HEART

HEART
Last Episode (END)



Happy reading.


4 Bulan kemudian…


Tidak terasa kini bayi mungil laki-laki yang Aira lahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya sudah berusia empat bulan. Tubuhnya yang berisi membuat Aira tidak tahan dengan putranya itu. Bahkan, Aira sampai tidak ingin berpisah barang sedetik pun dengan Arka.


“Sayang, kita akhir-akhir ini jarang sekali berduaan.” ujar Ilham dengan nada sedikit manja.


Sementara itu, Aira hanya mampu tersenyum geli mendengar ucapan sang suami. Suaminya itu kerap kali merajuk dan mengatakan jika laki-laki itu cemburu dengan kedua putranya.


“Kan aku sibuk ngurusin Arka sama Irzan, Mas.” jawab Aira ringan.


Ilham tidak menjawab lagi ucapan sang istri. Laki-laki itu memeluk tubuh Aira dan mengeratkannya seolah enggan melepas pelukan dan berjauhan dengan Aira.


“Unda!” pekik Irzan membuat Aira dengan cepat mendorong dada bidang Ilham.


Ilham yang mendapati kehadiran putra pertamanya sontak memutar bola matanya jengah. Jika sudah seperti ini, ia akan sulit berduaan dengan Aira.


“Ada apa sayang?” sahut Aira seraya membawa tubuh Irzan ke dalam pangkuannya.


“Zan mau main ama adek,” cicit Irzan dengan suara terdengar menggemaskan.


“Kan adeknya lagi tidur Zan, mainnya nanti ya kalau adek Arka sudah bangun?” bujuk Aira dengan suara terdengar menenangkan bagi Irzan.


Dengan ragu anak batita itu pun menganggukkan kepalanya singkat. Ilham mendekat pada istri serta putranya. Salah satu tangannya meraih pinggang Aira dan memeluknya dengan posesif.


“Irzan main gih sama nany, Bundanya mau dipinjam dulu sama Ayah.” celetuk Ilham membuat kedua mata Aira melotot sempurna.


“Memangnya aku barang apa,” gumam Aira seraya mendengus kesal.


“Ndak mau, Zan mau cama Bunda!” tolak Irzan secara mentah.


Ilham menekuk wajahnya mendengar jawaban sang putra. Jujur saja, ia memang seringkali merasakan cemburu saat mendapati putranya lebih sering berada di dekat sang istri.


Waktunya bersama Aira semakin berkurang. Terlebih sekarang mereka memiliki bayi kecil yang baru berusia 4 bulan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara decitan pintu kamar mandi yang terbuka membuat Aira mengalihkan pandangannya dari wajah menggemaskan baby Arka. Wanita itu menatap suaminya yang tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil dengan tatapan kagum.


“Anak Ayah udah bangun,” ucap Ilham seraya menghampiri Aira serta putranya yang kini tengah digendong oleh Aira.


“Iya Ayah, Arka udah kenyang bobonya,” ucap Aira seraya menirukan suara anak kecil.


“Ganteng banget sih nak, anak siapa ini?” Dengan gemas, Ilham mengecup seluruh permukaan baby Arka hingga membuat bayi kecil nan tampan itu memekik kegelian.


Aira tersenyum lebar melihat interaksi suaminya dan putra kecilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya..


Aira mengangkat kedua sudut bibirnya tatkala melihat Irzan, yang tengah bermain dengan mainan kesukaannya. Wanita itu mendekat kepada Irzan dan mengelus puncuk kepala Irzan. Anak laki-laki itu mendongakkan kepalanya menatap pada Claudia.


“Nda,” gumam Irzan dengan suara terdengar manja.


Irzan merangkak dan beringsut mendudukkan bokongnya diatas pagkuan Aira. Kepalanya ia sandarkan pada dada Aira. Aira terkekeh kecil melihat sikap manja Irzan yang seperti ini. Namun, tak urung tangannya terulur kembali mengusap surai putranya.


“Yayah mana?” tanya Irzan sembari mendongakkan kepalanya.


“Ayah lagi diluar sayang.. Lagi sama adek Arka. Kak Irzan sama Bunda dulu ya..” ujar Aira mencoba memberi pengertian pada Irzan.


