
Happy reading.
Setelah memberikan serangan balik kepada Sasti, tanpa berlama-lama lagi Mami Dita berpamitan pada teman-temannya. Ia sudah tidak tahan dengan sikap wanita bermulut ember itu.
Sedari tadi Mami Dita tidak berhenti menggerutu membuat supir taxi menatapnya aneh lewat kaca dashboard mobil. Gerutuan Mami Dita sampai membuat supir taxi geleng-geleng kepala.
Setelah menempuh waktu sekitar 25 menit, akhirnya mobil taxi yang ditumpangi Mami Dita berhenti di depan pekarangan rumahnya. Ya, wanita itu pulang ke rumahnya, bukan ke rumah Aira. Tentu saja ia sudah mengabari keponakannya itu, agar Aira tidak khawatir.
Setelah membayar ongkos taxi, Mami Dita membuka pintu mobil dan menutupnya kembali dengan sedikit kencang membuat supir taxi mengelus dadanya karena terkejut.
“Sudah pulang Bu?” sapa Pak Man sekadar berbasa-basi.
“Iyalah, nggak lihat saya sudah disini.” sentak Mami Dita membuat Pak Man menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Pak Man yang memang sudah mengabdi menjadi satpam di rumah Mami Dita selama 23 tahun, sudah mengetahui gelagat majikannya jika sedang merajuk atau kesal. Beliau dipekerjakan oleh almarhum suami Mami Dita yang sudah berpulang ke pangkuan Tuhan sejak 10 tahun yang lalu.
Dengan perasaan kesal dan raut wajah yang cemberut, Mami Dita melangkah memasuki rumahnya sambil menghentak-hentakan kakinya kasar.
BRAK!
Nindia yang sedang menyapu di bagian ruang tamu terlonjak kaget saat mendengar bunyi dobrakan pintu yang sangat keras. Perempuan itu berulang kali mengusap dadanya dan menggumamkan kata sabar.
Mami Dita berjalan menuju ruang tamu dan mendudukkan pantatnya di sofa dengan kasar. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Wajahnya yang masam membuat kening Nindia mengeryit kecil.
“Ibu kenapa?” tanya Nindia mencoba mendekati Mami Dita.
Mami Dita menoleh pada Nindia sekilas lalu kembali membuang mukanya ke lain arah. Sontak Nindia langsung menyimpan sapunya dan menghampiri Mami Dita dengan duduk di samping wanita itu.
“Mami tuh kesel banget tahu sama temen Mami!" sambar Mami Dita dengan bibir dimajukan 5 centi.
Nindia berusaha menahan tawanya saat melihat raut wajah sang majikan yang menurutnya sangat kocak. Astaga, ia tidak boleh menjadi pembantu yang durhaka.
Nindia berdeham pelan. “Memangnya, teman Ibu berbuat ulah ya?” tanya Nindia lagi.
Nindia melihat majikannya menganggukkan kepalanya pelan.
“Itu loh si Sastriono itu nyebelin banget waktu tadi.” gerutu Mami Dita yang sengaja memplesetkan nama temannya yang bernama Sasti menjadi Sastriono.
“Dia bilang kalau Aira itu bodoh. Ya, Mami nggak terima lah!” sarkas Mami Dita kesal.
“Padahal ya, anak dia tuh yang masih SMA udah kebobolan,” celetuk Mami Dita membuat Nindia menatapnya dengan tatapan bingung.
“Kebobolan?” cicit Nindia tidak paham.
“Iya, hamil duluan maksudnya.” koreksi Mami Dita.
“Astagfirullah!” seru Nindia seraya mengusap dadanya.
“Mami nggak habis pikir sama mulutnya itu!” dengus Mami Dita sebal.
“Memangnya kenapa sama mulutnya Sastriono?” tanya Nindia yang memang kepalang sangat polos.
“Mulutnya itu sudah kayak knal pot rombeng, sekalinya ngomong, berisik banget.” gerutu Mami Dita.
Nindia hanya mampu menganggukkan kepalanya paham. Semoga saja ia selalu dijauhkan seperti orang yang bernama Sastriono Sastriono itu. Ucapnya dalam hati.
Sementara itu, seorang laki-laki yang berdiri di ambang pintu mengusap wajahnya kasar. Reno sudah mendengarkan semua curhatan Maminya kepada Nindia. Maminya itu sungguh membuatnya malu setengah mati.
“Ck, kenapa sih Mami cerita yang kayak gitu. Bikin malu aja. Mau ditaruh dimana muka gue!” gumam Reno.
“Nindia juga, polosnya kebangetan.” bisik Reno lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaki jenjangnya melangkah dengan semangat saat ia akan memasuki rumah. Ilham memutar knop pintu kamarnya dengan sangat pelan.
