
Psyche mencintai Adam. Sebaliknya, Adam juga mencintai wanita itu dengan caranya.
Mereka adalah hitam dan putih. Terlalu kontras. Terlalu menarik perhatian ketika disandingkan.
Adam adalah dominan. Ia menentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
Perempuan itu selalu bersanding dengan air mata. Mengutamakan hati daripada akal di saat laki-laki justru mengagungkan kebalikannya.
Akal selalu lebih benar daripada hati. Karena hati terkadang membenarkan apa yang salah dan menyalahkan apa yang benar. Terlalu banyak menggunakan hati hanya akan membuat sakit hati. Itu adalah poin penting yang selalu Adam sematkan dalam dirinya.
Psyche menyadari semua itu ketika ia bekerja langsung di bawah naungan Adam Louvander.
Pria itu arogan. Tidak ingin didebat, tidak ingin dibantah dan begitu menjaga harga dirinya sebagai seorang atasan.
Adam akan mengumpati Psyche dengan segala sumpah serapah ketika ia melakukan kesalahan. Bahkan ketika karyawan lain ada di sekitar mereka, pria itu tak akan segan-segan.
Psyche bersumpah bahwa ia membenci pria itu sampai ke tulangnya. Hari-harinya sebagai karyawan baru seolah menjadi hari terburuk yang pernah ia alami dalam hidupnya.
Ia pernah membayangkan bahwa setelah lulus kuliah, ia akan bekerja dan menabung untuk ini dan itu. Tapi bahkan ia merindukan masa-masa kuliah setelah ia menjadi karyawan dan mempunyai uang sendiri.
Ya. Semua karena Louvander itu.
Mereka menjadi lebih sering berdebat. Adam yang mempertaruhkan harga dirinya sebagai atasan yang tak ingin dibantah. Dan Psyche yang mempertaruhkan harga dirinya sebagai seorang karyawan yang tidak ingin dianggap rendah.
Psyche bukan orang yang senang menentang. Tapi Adam adalah ******** yang tak segan membentak seorang wanita di hadapan semua orang.
Hingga semua benci itu mendarah daging padanya, ia tak sadar bahwa benci itulah yang mengundang akal sehatnya untuk selalu memikirkan Adam.
Memikirkan Adam yang kasar dan tak berperasaan. Memikirkan Adam yang arogan hanya karena jabatan tinggi yang pria itu miliki. Memikirkan Adam yang selalu mengangkat dagu tinggi-tinggi karena tidak ingin dilawan.
Lalu pada suatu ketika, ia melihat Adam berada dalam mobil yang sama dengan seorang gadis berambut merah. Mereka bertatapan mesra dan hangat. Bahkan mereka sempat berciuman sebelum mobil yang mereka tumpangi melenggang dari kantor.
Psyche semakin membenci pria itu. Satu bulan sebelumnya bukan gadis berambut merah yang Adam antar dengan mobil mewahnya, melainkan seseorang dengan rambut pirang.
He's just a real bastard.
******** yang selalu di berkahi dewi fortuna.
Sekarang, Psyche bilang membenci pria itu, tetapi ada sebuah pengharapan yang menginginkan Adam bisa tersenyum padanya—seperti ia tersenyum pada wanita-wanita yang duduk di samping bangku kemudinya.
Ia menjadi salah satu orang yang akan menyandang nama ******** itu.
Ia telah jatuh cinta pada seseorang yang mati-matian dibencinya.
.
.
.
Mengapa mereka pada akhirnya bisa bersama?
Tidak. Ini bahkan terlalu awal untuk dikatakan akhir.
Semuannya seperti kutukan.
Psyche tidak pernah benar-benar tahu alasan apa yang membuat Adam berani menawarkan sebuah hubungan padanya.
Wanita berambut merah—Karin Costar—adalah wanita terakhir yang pria itu kencani sebelum hubungan mereka terbentuk. Yang membuat Psyche terkejut adalah keluarnya Karin dari perusahaan beserta undangan pernikahannya yang tak lama datang setelah surat pengunduran dirinya.
Wanita itu menikah dengan pria lain padahal beberapa minggu sebelumnya ia masih satu mobil dengan Adam.
Setelah undangan pernikahan Karin tersebar, Adam datang kepadanya dengan gerak-gerik yang berbeda. Tatapan dingin dan tak acuhnya berganti oleh sebuah tatapan yang dapat membuat seluruh bulu kuduknya meremang.
Ternyata pria itu sadar, bahwa dirinya menginginkan pria itu seperti wanita lainnya. Seperti mantan-mantannya yang lain.
Satu kesalahan fatal lagi dan Psyche merasa ia benar-benar menjadi wanita bodoh. Apa semuanya terlihat begitu jelas? Apa ia benar-benar wanita yang naif?
Padahal ia selalu bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menjadi wanita yang mudah percaya dan terbawa perasaan.
“Kau selalu menganggap dirimu kuat dan berbeda, berpikir bahwa aku tidak akan sanggup membuatmu goyah.” Adam pernah berkata sambil memandang remeh dirinya ketika mereka berpapasan di dalam lift. “Tapi kau salah. Pancaran matamu dan apa yang kau ucapkan tidak pernah selaras.” Ada nada kemenangan dalam setiap katanya. Juga sebuah kepuasan karena telah mengalahkan lawan yang sering mendebatnya.
Pria itu tersenyum—menyeringai—padanya untuk pertama kali.
“Percayalah, bahkan sebelum sempat berkedip, kau tidak akan sadar bahwa kau sudah menyerahkan segalanya padaku.”