
"Mereka pulang bersama lagi?" Psyche menuang air dingin pada gelas sambil menempelkan ponsel di telinga kirinya.
"Sepertinya begitu. Aku lihat mereka berbincang di lobi."
"Dasar lemah." Psyche mendengus pelan sambil membawa gelasnya ke ruang tengah dan duduk di sofa. "Kenapa tidak langsung tembak saja? Malah jadi penguntit sepupumu sendiri."
"Kau bilang temanmu juga menyukainya 'kan?"
Psyche memijat pelipisnya saat teringat Leon. "Aa. Aku tahu Miranda tidak menyukainya."
"Pikirmu dia juga akan tertarik padaku saat Adam selalu di sampingnya?"
Alis Psyche terangkat. "Meski selalu di sampingnya, mereka tidak punya hubungan apa pun."
Ia dapat mendengar menghela napas di ujung sana.
"Sepertinya aku harus pindah target."
Psyche tergelak. "Dan sepertinya tidak semudah itu."
"Yeah. Hanya Adam yang bisa melakukan segalanya dengan mudah."
"Mungkin tidak juga." Psyche mendengar bel apartemennya berbunyi. "Sudah dulu ya, sepertinya ada tamu."
"Semoga saja bukan mantan kekasihmu."
Percakapannya di akhiri. Psyche menyimpan ponselnya di atas meja lalu bergegas membuka pintu.
Perkataan Jacob menjadi kenyataan. Pria itu kini berdiri di depan pintu dengan setelan kerja yang masih membalut tubuhnya.
Psyche memasang topengnya untuk kesekian kali. Dengan wajah datar yang menyembunyikan keterkejutannya ia berkata, "Ini bukan rumahmu. Kau salah alamat." Tangannya dengan cepat mendorong pintu, berniat untuk tak meladeni Adam setelah ia mencium aroma bir dari tubuh pria itu.
Tapi Adam dengan cepat menahan benda persegi panjang itu dengan tangannya. "Aku sangat sadar di mana aku sekarang dan berbicara dengan siapa."
Sekuat apapun Psyche berusaha mendorong pintunya, ia tak akan bisa melawan kekuatan Adam. Jadi ia menyerah, melepaskan benda itu dan menatap Adam tanpa minat.
Sejauh ini semuanya berhasil. Tapi setelah mendapat informasi dari Jacob, ia malah ingin menonjok pria di hadapannya tanpa henti.
Hebat sekali pria itu. Masih punya muka untuk menghadapnya setelah semua hal yang ia lakukan.
"Mau apa kau ke sini?" Tanya Psyche ketus.
Bukannya menjawab, Adam malah menabrak tubuhnya dan memasuki apartemen tanpa persetujuan wanita itu.
Sebelum sempat masuk lebih dalam, Psyche mencekal lengan kirinya dengan kuat. "Siapa yang memperbolehkanmu masuk?"
Adam menoleh dengan malas. "Aku tidak perlu ijin siapapun. Jika pria itu saja boleh masuk seenaknya, kenapa aku tidak?"
"Apa yang kau bicarakan?" Psyche jelas tahu bahwa Adam sedang mengungkit Leon. Sudah sejauh ini dan pria itu masih membahas masalah lama.
Dengan sekali hentakan, pria itu melepaskan tangan Psyche. "Sudahlah. Tidak perlu menutupi perselingkuhanmu lagi." Katanya sambil duduk di sofa dan menyandarkan tubuh.
Psyche berdiri di hadapannya dan bertolak pinggang. Ia tersenyum jengah sambil menatap Adam yang memejamkan mata.
"Dengar, aku tidak peduli kau mabuk atau tidak. Tapi tolong pergilah dari sini sekarang. Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, Ketua."
Psyche sengaja menekankan kata 'ketua' pada ucapannya. Dan seperti yang diharapkan, Adam kembali membuka kedua matanya.
"Aku tidak mabuk." Katanya sambil menatap langit-langit. "Aku tidak pernah mabuk, Heartfillia."
Psyche berdecak. "Baguslah. Kalau begitu kau bisa segera angkat kaki dari sini tanpa aku harus repot menyeretmu keluar."
Adam menggerakkan kepalanya ke samping dan menatap Psyche yang mengenakan gaun tidur berwarna putih. Rambutnya tergerai bebas seperti tadi pagi, bedanya tidak ada riasan apapun di wajahnya. Polos. Murni. Sehingga ia bisa melihat bola mata perak itu dengan jelas.
Adam sebenarnya tidak tahu, apakah ia memang mabuk atau tidak. Ia sudah tidak mengerti tentang apa yang sedang dipikirkannya sekarang, atau bagaimana perasaannya sekarang. Tapi saat Psyche berani menggertaknya demi pria itu, rasanya seperti ada yang tercubit.
Ada perih yang ia tidak tahu di mana letaknya.
"Apa kau begitu membenciku Psyche?"
Hari ini ia banyak bertanya, pada Miranda, pada Psyche, juga pada dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi, apakah kegelisahan itu hanya dirasakannya sendiri?
Apa alasan mabuknya selama berhari-hari?
Itu Psyche.
Tapi mengapa? Untuk apa?
Psyche meliriknya cukup lama, lalu menjawab, "Tidak lagi."
