
Happy reading.
Keesokan harinya, lham dan Devan sedang berada di sebuah restoran ternama bintang lima. Mereka akan bertemu dengan CEO Perusahaan Widjaya yang sudah menyetujui kerja sama dengan Perusahaan Nugraha.
Ilham melirik sebuah jam tangan yang melingkar manis di lengan kirinya. Tak lama kemudian, suara decitan kursi yang ditarik membuat Ilham serta Devan menatap orang tersebut.
“Maaf saya telat.” ucap seorang laki-laki sambil mendudukkan pantatnya di kursi.
“Ah ya, tidak apa-apa.” ujar Ilham.
“Baik, bisa kita mulai?” tanya Ilham kepada laki-laki di hadapannya.
“Ya, silahkan.” sahutnya singkat.
Ketiganya pun mulai membicarakan hal penting. CEO Perusahaan Widjaya mengatakan jika ia tertarik bekerja sama dengan Perusahaan Nugraha.
Tak terasa sudah 3 jam lamanya mereka berbincang-bincang mengenai masalah kerja sama. Laki-laki yang merupakan CEO Perusahaan Widjaya pun undur diri karena ada meeting penting yang harus ia hadiri.
Ilham menghela napas pelan setelah melihat kepergian CEO Perusahaan Widjaya.
“Sudah ada kabar tentang Gretta?” tanya Ilham kepada Devan.
Sontak Devan menghentikkan aktivitasnya yang sedang membuka beberapa email masuk. Ia menatap balik atasannya lalu berkata.
“Belum Pak. Kemarin saya mendapat kabar jika Gretta dan suaminya kabur setelah Pak Ilham menelpon wanita itu.” ujar Devan menjelaskan.
Ilham menganggukkan kepalanya paham. Senyum miring terpatri jelas diwajahnya membuat Devan menatapnya dengan pandangan bingung.
“Saya pastikan, mereka akan tertangkap tidak lama lagi.” ucap Ilham penuh keyakinan.
“Sekarang, biarkanlah mereka bersenang-senang dulu. Menikmati waktu sebelum menghabiskan sisa hidup mereka di dalam jeruji besi.” tutur Ilham dengan sangat tenang.
Devan bergidik ngeri setelah mendengar penuturan yang disampaikan bossnya itu. Ilham terlihat berkali-kali lipat menyeramkan jika lelaki itu mengatakan sesuatu dengan pembawaan yang tenang, namun mencekam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang wanita tengah menikmati pemandangan di depannya dengan tatapan tenang. Di samping wanita itu, terdapat seorang lelaki yang menjabat sebagai suaminya.
“Pi, rasanya tenang banget tinggal disini.” ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan ialah Gretta.
John melirik sekilas pada istrinya, ia hanya berdeham kecil menanggapi ucapan Gretta.
“Aku kangen banget sama Arabella.” gumam Gretta dengan nada lirih.
Sontak John menghela napas lelah. Laki-laki itu sudah sangat sering mendengar kalimat yang sama dari mulut sang istri.
“Ikhlaskan Bella. Kasihan dia kalau kamu terus-terusan bersedih karenanya.” ujar John membuat Gretta menatapnya nyalang.
“Tidak! Aku masih belum bisa mengikhlaskan putriku.” sarkas Gretta dengan sinis.
“Laki-laki itu, harus mendapatkan perbuatan yang setimpal.” dengus Gretta .
John hanya mampu menggelngkan kepalanya ringan. Ia sudah lelah sebenarnya menghadapi tingkah laku sang istri yang semakin merajalela.
“Oh, apa aku ganggu saja istri pertamanya Ilham?” sebuah ide tercetuskan di otak dangkal Gretta.
Sontak John memandang ke arah istrinya dengan tatapan tak percaya.
“Jangan pernah kamu sakiti wanita itu! Dia tidak bersalah Gretta.” sentak John dengan penuh penekanan di setiap katanya.
“Kenapa? Bukannya bagus kalau melihat wanita itu menderita? Dengan begitu, hidup Ilham akan kembali hancur dengan sempurna.” Gretta tertawa jahat setelah menyelesaikan kalimat kejamnya.
“Sudah gila kamu!” maki John pada istrinya sendiri.
“Ya, aku memang sudah gila!” seru Gretta dengan cepat.
John bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Gretta sendirian yang tengah memandangi sebuah pepohonan yang menjulang tinggi dan lebat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nindia bersenandung kecil. Saat ini, perempuan itu tengah memasak untuk makan siang majikannya. Tangannya dengan lihai mengiris berbagai macam sayuran serta daging.
Reno yang berdiri tak jauh dari Nindia mengulum senyumnya. Ia sangat senang jika melihat perempuan itu tengah memasak. Entahlah, padahal ia sudah memiliki kekasih. Namun, hatinya sangat menghangat ketika ia berada di dekat Nindia.
Setelah 20 menit memasak, akhirnya masakan buatan Nindia pun jadi. Perempuan itu menata sajian masakannya di atas meja makan dengan hati-hati. Tak lama kemudian, datanglah Mami Dita serta Reno yang langsung duduk di kursi makan.
“Ayo Nin, kita makan bersama.” ucap Mami Dita kepada Nindia.
Sontak Nindia menghentikan langkahnya saat perempuan itu hendak berjalan menuju wastapel.
“Nindi makannya nanti saja Bu.” tolak Nindia dengan halus.
Mami Dita cemberut saat ajakannya ditolak begitu saja oleh perempuan itu. Reno melirik sekilas pada Maminya yang masih menampilkan raut wajah cemberut.
“Duduk, makan sekarang.” ucap Reno. Ah, lebih tepatnya perintah.
Karena tidak ingin terjadi adanya perang keempat di meja makan, dengan langkah pasrah Nindia pun menuruti perkataan anak dari majikannya itu.
Sontak raut wajah Mami Dita berubah menjadi berseri setelah Nindia bergabung untuk makan bersama. Nindia pun segera menuangkan beberapa lauk pauk serta nasi ke piring Mami Dita dan Reno.
Mereka bertiga makan dalam keadaan hening dan khidmat. Di dalam hatinya, Reno memuji keahlian memasak Nindia. Memang, tidak perlu diragukan lagi masakan Nindia. Sangat top markotop.
“Kamu pintar masak ya Nin,” ujar Mami Dita setelah beliau menyelesaikan acara makannya.
Nindia hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan majikannya.
“Kamu itu definisi menantu idaman banget.” sambar Mami Dita.
“Coba aja kalau kamu sama anak Mami, pasti nanti Mami dapat cucu yang lucu-lucu.” celetuk Mami Dita membuat Reno tersedak.
Dengan sigap Nindia mengambilkan segelas air putih kepada Reno dan membantu laki-laki itu untuk meneguknya. Tak lupa tangan putihnya ikut mengelus punggung Reno naik turun.
Mami Dita yang melihat pemandnagan itu tidak bisa menahan senyumnya. Ia tersenyum lebar dan mengabadikan moment dimana Nindia mengusap punggung Reno dan menatap putranya itu khawatir.
“Mami kalau ngomong jangan yang aneh-aneh!” gerutu Reno setelah laki-laki itu dirasa sudah membaik.
“Ingat Mi, omongan itu adalah doa.” Peringat Reno kepada Maminya, membuat Mami Dita semakin menjadi.
“Iya Mami tahu. Justru itu, Mami ingin kalian menikah dan menjadikan Nindia sebagai menantu kesayangan Mami.” tutur Mami Dita.
Reno menoleh sekilas pada Nindia yang sedang menundukkan kepalanya. Diam-diam, Reno mengaminkan ucapan Maminya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ilham merogoh ponselnya dan langsung menerima sambungan telpon dari anak buahnya.
“Ya, halo?” ucap Ilham setelah menerima sambungan telpon tersebut.
“Boss, kami sudah menemukan keberadaan Gretta dan suaminya.” ucap orang di seberang telpon sana.
“Bagus. Bawa mereka ke kantor polisi sekarang juga. Saya tidak mau mendengar jika mereka berdua kembali kabur.” tutur Ilham dengan penuh penekanan.
“B-baik Boss.”
TUT!
Ilham mematikan sambungan telpon tersebut secara sepihak. Laki-laki itu dengan langkah cepat menemui Devan ke ruangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam sebuah ruangan yang minim pencahayaan, terdapat seorang wanita dan seorang laki-laki dengan kedua tangan diborgol.
“Lepaskan saya!” jerit wanita itu memberontak.
