HEART

HEART
Acara Pengajian dan Syukuran



Happy reading.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Malam ini, lebih tepatnya setelah ba’da isya akan diadakan acara pengajian untuk kedua orang tua Ilham serta syukuran tujuh bulanan Aira. Ilham sengaja menyatukan kedua acara itu.


Bukan tanpa maksud, hanya saja mengingat kandungan sang istri yang sudah membesar membuatnya memutuskan untuk menyatukan acara syukuran tujuh bulanan dengan acara pengajian kedua orang tuanya.


Saat ini Ilham beserta keluarga kecilnya, dan Reno serta Mami Dita sudah berada di rumah milik kedua orang tua Ilham. Acara akan dilaksanakan di rumah mendiang kedua orang tuanya. Yang turut menghadiri acara ini hanya beberapa teman kolega bisnis Papanya serta beberapa anak yatim piatu.


Ilham melirik sekilas pada Aira yang sedang mematut dirinya di depan cermin. Senyum manis terpatri di bibir laki-laki itu. Ia berjalan mendekat kepada Aira.


Tubuh Aira menegang seperkian detik saat merasakan sepasang tangan kekar suaminya yang sudah melingkar sempurna diatas perutnya. Ia menatap suaminya lewat pantulan kaca.


“Jangan cantik-cantik,” bisik Ilham terdengar lirih di telinga Aira.


“Kenapa?” Aira menoleh ke samping menatap wajah laki-laki itu dengan raut bingung.


“Nanti banyak yang lihat kamu.” ujar Ilham.


“Nanti, aku cemburu,” bisik Ilham dengan lirih.


Aira menundukkan kepalanya. Pipinya memerah mendengar suaminya berucap seperti itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara sudah dimulai sejak 3 menit yang lalu. Devan-selaku pembawa acara pun memulai pembukaan dengan membaca runtuyan kegiatan malam ini.


“Selamat malam semuanya, sebelumnya saya selaku pembawa acara ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada hadirin sekalian yang sudah menghadiri acara pengajian serta syukuran tujuh bulanan ini.” ucap Devan membuka acara.


“Adapun beberapa rangkaian acara yang akan kita laksanakan malam ini. Yang pertama yaitu, pengajian surat yasin untuk kedua almarhum dan almarhumah, kedua yaitu pengajian syukuran atas tujuh bulanan kandungan Ibu Aira, ketiga yaitu ceramah yang akan diisi oleh Ustadz Dzaki. Serta yang terakhir yaitu menikmati jamuan yang sudah dihidangkan.” tutur Devan dengan tangan memegang selembar kertas berupa runtuyan acara malam ini.


“Baiklah, mari kita ucapkan basmallah bersama-sama untuk memulai acara ini.” ucap Devan.


“Bissmillahirrohmanirrahim.” sahut para hadirin dengan serentak.


Acara pengajian untuk kedua orang tua Ilham pun dimulai. Semua yang hadir sama-sama mengajikan surat yasin dengan khidmat. Aira yang duduk di samping Ilham turut ikut membaca surat yasin dengan sebuah Qur’an kecil ditangannya.


Sementara Ilham membaca ayat suci al-Qur’an dengan Irzan yang berada di pangkuannya.


Setelah selesai pengajian untuk kedua almarhum dan almarhumah, kini saatnya memasuki pengajian untuk tujuh bulanan Aira. Banyak doa-doa yang ditujukan kepada wanita berbadan dua tersebut.


Setelah acara pengajian untuk Mama Lina, Papa Satria, serta kandungan Aira selesai. Saatnya memasuki acara ketiga, yaitu ceramah yang akan disampaikan oleh Ustadz Dzaki.


“Sekarang kita akan mendengarkan ceramah yang akan disampaikan oleh Ustadz Dzaki. Untuk itu, saya persilahkan tempat dan waktunya, Ustadz.” ucap Devan menginterupsikan seorang Ustadz.


Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang sudah memasuki usia sekitar 35 tahun berdiri dari duduknya. Ustadz Dzaki menerima mike yang diberikan oleh Devan untuknya memulai ceramah.


“ Bissmillahirrohmanirrahim, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt. Yang sudah memberikan segala nikmat kepada kita. Baik itu nikmat sehat, nikmat iman, serta nikmat islam. Tidak lupa sholawat dan salam tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya, beserta kita umatnya aamiin ya rabbal alamiin. Saya berdiri disini akan menyampaikan sebuah ceramah tentang anak yatim piatu.” Ucap Ustadz Dzaki memulai ceramahnya.


“Pastinya telinga kita sudah tidak asing lagi mendengar kalimat anak yatim piatu. Lalu, apasih sebenarnya pengertian anak yatim piatu menurut agama itu?” tanya Ustadz Dzaki yang dijawab oleh dirinya sendiri.


“Menurut agama Islam, anak yatim piatu ialah seorang anak yang sudah ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya sebelum ia baligh. Nah, orang yang mengasuh anak yatim piatu ini ialah orang yang berakal, dan beragama.” ujar Ustadz Dzaki menerangkan tentang anak yatim piatu.


“Alangkah baiknya jika kita juga mengetahui hak-hak anak yatim piatu dalam agama islam. Yaitu, dididik dan diberi makan, diurus dalam keseharian, mendapatkan kecukupan segala kebutuhan, diberi kasih sayang, serta mendapat perlindungan.”


Aira menyeka sudut matanya yang terdapat linangan air mata. Perasaannya seketika menjadi melow. Sementara itu, Irzan yang duduk dipangkuan ayahnya menatap Ustadz Dzaki yang sedang memberikan ceramah dengan tatapan polos.