Adam terkekeh. "Benarkah?" Katanya setengah tak percaya.
Semua perlakuan wanita itu jelas menunjukkan kebenciannya.
"Sudahlah. Lagipula semuanya sudah berakhir 'kan? Jadi pergilah. Biar ku buka kan pintunya untukmu." Psyche berbalik, hendak berjalan ke arah pintu namun sesuatu kembali menahannya.
Psyche mematung. Ia sejujurnya tidak memperkirakan pergerakan Adam yang tiba-tiba.
"Lepaskan, Adam." Kata Psyche tegas. Ia mencoba menarik kedua lengan kekar itu dengan tangannya. Namun lagi-lagi ia gagal, dalam urusan kekuatan ia tidak pernah bisa menang melawan Adam.
"Jawab pertanyaanku dan aku akan melepaskanmu."
"Sepertinya kau benar-benar mabuk. Adam biasanya tidak pernah secerewet ini."
Adam tersenyum kecil. "Sepertinya kau sangat mengenal diriku."
Psyche berdecak. "Bukan hanya aku, kalau kau lupa."
Semua wanita di sampingnya tahu Adam seperti apa.
"Kalau begitu buktikan ucapanmu. Jadikan dirimu satu-satunya yang mengenalku lebih dari siapapun." Adam mengeratkan pelukannya. Ia menyembunyikan wajahnya pada bahu seorang wanita yang telah diputuskannya beberapa hari lalu. Sungguh, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
"—sehingga kau bisa menemukan kelemahanku dan membuatku bertekuk lutut padamu."
Psyche menelan ludah. Napas pria itu terasa menerpa kulit bahunya yang terbuka.
"Bukankah itu yang kau inginkan, Psyche?"
Andai Psyche bisa melihat kedua mata kelam Adam yang tampak sendu sekarang. Maka wanita itu akan bersorak senang, karena tujuannya telah berhasil. Adam telah mengakuinya, semuanya, ia telah menemukan jawabannya.
"Bagaimana jika aku tak menginginkanmu lagi?" Psyche menjaga agar nada bicaranya tetap datar. "Semua perasaanku padamu telah mati saat kau mengakhiri segalanya."
Adam menutup matanya. Rasa perih itu kembali muncul dan membuatnya semakin takut.
"Kau berbohong." Kepala Adam menggeleng di bahu sempit Psyche. Sehingga bibir pria itu secara tak langsung bersentuhan dengan kulit Sang Wanita. "Kau yang mengatakan bahwa kau mencintaiku melebihi apapun."
"Apa sebenarnya maumu, Adam?" Psyche tidak bisa sabar lagi. Ia akan menggiring pria itu pada intinya. Pada sesuatu yang diincarnya. Diinginkannya. "Jelas-jelas kau sudah kehilangan dirimu sendiri dengan berbelit seperti ini."
Adam sadar itu. Sangat sadar. Tapi meruntuhkan egonya tidak semudah menghancurkan gelas kaca dengan sekali pukulan.
Tak mendapat respon dari Sang Pria membuat Psyche muak. Dengan sisa tenaganya ia memberontak, mendorong Adam untuk menjauh dari tubuhnya.
"Sudah cukup basa-basinya, cepat per—"
Tubuhnya terdesak di dinding dengan Adam yang menghimpitnya dengan rapat. Bibirnya di bungkam secara brutal oleh si pria.
Kasar dan tergesa. Seolah tak mengijinkan Psyche untuk bersuara lagi, untuk mengatakan sesuatu yang dapat membuat dadanya terasa perih.
Dan pria itu bahkan mengabaikan dering dari ponsel yang berada di saku jasnya yang tersampir di sofa Psyche.
Layarnya berkedip berkali-kali.
Miranda's calling.
.
.
.
"Hati-hati dengan matamu, Nona."
Psyche mengalihkan perhatiannya pada seorang pria berkulit pucat yang sudah berdiri di sampingnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Kadang mata bisa lebih jujur daripada mulut." Tukasnya lagi. Tersenyum sedikit miring yang mengingatkannya pada seseorang.
Psyche tidak merasa khawatir akan apapun yang dikatakan oleh pria itu. Dengan berani, ia kembali menaruh perhatiannya pada Adam dan seorang wanita yang mulai memasuki mobil.
Tepat saat itu mereka berciuman.
"Kau akan berakhir seperti mereka jika Adam tahu kau menatapnya seperti itu."
Psyche mendelik. "Dan hal itu terjadi pada wanitamu juga, ya?"
Senyum di wajah Sang Pria menghilang. Lalu ketika ia mengerti siapa yang dimaksud Psyche, Jacob kembali terkekeh pelan.
"Betapa menyedihkannya dirimu, Senior." Psyche tersenyum sinis. "Bagaimana kalau aku mendekatinya untuk menjauhkan wanitamu darinya?"
Jacob tergelak. Ia tahu Psyche tidak begitu serius dengan ucapannya. Tapi entah mengapa, kedua mata peraknya terlampau serius mengarah padanya.
"Akan kubuat Adam bertekuk lutut padaku, di saat itu kau bisa mengambil Miranda darinya."
.
.
.
"Kini kau mulai asing dengan dirimu sendiri, kau mulai terbuai dengan permainan yang tak pernah berakhir ini."