HEART

HEART
Mini Zoo



Happy reading.


Setelah penangkapan Gretta serta John, kini perlahan setiap masalah yang menghampiri Ilham mulai memudar. Begitu pun dengan perusahaannya. Perusahaannya yang bekerja sama dengan Perusahaan Widjaya berjalan lancar.


Reputasi Perusahaan Nughara kembali naik dan membaik. Para karyawan yang sempat mengundurkan diri pun sontak mendesah kecewa karena sudah mengundurkan diri dari perusahaan itu.


Detik demi detik telah berlalu. Begitu pun dengan hari. Tepatnya hari ini, weekend kali ini Ilham meluangkan waktunya bersama keluarga kecilnya. Hari ini mereka bertiga akan mengunjungi sebuah kebun binatang kecil atau Mini Zoo.


“Sudah siap sayang?” tanya Ilham seraya menatap Aira yang tengah merapikan pakaian Irzan.


Aira menoleh pada suaminya lalu mengangguk singkat. “Sudah Mas.” jawab Aira singkat.


Ilham melangkah terlebih dahulu sembari menggendong Irzan. Diikuti Aira di belakangnya dengan langkah pelan. Nany pun turut mengantarkan majikannya ke depan.


“Semua kebutuhan Irzan sudah dimasukkan ke dalam tas ‘kan” tanya Aira kepada nany.


“Sudah Mbak,” sahut nany.


Aira menganggukkan kepalanya singkat. Ia menatap punggung tegap suaminya yang tengah menggendong Irzan dengan salah satu tangannya memegang tas berukuran sedang berisi khusus kebutuhan batita itu.


“Kalau begitu saya berangkat ya nany, tolong jaga rumah baik-baik. Hari ini, nany bebas melakukan apa pun yang nany suka.” tutur Aira sebelum wanita itu memasuki mobil.


Nany menganggukkan kepalanya kuat. “Siap Mbak. Mas sama Mbak hati-hati di jalan.” ujar nany kepada kedua majikannya.


Setelah itu pun, Ilham membukakan pintu mobil untuk istrinya. Aira langsung masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Sementara Irzan, batita itu duduk di kursi belakang dengan sebuah kursi khusus untuknya.


Ilham pun duduk di kursi kemudi. Laki-laki itu menyalakan klakson mobil satu kali seraya melajukan kendaraannya meninggalkan kawasan rumahnya. Ilham melirik ke sampingnya melihat wajah sang istri yang tengah menatap jalanan lewat kaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekitar 30 menit di perjalanan, akhirnya mobil yang Ilham kendarai sampai juga di sebuah wisata Mini Zoo yang terletak di Kota Jakarta. Ilham membuka seatbeltnya dan segera keluar untuk membukakan pintu mobil untuk Aira.


“Terima kasih, Mas.” ucap Aira yang mendapat anggukan singkat dari Ilham.


Ilham beralih membuka pintu mobil bagian tengah dan membawa tubuh Irzan ke dalam gendongannya. Tak lupa, laki-laki itu pun membawa tas berisi kebutuhan Irzan dan menyampirkannya di bahu sebelah kiri.


“Biar aku saja Mas yang bawa tasnya,” ucap Aira yang tidak tega melihat suaminya yang kerepotan.


“Udah nggak usah sayang, Mas bisa kok.” tolak Ilham seraya memasangkan gendongan khusus Irzan dan meletakkan Irzan disana.


Setelah itu pun, mereka bertiga berjalan masuk ke dalam. Ilham sedang mengantri untuk membeli tiket masuk. Sementara Aira menunggu sembari duduk di bangku.


Sekitar 7 menit setelah Ilham membeli tiket masuk, kini Ilham, Aira serta Irzan mulai memasuki kawasan Mini Zoo. Banyak sekali pengunjung yang datang pada hari weekend ini. Rata-rata mereka yang datang kesini bersama dengan keluarganya.


“Mau lihat apa dulu?” tawar Ilham sambil melirik pada Aira.


“Gimana kalau kita lihat-lihat burung dulu? Sepertinya Irzan tertarik melihat burung-burung itu.” ucap Aira seraya melirik putranya yang melihat burung-burung dengan tatapan antusias.


Ilham menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui usulan sang istri. Ilham pun berjalan beriringan dengan Aira, tak lupa salah satu tangannya memegang pinggang wanita itu.


Aira duduk di sebuah bangku yang terdapat di depan sangkar burung-burung yang cukup besar. Sementara itu, Ilham melangkah mendekati burung-burung itu dan berceloteh mengenalkan nama spesies burung tersebut kepada putranya.


“Apa itu Zan?” tanya Aira yang kini menghampiri suaminya serta putranya.


“Ulung,” cicit Irzan membuat Aira terkekeh kecil dibuatnya.


“Bukan ulung, tapi burung.” ucap Aira mengoreksi ucapan sang putra.


“Ulung Nda,” keukeuh anak batita itu seraya menunjuk berbagai jenis burung di depannya.


“Hahaha iya deh, gimana kamu aja,” dengan gemas Aira mengecup pipi tembab Irzan berulang kali hingga membuat anak batita itu tertawa geli.


