HEART

HEART
Gosip



Happy reading.


Hari ini adalah hari ketiga setelah Ilham keluar dari rumah sakit. Padahal kondisi laki-laki itu belum sepenuhnya pulih. Akan tetapi, karena sikap keras kepalanya membuat Mama Lina mau tidak mau menuruti permintaan sang putra.


Saat ini Ilham sedang berada di dalam ruangannya bersama sekertarisnya-Devan. Laki-laki itu menghela napasnya kasar. Sesekali ia memijat kepalanya saat merasakan denyut pening melanda.


“Pak Ilham seharusnya istirahat saja di rumah. Masalah ini biar saya yang menyelesaikan.” ujar Devan yang tidak tega melihat kondisi atasannya yang belum sepenuhnya pulih.


“Tidak apa-apa. Saya sudah lumayan enakan.” sahut Ilham.


“Sudah ada info terbaru mengenai pencarian Subroto?” tanya Ilham kepada Devan.


Sontak Devan menggelengkan kepalanya kecil. Melihat hal itu, lag-lagi Ilham menghela napasnya gusar. Entah sampai kapan anak buahnya menemukan keberadaan Subroto-Orang yang sudah berkorupsi di perusahaannya.


Subroto ialah orang yang sudah membawa kabur uang perusahaan sebesar 900 juta. Tentu saja Ilham sebagai CEO dari Perusahaan Nugraha harus menggantikan rugi tersebut. Belum lagi ia membayar biaya rumah sakit saat dirinya koma kemarin.


“Pemirsa, saat ini kita sedang dihebohkan oleh seseorang yang melakukan korupsi di Perusahaan Nugraha. Kabarnya CEO yang baru saja keluar dari rumah sakit langsung turun tangan menangani masalah ini.”


Ilham menopang dagunya saat telinganya mendengar berita yang sedang heboh di media sosial karena salah satu pegawainya. Banyak para investor dan perusahaan lain yang membatalkan kerja sama dengan perusahaannya.


Percayalah, saat ini dirinya benar-benar di pusingkan oleh beberapa masalah yang menghampirinya.


“Halo,” ucap Devan saat laki-laki itu menerima panggilan dari anak buah bossnya.


“Apa? Masih belum ketemu juga?” pekik Devan tak percaya.


“Ya. Bagaimana pun caranya, kamu cari dia sampai ketemu.” tukas Devan.


Devan memasukkan ponselnya kepada saku celananya saat panggilan tersebut dimatikan secara sepihak olehnya. Laki-laki itu melirik sekilas pada atasannya yang sedang memejamkan kedua matanya.


“Pak-“


“Saya tahu. Subroto memang sulit sekali untuk ditemukan.” tutur Ilham saat Devan akan membuka suara.


Devan merapatkan bibirnya mendengarkan ucapan apa yang akan keluar dari mulut atasannya.


“Saya yakin, dibalik perbuatan yang dilakukan oleh Subroto---Pasti ada seseorang yang mengendalikannya.” ucap Ilham dengan nada lirih.


Devan menatap atasannya dengan raut wajah penasaran. Setahunya, tidak ada yang membenci atau memusuhi Ilham selama ini. Lalu, siapa dalang sebenarnya? Pikir laki-laki itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa, pagi-pagi seperti ini Nindia sudah siap untuk berbelanja di tukang sayur. Perempuan itu melangkah kecil saat melihat gerobak tukang sayur yang tak jauh dari arahnya.


Saat ia sudah sampai disana, Ibu-Ibu yang memiliki tompel langsung menyambutnya dengan girang. Masih ingat ‘kan dengan Ibu-Ibu pemilik tompel? Ya, dia adalah yang bersikeras ingin menjadikan Nindia sebagai menantunya.


“Eh ada si neng,” celetuk Ibu pemilik tompel itu.


Nindia hanya merespon dengan senyuman simpul. Tangan perempuan itu dengan gesit memilih beberapa sayuran yang sedang dibutuhkannya.


“Gimana neng? Nggak jadi ‘kan nikah sama calonnya?” tanya Ibu pemilik tompel.


Nindia mengerutkan dahinya bingung. Seketika ingatannya berkelana pada pertemuan pertama dengan si Ibu-Ibu ini yang menginginkannya untuk menjadi istri anaknya.


“Ah, i-iya.” sahut Nindia dengan terbata-bata.


