HEART

HEART
Prank



Happy reading.


Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tidak terasa kini kandungan Aira sudah memasuki usia 9 bulan. Rasa khawatir dan takut selalu Ilham rasakan akhir-akhir ini. Pasalnya sang istri sering kali mengeluh kepadanya mengatakan jika pinggang dan perutnya sakit serta pegal.


Semenjak usia kandungan Aira memasuki 9 bulan, Ilham mengambil cuti untuk menjaga sang istri tercinta. Laki-laki itu membawa semua pekerjaannya untuk dikerjakan di rumah. Sementara, perusahaan dihandel oleh Devan.


Saat ini di dalam sebuah kamar, Aira tengah duduk di atas ranjang dengan punggungnya yang bersandar pada kepala ranjang. Wanita yang hendak menjadi ibu itu tengah membaca sebuah dongeng untuk putranya agar tertidur.


Lain halnya dengan Ilham yang sedang duduk diatas sofa dengan sebuah laptop di pangkuannya. Laki-laki itu tengah mencek beberapa laporan yang diberikan kepala keuangan kepadanya. Serta mencek beberapa email masuk.


Aira tersenyum tipis saat dirasa Irzan telah tidur. Wanita berbadan dua itu menyimpan buku yang tadi ia bacakan di atas nakas. Tatapan matanya beralih menatap suaminya yang masih fokus dengan pekerjaannya.


Salah satu tangan Aira mengelus permukaan perutnya saat ia merasakan gejolak dari dalam sana. Pinggangnya terasa pegal dan kebas. Ia ingin sekali memanggil sang suami dan memintanya agar memijatnya.


Namun, Aira mengurungkan niat itu. Ia takut mengganggu aktivitas suaminya yang sedang bekerja.


“Awwshh,” Aira meringis kecil saat perutnya merasakan sakit yang luar biasa.


Ilham yang memang mendengar ringisan Aira sontak langsung menyimpan laptopnya begitu saja dan menghampiri sang istri yang terlihat tengah menahan sakit.


“Kenapa sayang? Ada yang sakit? Sini bilang sama Mas,” Ilham melayangkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Aira.


Kepala Aira mendongak ke atas untuk melihat wajah sang suami. Terlihat jelas jika suaminya itu tengah mengkhawatirkannya. Aira kembali meringis saat perutnya terasa mules.


“Nany!” teriak Ilham memanggil nany.


Tak lama kemudian nany datang dengan raut wajah kusut menahan kantuknya.


“I-iya Mas? Ada apa?” tanya nany.


“Kamu tolong jagain dulu Irzan. Saya dan Aira mau ke rumah sakit dulu.” ucap Ilham.


“Mbak Aira sudah mau lahiran Mas?” tanya nany dengan kening mengeryit.


“Saya tidak tahu. Pokoknya saya titip Irzan.”


Ilham dengan sigap langsung menggendong Aira secara bridal style. Laki-laki itu mendudukkan tubuh sang istri di samping kursi kemudi. Ilham berlari kecil memutari mobilnya. Ia pun duduk di kursi kemudi dan mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang.


“Tahan sebentar ya sayang,” ujar Ilham seraya mengusap-usap perut Aira.


“Masih sakit Ra?” tanya Ilham lagi.


Aira hanya mampu menganggukkan kepalanya singkat. Kedua mata wanita berbadan dua itu terpejam, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang kini tengah ia rasakan.


Setelah menempuh sekitar 20 menit, kini mobil Ilham sudah terparkir di parkiran rumah sakit. Laki-laki itu memutari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Aira. Ilham kembali menggendong istrinya ala bridal style.


“Suster tolong istri saya!” teriak Ilham dengan panik.


Dua orang suster yang kebetulan sedang berada di koridor rumah sakit pun menghampiri Ilham. Ilham meletakkan tubuh Aira di atas brankar dorong. Aira pun dibawa memasuki sebuah ruangan.


Ceklek..


“Dok, tolong istri saya. Dia sepertinya mau melahirkan.” sambar Ilham saat seorang dokter perempuan datang ke ruangannya.


“Sebentar saya cek dulu.” ujar dokter itu.


Dokter itu pun mencek keadaan Aira. Setelah selesai mencek keadaan Aira, terdengar helaan napas lega dari sang dokter.


“Bagaimana dokter? Istri saya akan melahirkan hari ini?” Ilham melayangkan pertanyaan kepada dokter perempuan itu.


“Begini Pak Ilham, Aira …”


“Aira kenapa?” seru Ilham saat dokter itu hendak melanjutkan ucapannya.


