
Happy reading.
Ilham keluar dari mobilnya setelah sampai di parkiran kantor. Laki-laki itu berjalan memasuki gedung pancakar langit dengan perasaan sulit di artikan. Ia masuk ke dalam lift yang hanya diisi oleh dirinya sendiri. Tangannya memijit angka 8.
Setelah sampai di lantai 8, ia pun keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya berada. Saat sudah memasuki ruangannya, Ilham melihat Devan yang sedang membaca beberapa berkas dengan wajah serius.
“Sudah lama Dev?” tanya Ilham sembari mendudukkan tubuhnya di sofa.
Devan terlonjak kaget saat mendengar suara atasannya. Saking fokusnya ia membaca berkas itu, dirinya sampai tidak menyadari kehadiran atasannya sendiri.
“Ah iya, sudah hampir satu jam.” ucap Devan.
Ilham menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu merogoh ponselnya saat mendengar bunyi notifikasi masuk. Keningnya mengeryit tatkala sebuah nomor asing mengirimkannya sebuah video.
Karena penasaran dengan isi dari video itu, Ilham pun langung memutarnya. Mata tajamnya sedari tadi fokus pada video yang sedang ia putar. Keningnya mengeryit saat ia melihat plat nomor sebuah mobil berwarna hitam.
Seketika ingatannya merujuk pada kejadian pada hari kecelakaan kedua orang tuanya. Ilham ingat, plat nomor mobil yang sudah mencelakai kedua orang tuanya ialah plat nomor yang ada di video ini.
Dan, ini adalah mobil milik Gretta. Ternyata, ucapan yang dilontarkan Subroto saat itu merupakan fakta. Bahwa, Gretta lah yang sudah mencelakai kedua orang tuanya.
Dengan sigap Ilham langung menghubungi nomor seseorang yang sangat dikenalnya. Tak lama kemudian, orang itu pun mengangkat sambungan dari Ilham.
“Halo?” sapa seorang wanita di seberang sana.
“Ada apa Ham? Apakah Irzan sedang merindukan grandmanya?” gurau wanita di seberang sana.
Ilham menggeram kecil. Devan mendongakkan kepalanya dan melihat sang atasan dengan alis saling bertaut.
“Halo? Kok nggak ada suara sih?” gerutu wanita itu.
“Kenapa anda melakukan itu?” tanya Ilham tanpa berbasa-basi.
“Melakukan apa? Mami tidak melakukan apa-apa. Kamu aneh Ham,” canda wanita itu membuat amarah Ilham meluap-luap.
“Saya tahu, anda ‘kan yang sudah merencanakan kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tua saya?” Suara Ilham terdengar sangat menakutkan.
Sejenak tidak ada jawaban dari wanita itu.
“A-apa? K-kamu menuduh Mami?” teriak wanita itu tidak percaya.
“Huft, sudahlah. Saya tahu, anda yang sudah merencanakan semua ini.” ujar Ilham dengan nada sinis.
“Kamu tidak boleh menuduh Mami sembarangan!” seru wanita di seberang sana.
“Sekarang, bersiaplah.. Anda akan hidup di dalam jeruji besi.” bisik Ilham dengan nada yang terdengar menakutkan bagi wanita di seberang sana.
“Bersiaplah, Gretta.”
Ilham langsung mematikan sambungannya secara sepihak. Laki-laki itu melempar ponselnya asal. Tangannya mengacak rambutnya dengan kasar.
Ilham sungguh tidak percaya. Gretta---Ibu mertuanya yang sudah merencanakan kecelakaan terhadap kedua orang tuanya. Laki-laki itu tidak habis fikir dengan wanita seperti Gretta.
“Devan, tugaskan kepada seluruh anak buahku untuk mencari wanita yang bernama Gretta.” ucap Ilham dengan datar.
“Sertakan juga foto wanita sialan itu.” Lanjutnya dengan nada dingin.
“B-baik Pak.” sahut Devan yang langsung menghubungi para anak buah atasannya untuk mencari wanita yang bernama Gretta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Aira tengah menonton televisi bersama Mami Dita serta Irzan. Wanita berbadan dua itu tersenyum geli saat melihat wajah putranya yang sudah dipenuhi oleh cokelat.
“Irzan lucu banget sih,” ujar Mami Dita yang tidak tahan melihat tingkah batita menggemaskan itu.
Sontak senyum Aira merekah saat melihat interaksi antara Tantenya dengan Putranya. Ia bersyukur jika Mami Dita sudah mau menerima kehadiran anak batita itu.
“Au cotlat,” pinta Irzan seraya menatap ke arah Aira. Tak lupa, kedua tangannya menengadah seolah Aira mau memberikannya.
Aira menggelengkan kepalanya pelan mendengar permintaan batita kecil itu. Padahal, anak itu sudah memakan dua bungkus cokelat. Masih saja ia menginginkannya. Dasar, maniak cokelat. Ucap Aira dalam batinnya.
“Nggak boleh. Nanti gigi kamu sakit, gimana?” tolak Mami Dita yang langsung membawa tubuh Irzan ke atas pangkuannya.
