HEART

HEART
Bukan Prank!



Happy reading.


Semenjak insiden kontraksi palsu yang terjadi pada Aira, kini Ilham tidak pernah beranjak sedetik pun dari jangkauan wanita berbadan dua itu. Bahkan, Aira sempat protes karena suaminya itu terlalu berlebihan.


Namun, Ilham tetaplah dengan keputusannya. Laki-laki itu mengerahkan semua pekerjaannya kepada Devan. Beruntung sang sekertaris bisa dapat ia percayai.


Tidak terasa, hari ini ialah hari ke-lima setelah kejadian kontraksi palsu yang terjadi pada Aira. Artinya, hanya butuh lima hari lagi Ilham bertemu dengan buah hatinya bersama Aira.


Saat ini, ketiga keluarga kecil itu tengah berkumpul bersama di ruang keluarga. Nany pun turut hadir untuk mengawasi Irzan yang semakin hari bergerak semakin aktif.


“Lima hari lagi ya, Ra?” tanya Ilham dengan nada lirih.


Aira memutar bola matanya jengah saat pertanyaan itu kembali keluar dari mulut suaminya. Wanita berbadan dua itu berdecak sebelum ia menjawab pertanyaan sang suami.


“Ck, aku bosen denger kamu nanyain itu terus!” gerutu Aira dengan mulut mencebik sebal.


Ilham tersenyum tanpa dosa. Laki-laki itu membawa tubuh putranya yang sedang bermain dengan mainan kesayangannya. Anak batita itu sempat memekik protes ketika sang Ayah mengganggunya bermain.


“Tulunn!” pekik Irzan yang tidak ingin berada dalam pangkuan Ilham.


“Nggak mau,” goda Ilham. Laki-laki itu dengan sengaja memberikan kecupan bertubi-tubi pada pipi chubby sang putra.


“Nda,” rengek Irzan seraya melirik Aira dengan tatapan memohon.


“Apa, Zan?” tanya Aira yang tidak kuasa menahan kekehan geli melihat putranya itu.


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Ilham melepaskan tubuh sang putra. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Irzan merangkak kecil menuju Aira.


Kepala Irzan sedikit menunduk mensejajarkan dengan perut buncit Aira. Kedua bola matanya menatap perut buncit Aira dengan tatapan polos.


“Ta Ayah, ade cini?” tanya Irzan seraya menunjuk perut Aira dengan jari mungilnya.


“Iya sayang, disini ada adiknya Irzan.” tutur Aira dengan nada suara lembut.


“Ooooo,” Irzan yang tidak mengerti apa-apa hanya mampu bergumam pelan.


“Irzan mau punya adik berapa?” celetuk Ilham membuat anak batita itu menatap Ayahnya dengan tatapan bingung.


Tak lama kemudian jari jemari Irzan terangkat membentuk angka 5. Sontak Ilham tersenyum puas melihat respon sang putra. Sementara itu, Aira melototkan matanya tak percaya.


“Bagus! Biar rumah kita ramai,” puji Ilham kepada Irzan sembari mengusap surai putranya.


“Enak aja! Memangnya aku kucing apa,” dengus Aira dengan kedua mata melotot pada Ilham.


Irzan terkikik kecil melihat Ayahnya yang dipelototi speerti itu oleh sang Bunda. Dengan jahil anak batita itu menjulurkan lidahnya seolah sedang mengejek sang Ayah tercinta.


Nany yang duduk tak jauh dari ketiga majikannya pun berusaha menahan tawanya saat melihat raut wajah Ilham yang masam. Ah, rasanya ia sangat terhibur oleh tingkah anak asuhnya. Ia jadi tidak sabar menantikan anak kedua dari kedua majikannya.


“Kamu sebenarnya anak siapa sih Zan? Kok kamu tengil banget sama Ayah,” cibir Ilham memasang wajah masam.