Sontak Irzan menganggukkan kepalanya lucu. Bibirnya tidak berhenti berceloteh dengan bahasa yang dikuasai oleh batita berusia tiga tahun itu. Bunyi decitan pintu mengalihkan fokus Irzan dari mainan yang dipegangnya.


“Yah,” panggil Irzan tatkala mata bulatnya melihat kehadiran Ilham yang sudah masuk ke dalam kamar.


Ilham mengulas senyumnya. “Anak Ayah lagi main apa?” tanya laki-laki itu sembari mendudukkan tubuhnya disamping tubuh sang istri.


“Sini, Kak Irzan nya sama Ayah dulu. Dedek Arka nya mau mimi cucu,” ucap Ilham sembari menyerahkan tubuh Arka ke dalam dekapan Aira.


Sontak Irzan langsung beralih duduk diatas pangkuan Ayahnya. Tangan mungilnya memainkan jemari besar Ilham. Ilham pun mengusap surai hitam putranya seraya mengecup puncuk kepala Irzan dengan sayang.


Setelah mendekap tubuh Arka, Aira langsung membuka kancing bajunya dan mengeluarkan salah satu pa*udayaranya. Bibir mungil Arka menyambut benda tersebut dengan baik. Kedua matanya menatap mata sang Bunda yang kini menampilkan senyum manis.


“Izan mau nggak punya adek lagi?” tanya Ilham disela keheningan yang terjadi.


Irzan mendongak menatap Ilham. “Adek? Kan ada adek Alka..” ujarnya dengan bahasa cadel.


Wajah Ilham tampak muram mendengar penuturan istrinya. “Kok kamu gitu sih, yang? Aku ‘kan pengen punya anak lagi.. Kalau bisa sih, perempuan. Pasti nanti rumah kita ramai oleh suara anak-anak.” tutur laki-laki itu.


Aira menghela napasnya sejenak. “Mending kamu tidurin dulu Irzan. Matanya udah merah tuh, pasti dia ngantuk.” ucap Aira membuat Ilham menatap wajah putra pertamanya dengan lekat.


Ilham mengangkat Irzan ke dalam gendongannya. Lelaki dewasa itu berjalan keluar kamar dan masuk ke dalam kamar Irzan. Memang, dirinya sudah menyiapkan kamar untuk anak-anaknya kelak. Ilham ingin mengajarkan putra-putranya menjadi anak yang mandiri sejak dini.


Tentu saja itu masih dalam pengawasannya dan sang istri. Ilham memasang kamera cctv di kamar Irzan. Lelaki itu tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan kepada putra sulungnya.


Ilham memutar knop pintu kamar Irzan dengan pelan. Laki-laki itu berjalan mendekati ranjang. Tangannya dengan telaten mengusap punggung Irzan secara naik-turun. Tak berselang lama kemudian, Irzan sudah terlelap dalam tidurnya.


Dengan penuh kehati-hatian, Ilham merebahkan tubuh putranya diatas kasur yang di setiap sisinya diberi pagar kecil agar putranya itu tidak terjatuh ke lantai. Walau pun ada sebuah karpet berbulu di bawahnya.


Ilham mematikan saklar lampu dan menutup pintu kamar Irzan dengan pelan. Perlahan kaki jenjangnya melangkah menjauh dari kamar sang putra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Irzan dan baby Arka sudah terlelap sejak tadi. Kebetulan, di rumahnya sedang kedatangan Mami Dita dan Nindia. Jadi, kedua putranya itu tidur dengan wanita setengah baya tersebut.


Mami Dita sangat antusias sekali sejak memasuki rumah Ilham dan Aira. Wanita itu gencar mengajak main kedua cucunya seraya membawa mainan baru untuk Irzan dan Arka. Tentu, Aira senang dengan keantusiasan Mami Dita. Terlebih Ilham.


Di dalam kamar, Ilham tengah mengerjakan sebuah pyoyek yang akan dilaksanakan beberapa bulan yang akan datang. Tangannya membenarkan letak kacamata yang hendak melorot dari hidung mancungnya.