“Ck, dengarkan dulu! Aira hanya mengalami kontraksi kecil. Hal ini normal bagi ibu hamil. Jika Aira sering mengalami kontraksi seperti ini, tandanya tidak lama lagi ia akan melahirkan.” tutur dokter Saskia sedikit kesal karena ucapannya dipotong oleh Ilham.


Masih ingat ‘kan dengan sokter Saskia? Ia adalah seorang dokter yang saat itu menolong Aira.


Ilham terdiam setelah mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh dokter Saskia. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar. Helaan napas lega ia hembuskan.


“Jadi,” ucap Ilham.


Aira yang sejak tadi hanya diam tidak mampu menahan tawanya. Tangannya mengusap kembali perutnya saat ia tidak lagi merasakan rasa sakit seperti tadi.


“Ternyata kamu mau ngerjain Bunda sama Ayah ya,” gumam Aira membuat Ilham mendesah kecil.


“Kalian kena prank oleh calon anak kalian,” ucap dokter Saskia sembari terkekeh geli.


Ilham menggelengkan kepalanya singkat. Tak urung tangan kekarnya ikut mengelus perut buncit sang istri. Ternyata calon anaknya hanya ingin mempermainkannya. Padahal, dirinya benar-benar panik dan takut saat melihat istrinya kesakitan seperti tadi.


“Anak siapa sih ini, masih di dalam perut loh. Kok udah jahil banget,” ujar Ilham membuat Aira menerbitkan senyum simpul.


“Anak lo lah!” dokter Saskia mendengus geli.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruangan dengan dinding yang mendominasi warna putih tulang, terdapat kedua anak adam dan hawa yang tengah duduk dan berbincang-bincang.


“Sayang, kapan kita liburan berdua lagi? Aku kangen loh,” rengek perempuan itu kepada kekasihnya.


“Hm, kapan-kapan.” balas laki-laki yang tak lain ialah Reno.


Mendengar jawaban cuek sang kekasih sontak membuat Elin mengerucutkan bibirnya sebal. Perempuan itu menatap kekasihnya yang masih asik dengan berbagai berkas di atas mejanya.


Elin berdiri dari duduknya dan menghampiri Reno yang tegah duduk di kursi kebesarannya. Tanpa malu perempuan itu mendudukkan tubuhnya di pangkuan Reno membuat laki-laki itu mengerang pelan.


“Akhir-akhir ini kamu selalu cuekin aku.” sindir Elin seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Reno.


“Lin, aku sedang bekerja. Tolong jangan mengganggu konsentrasiku.” tutur Reno dengan suara beratnya.


“Kamu bilang aku pengganggu?” tanya Elin tidak percaya.


Reno menghembuskan napasnya kasar. Laki-laki itu tengah dirudung berbagai masalah di kantornya. Ditambah dengan sang kekasih yang terus merecokinya. Rasanya, kepala Reno benar-benar akan pecah.


“Bukan begitu Lin,” sahut Reno.


“Terus apa hah?” Elin mendengus kecil.


Karena tidak ingin sang kekasih terus merajuk, laki-laki itu pun memberikan beberapa kecupan manis pada wajah Elin hingga membuat perempuan itu menahan geli.


Cup!


Cup!


Cup!


Tepat saat Reno mengecup bibir Elin, pintu ruangannya dibuka oleh seorang perempuan dengan salah satu tangannya membawa rantang berwarna putih.


Sontak Reno dan Elin mengalihkan pandangannya menatap perempuan yang berdiri diambang pintu dengan tubuh yang kaku.


“S-saya ganggu ya T-tuan?” tanya Nindia seraya meringis kecil.


“K-kalau begitu saya keluar dulu. Saya hanya ingin mengantarkan pesanan T-tuan.” ujar Nindia lagi seraya meletakkan rantang yang dibawanya di atas meja.


“Sekali lagi, s-saya minta maaf sudah mengganggu kalian berdua.”


Tak lama pintu ruangan Reno pun ditutup cukup keras oleh Nindia hingga membuat Reno mendesah pelan. Lagi-lagi ia kepergok sedang bermesraan dengan kekasihnya.


“Turun.” titah Reno yang tidak didengarkan oleh Elin.


“Turun Elin!” seru Reno dengan menaikkan suaranya satu oktaf.


Pikiran laki-laki itu sedang kacau. Ditambah tadi ia ketahuan oleh perempuan yang tinggal satu atap dengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Bunda Ai sama Ayah Ilham dikerjain sama baby guys 🤣...


...Waduuuhhh Reno kepergok lagi sama Nindia :(...


...Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...