HEART

HEART
Koma



Happy reading.


Aira meringkuk di dalam selimut tebalnya. Wanita berbadan dua itu menatap ke depan dengan tatapan kosong. Sudah tiga hari sejak kejadian kecelakaan di depan mall itu. Namun, Aira masih sangat trauma. Bahkan sudah tiga hari ia mengurung diri di kamarnya.


Mami Dita yang sedang duduk di tepi ranjang menghela napasnya lelah. Pasalnya, semenjak kejadian kecelakaan itu, Aira seakan membatasi dirinya untuk berinteraksi dengan siapa pun.


“Ai, ayo makan dulu. Kamu belum makan loh hari ini,” ujar Mami Dita yang dihiraukan oleh Aira.


“Kamu harus makan Ai. Ingat kamu makan bukan untuk kamu aja, tapi untuk anakmu juga.” ucap Mami Dita dengan tegas.


“Aku belum lapar Mi,” cicit Aira tanpa menoleh pada Mami Dita.


Mami Dita menghela napasnya kasar. Entah dengan cara apa lagi ia harus membujuk wanita berbadan dua itu agar mau makan.


“Seenggaknya makan satu sampai lima suap Ai, kasihan bayi kamu. Dia pasti kelaparan. Kamu nggak mau ‘kan kalau bayimu lahir kekurangan gizi?” tanya Mami Dita membuat Aira mengerjapkan kedua matanya.


Mami Dita mengulum senyumnya saat melihat adanya pergerakan dari Aira. Tak lama kemudian, wanita berbadan dua itu mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang.


“Sini biar Mami suapin kamu.” tutur Mami Dita yang tidak ingin dibantah sama sekali.


Aira membuka mulutnya dan menerima suapan dari Mami Dita. Tak terasa suapan demi suapan berhasil Aira telan. Mami Dita tersenyum senang saat melihat mangkuk berisi bubur ayam yang sudah bersih.


“Minum dulu Ai,” tegur Mami Dita seraya menyodorkan sebuah gelas berisi air putih pada Aira.


Aira menerima gelas itu dan meneguknya sampai setengahnya. Lalu ia simpan gelas tersebut di atas nakas samping tempat tidurnya.


“Mami mau simpan dulu ini ke dapur. Jangan langsung rebahan ya Ai,” ucap Mami Dita mengingatkan.


Aira menganggukkan kepalanya singkat. Mami Dita pun melenggang pergi menuju dapur dengan sebuah mangkuk berada ditangannya.


Aira termenung dalam lamunannya. Wanita berbadan dua itu masih mengingat jelas kejadian tiga hari yang lalu. Kejadian itu seakan terekam sempurna di otaknya.


Saat ini, di dalam pikiran Aira dipenuhi oleh banyaknya pertanyaan yang tak mampu ia ungkapkan. Matanya terpejam mengingat wajah seseorang yang sudah menolongnya kala kejadian itu terjadi.


Apakah dia baik-baik saja? Apakah luka yang diterimanya sangat membuatnya menderita? Apakah dia akan selamat? Dan, kenapa dia mau bersuka rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkannya? Bukankah bagus jika ia tiada, Laki-laki itu akan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya serta istri keduanya?


Kira-kira kurang lebih seperti itulah pertanyaan yang kini berkecamuk di otak Aira. Helaan napas berat Aira hembuskan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Maaf Bu, anda tidak boleh memasuki rumah seseorang dengan seenaknya.” tegur Pak Man kepada wanita paruh baya di depannya.


“Saya mau bertemu Aira. Dimana Aira?” tanya wanita itu tanpa mengidahkan pertanyaan Pak Man.


“Ibu ada keperluan apa sama non Aira?” tanya Pak Man seraya memicingkan matanya menatap wanita di depannya dengan curiga.


“Saya Ibu mertuanya Aira.” tutur Mama Lina.


“Ibu jangan bohong. Mau saya laporkan kepada Pak RT? Karena Ibu sudah mengganggu kenyamanan di rumah ini.” ucap Pak Man dengan tegas.


“Saya tidak perduli. Silahkan laporkan saja, memang kenyataannya seperti itu kok.” ujar Mama Lina sinis.


Mama Lina menerobos masuk ke dalam kawasan rumah tersebut. Saat akan memasuki ke dalam rumah, seorang wanita menghalangi jalannya membuat Mama Lina berdecak kesal.