Wanita itu adalah Gretta. 30 menit yang lalu, para anak buah Ilham berhasil menangkap Gretta dan John. Mereka membawa kedua orang tua Arabella ke sebuah kantor polisi. Ternyata, tempat persembunyian wanita itu tidak begitu sulit ditemukan.
“Diam!” bentak seorang laki-laki yang merupakan seorang penyidik.
“Lepaskan saya!!” teriak Gretta yang tidak mendengarkan ucapan penyidik.
Ceklek!
Gretta beralih menatap seseorang yang memasuki ruangan penyelidikan. Kedua matanya menajam saat laki-laki yang baru masuk tadi duduk tepat di hadapannya.
“Brengsek!” umpat Gretta dengan suara keras.
Ilham tertawa puas melihat wanita yang saat ini ada di hadapannya. Tatapannya beralih pada laki-laki yang duduk di samping Gretta dengan tangan sama-sama diborgol.
“Lepaskan saya!” ucap Gretta kepada Ilham.
“Apa? Lepaskan?” dengan sengaja Ilham mengulangi ucapan yang dikatakan Gretta.
“Dasat ba*ingan!” maki Gretta menatap nyalang Ilham yang sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
“Kenapa anda melakukan perencanaan kecelakaan tunggal terhadap kedua orang tua korban?” Penyidik mulai bertanya kepada kedua tersangka.
“Jawab saya!” seru penyidik itu dengan penuh penekanan.
“Heh, kepo sekali kamu!” jawab Gretta membuat Ilham mengepalkan kedua tangannya.
“Cepat katakan.” sentak penyidik itu dengan sedikit memaksa.
“Huh, baiklah akan aku katakan alasannya.” dengan entengnya Gretta mengucapkan kalimat tersebut.
“Aku memang sengaja membuat kecelakaan tunggal kepada Satria dan Lina.” tutur Gretta yang mulai mau berbicara tentang alasan dibalik kejadian yang dia lakukan.
“Karena, dia sudah membuat putriku mati!” pekik Gretta dengan menatap Ilham tajam.
Ilham tidak bergeming dari duduknya. Laki-laki itu hanya terus berdiam diri mendengarkan setiap kata yang akan diucapkan oleh wanita gila di hadapannya.
“Beri dia hukuman mati.” ucap Ilham yang sedari tadi hanya terdiam.
John menatap tajam pada Ilham. Laki-laki itu tidak terima jika Ilham mengatakan hal yang begitu kejam.
“Tidak.” sela John dengan suara cukup keras.
“Aku tidak akan membiarkan istriku dihukum begitu saja. Berikan dia hukuman yang setimpal.” ucapnya membuat Ilham menaikkan salah satu alisnya.
“Suami yang setia,” ejek Ilham kepada John.
“Maaf Pak, anda tidak bisa memutuskan hal ini. Hukuman akan kami berikan yang setimpal kepada tersangka. Dan, kami juga akan memberikan hukuman ringan kepada anda karena sudah membantu tersangka melarikan diri.” ucap penyidik.
“Dia … mengalami gangguan psikis.” gumam John yang masih dapat didengar oleh Ilham dan penyidik.
“Aku tidak gila!” pekik Gretta sambil menatap suaminya dengan tajam.
Karena tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, penyidik itu pun membawa Gretta ke dalam sel penjara. Sementara, John masih duduk seraya menatap punggung istrinya yang perlahan menjauh dengan tatapan sulit diartikan.
“Sudah puas menghancurkan hidup saya?” tanya Ilham sinis.
Jhon menoleh pada Ilham. “Maafkan saya dan istri saya jika kami pernah membuatmu merasa tak nyaman dan membuat hidupmu berantakan.” ucap John dengan lirih.
Terdapat ketulusan dalam ucapan laki-laki itu.
“Nikmatilah hidup kalian di dalam jeruji besi.” Ilham melangkah keluar dari ruangan penyelidik setelah mengatakan kalimat itu.
Sementara John hanya mampu menundukkan kepalanya dalam. Sungguh, ia hanya menuruti semua kemauan istrinya yang begitu ia sayangi.
Entah apa yang sudah dilakukan Gretta hingga membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada wanita itu. Memang ya pada dasarnya, cinta itu buta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Akhirnya Gretta ketangkap juga huftt...
...Yeayyy triple update lagi 😍...
...Jangan lupa like+komen di episode sebelumnya 😊...
Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