
Psyche tidak tahu mengapa hari itu hujan turun lebih deras padahal musim panas hampir berakhir.
Sepanjang jalan, di tengah-tengah kereta yang sepi, ia duduk di tepi jendela dan memandang jauh pada langit yang terlihat muram.
Tak perlu menimbang keputusan lagi, sebab ia telah pergi. Selain itu dengan kepergiannya, ia ingin memastikan sesuatu. Jika memang takdir telah mengikatnya pada Adam, maka pria itu akan datang dengan sendirinya.
Untuk kali ini, biarkan ia menyerah dengan perasaannya dan segala rasa sakit hatinya. Biarkan ia pergi untuk membuat pria itu sadar, bahwa tak semua hal bisa ia miliki.
Dan juga...agar Psyche sadar bahwa benci dan cinta tidak akan pernah sepadan untuk bersandingan. Mereka hanya akan saling membunuh, saling menyakiti tiada akhir.
Untuk itu ia akan ikhlaskan semuanya. Tak peduli jika Adam akan mengatainya pengecut, atau seluruh dunia sekalipun.
Sebab jika hanya terus memikirkan rasa sakitnya, maka ia tak akan pernah menemukan kebahagiaan.
Kereta perlahan berhenti, pintu terbuka ketika Psyche menarik koper sambil menghela napas pelan. Lalu seorang pria sudah berdiri di sana, menyambutnya dan tersenyum lega.
"Syukurlah..."
Jacob nyaris melompat ketika menemukan Afam duduk di salah satu sofanya setelah menghidupkan lampu.
Dua botol anggur miliknya sudah teronggok tak berdaya di atas meja. Hanya tersisa setengah, padahal itu adalah anggur dengan kualitas terbaik dan harganya tentu saja—mahal.
"Baru ditinggal kekasihmu, eh?" Meski tahu jawabannya, Jacob tak ingin melewatkan kesempatan ini untuk melihat seberapa jauh Adam berubah.
Membolos kerja, kembali mabuk-mabukan, dan ayolah...ia tentu tak akan melewatkan beberapa bekas puntung rokok yang memenuhi asbak.
"Kau tahu ke mana dia pergi?"
Jacob duduk di seberang sofa dan menatap Adam yang masih menghisap rokok sambil sesekali menyesap anggurnya.
Pria itu pasti sudah gila.
"Kenapa kau pikir aku tahu—"
"Jelas kau tahu." Adam mengangkat kepala setelah memotong ucapan Jacob. Matanya berkilat serius dan tajam, tapi yang jelas terlihat hanyalah sebuah...kesakitan.
"...bukankah kau taruhan dengannya?"
Jacob tertegun. Namun ekspresinya dengan cepat berubah. Ia terkekeh pelan, "Rupanya kau sudah tahu..."
Adam berdecih, "Semua orang sama saja—kau, ibuku, dan...wanita itu." Tawanya terdengar miris hingga membuat Jacob balas menatap iba padanya. "Pembohong. Penipu. Kenapa aku bahkan tidak menyadari semuanya..."
Jacob menghela napas pelan. Ia mengalihkan pandangan saat sesuatu yang bening mulai berjatuhan dari balik surai hitam yang tertunduk lesu.
Seolah langit mengerti tentang kesedihan Adam, hingga tak membiarkan hujan untuk meninggalkan ia menangis sendirian.
"Bahkan Ayahku...dia...kupikir dia tidak pernah mencintai Ibu." Adam tertawa di tengah tangisnya. Dadanya sesak oleh berbagai hal yang baru ia ketahui setelah semuanya terjadi dan pergi.
Jika ia tahu semuanya dari awal, jika saja ia bisa mengalahkan egonya dan menengok sedikit lebih dalam...
"Ternyata hidupku sangat menyedihkan."
Lama Jacob terdiam. Adam tidak mabuk, pria itu benar-benar sadar.
"Aku benar-benar tidak tahu ke mana dia pergi." Sai berdiri, "Tapi satu hal yang harus kau tahu, Psyche peduli padamu. Itu adalah kebenaran."
Pria itu berjalan menuju pintu kamar dengan menenteng tas dan jas kerjanya. Ia kembali menoleh ke arah Adam yang masih menunduk dengan tubuh gemetar. Sesaat setelah menutup pintu, bunyi pecahan terdengar.
Ternyata Adam lebih rapuh dari yang ia kira.