“Ck, minggir kamu. Saya mau bertemu Aira.” ujar Mama Lina.


“Mau apa kamu bertemu dengan keponakan saya?” tanya Mami Dita menatap wanita di depannya dengan sorot mata tajam.


“Saya mau bertemu Aira!” ucap Mama Lina dengan wajah menahan kesal.


“Ini sangat penting. Jadi, saya mohon perbolehkan saya memasuki rumah ini untuk bertemu Aira.” Pinta Mama Lina dengan suara lirih.


“Ai, kok kamu keluar kamar?” ujar Mami Dita khawatir.


“A-Aira?” beo Mama Lina menatap ke arah Aira dengan tatapan tidak percayanya.


Sungguh wanita itu sangat terkejut saat melihat sosok menantunya yang sekarang. Aira terlihat sangat menawan. Bahkan dengan perutnya yang sudah membuncit sekalipun.


“Cepat katakan, apa maumu bertemu dengan Aira?” tanya Mami Dita yang tidak ingin wanita di depannya ini berlama-lama di kediamannya.


“Ai-Aira, mama minta maaf sama kamu Ra,” ujar Mama Lina menatap Aira dengan tatapan bersalah.


“Mama tahu Mama sudah berdosa sekali padamu Ra, tapi… Mama mohon, maafkan Mama ya?” pinta wanita itu dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Aira menatap Ibu Mertuanya dengan tatapan datar. Jujur, hatinya masih sakit ketika ia mengingat betapa jahatnya wanita itu memperlakukannya. Bahkan wanita itu mencemoohnya dengan mengatakan jika dirinya ialah wanita ma*dul.


“Aku sudah maafkan Mama.” timpal Aira membuat Mama Lina menatapnya dengan perasaan bahagia.


“Tapi, aku tidak bisa melupakan apa yang sudah Mama lakukan kepadaku dulu.” Lanjutnya dengan dingin.


“Hatiku sakit Ma, mendapatkan perlakuan seperti itu.”


“Sudah ‘kan bicara sama Airanya? Sekarang saya minta anda untuk meninggalkan rumah saya.” usir Mami Dita.


Mami Dita membawa Aira agar masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, langkah keduanya terhenti setelah mendengar perkataan yang diucapkan Mama Lina.


“Ilham Koma.” ujar Mama Lina lirih.


Tubuh Aira seketika menegang mendengar ucapan itu. Rasanya untuk membalikkan badan saja ia tak mampu.


“Dan, Arabella sudah meninggal setelah melakukan Operasi Caesar.” ucap Mama Lina.


Sontak Aira membalikkan tubuhnya secara spontak. Wanita itu menatap Ibu Mertuanya dengan pandangan tak terbaca.


“Ilham, Ilham sangat terpuruk Ra.”


“Dia … dia ditinggalkan oleh Bella dan putrinya yang bahkan belum bisa menatap dunia ini.”


“Setelah ditinggalkan oleh keduanya, Ilham harus ditinggalkan juga oleh kamu.” Ujar Mami Lina yang mulai bercerita panjang lebar masa-masa sulit yang dilewati oleh putranya.


“Sekarang, Ilham koma.” Rasanya tenggorokan Mama Lina tercekat saat mengucapkan kalimat tersebut.


“Ilham masih membutuhkan kamu disisinya Ra,” gumam Mama Lina lirih yang masih dapat di dengar oleh Aira dan Mami Dita.


“Ah, Mama terlalu lama bercerita ya?” Mama Lina terkekeh miris. Wanita paruh baya itu mengusap kasar air matanya yang mulai bercucuran.


“Hanya itu saja yang ingin Mama sampaikan pada kamu Ra. Semoga … kamu mau menjenguk Ilham.”


“Mama yakin, Ilham pasti akan sadar jika kamu sudah mengunjunginya.”


“Kalau begitu, Mama pamit ya Ra. Mama harus kembali ke rumah sakit menunggu Ilham.” ucap Mama Lina perlahan beranjak meningglkan area rumah itu.


Aira termenung menatap punggung wanita paruh baya yang perlahan manjauh itu. Kini, kepalanya seakan benar-benar akan pecah.


Banyak sekali kabar mengejutkan yang dirinya tidak ketahui. Sebenarnya, sudah sejauh mana suaminya terluka sejak ditinggalkan olehnya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