“Pokoknya mah, kalau nggak jadi sama si calonnya, kabarin Ibu langsung ya neng!” seru Ibu tersebut dengan nada antusias.


Nindia hanya mampu mengulas senyum canggung. Cukup banyak Ibu-Ibu yang pagi ini berbelanja sayuran. Maklum rata-rata di sekitaran rumah Mami Dita, para Ibu-Ibu hanya menjadi IRT saja. Jadi mereka setiap harinya akan berbelanja sayur seperti saat ini.


“Eh, saya dengar-dengar keponakannya Ibu Dita itu lagi hamil besar loh,” celetuk salah satu Ibu-Ibu biang gosip.


“Iya loh saya nggak bohong!” seru Ibu-Ibu biang gosip itu lagi.


“Tapi kok, suaminya nggak pernah kelihatan ya?” tanya penjual sayur yang sudah tergiur oleh obrolan para pembelinya.


“Nah itu dia Bu, mungkin keponakannya hamil diluar nikah kali ya?”


Rasanya telinga Nindia panas sekali saat mendengar obrolan tidak berfaedah Ibu-Ibu di sekelilingnya. Ingin sekali rasanya perempuan itu mencakar mulut Ibu-Ibu yang membawakan gosip tidak benar.


“Wah saya nggak sangka kalau keponakannya kayak begitu.” ucap penjual sayur yang mudah mempercayai ucapan orang lain.


Sudah cukup. Nindia tidak tahan berada disini. Tunggu saja, sebentar lagi ia pasti akan meledak juga.


“Ngeri ya Bu, anaknya kayak gitu. Pasti Bu Dita malu tuh-“


“STOP!” seru Nidia membuat obrolan para Ibu-Ibu itu seketika terhenti.


“Kenapa neng? Neng juga tahu ya kalau keponakannya Ibu Dit-“


“Berhenti ngomongin orang lain.” ucap Nindia cepat memotong ucapan yang akan dikatakan oleh pembiang/penyebar gosip itu.


“Loh kenapa? Suka-suka saya lah!!” serobot Ibu tersebut tidak terima.


Nindia menghela napasnya kasar. Saat ini dirinya merasakan gejolak emosi yang kapan saja bisa meluap.


“Kalian nggak tahu kebenarannya kayak gimana. Jadi, saya mohon berhenti bicarain Mbak Aira. Dia nggak seperti yang kalian kira!” tukas Nindia dengan kesal.


"Jangan pernah menjudge orang lain tanpa kebenaran yang sesungguhnya. Saya bisa tuntut Ibu karena sudah mencemarkan nama baik seseorang!"


Wajah perempuan itu memerah menahan emosi yang akan meluap. Perempuan itu menyimpan kembali beberapa bahan sayuran yang sudah diambilnya tadi. Moodnya memburuk kala mendengar para Ibu-Ibu itu membicarakan yang tidak-tidak tentang Aira.


“Loh kenapa disimpan lagi sayurnya neng?” tanya penjual sayur dengan bingung.


“Saya tidak jadi belanja disini Bu.” Jawab Nindia.


“Nggak bisa gitu dong!” seru penjual sayur itu nyolot.


“Terserah saya dong! Ingat ya Bu, pembeli adalah RAJA.” tutur Nindia menekankan setiap kata yang diucapkannya.


Perempuan itu pun dengan perasaan dongkol membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat menuju rumah majikannya. Sungguh, pagi-pagi seperti ini moodnya sudah anjlok.


“Dasar si neng, nggak sopan banget sama orang tua!” pekik penjual sayur itu.


Sementara salah satu Ibu-Ibu yang memiliki tompel di wajahnya menatap kepergian Nindia dengan kedua mata terbelalak.


“WAH, begini nih yang cocok jadi mantuku! Keberaniannya patut diacungi jempol!” seru Ibu tersebut sembari mengacungkan kedua jempolnya.


“Hebat dari mananya sih. Orang dia udah kelewatan begitu!” seru Ibu-Ibu pembiang gosip.


“Ya hebat, dia udah berani membela mana yang salah mana yang benar.” ucapnya dengan PD.


“Begini aja udah hebat, gimana kalau di ranjang ya?” ujarnya dengan raut sangat penasaran.


“Stres.” celetuk Ibu-Ibu yang sedari tadi hanya menyimak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Waduh Ilham mau bangkrut deh kayaknya? ...


Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