
Adam dan Psyche.
Apakah mereka terdengar cocok satu sama lain?
Ini bukan mimpi. Psyche terkurung dalam labirin hitam yang tak berujung.
Tak ada jalan. Atau ia tak pernah mencari jalan keluar dan malah menyerah dengan perasaannya.
Ia membiarkan dirinya terkurung dalam hubungan itu. Tapi rasanya untuk pergi pun ia tak sanggup. Terlalu dini baginya untuk menghentikan debaran yang baru pertama kali ia rasakan.
Meski semua tak pernah seindah itu.
Atasan dan bawahan.
Adam si b*jingan dan Psyche si karyawan baru yang naif.
Hubungan mereka tidak akan pernah diketahui oleh siapapun. Itu kesepakatan mereka.
Di atas egonya yang tinggi, Adam masih bijaksana untuk memikirkan akan apa jadinya jika hubungan mereka berdua diketahui.
Orang lain akan menganggapnya pilih kasih terhadap Psyche, sekecil apapun perlakuan manisnya akan disangkutpautkan dengan hubungan pribadi mereka. Lalu menimbulkan kecemburuan sosial di dalam perusahaan.
“Kau turun di sini ya, aku tidak bisa mengantarmu sampai depan. Nanti orang-orang bisa tahu, kau mengerti, kan?”
Adam selalu menjemputnya setiap hari. Berlagak seperti seorang pria idaman yang selalu bisa diandalkan.
Tapi, Psyche justru merasa bahwa ini tak lebih dari penyiksaan. Karena setiap Adam menghentikan mobilnya cukup jauh dari kantor, ia harus berlari agar tiba tepat pada waktunya. Dengan sepasang stiletto yang serasa akan menghancurkan betisnya, Psyche selalu berusaha menahan umpatannya.
“Besok jemput aku lebih pagi, ya?” Psyche pernah meminta, meskipun ia ragu Adam akan mengabulkannya.
“Kenapa?”
“Biar aku bisa datang lebih awal ke kantor.”
“Memangnya selama ini kamu pernah terlambat?”
Adam itu selalu memandang segalanya dengan mudah.
Pria itu sangat realistis. Tidak pernah takut dengan segala kemungkinan yang belum terjadi.
“Aku memang tidak pernah terlambat, tapi yang lain selalu datang lebih awal dariku. Aku merasa tidak enak.”
Psyche tidak akan pernah mengatakan bahwa ia hampir lumpuh karena sering berlari menggunakan stiletto.
Adam akan mengejeknya. Merendahkan dirinya dan memandangnya sebagai wanita lemah yang suka mengeluh.
Ia tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
“Ck. Selama kau tidak terlambat maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?”
Adam telah menunjukkan dominasinya yang semakin kuat. Memancingnya untuk jatuh ke lubang yang lebih dalam.
Sewaktu-waktu, pria itu akan menatapnya dengan penuh kasih sayang dan menciumnya lembut. Kemudian berkata seolah-olah pria itu memang mencintainya sedalam ia mencintai pria itu.
Psyche terbuai. Perlakuan lembut akan membuat siapapun luluh. Dan ia menginginkan semua itu dari Adam.
Sejak itu ia memilih bungkam daripada mendebat apapun yang bisa membuat pria itu murka. Atau bungkamnya ia ternyata adalah cara lain untuk membuat pria itu berbalik terbuai padanya.
“Kau mau aku jujur, Psyche?”
Di awal hubungan mereka, Psyche masih sering mendebat pria itu dan menentangnya. Lalu, Adam membalasnya dengan berbagai perkataan yang membuat Psyche tidak bisa tidur semalaman.
“Di antara semua wanita yang berhubungan denganku, aku paling menyukai Karin. Kau tahu kenapa?”
Psyche bisa saja menampar wajah Adam karena ia tahu maksud perkataan pria itu pada akhirnya. Namun ia akan membuktikan pada Adam bahwa dirinya berbeda dengan pria itu.
Ia tidak akan mudah terpancing. Bahkan untuk perkataan yang paling menyinggungnya sekalipun.
“Karena Karin itu penurut. Ia tidak pernah melawanku, sepertimu.”
Adam adalah orang yang jujur. Setiap perkataannya adalah apa yang terjadi dalam kenyataannya. Ia tidak akan menyenangkan seseorang dengan kebohongan yang ia ciptakan.
Tapi, Adam sepertinya tidak mengerti, bahwa ia menempatkan kejujurannya sebagai pembanding seseorang terhadap yang lainnya.
Tidak ada alasan bagi Psyche untuk menerimanya begitu saja.
Ia tak perlu tolak ukur seseorang untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Adam.
Ia tidak perlu menjadi Karin untuk diakui Adam sebagai wanita yang paling disukainya namun pada akhirnya menikah dengan pria lain.
Ia punya jalannya sendiri.
Jika wanita-wanita itu mengenal Adam karena perasaan cinta yang mereka miliki—lalu berubah menjadi benci setelah hubungan mereka berakhir—maka Psyche sebaliknya.
Mereka atau bahkan Adam melupakan satu hal yang paling penting.
Psyche tahu kelemahan pria itu sejak awal. Adam pernah menjadi musuhnya dan seorang musuh harus diketahui titik lemahnya.
Jadi, biarkan ia mengikuti permainan Adam...
.
.
.
“Seandainya aku adalah kamu, aku tidak akan pernah membandingkanmu dengan yang lain, seberapa pun buruknya kamu.”