HEART

HEART
Tatapan Kosong



...•Disarankan membacanya sambil memutar lagu : Denting :)...


Happy reading.


Mama Lina dan Papa Satria memasuki sebuah mobil berwarna putih. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Papa Satia melesat pergi meninggalkan kawasan rumah Ilham dengan kecepatan rata-rata.


Memang, selama ini mereka tinggal di rumah Ilham. Tentu saja untuk menjaga cucunya serta kondisi putra mereka. Rumah Mama Lina dan Papa Satria dibiarkan kosong begitu saja.


“Aku jadi nggak tega deh Pa, ninggalin Irzan.” ujar Mama Lina dengan perasaan kalut. Papa Satria melirik istrinya lewat ekor matanya.


“Nggak-papa. Irzan harus belajar dari kecil biar nanti dia terbiasa tanpa kehadiran kita berdua.” sahut Papa Satria yang terdengar ambigu ditelinga istrinya.


“Memangnya kita kemana sampai ninggalin Irzan.” ucap Mama Lina sambil mendengus pelan. Wanita itu tidak setuju dengan ucapan suaminya.


“Ya ‘kan umur nggak ada yang tahu Ma.” cicit Papa Satria dengan suara pelan.


Sontak Mama Lina mendelik tajam pada suaminya itu. “Jangan ngomong yang aneh-aneh deh Pa.” ujarnya ketus.


Papa Satria hanya mampu terkekeh kecil melihat respon istrinya yang sangat berlebihan. Bukankah setiap manusia memang akan merasakan yang namanya meninggal? Hanya saja, kita tidak tahu kapan waktu itu tiba.


Lelaki paruh baya itu menghentikkan mobilnya tatkala melihat lampu lalu lintas yang berwarjna merah. Seketika di dalam mobil itu hening. Tidak ada yang membuka suara. Baik Mama Lina, maupun Papa Satria, keduanya sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Mobil pun kembali melaju setelah melihat lampu berganti menjadi berwarna hijau. Dengan hati-hati dan kecepatan rata-rata Papa Satria mengemudikan kendaraannya.


Mobil yang dikemudikan oleh Papa Satria berbelok arah menuju sebuah jalan yang melewati tikungan. Menyadari hal itu pun, Mama Lina mengeryitkan dahinya bingung.


“Kok jalannya kesini Pa?” tanya wanita itu bingung.


“Nggak-papa Ma, biar nggak macet.” ujar Papa Satria yang diangguki kepala oleh istrinya.


Tikungan terasa sangat sepi. Tidak seperti biasanya. Biasanya akan ada satu atau dua kendaraan yang berlalu lalang melewati jalan ini.


Saat sudah berada di dekat tikungan, tangan Papa Satria pun memutar stir-nya. Dan, betapa terkejutnya ia saat sebuah mobil berwarna hitam melintas di depannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dengan segera tangan Papa Satria membanting stir hingga mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan.


BRAKK!!!


Bunyi nyaring nan keras itu terdengar sampai ke beberapa rumah warga. Para warga yang mendengar bunyi tersebut sontak berbondong-bondong keluar dari rumahnya masing-masing menuju jalan raya.


Sementara itu, mobil berwarna hitam yang tadi menabrak mobil yang ditumpangi oleh Mama Lina serta Papa Satria melesat pergi dari area tersebut.


“Ya ampun! Ada kecelakaan!” pekik salah satu warga dengan kalut.


Mobil milik Papa Satria yang menghantam pembatas jalan sudah hancur dan ringsek. Dengan cepat beberapa warga laki-laki menghampiri mobil tersebut dan hendak menyelamatkan korban yang ada di dalamnya.


Setelah berhasil membawa tubuh Mama Lina dan Papa Satria keluar, para warga langsung menghubungi polisi dan melaporkan kejadian kecelakaan tunggal ini.


“Kasihan banget.” lirih salah seorang warga yang melihat keadaan kedua korban kecelakaan itu.


Bagaimana tidak? Darah bersimpuh sangat banyak di wajah serta tubuh Mama Lina dan Papa Satria.


“S-sudah tidak ada.” ucap seorang warga yang sedang mengecek denyut nadi Papa Satria.


“Innalilahi,” ujar para warga yang mengerubungi korban kecelakaan tersebut.


“I-il-h-ham,” cicit Mama Lina yang masih sadar.


Sontak seorang Ibu-Ibu berjongkok dan mendekatkan telinganya pada korban. “Ada yang mau Ibu sampaikan?” tawar Ibu-Ibu tersebut.


“I-il-ham, p-put-raku,” lirih Mama Lina dengan terbata-bata.


“Ilham?” cicit Ibu-Ibu yang tadi mendengar ucapan Mama Lina.


Setelah berhasil mengucapkan nama putranya, kedua mata Mama Lina seketika terpejam. Tangannya yang dipegang oleh Ibu-Ibu tadi mendingin. Wajahnya pucat pasi. Ia, telah tiada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ilham bergegas dari kantornya menuju kantor polisi. Tadi, ia mendapat panggilan dari salah seorang polisi. Polisi itu mengatakan jika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan tunggal dan meninggal ditempat.