Anak batita itu seolah mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Ustadz Dzaki. Mungkin karena ia merasakan rasanya menjadi anak piatu? Padahalkan, usianya masih belum cukup untuk mengerti hal seperti ini.


Sekitar 30 menit Ustadz Dzaki memberikan ceramah.


“Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Ambil baiknya, buang buruknya.” tutur Ustadz Dzaki mengakhiri sesi ceramahnya.


“Baiklah, terima kasih kepada Ustadz Dzaki yang sudah berkenan memberikan ceramah pada acara malam ini. Kita lanjutkan acara kita yaitu menikmati hidangan yang sudah disediakan. Silahkan para hadirin untuk menikmati jamuannya.” ucap Devan diakhir kalimat.


Para hadirin yang turut hadir pun mulai menyantap berbagai jamuan yang sudah disediakan. Para anak-anak dari panti asuhan dengan riang menyantap cake yang menurut mereka sangat lezat.


Mami Dita ikut bergabung bersama Aira serta Ilham. Wanita paruh baya itu menatap keponakannya yang terlihat sangat cantik berkali-kali lipat saat mengenakan hijab.


“Semoga cucu Mami sehat-sehat terus ya Ra,” ucap Mami Dita dengan salah satu tangannya mengusap perut buncit Aira.


Pandangan Mami Dita menatap batita yang sedang duduk di pangkuan Ilham. Entah mengapa, rasanya ia sangat ingin sekali lebih dekat dengan batita itu.


“Ehm, apa Mami boleh menggendong Irzan?” tanya Mami Dita. Ada nada ragu dalam pertanyaannya itu, mengingat jika waktu itu ia sempat tidak menyukai keberadaan anak batita tersebut.


“Boleh.” ujar Ilham seraya mengalihkan Irzan kepada pangkuan Mami Dita.


Sontak Mami Dita tersenyum lebar setelah Ilham mengizinkannya. Ia mendudukkan tubuh mungil Irzan di pangkuannya. Tangannya mengelus pelan helaian rambut batita itu.


“Usianya sudah berapa tahun?” tanya Mami Dita yang memang ingin tahu.


Aira melirik pada suaminya mengkode agar Ilham yang menjawab pertanyaan itu.


“5 bulan lagi mau 3 tahun.” Jawab Ilham.


Mami Dita menganggukkan kepalanya singkat. Wanita itu begitu suka dengan anak kecil. Bau bayi dalam tubuh Irzan seakan menjadi candu untuknya. Untuk itu, ia sangat menantikan anak pertama Aira lahir.


Devan selaku pembawa acara kembali membuka suara untuk menutup acara pada malam ini.


“Baik, saya selaku pembawa acara untuk menutup acara pada malam ini. Terima kasih kepada semuanya yang sudah berkenan hadir dalam acara pengajian serta syukuran tujuh bulanan Ibu Aira.” ujar Devan menutup acara.


“Mari kita mengucap hamdallah bersama-sama.” ajak Devan.


“Alhamdulillah.” sahut semuanya serempak.


Setelah itu, perlahan satu demi satu yang menghadiri acara ini membubarkan diri. Tak lupa, Devan mendokumentasikan kegiatan ini atas perintah Ilham.


Ilham membagikan sebuah amplop kepada anak-anak yatim piatu yang turut menghadiri acara malam ini. Dengan senang hati mereka menerima amplop pemberian Ilham.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara pun telah selesai pada pukul setengah sepuluh malam. Devan pun pamit untuk pulang. Dan tersisalah Ilham, Aira, Irzan, Mami Dita serta Reno. Ah, ya laki-laki itu sedari tadi hanya berdiam diri menikmati acara ini dengan khidmat.


“Mami bisa tidur di kamar sebelah.” ucap Aira kepada Mami Dita.


“Okay Ra. Kalau gitu Mami ke kamar dulu ya. Udah nagntuk,” ringis Mami Dita seraya mengucek matanya yang sudah memerah.


Aira hanya menganggukkan kepalanya singkat. Lalu, pandangannya menatap pada sepupu laki-lakinya.


“Kamu tidur di kamar tamu aja Ren.” ujarnya kepada Reno.


“Aku mau pulang ke rumah aja Ra. Titip Mami ya.” ucap Reno.


Reno beralih menatap Ilham yang sedang menggendong Irzan. “Jaga Aira. Jangan buat dia nangis. Kalau sampai dia nangis gara-gara lo___gue nggak akan pernah izinin lo buat ketemu dia.” ucap Reno dengan tegas.


Ilham menganggukkan kepalanya kuat. “Saya janji tidak akan pernah membuat Aira menangis.” Janjinya kepada Reno.


“Gue pegang omongan lo. Ra, aku pulang dulu ya. Baik-baik disini.” tutur Reno lembut.


“Iya, hati-hati bawa mobilnya. Jangan kebut-kebutan.” Pesan Aira.


Reno pun melangkah keluar dari rumah kedua orang tua Ilham. Aira menoleh pada suaminya yang sedang menatapnya dengan intens. Sontak wajahnya memerah karena ditatap seperti itu.


“K-kita tidur satu kamar Mas?” tanya Aira gugup.


“Iya. Kita tidur satu kamar.” jawab Ilham cepat.


“Ayo masuk sayang,” ajak Ilham yang sudah berjalan mendahului Aira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Mohon maaf apabila ada kesalahan kata 🙏🏻...


...Aku ambil beberapa materi ceramah dari google 😊...


Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😉