
Happy reading.
Nindia menghempaskan pantatnya kasar di kursi meja makan. Perempuan itu menggerutu kecil tatkala mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Sungguh, bukan keinginannya untuk ribut dengan Ibu-Ibu tadi. Hanya saja, ucapannya itu mampu memancing emosinya hingga ke ubun-ubun.
Mami Dita yang sedang mengambil botol minuman dari kulkas melirik kepada Nindia. Keningnya mengeryit saat melihat raut wajah perempuan itu yang terlihat berbeda.
“Ada apa Nin?” tanya Mami Dita seraya menarik salah satu kursi dan duduk tepat di hadapan Nindia.
Nindia tersentak kala mendengar suara majikannya. Ia kira, majikannya sedang pergi bersama teman-temannya mengingat Mami Dita sering keluar.
“Ah, nggak ada apa-apa Bu.” Jawab Nindia sambil meringis kecil.
Bisa-bisanya ia ketahuan oleh majikannya. Bagaimana coba kalau dia dipecat karena tidak professional? Nindia sontak menggelengkan kepalanya kuat.
“Nggak belanja ke depan?” Mami Dita tidak melihat kresek belanjaan yang di bawa oleh Nindia. Biasanya perempuan itu setiap pagi tidak pernah absen untuk belanja sayuran.
“E-enggak Bu,” gumam Nindia dengan suara pelan.
“Kirain, tadi kamu keluar buat belanja sayuran.” Pikir Mami Dita setelah mendapat jawaban dari Nindia.
Nindia hanya mengulas seyum simpul. Perempuan itu menautkan kedua tangannya di atas paha. Pandangannya menatap sang majikan dengan tatapan ragu dan takut.
“Ada apa? Ada yang mau kamu bicarakan?” tanya Mami Dita yang memang sudah menyadari gelagat aneh Nindia.
“A-anu Bu,” ucap Nindia menggantung ucapannya karena ragu.
“Kenapa? Bicara saja, saya tidak akan marah.” ujar Mami Dita yang sudah penasaran.
“S-sebenarnya tadi saya pergi untuk belanja sayuran,” ucap Nindia dengan suara sedikit kikuk.
Mami Dita lantas menaikkan salah satu alisnya menunggu perkataan yang akan diucapkan oleh perempuan di depannya ini.
“T-terus saya dengar kalau Ibu-Ibu yang belanja disana, ngomongin M-mbak Aira yang tidak-tidak.” Rasanya tenggorokkan Nindia seakan tercekat setelah dengan susah payah ia mengucapkan kalimat tersebut.
Nindia melirik pada majikannya dengan takut. Akan tetapi, ia tidak melihat sorot kemarahan yang ditampilkan oleh majikannya itu. Mami Dita hanya menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang sudah dibicarakannya tadi.
“I-ibu tidak marah?” tanya Nindia.
“Saya memang tidak terima ada yang membicarakan yang tidak-tidak terhadap keponakan saya. Tetapi, nggak ada gunanya saya marah-marah nggak jelas sama mereka.” sahut Mami Dita dengan tenang.
“Mereka akan tetap keukeuh ber-argumen jika saya memberitahu jika itu tidak benar.” Lanjutnya dengan suara pelan.
“Sudahlah biarkan saja. Warga Indonesia ‘kan memang seperti ini. Ada berita sedikit saja tentang orang lain, mereka akan membicarakannya dengan berlebihan. Padahal ‘kan berita itu belum tentu benar.” ucap Mami Dita membuat Nindia melongo.
Nindia sangat kagum dengan majikannya. Selain baik, majikannya juga memperlakukannya tidak semena-mena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ilham meregangkan kedua lengannya yang terasa sangat pegal. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya.
Sudah lima hari lebih tentang pencarian Subroto. Kini, Subroto sudah berhasil ditangkap oleh anak buahnya dan sudah diserahkan pada pihak berwajib. Walaupun sudah ditangkap, dan diinterogasi, akan tetapi hal itu tidak membuat Subroto mau mengungkapkan siapa dalang dari kejadian ini.
Ilham menghembuskan napasnya kasar. Ia rasa kondisi tubuhnya kembali memburuk. Selain karena masalah yang diperbuat oleh Subroto, Ilham kembali dipusingkan oleh para karyawannya yang berbondong-bondong untuk mengundurkan diri dari Perusahaan Nugraha.
Mereka berfikir jika Perusahaan ini akan bangkrut dan berfikir jika Bossnya tidak akan sanggup untuk membayar gaji para karyawannya. Dan untuk itu, mereka berlomba-lomba untuk mengundurkan diri agar mendapat uang kompensasi.