Irzan hanya menatap Ayahnya dengan tatapan polos seraya bertepuk tangan heboh. Anak batita itu sangat senang menjahili Ayahnya dan membuat Ayahnya kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nindia memegang dadanya yang entah mengapa terasa sesak ketika perempuan itu mengingat kejadian beberapa hari lalu di kantor anak majikannya.


Dengan kuat ia menggelengkan kepalanya berusaha menghapus ingatan yang membuatnya sulit tidur beberapa hari belakangan ini.


Kebaikan Reno-anak majikannya membuat Nindia salah fokus dan menganggap jika laki-laki itu memiliki perasaan khusus untuknya. Nindia terkekeh miris, tidak mungkin anak majikannya memiliki perasaan untuknya.


Mengingat ia hanyalah seorang pembantu dirumahnya. Sementara Elin, kekasih laki-laki itu ialah seorang model majalah dewasa yang sangat diagungkan banyak laki-laki diluar sana.


“Nin? Kok melamun?”


Nindia terlonjak kaget saat sebuah suara mampu membuatnya tersadar akan lamunannya. Perempuan itu menoleh ke samping dan mendapati seorang laki-laki tampan tengah memandangnya lekat.


“A-ah, t-tidak Tuan.” bantah Nindia terbata-bata.


“Bohong.” tukas laki-laki itu yang tak lain ialah Reno.


“S-saya permisi ke belakang.” Nindia tidak mengidahkan ucapan Reno.


Saat hendak beranjak dari tempatnya, tangan Reno menahan pergelangan tangan Nindia. Perempuan itu berbalik seraya menatap kedua bola mata yang kini memandangnya lekat tanpa kedip.


“Kamu kepikiran dengan kejadian beberapa hari lalu?” tanya Reno to the point.


Tubuh Nindia menegang tatkala mendengar pertanyaan itu. Ia berusaha melepaskan cekalan tangan Reno. Namun sayang, tenaganya tidak sekuat tenaga laki-laki itu.


“Nin, saya harap kamu melupakan kejadian yang kamu lihat beberapa hari lalu.” ujar Reno.


“Saya, saya tidak serius dengan Elin.” tutur Reno membuat Nindia menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya.


“T-tuan, saya tahu saya tidak pantas berkata seperti ini kepada anda. Akan tetapi, saya sebagai perempuan tidak terima jika Tuan mempermainkan hati seorang wanita.” sarkas Nindia dengan nada kecewa.


“Bu-bukan begitu maksud saya Nin!” sangkal Reno yang tidak ingin membuat Nindia salah paham.


“Stop! Saya tidak ingin mendengar penjelasan apapun.”


Setelah mengatakan kalimat terakhirnya kepada Reno, dengan cepat Nindia menepis tangan laki-laki itu dan melangkah cepat menuju kamarnya. Suara bantingan pintu yang terdengar cukup keras membuat Reno mendesah napas kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa Irzan?” tanya Ilham yang tidak mengerti.


Jari telunjuk Irzan menunjuk kasur yang terdapat seperti cairan. Kedua mata laki-laki itu melotot dan langsung menatap sang istri dengan tatapan sulit diartikan.


“Aawsshh,” ringis Aira tatkala perutnya kembali merasakan sakit seperti beberapa hari lalu.


Namun, rasa sakit kali ini berbeda. Rasanya Aira tidak tahan menahan rasa sakit yang tengah dirasakannya.


“Nany! Siapkan keperluan Aira! Istri saya mau lahiran!” teriak Ilham dengan keras.


Tak lama kemudian nany datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Nany membawa semua peralatan Aira yang sudah dimasukan ke dalam sebuah tas jinjing cukup besar.


Ilham menggendong Aira ala bridal style dan mendudukkan tubuh istrinya di kursi penumpang bersama nany. Sementara Irzan duduk di depan lengkap dengan kursi khusus untuknya.