Setelah Ilham memasuki mobilnya, dengan perasaan kalut ia melajukan mobil tersebut diatas kecepatan rata-rata. Banyak pengendara lain yang mengumpat karnanya. Namun, Ilham tidak memperdulikan itu. Yang ada dipikirannya sekarang ialah, Mama dan Papa-nya.


Sekitar 20 menit akhirnya mobil Ilham sampai di sebuah kantor polisi. Dengan langkah tergesa ia menuruni mobil dan berlari memasuki kantor polisi itu.


Seorang polisi yang menangani kasus ini pun membuka suara. “Kami sudah melakukan autopsi kepada kedua korban. Dan, karena benturan keras yang terjadi di kepalanya membuat pembuluh darah keduanya pecah. Hingga korban meninggal dunia.” ucapnya setelah membaca hasil autopsi.


Ilham mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut polisi tersebut dengan seksama. Mulutnya seakan kelu untuk berbicara. Entahlah, rasanya dunia Ilham seakan dihancurkan secara perlahan.


“Pak Ilham,” beo Subroto saat ia melihat keberadaan atasannya.


Ilham menoleh pada lelaki yang kini memakai kaos berwarna oren dengan kedua tangan diborgol. Kedua matanya tiba-tiba menajam. Tangannya mengepal kuat hingga memperlihatkan buku-buku jarinya.


Ilham berjalan cepat menuju Subroto dan meraih kerah kaos yang dikenakan lelaki itu. Dengan amarah yang menguasai dirinya, Ilham langsung memukul Subroto tanpa ampun.


BUGH!


BUGH!


BUGH!


“Pak tenang Pak! Jangan membuat keributan disini.” ujar polisi mencoba meleraikan Ilham yang memukul Subroto.


“KAMU SUDAH MEMBUAT ORANG TUA SAYA MATI!” teriak Ilham melampiaskan amarah yang menguasainya.


“A-apa? Me-meninggal?” gumam Subroto dengan suara pelan.


Ilham terkekeh miris melihat respon yang ditunjukkan lelaki itu. “Jangan pura-pura kamu! Kamu ‘kan yang sudah membuat orang tua saya mati!” bentak Ilham.


Saat Ilham hendak memukul Subroto kembali, dengan gesit polisi mengunci pergerakannya.


“Jangan membuat keributan disini.” ucap polisi itu dengan tegas.


Subroto menatap kedua mata Ilham yang menyorotkan kebencian akan dirinya. Ia menghela napasnya pelan. Lalu, kembali menatap kedua bola mata Ilham.


“Bukan saya pelakunya. Saya berani bersumpah jika Bapak tidak percaya dengan ucapan saya.” ujar Subroto dengan nada rendah.


Ilham berdecih mendengar itu. “Terus kalau bukan kamu, siapa hah?!” bentak Ilham.


Subroto menundukkan kepalanya dalam. Sungguh, ia tidak pernah berniat sedikitpun mencelakakan kedua orang tua atasannya. Mengingat jika Pak Satria sangat baik kepadanya dulu.


“Gretta. Dia pelakunya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ilham termenung dalam diamnya. Kini, jasad kedua orang tuanya sudah dimandikan dan disholatkan. Saat ini, ia sedang berada di sebuah TPU yang berada di Jakarta.


Perlahan tapi pasti, jasad kedua orang tuanya ditimbun oleh tanah hingga tak terlihat lagi. Ilham melirik sekilas pada putranya yang sedang menangis histeris di gendongan pengasuhnya. Mungkin, putranya juga merasakan hal yang sama dengannya?


Setelah jasad Mama Lina serta Papa Satria berhasil dikuburkan. Mereka pun mulai mendoakan keduanya dipimpin langsung oleh seorang ustadz. Ilham menengadahkan tangannya turut mendoakan kedua orang tuanya yang sudah sangat berjasa bagi hidupnya.


Perlahan para warga yang berada di kawasan pemakaman Mama Lina serta Papa Satria pun berhamburan meninggalkan TPU. Kini, hanya tersisa Ilham, Devan, nany yang sedang menggendong Irzan, serta Reno.


Ya, Reno turut menghadiri proses pemakaman kedua orang tua Ilham. Bagaimana pun juga, Ilham masihlah temannya. Dan, juga suami dari sepupunya.


Reno melirik pada Ilham yang sedang memandang kedua gundukan tanah dengan tatapan kosong. Ia menghela napasnya pelan. Lalu, tangannya menepuk bahu Ilham pelan.


“Turut berduka cita atas meninggalnya Tante dan Om Satria.” ucap Reno dengan tulus.


Ilham melirik sekilas pada Reno dan menganggukkan kepalanya singkat. Sungguh, saat ini wajah Ilham terlihat sangat pucat pasi. Reno sampai tidak tega melihat kondisi temannya itu.


“Lo mau ketemu Aira ‘kan?”


Sontak Ilham mendongakkan kepalanya menatap Reno dengan alis yang saling bertaut dan jangan lupakan wajahnya yang sudah memucat.


“Ayo. Gue izinin lo buat ketemu Aira.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Turut berduka cita buat Ilham :)...


...Alhamdulillah hari ini aku double up 💘 jangan lupa like-nya lohh 😊😊...


Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😍