HEART

HEART
Mengetahui



Happy reading.


Ilham membuka kedua matanya yang terasa sangat berat. Lelaki itu bersandar di punggung kasur yang empuk. Perlahan Ilham berdiri dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tubuhnya seakan terasa remuk. Kemarin ia dan Devan-sekertarisnya sampai di Jakarta pukul delapan malam.


Setelah menghabiskan waktu sepuluh menit, Ilham pun keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah bercucuran di lantai begitu saja. Handuk berwarna putih melilit di pinggangnya.


Ilham dan Devan tidak berangkat ke kantor hari ini. Mereka sedang cuti selama dua hari. Setelah satu minggu lamanya seperti kerja rodi, akhirnya Ilham bisa merasakan cuti juga.


Lelaki itu memakai kaos lengan pendek berwarna hitam. Dipadukan dengan celana selutut berwarna cream. Penampilannya yang seperti ini seolah membuat Ilham terlihat seperti anak remaja yang hendak beranjak dewasa.


Ilham membuka knop pintu kamarnya. Lelaki itu melangkah kecil menuju tempat bermain anaknya yang sudah disediakan oleh Papa Satria sejak 3 hari yang lalu. Ilham duduk bergabung bersama keluarganya.


“Sarapan dulu, Ham.” ujar Mama Lina setelah mengetahui keberadaan Ilham.


“Nanti, belum lapar.” sahut Ilham.


Senyum kecil terbit di bibir Ilham saat lelaki itu melihat putranya yang sedang bermain perosotan kecil. Ah, Ilham jadi ingat dengan Aira yang sedang mengandung calon anaknya.


“Ma, Pa, ada yang mau Ilham bicarakan.” ujar Ilham membuat Mama Lina dan Papa Satria menatap ke arahnya.


“Ilham, bertemu Aira saat di Bali.” lanjut Ilham.


Sontak Mama Lina menatap Ilham dengan tatapan terkejut sekaligus haru. Akan tetapi kening wanita paruh baya itu tiba-tiba mengeryit heran.


“Terus, Airanya kok nggak diajak pulang Ham?” tanya Mama Lina bingung.


Ilham terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


“Aira …” tenggorokan Ilham seakan tercekat.


“Aira dibawa pergi sama keluarganya.” ucap Ilham dengan suara lemah.


“Dibawa pergi? Keluarga?” tanya Mama Lina memastikan.


Ilham menganggukkan kepalanya singkat. Lelaki itu menghela napasnya yang terasa lelah. Entah harus kemana lagi dirinya mencari sang istri tercinta. Papa Satria menatap Ilham dengan tatapan tidak tega.


“Ilham.” Panggil Papa Satria.


“Sebenarnya,” ucap Papa Satria yang sengaja menggantung ucapannya.


“Sebenarnya apa Pa?” sambar Ilham dengan pertanyaannya.


“Sebenarnya Papa mengetahui dimana keberadaan istrimu.” lanjut Papa Satria dengan nada lugas.


Ilham mematung ditempatnya. Jadi selama ini, Papanya mengetahui keberadaan istrinya? Akan tetapi, kenapa Papanya tidak memberitahukannya?


“Jadi selama ini Papa yang sudah menyembunyikan Aira dariku?” tanya Ilham menatap Papa Satria dengan sorot tajam.


“Tidak. Papa tidak pernah sekalipun menyembunyikan Aira darimu.” timpal Papa Satria dengan nada tegas.


“Lalu, kenapa Papa bisa tahu keberadan Aira?” Ilham memicingkan matanya menatap Papa Satria dengan curiga.


Sementara itu Mama Lina hanya diam menyaksikan Ayah dan Anak itu. Kepalanya serasa berputar-putar.


“Anak buah Papa yang salama ini memantau keberadaan Aira.” sahut Papa Satria.


Fyi, selama ini pria paruh baya yang selalu meminta anak buahnya untuk memantau Aira adalah Papa Satria. Meskipun terlihat cuek, tetapi Papa Satria sangatlah care dan perhatian terhadap keluarganya.


“K-kenapa Papa tidak memberitahu Ilham?” Ilham mengusap wajahnya kasar.


“Papa sengaja tidak memberitahumu. Papa hanya ingin melihat seberapa keras perjuanganmu untuk membawa kembali Aira.” tutur Papa Satria dengan mimik wajah serius.


