar, istri keduanya itu sudah meninggal loh waktu dia mau melahirkan.”
Sasti lah yang menjawab pertanyaan dari Tuti. Mami Dita hanya diam ditempatnya sembari menguatkan hatinya agar tidak mengamuk pada Sasti.
“Ish, keponakan jeng Dita itu bodoh atau bagaimana sih,” ejek Sasti.
Sontak Mami Dita tidak terima saat keponakannya dihina seperti itu. Ia menatap Sasti dengan tatapan tajam.
“Maaf ya jeng, jeng Sasti boleh berpendapat apa pun tentang rumah tangga keponakan saya. Asalkan, jeng Sasti tidak menghina Aira. Saya tidak suka mendengarnya.” tutur Mami Dita penuh penekanan.
“Dih, kok marah sih.” cibir Sasti tidak terima.
“Sebenarnya saya sudah tidak tahan dengan kelakuan jeng Sasti yang sudah semena-mena mengomentari kehidupan orang lain.” ucap Mami Dita membuat para teman-temannya terdiam mendengarkan.
“Sekarang, coba saya tanya. Bagaimana kabarnya dengan anak bungsu jeng Sasti yang masih duduk di bangku SMA tapi malah sudah hamil duluan?” tanya Mami Dita membuat Sasti kelabakan.
Mami Dita tersenyum miring melihat respon yang diberikan Sasti ternyata di luar pikirannya. Sekarang, ia memiliki kartu as wanita penyebar gosip itu.
“Itu beneran jeng?” tanya Tuti tidak percaya.
“Bu-bukan, mana ada anak saya seperti itu!” elak Sasti membantah pernyataan Mami Dita.
“Jangan bohong deh jeng, beritanya saja sudah ke sebar di grup kita.” ujar Mami Dita membuat Sasti menatapnya penuh kebencian.
Sial, kenapa wanita itu tahu tentang hal ini? Gerutu Sasti dalam batinnya.
Sementara itu, Mami Dita tersenyum puas melihat Sasti yang menahan rasa malunya. Ia berhasil melakukan serangan balik terhadap wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Rasanya pengen nampol mulut Sasti deh 🙄...
Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