Irzan menggerutu kecil dengan bahasa bayinya. Aira tertawa melihat wajah murung Irzan. Ah, kenapa ia sangat menggemaskan sekali? Melihat hal itu, tangan Aira pun perlahan mengelus perutnya yang sudah membesar.
Ia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan calon anaknya. Mungkin sekitar dua bulan lebih ia akan berjumpa dengan calon anaknya.
“Ah iya, terima kasih ya nan.” ucap Aira sambil tersenyum tipis.
“Sama-sama Mbak. Kalau begitu, nany pamit ke belakang lagi ya, masih banyak cucian soalnya hehe,” ucap nany yang diangguki kepala oleh Aira.
Nany memang seorang pengasuh bagi putranya. Akan tetapi, Mami Dita memintanya sekalian untuk menjadi asisten rumah tangga untuk sementara waktu. Tentu saja nany mau karena mendapatkan gaji tambahan dari Mami Dita yang menurutnya sangat besar.
Setelah kepergian nany, Aira pun langsung menyantap salad buah yang dibelikan nany di dekat mini market. Irzan melirik pada Bundanya yang sedang asik memakan salad buah.
Perlahan tangan mungilnya memegang paha Mami Dita dan berusaha untuk turun dari pangkuan wanita itu. Kedua kaki mungilnya melangkah menuju Aira dengan langkah sedikit cepat.
Saat sudah berada di depan Aira, pandangan mata batita itu langsung tertuju pada makanan yang terlihat sangat menarik baginya.
“Apa ntu Nda?” tanya Irzan dengan bahasa yang dikuasainya.
Aira menatap Irzan yang sudah berada di depannya. Tangannya terulur untuk menyuapi anak batita itu. Dengan senang hati Irzan menerima suapan yang diberikan Bundanya.
Irzan menampilkan raut wajah yang membuat Aira dan Mami Dita terkikik kecil.
“Acem,” celoteh Irzan dengan raut wajah yang tidak bisa dikondisikan.
“Mau lagi nggak?” tawar Aira yang sontak membuat Irzan menggelengkan kepalanya.
Anak batita itu menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan mungilnya saat sesuap salad berada tepat di depan bibir mungil nan merahnya.
“Ini enak loh,” goda Aira.
“Ndak auu! Zan au otlat aja.” Ucap batita itu sambil mengerjapkan kedua matanya lucu.
Aira hanya bisa tersenyum manis melihat respon yang diberikan batita itu. Mungkin nanti ia akan membuatkan salad buah khusus untuk Irzan agar batita itu menyukainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Nindia tengah berada di depan sebuah gedung yang membuatnya kagum. Jujur saja, perempuan itu selalu kagum saat melihat-lihat gedung pancakar langit yang ada di Jakarta.
Walaupun Jakarta terkenal karena kemacetannya, tak menutup kemungkinan jika Kota Metropolitan ini memang Kota yang sangat mengagumkan. Kakinya melangkah masuk menuju meja resepsionis.
“Maaf Mbak, Tu-Ah, Bapak Reno nya ada?” tanya Nindia dengan tangannya yang membawa rantang berisi makanan.
“Anda sudah mempunyai janji dengan Pak Reno?” tanya resepsionis itu dengan nada tidak santai.
Sontak Nindia menggelengkan kepalanya.
Perempuan itu baru tahu jika ingin bertemu dengan atasan di kantor harus membuat janji terlebih dahulu. Woahh ternyata putra majikannya itu terlihat sangat keren! Pekik Nindia dalam hati.
“Kalau begitu buat janji dulu! Anda tidak diperbolehkan bertemu dengan Pak Reno jika tidak memiliki janji.” ucap resepsionis itu sambil menatap penampilan Nindia yang menurutnya sangat kampungan.
“T-tapi T-Pak Reno sudah meminta saya untuk mengantarkan ini,” tutur Nindia seraya mengangkat tiga rantang putih.
“Cih, cewek kampungan aja belagu!” gerutu perempuan resepsionis itu.
Tentu saja Nindia tidak terima jika perempuan di depannya mengatakannya belagu. Ia rasa, ia sudah bersikap sopan dan ramah.
“Mbak jangan keterlaluan ya!” seru Nindia.
Perempuan yang bekerja dibagian resepsionis itu memutar kedua bola matanya jengah. “Pak satpam!” teriak perempuan itu.
Tak lama kemudian, datanglah seorang satpam menuju Nindia dan perempuan resepsionis itu.
“Ada apa Bu?” tanya satpam tersebut.
“Tolong usir cewek ini! Dia sudah mengganggu ketenangan di kantor ini.” ucap perempuan itu dengan wajah songongnya.
Satpam itu pun kemudian menyeret Nindia agar keluar dari kantor ini. Pergerakan satpam itu terhenti saat sebuah suara membuatnya seketika menjadi takut.
“Ada apa ini? Kenapa kamu menyeret Nindia?” terdengar suara bass yang membuat sekelilingnya menjadi terdiam ketakutan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Ada yang tau alasan Gretta melakukan itu? ...
Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