“Ck Irzan doang nih yang dapet kecupan manis? Aku kok nggak.” sungut Ilham dengan wajah sedikit ditekuk.


Tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba saja tangan mungil nan menggemaskan Irzan terulur menggeplak wajah sang ayah. Mungkin anak batita itu memiliki feeling jika ucapan ayahnya membuatnya kesal.


“Anak siapa sih, tengil banget.” cibir Ilham dengan wajah tertekuk.


Aira menggelengkan kepalanya melihat interaksi kedua laki-laki berbeda usia itu. Dengan mengumpulkan niatnya, salah satu tangan Aira terulur mengusap pipi suaminya itu.


“Siapa juga yang cemburu.” ujar Ilham sembari mendengus pelan.


Setelah puas melihat-lihat sekumpulan spesies burung, kini Ilham beserta Aira dan Irzan yang berada di gendongan Ilham berjalan menuju ke arah jerapah.


Ilham berdiri tepat di depan pagar pembatas. Aira memberikan satu ember kecil berisi wortel yang dibelinya tadi kepada Ilham. Tangan Ilham perlahan menjulurkan wortel tersebut dan langsung dilahap oleh seekor jerapah.


Irzan bertepuk tangan heboh melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya. Anak batita itu merengek ingin memberikan makan untuk hewan berleher panjang itu.


“Zan mauu!” rengek Irzan dengan wajah yang menggemaskan.


Ilham pun memberikan satu buah wortel kepada Irzan yang langsung membuat anak batita itu memekik kegirangan. Tangan mungilnya membawa wortel tersebut ke depan mulut jerapah.


Dengan cepat seekor jerapah dari arah lain langsung melahap wortel pemberian dari Irzan. Irzan yang terkejut karena kehadiran jerapah yang langsung melahap wortelnya pun sontak menangis karena terkejut.


“Huwaaaa!” pekik Irzan.


Ilham panik bukan main saat putranya menangis histeris karena terkejut oleh ulah jerapah tadi.


“Cup, cup, cup, anak baik nggak boleh nangis ya?” bujuk Ilham yang tidak di dengarkan oleh Irzan.


“Sini Mas, biar aku yang tenangkan Irzan.” tawar Aira yang tidak tega melihat wajah sembab Irzan.


“Nggak Ra, kamu lagi hamil besar. Mas nggak akan izinin kamu gendong Irzan. Apalagi berat badan Irzan sekarang bertambah.” tolak Ilham dengan nada suara lembut.


Aira yang mendengar penolakan itu pun sontak menekuk wajahnya. Wanita itu berjalan mendekati sang suami yang sedang berusaha menenangkan putra mereka.


“Irzan sayang,” panggil Aira dengan halus.


Irzan menoleh saat mendengar namanya dipanggil oleh Bundanya, dengan isakan kecil. Aira mengelus rambut Irzan dengan pelan dan penuh kasih sayang.


“Irzan nggak boleh nangis ya, masak anak cowok nangis sih,” ujar Aira seraya mengerucutkan bibirnya.


Irzan terdiam sembari menatap Bundanya dengan tatapan sayu. Tak bisa dipungkiri, jika anak batita itu selalu menuruti setiap apa yang dikatakan oleh wanita berbadan dua tersebut.


“Irzan nggak boleh nangis lagi, oke?” ucap Aira membuat kepala anak batita itu mengangguk kecil.


Sontak senyum manis terbit di bibir tipis Aira.


“Pintar banget anak Bunda.” Dengan sayang Aira mengecup kening serta kedua pipi Irzan.


Ilham yang melihat itu pun semakin gondok. Jujur saja, walau pun Aira bersikap seperti itu kepada putranya sendiri, akan tetapi rasa iri selalu menyelimutinya.


Namun, tak bisa dipungkiri jika Ilham sangat bersyukur karena Aira mau menerima kehadiran Irzan dan mau merawatnya bersama-sama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul sebelas siang, keluarga kecil itu memutuskan untuk pulang ke rumah. Ilham meletakkan tubuh putranya di kursi tengah dengan kursi khusus yang sudah melekat pada tubuh putranya itu.


Laki-laki itu menoleh ke samping menatap wajah istrinya yang terlihat bahagia.


“Kamu senang?” tanya Ilham yang masih menatap wajah Aira.


Aira menganggukkan kepalanya cepat. “Iya, Mas. Aku senang sekali.” ucapnya dengan nada riang.


Ilham tersenyum lebar mendengar jawaban sang istri. Salah satu tangan kekar laki-laki itu mengusap permukaan perut Aira. Ilham mengecup perut Aira dengan gemas.


“Aku udah nggak sabar ketemu anak kita.” gumam Ilham yang masih dapat didengar oleh Aira.


Aira terkekeh geli mendengar ucapan suaminya. Pasalnya, sudah berulang kali Ilham mengatakan hal yang sama. Tangan Aira mengusap rambut lebat suaminya saat laki-laki itu tengah mengajak calon anak mereka berinteraksi.


Bisakah aku menghentikan waktu sejenak? Aku ingin terus seperti ini bersama orang yang kusayangi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+shate cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...


...See you 😀...