Hal pertama yang ia lihat adalah pemandangan sang istri serta putranya yang sedang terlelap. Ilham menyimpan tas kerjanya di samping kasur. Laki-laki itu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar 7 menit ia menghabiskan waktunya di kamar mandi. Kini, bau keringat sudah berganti menjadi wangi yang memabukkan. Kakinya melangkah mendekati kasur.
Ilham menatap kedua orang yang sedang terlelap dengan tatapan memuja. Perlahan salah satu tangan kekarnya membelai permukaan wajah Aira dengan sayang.
Ilham mendekatkan wajahnya pada wajah Aira. Benda kenyal miliknya mengecup kening Aira dengan penuh kasih sayang. Perlahan bibir Ilham beralih mengecup kedua mata Aira, hidung mancung Aira, dan terakhir bibir Aira. Hanya menempel, tidak lebih.
Aira menggeliat kecil saat ia merasakan tidurnya yang tengah diganggu. Kedua matanya menggerjap kecil. Tak lama, manik mata Aira terbuka sempurna. Ia mengerjapkan kedua matanya berulang kali.
“Mas Ilham,” gumam Aira saat hal pertama yang ia lihat ialah wajah tampan suaminya.
Ilham tersenyum melihat Aira terbangun. Sejujurnya, ia tidak bermaksud untuk membangunkan istri tercintanya.
Aira membenarkan posisinya dan mengubahnya menjadi duduk dengan punggung bersandar pada kepala kasur. Ilham yang melihat pergerakan Aira meringis kecil. Laki-laki itu sangat ngilu melihat Aira yang bergerak leluasa dengan perut besarnya.
“Sudah lama Mas?” tanya Aira pelan.
Ilham menggelengkan kepalanya. “Baru saja datang.” Jawab Ilham.
Ilham menatap wajah Aira dengan lekat. Sungguh, tidak ada pemandangan yang lebih indah selain wajah istrinya sendiri. Aira yang ditatap seperti itu pun tersipu malu.
“Kenapa sih Mas?” tanya Aira yang tidak tahan ditatap sedemikian intensnya.
Ilham tidak menjawab pertanyaan istrinya itu. Laki-laki itu malah mendekatkan wajahnya pada perut sang istri yang sedang mengandung buah cinta mereka.
Berulang kali Ilham menggumamkan kata maaf kepada janin yang sedang dikandung sang istri. Ilham tidak mengetahui kehadirannya sejak awal. Dan, berulang kali pula Ilham memaki dirinya yang sangat bodoh dan brengsek.
Tangan kekar Ilham mengusap pelan perut Aira. Seperti biasa, sebuah tendangan dari calon anaknya membuat Ilham memekik girang. Laki-laki itu tak ayal mengajak calon anaknya berbicara.
“Kapan sih lahirannya Ra? Mas sudah nggak sabar sayang,” bisik Ilham di depan perut Aira.
Aira terkekeh kecil melihat tingkah suaminya itu. “Sekitar dua bulanan lagi Mas,” jawab Aira.
“Lama,” gumam Ilham dengan bibir mengerucut.
“Nda,” sebuah cicitan halus membuat Aira dan Ilham menoleh ke samping.
Ditatapnya Irzan-putranya yang sudah membuka kedua matanya sempurna. Irzan menatap balik kedua orang tuanya. Dengan perasaan iri Irzan merangkak kecil mendekatkan dirinya pada Aira.
“Cana, Nda unya Izan.” usir Irzan seraya menyembunyikan wajahnya di ketiak Aira.
Sontak Ilham menampilkan raut wajah kesal melihat tingkah putranya yang semakin hari semakin menjadi.
“Bocah,” gumam Ilham.
Aira tergelak kecil melihat raut wajah Ilham yang seperti itu. Sungguh, malam ini rasanya Aira ingin sekali menghentikan waktu. Ia ingin menawar kepada takdir agar hidupnya selalu dikelilingi oleh orang-orang tersayangnya.
Kehangatan seperti inilah yang Aira inginkan sejak dulu. Mungkin, ini buah dari kesabarannya dulu. Aira tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati.
Dalam setiap kejadian yang terjadi dalam hidup, pasti memiliki hikmah dibalik kejadian tersebut. Hanya saja, setiap manusia kadang kala selalu melihat dari sisi negatifnya, bukan positifnya.
Sekali lagi, Aira menatap wajah tampan suaminya dan putranya secara bergantian. Keduanya memiliki peran masing-masing di dalam hidupnya serta hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Irzan mulai tengil gusy 🤣...
Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