Pagi sekali, bel apartemennya berbunyi. Sambil menggerutu karena Jacob harus terbangun di hari libur, pria itu tak menyangka akan mendapati Miranda berdiri dengan wajah gusar di depan apartemennya.
Beruntung Adam sudah menghilang entah ke mana. Sepertinya pria itu tidak tidur semalaman. Tapi ia benar-benar meninggalkan kekacauan yang luar biasa.
"Aku..." Miranda tidak tahu mengapa ia begitu gugup. Bahkan untuk menatap wajah pria itu rasanya ia tak sanggup.
Jacob menyeringai. Kedua tangannya terlipat di dada. Pandangan remeh ia lontarkan pada wanita itu. Lambat laun ucapannya akan menjadi kenyataan.
"Kau berubah pikiran sekarang? Mau mengejarku setelah Adam tidak akan mungkin menerimamu lagi?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Adam."
"Hmm? Begitu? Lalu apa? Kau mau meminta pertanggungjawabanku setelah menyadari bahwa kau hamil?"
Pria itu tahu.
Miranda dengan cepat menoleh. Mengambil langkah lebih dekat pada pria itu. "Kau sudah tahu?!"
"Tidak ada yang tidak kuketahui."
"Lalu kenapa?!" Miranda terengah, "Kenapa kau bersikap seolah aku adalah wanita rendahan dengan berpura-pura tidak mengetahui apa pun?! Membiarkanku memikul semua beban ini sendiri!"
Jacob menangkap pergelangan tangan Miranda yang memukul-mukul dada bidangnya. "Malam itu, kau menyebutkan namanya, bukan namaku."
Miranda terbelalak. Matanya mulai memerah dan dadanya kembali sesak. Tangannya lunglai sehingga terlepas dari cengkeraman pria itu.
Selalu ada balasan untuk setiap sakit yang ia torehkan pada Sai. Dan itu dua kali lipat sakitnya.
"Lakukan sesukamu, seperti kau memperlakukanku selama ini."
Miranda menggeleng lemah, ia menyentuh perutnya dengan sebelah tangan. "Tapi bayi ini juga darah dagingmu..."
Cukup Miranda yang mengalami betapa pedihnya dilahirkan tanpa seorang ayah. Ibunya ditinggal pergi ketika hamil, sementara ayahnya entah pergi ke mana. Meninggalkan luka yang masih terasa hingga sekarang.
Seberapa buruknya Miranda, ia tak akan membunuh darah dagingnya sendiri, tapi ia juga tidak bisa membuat bayinya merasakan hal yang sama dengannya. Meskipun ia harus membuang semua harga dirinya di hadapan pria itu.
"Sungguh, aku selalu ingin melukai wajah mulusmu itu setiap kali aku ingat bagaimana kau mempermainkanku, Miranda." Jacob tersenyum kejam. "Dan sekarang kau berkata seolah akulah yang memanfaatkan situasi, seolah akulah yang memulainya malam itu."
"Aku tahu ini salahku. Tapi aku harus melakukan semua ini untuk anakku."
Jacob rasa ia mendapat kesialan dua hari berturut-turut, karena menyaksikan dua orang paling bebal di dunia ini menangis di hadapannya.
"Baru saja kau berkata itu adalah darah dagingku, tapi sekarang kau berkata dia adalah anakmu."
"Bukankah kau tidak menginginkannya?!"
Jacob menyeringai. "Aku suka melihatmu yang putus asa begini." Kekehannya terdengar lebih menyeramkan, "Kau sudah siap dengan semua risikonya? Kau tahu, mungkin saja semuanya akan terasa seperti neraka."
"Hanya demi anakku." Miranda berusaha terlihat tegar meski air mata tidak bisa membohongi perasaannya.
Sai tersenyum angkuh. Ia adalah pendendam seperti Louvander lainnya. "Kalau begitu berlututlah. Memohonlah padaku sampai aku mengabulkannya."
Miranda menggigit bibirnya, menahan isakan yang siap keluar ketika ia merendahkan tubuhnya dan merelakan lutut mulusnya menyentuh ubin yang kotor dan kasar.
Nadanya terdengar pilu, "Kau sudah memenangkannya."
Tidak ada senyuman licik atau kepuasan. Jika Miranda mendongak sedikit saja maka ia akan menemukan bagaimana ekspresi pria itu terlihat datar.
"Kadang aku bertanya, mengapa bisa sangat mencintai orang sepertimu..."