
Sudah pukul dua dini hari dan Psyche masih terduduk di sana sambil menatap Adam yang terbaring di sofa. Ia terjaga meski tak sedikit pun kafein telah diteguknya.
Getaran ponsel hitam yang berada di atas meja membuat fokusnya teralih. Jika itu bukan milik Adam, maka Psyche akan abai. Tapi sudah terlalu sering benda itu berdering. Dan kali ini entah yang ke berapa kali.
Mendengar napas halus pria itu dan kedua matanya yang tertutup rapat, membuat Psyche tak perlu waswas saat ia meraih ponsel milik sang pria.
Dengan kata kunci yang sudah ia hafal tak sulit untuk menemukan beberapa panggilan dan pesan yang terabaikan atas nama Miranda.
Psyche tak berekspresi apa pun. Bahkan ketika ia menemukan deretan pesan yang tak pernah ia duga.
"Kenapa tidak mengangkat teleponku, Adam?"
Scroll.
"Tentang pertanyaanmu di mobil tadi, aku terus kepikiran dengan hal itu."
Scroll.
"Apa kau mulai merasa terganggu dengan hubungan kita?"
Scroll.
"Kalau begitu, lebih baik aku jujur saja, bukan?"
Scroll.
"Maafkan aku—"
Scroll.
"Aku mencintaimu, Adam."
Psyche menatap pesan terakhir itu cukup lama. Miranda tetaplah seorang wanita, sesakit apa pun ia atas kegagalannya di masa lalu tak akan membuatnya jera untuk mencinta.
Seperti sebaris lirik lagu—pain is just the consequense of love. Tidak pernah benar-benar ada yang tidak ingin mencintai lagi, mereka hanya tidak ingin terluka. Tapi luka merupakan konsekuensi dari cinta. Mereka tak akan pernah terpisahkan.
Dan yang membuat seseorang bertahan dalam cinta itu bukanlah kebodohannya, melainkan keikhlasan untuk menerima setiap konsekuensinya.
Psyche akan memberikan pelajaran pada Miranda sekali lagi. Tentang cinta dan konsekuensinya.
Jadi, ia menghapus semua pesan dan riwayat panggilan tak terjawab dari sang wanita.
Ia tersenyum pahit. Diliriknya Adam sekali lagi dalam waktu yang lama.
Rasa frustrasi pria itu tersampaikan dalam ciumannya yang kasar dan terburu-buru hingga bibirnya terlihat memerah dan bengkak. Lalu di lehernya juga terdapat beberapa tanda merah keunguan yang tak akan hilang untuk beberapa hari ke depan.
Adam beberapa jam yang lalu adalah sosok yang asing. Tapi ia senang karena yang membuat Adam menjadi seperti itu adalah alasan yang sama—yang membuatnya menjadi sosok mengerikan.
Ia mencintai Psyche dan sekarang pria itu mencintainya juga. Adam pikir semuanya akan impas setelah perasaannya berbalas dan Adam berlutut di bawah kakinya untuk memulai semuanya kembali.
Tapi semua tak semudah itu. Balas dendamnya untuk semua perlakuan buruk Adam yang telah menginjak harga dirinya sebagai seorang wanita ternyata belum usai.
Ada faktor lain yang membuat semuanya menjadi lebih berbelit.
"Kau sudah membuatku seperti ini, maka aku tak akan membiarkanmu pergi dengan mudah." Kata-kata Adam setelah ciumannya beberapa jam lalu masih terngiang jelas dalam ingatan. Dengan tatapan sayu, pria itu melanjutkan, "Kembalilah padaku. Aku tidak sedang meminta—aku menyuruhmu, Psyche."
Tubuh pria itu ambruk di hadapannya. Berlutut dengan kepala tertunduk dan sempat membuat Psyche berpikir bahwa Adam memang benar-benar mabuk.
Tapi, tepat sebelum Psyche meraih tubuh Adam untuk berdiri, pria itu kembali berbicara, "Jangan tinggalkan aku. Jangan buat aku menderita seperti ini."
Adam menahan kedua tangan yang hendak meraih pria itu dan berdiri tegak. Kepalanya menengadah menatap langit-langit yang temaram.
"Kenapa...aku harus mendengarkanmu?"
"Karena kau mencintaiku." Adam menggeleng lemah. Nadanya getir dan lemah. "Tidak. Karena kita saling mencintai."
Psyche memijit pelipisnya pelan. Beberapa jam yang lalu adalah sesuatu seperti mimpi. Bahkan saat ia sudah memprediksi semuanya, ia masih tak percaya bahwa Adam bisa dengan mudah berlutut di bawahnya.
Tapi tak hanya itu, meski Psyche sempat berkaca-kaca karena perkataan Adam, ia menampik bahwa sesuatu yang basah di bawah kakinya adalah air matanya.
.
.
.
"Kau sudah bangun?"
Saat membuka mata, Adam mendapati Psyche berdiri di hadapannya dengan nampan berisi susu dan panekuk.
Adam dengan cepat beringsut, saat itu ia menyadari bahwa sebuah selimut tebal baru saja meluncur dari tubuhnya.
"Jam berapa ini?" Pria itu meraih ponsel dan mendapati benda itu tidak hidup saat ditekan. Sepertinya kehabisan baterai.
"Setengah delapan. Terserah mau kerja atau tidak." Psyche meletakkan nampan di atas meja. "Sebentar lagi aku berangkat, akan masalah kalau seseorang melihat kita keluar bersama."