Ilham menyandarkan punggung tegapnya pada sofa yang kini didudukinya. Kedua matanya yang terpejam kini kembali terbuka sempurna. Lelaki itu menatap sekilas pada kedua orang tuanya.


“Ilham akan membawa Aira pulang.” ucapnya dengan tegas.


Papa Satria melihat sorot mata Ilham. Pria paruh baya itu tidak melihat adanya keraguan di diri putranya. Semoga saja putranya berhasil meluluhkan kembali hati menantunya yang sudah putranya sakiti.


“Doakan Ilham Ma, Pa, semoga Aira mau kembali bersama Ilham.” ujar Ilham dengan wajah sendu.


“Kami selalu mendoakanmu Nak.” ucap Mama Lina.


“Bawalah kembali istrimu ke rumah ini.” lanjutnya dengan seulas senyum di wajahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ilham menatap pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi di depannya dengan perasaan campur aduk. Setelah diberi tahu alamat rumah keluarga Aira oleh Papanya, tanpa babibu Ilham segera mengunjungi alamat tersebut.


Perlahan Ilham keluar dari mobilnya. Lelaki itu melirik sekilas pada pos satpam. Ilham pun memanggil satpam tersebut agar membukakan pagarnya.


“Pak.” Panggil Ilham dengan suara lumayan keras.


Satpam yang sedang berada di dalam pos pun keluar menghampiri Ilham.


“Iya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam tersebut.


“Ehm, saya mau bertemu Aira. Apa benar ini rumah Ibu Dita?” tanya Ilham.


Satpam itu mengangguk membenarkan. “Ya, benar.”


“Siapa Pak?” tanya seorang lelaki menghampiri satpam tersebut.


Reno menaikkan sebelah alisnya saat melihat seorang lelaki yang sudah tak asing lagi dimatanya. Rahangnya mengetat menampilkan tonjolan urat-uratnya. Matanya memicing tajam kepada lelaki di depannya.


“Mau apa lo kesini?” tanya Reno dengan tatapan sengit.


Ilham terkejut bukan main saat melihat kehadiran Reno. Mungkinkah Reno salah satu keluarga istrinya? Pikir Ilham.


“Saya mau membawa Aira pulang.” Jawab Ilham tanpa ragu.


Gigi Reno bergemelutuk. Tangannya mengepal kuat. Reno melangkah maju menarik kerah baju Ilham.


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Tiga bogeman mentah Reno layangkan kepada perut Ilham. Mami Dita dan Aira yang mendengar suara keributan dari luar pun datang menghampiri. Mami Dita menutup mulutnya terkejut saat melihat putranya memukuli orang lain. Sementara Aira mematung saat melihat Ilham berada di depan matanya.


“A-aira uhuk,” Ilham terbatuk kecil saat akan memanggil istrinya itu.


Tatapan mata Ilham turun tertuju pada perut Aira yang sudah membuncit. Sontak Aira memeluk perutnya dengan kedua tangannya. Aira berusaha menutupi perutnya yang buncit dari Ilham. Wanita itu sangat takut jika Ilham akan menyakiti calon anaknya.


“Sana lo pergi!” usir Reno kepada Ilham.


“Saya tidak akan pergi sebelum saya membawa Aira pulang.” ujarnya dengan lantang.


Saat Reno akan kembali memukul Ilham, terdengar suara lirih Aira yang berhasil menghentikan aksinya yang akan memukul itu.


“Pulang Mas.” usir Aira dengan nada halus.


Ilham menatap Aira tak percaya. Akan tetapi Aira membuang wajahnya saat menyadari dirinya sedang ditatap oleh Ilham.


“Ra, kamu nggak akan benar-benar mengusir Mas ‘kan?” Ilham menatap wajah Aira dengan sendu.


“Aku mohon, sekarang juga Mas Ilham pergi dari sini.” tutur Aira tanpa menatap wajah Ilham sedikitpun.


Setelah mengucapkan perkataan tersebut, wanita berbadan dua itu melenggang pergi masuk ke dalam rumah. Hatinya sakit melihat Ilham dipukuli oleh sepupunya sendiri. Akan tetapi, batinnya lebih menderita saat mengingat kembali perbuatan Ilham kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Yeayy akhirnya kalian tahu siapa pria paruh baya misterius itu 😀...


...Mau bilang apa sama Papa Satria? ...


...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...


...Awas ada typo ⚠️...