“Sudah ada kabar mengenai pelaku dibalik Subroto?” tanya Ilham tatkala melihat sekertarisnya memasuki ruangan.
Sontak Devan menggeleng pelan. Laki-laki itu duduk di sebuah sofa yang terdapat di ruangan Ilham. Melihat itu pun, Ilham kembali menghembuskan napasnya kasar.
“Bagaimana dengan para karyawan yang berniat mengundurkan diri? Apa kamu sudah menjelaskan yang kemarin saya katakan?” tanya Ilham lagi.
“Mereka bersikeras untuk keluar dari perusahaan ini pak. Saya sudah membujuk mereka sebisa mungkin, akan tetapi mereka sangat keras kepala.” gerutu Devan kesal ketika mengingat para karyawannya yang memiliki sikap keras kepala.
Ilham terkekeh kecil melihat respon yang diberikan oleh Devan. Mungkin memang sudah saatnya ia melepaskan karyawannya yang tidak memiliki rasa empati itu.
Sontak Devan membelalakan kedua matanya tidak percaya. Bagaimana mungkin Bossnya berbicara seperti itu disaat keadaan sedang genting.
“A-apa Bapak tidak salah bicara?” tanya Devan dengan terbata-bata.
“Tidak. Dari kejadian ini, saya jadi mengetahui mana karyawan yang setia dan yang tidak setia.” ujar Ilham dengan raut wajah serius.
“M-maksudnya Pak?” tanya Devan yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Ilham.
“Maksud saya, mereka yang ingin keluar dari sini berarti tidak memiliki rasa empati yang tinggi. Saya memaklumi hal itu. Jika saya menjadi mereka, saya pun mungkin akan melakukan hal yang sama.”
“Tapi ‘kan, perusahaan ini tidak akan bangkrut.” celetuk Devan.
“Ya, memang benar.” sahut Ilham ringan.
“Tidak apa, nanti jika kondisi perusahaan sudah stabil, kita akan merekrut pegawai baru. Tentunya yang berkompeten dan memiliki rasa empati yang tinggi.” tutur Ilham dengan nada yang sangat tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Saat ini, Mama Lina beserta Papa Satria sedang bersiap-siap untuk mendatangi kantor putra mereka.
“Tolong jaga Irzan ya nany,” ucap Mama Lina kepada nany.
Nany yang sedang menggendong tubuh kecil Irzan pun sontak menganggukkan kepalanya patuh.
“Oma mau ke kantor Ayah dulu ya sayang.” ujar Mama Lina sambil mengelus rambut Irzan penuh kasih sayang.
Irzan yang berada dalam gendongan pengasuhnya seketika memberontak ingin diturunkan. Nany pun sampai kewalahan menghadapi sikap Irzan yang tidak seperti biasanya seperti ini.
“Irzan kenapa? Kan Oma cuman sebentar kesananya. Nanti Oma sama Opa beliin mainan ya buat Irzan?” tutur Mama Lina lembut berusaha menenangkan sang cucu.
Wajah anak batita itu memerah hendak menangis. Tangan kecilnya berusaha meraih pergelangan tangan Oma-nya. Irzan seolah tidak mengizinkan Mama Lina serta Papa Satria pergi.
“Irzan sama nany dulu ya, Opa sama Oma berangkat dulu.” ujar Papa Satria seraya mengecup kening Irzan.
“Angan pegi,” lirih Irzan dengan wajah memerah menahan tangis.
“Oma janji nggak akan lama kok.” ucap Mama Lina.
“Nany, saya titip Irzan ya. Tolong jaga cucu saya sebaik mungkin.” tutur Mama Lina dengan sangat tenang. Tak lupa wanita paruh baya itu memberikan senyum menenangkan untuk nany dan cucunya.
“I-iya Nya. Hati-hati di jalan.” ujar nany dengan nada kikuk.
Entah mengapa pengasuh tersebut merasakan perasaan tidak enak saat melihat kepergian Tuan dan Nyonya-nya. Dan tadi, baru pertama kali baginya melihat senyuman menenangkan yang diberikan majikannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ilham melirik sekilas pada ponselnya saat mendengar dering telpon yang memecahkan keheningan. Tangannya terulur mengambil ponsel tersebut. Keningnya mengeryit tatkala melihat rantaian nomor yang tidak dikenal.
Dengan ragu, ia pun menekan tombol hijau.
“Halo?” ucap Ilham kepada penelpon di seberang sana.
“Ya, saya Ilham. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Ilham sambil mengeryitkan dahinya.
“A-apa?” pekik Ilham dengan suara sedikit keras.
“Tolong kirim alamatnya. Saya akan segera kesana.” tutur Ilham dengan raut wajah tak bisa diartikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Siapa yang telpon Ilham? ...
...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...