Jari-jemarinya dengan lihai menari-nari diatas keyboard laptop. Bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi tidak membuat Ilham teralihkan dari fokusnya kini. Sesekali laki-laki itu menyesap secangkir cokelat hangat yang dibuatkan oleh istrinya.


•••


Aira menatap pantulan wajahnya lewat cermin berukuran sedang yang ada di dalam kamar mandi. Senyumnya tidak pernah luntur. Jantungnya berdegup sangat kencang. Setelah dirasa penampilannya oke, perempuan itu melangkah keluar dari kamar mandi.


Ceklek!


Aira melangkah keluar dari kamar mandi. Tatapan matanya tertuju pada sang suami yang tengah mengerjakan pekerjaannya dengan sangat fokus. Bahkan derap langkah kakinya pun tidak membuat Ilham menoleh.


Aira berdiri tepat di belakang suaminya yang tengah duduk. Tangannya perlahan melingkar pada leher Ilham. Aira memejamkan kedua matanya tatkala indra penciumannya mencium wangi maskulin dari tubuh Ilham.


“Sayang.. sudah mandinya?” tanya Ilham sembari mengelus lengan Aira dengan lembut.


“Hm..” sahut Aira dengan nada suara pelan.


Aira melepaskan kedua lengannya dari leher Ilham. Setelah mengumpulkan keberaniannya dan berperang dengan batinnya, kini Aira mendudukkan tubuhnya diatas pangkuan Ilham. Sontak saja Ilham tercengang dengan tingkah laku Aira.


“Sayang?” cicit Ilham dengan nada suara tidak percaya.


Aira menampilkan senyuman indah saat Ilham menatap wajahnya lekat. Bahkan Aira dapat merasakan tubuh Ilham yang mulai menegang. Wanita itu kembali mengalungkan kedua tangannya pada leher Ilham.


“Aku kangen, Mas Ilham..” bisik Aira tepat di telinga Ilham.


Ilham meneguk salivanya kasar. Dapat laki-laki itu rasakan jika pa*udara milik istrinya sangat menempel dengan dada bidangnya. Terlebih, saat ia merasakan sapuan hangat di bagian lehernya. Ilham semakin dibuat tidak percaya dengan kelakuan Aira yang sangat agresif.


“Sayang, jangan pancing aku..” gumam Ilham dengan suara mulai terdengar serak.


“Hmm..” sahut Aira yang masih asik menjelajahi leher Ilham.


“Shit. Aku sudah nggak tahan lagi.” ucap laki-laki itu yang langsung mengangkat kepala Aira.


Ilham memiringkan kepalanya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Aira. Lelaki itu ********** dengan sangat cepat dan lembut. Bahkan kini tangan nakalnya sudah menjamah sebagian tubuh Aira. Napas keduanya menggebu-gebu tatkala Ilham melepaskan ci*mannya.


Tanpa sepatah kata pun, Ilham mengangkat Aira dan menggendongnya ala koala. Lelaki itu membaringkan tubuh istrinya diatas kasur. Ilham menatap kedua mata Aira dengan sorot gairah yang sudah mendarah daging.


Perlahan, tangan laki-laki itu mulai melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya dan tubuh sang istri. Ilham kembali mencium Aira hingga membuat wanita di bawahnya melenguh. Suara ******* tercipta di dalam kamar kedua sejoli itu.


Milik Ilham sudah memasuki area milik Aira.


Keduanya larut dalam kegiatan panas itu, setelah menyatukan jiwa dan raga masing-masing menciptakan malam yang indah.


Banyak huru-hara rumah tangga yang sudah berhasil mereka lewati. Kini, kebahagiaan perlahan datang mewarnai pernikahan Aira dan Ilham.


...END!...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Author note:...


Assalamualaikum semuanya! selamat siang.. Alhamdulillah akhirnya aku bisa menamatkan novelku yang berjudul HEART. Mohon maaf apabila endingnya tidak sesuai dengan ekspetasi kalian🙏🏻 terima kasih kepada para readers yang sudah mendukung novel ini 💕


Next kita akan membuat novel tema apalagi? Ada yang mau ngasih rekomen kah?