Adam memerhatikan Psyche yang sudah rapi dengan setelan kerja dan aroma tubuh yang wangi. Apakah Psyche mengganti parfumnya? Aromanya berbeda semenjak ia memutuskannya hari itu. Dan juga, ia tak menemukan bekas perlakuannya semalam saat ia memperhatikan leher Psyche.
"Aku kerja. Kita berangkat bersama."
Psyche melirik Adam sebentar sebelum berbalik dan meraih tas kerjanya. "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Adam."
"Kalau begitu jangan menolak. Aku telah berlutut di bawah kakimu seperti yang kau inginkan."
"Kita berangkat bersama. Tunggu aku di bawah."
.
.
.
Jacob sempat tertegun ketika Miranda sudah berdiri di dalam lift yang akan ia masuki. Pria itu tersenyum kecil sebelum berdiri di samping Miranda sampai pintu lift tertutup.
"Aku tidak melihat sepupumu. Biasanya kau akan menempelinya seharian."
Sepupunya, selalu sepupunya...
Jacob menyeringai. "Kupikir ia bersamamu semalaman."
Miranda melirik pria itu dengan ekor matanya. "Jangan salah paham, dia hanya mengantarku pulang."
"Nah, sebagai apa?" Tanya Jacob sarkastis.
Miranda menjilat bibirnya sendiri. Sebagai kerabat, Jacob dan Adam sama-sama memiliki lidah yang tajam. Tapi Jacob memiliki level yang berbeda dengan Adam.
"Kurasa itu bukan urusanmu. Tapi terserah sih mau memandangnya seperti apa."
Perbincangan di lift itu terasa sangat lama bagi Miranda. Tetapi berbeda dengannya, Jacob tampak menikmati saat-saat itu.
"Kadang aku takjub pada sikapmu yang tidak peduli pada pandangan orang lain. Tapi, di sisi lain aku merasa iba terhadapmu."
Miranda melengos. Ia menelan ludah dengan susah payah. Meski hanya berdua di sana, entah mengapa ia merasa sesak.
"Kau selalu berada di sisinya, tapi selalu berlindung di balik kekasih-kekasihnya."
Miranda mendelik, "Hentikan ucapanmu itu."
Tapi seolah tuli, Jacob tetap melanjutkan, "Berhentilah, Miranda. Lihat di sekelilingmu, meski kau terlihat baik-baik saja, aku tahu kau sama terlukanya dengan wanita yang berakhir dengan Adam."
"I said stop!" Miranda terengah. Ia menatap Jacob dengan nyalang. "Ada apa denganmu hari ini?! Kau sangat menyebalkan!"
Saat pintu lift terbuka, Miranda bergegas keluar dari benda kotak itu. Tapi Jacob dengan cepat menahan tangannya, menyeretnya ke koridor yang sepi dan mengimpit tubuhnya ke dinding.
Napas keduanya terengah.
"Kau mendekatiku untuk membuat Adam iri padaku." Jacob berada di hadapannya dengan tatapan tajam yang baru ia lihat. "Kau berpikir aku akan membiarkanmu memperlakukanku seenaknya setelah semua ini?"
Tubuh Miranda semakin di desak di dinding dan napas Jacob sudah menyentuh sebagian pipinya.
"Berhentilah memperhatikannya, dia tidak mencintaimu, Miranda."
Sepasang mata yang sering menampilkan jelaga sewarna zamrud itu tertutup. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi, meski ia tahu betul kenyataannya seperti apa.
"Lepaskan aku."
"Tidak akan. Tidak lagi setelah kau menyakitiku."
"Siapa yang menyakitimu..." Suara itu mengagetkan mereka berdua. "... Jacob?"
Miranda berjengit. Itu adalah suara Adam. Pria itu tak bisa dilihatnya karena terhalang oleh tubuh Jacob yang lebih besar darinya.
Jacob mendengus pelan sebelum melepaskan cengkeramannya pada Miranda. Pria itu berbalik dan menemukan Adam yang menatap ke arahnya dengan kening berkerut.
"Miranda?"
Tidak. Pria itu ternyata melihat ke arah Miranda.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Adam melihat mereka dengan tatapan curiga. Dan Jacob juga baru menyadari bahwa Psyche ada di belakang pria itu.
"Tidak ada apa-apa." Jacob melirik Miranda dengan kedua tangan yang tersembunyi dalam saku celana. "Hanya bermain-main saja, tidak perlu melayangkan tatapan membunuh seperti itu, Adam."
Jacob mengarahkan seringainya pada Psyche. "Kalau aku tidak boleh mengambil yang ini, bagaimana jika wanita yang ada di belakangmu saja?"
Kali ini Miranda yang menyadari kehadiran wanita itu. Melihat Adam datang dengan Psyche terasa begitu tak mungkin baginya.
Mereka sudah putus. Itu pasti. Dan Psyche juga tampak membenci Adam saat ia melihat tatapan matanya terakhir kali.
Apa mereka hanya kebetulan berpapasan di sana?
Adam mendengus. Tatapan tajamnya berserobok dengan kerlingan penuh arti yang dilayangkan oleh Jacob.
"Omong kosong!" Pria itu melewati tubuhnya dengan langkah cepat dan menggema di sepanjang koridor.
Adam berpikir bahwa Jacob tak mengetahui hubungannya dengan Psyche. Pun Miranda— yang berpikiran sama—kini menyusul Adam dengan terus memanggil namanya.
Jacob tertawa hambar sambil melirik Psyche. "Lihat dua orang itu? Mereka sama-sama menyedihkan, bukan?"
"Ya. Dan kita lebih menyedihkan karena mencintai dua orang menyedihkan itu."
Psyche menatap kepergian mereka dengan bibir terkatup rapat.
Mengapa semuanya masih saja terlihat menyakitkan?