Sekitar 30 menit akhirnya mobil yang dikendarai Ilham sampai di sebuah rumah sakit yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Ilham keluar dari mobilnya dan kembali menggendong tubuh sang istri.


“Sus tolong, istri saya mau melahirkan!” teriak Ilham dengan suara keras.


Segerombol suster pun mendorong sebuah brankar. Ilham meletakkan tubuh istrinya diatas brankar. Brankar Aira pun didorong menuju ruangan persalinan.


“Sayang, kamu operasi saja ya? Mas nggak tega lihat kamu kesakitan seperti ini.” ujar Ilham dengan raut wajah khawatir.


“Nggak Mas, aku ingin melahirkan secara normal,” tolak Aira dengan suara tertahan menahan rasa sakit.


Dokter Saskia memasuki ruangan yang Aira tempati. Dokter perempuan itu pun mencek kondisi Aira serta melihat sudah sampai mana pembukaan wanita berbadan dua itu.


“Sudah pembukaan tujuh, kita tunggu sebentar lagi.” ucap Dokter Saskia.


“Apakah masih lama dok?” tanya Ilham cepat.


“Kita tunggu sekitar satu jam lagi, jika Aira sudah memasuki pembukaan sepuluh, persalinan bisa dilakukan.” tutur dokter Saskia.


“Banyak sekali,” gerutu Ilham.


“Kalau begitu, saya permisi untuk menyiapkan peralatan persalinan. Panggil saya jika pembukaan Aira sudah lengkap.” Dokter Saskia melenggang pergi keluar dari ruangan Aira.


Ilham menggenggam kedua tangan sang istri berusaha menguatkan wanita berbadan dua itu.


“Ra, sakit ya?” tanya Ilham dengan polos.


“Nggak Mas. Ya sakit lah!” seru Aira seraya menjambak rambut Ilham kuat.


“Awwww, sakit Ra!” keluh Ilham.


Ilham menoleh pada nany yang sedang menggendong Irzan. “Sudah mengabari Mami Dita?” tanya Ilham.


Nany menganggukkan kepalanya kuat. “Sudah Mas.” Jawabnya.


Irzan memandang Bundanya yang tengah menahan rasa sakit dengan tatapan sayu. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Bibirnya mengurucut. Tak lama kemudian, tangis anak batita itu pecah.


“Irzan kenapa sayang? Kok nangis,” ujar nany yang kalang kabut.


“Bawa Irzan keluar, mungkin dia sedih melihat Bundanya kesakitan.” titah Ilham yang langsung dituruti oleh nany.


Sekitar satu jam Aira menahan rasa sakit yang luar biasa baru ia rasakan kali ini. Akhirnya, pembukaan Aira sudah lengkap. Wanita itu sudah siap untuk melahirkan.


“Tarik napas yang panjang, lalu mengejan ya Ra.” ujar dokter Saskia memberi aba-aba.


“Satu, dua, tiga,” aba-aba dari dokter Saskia.


“Enggghhhhh,” erang Aira menahan sakit.


“Ayo lagi Ra, tarik napas lalu hembuskan.” ujar dokter Saskia.


Ilham senantiasa menggenggam tangan Aira kuat berusaha menguatkan sang istri yang tengah berjuang untuk melahirkan putra mereka ke dunia ini.


Meski pun ini bukan kali pertama untuk Ilham, akan tetapi laki-laki itu sangatlah takut dan khawatir jika terjadi yang tidak diinginkan kepada Aira dan anaknya.


“AKHHHHHH!” teriak Aira saat ia merasakan sakit luar biasa di bagian intinya.


“OEK OEK OEK,”


Suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan Aira. Ilham menghembuskan napas lega. Tak lupa laki-laki itu mengucap banyak syukur kepada Sang Pencipta.


“Alhamdulillah, bayinya sudah lahir. Jenis kelaminnya laki-laki, sehat dan tidak ada kekurangan apa pun.” ujar dokter Saskia dengan kedua tangannya memegang tubuh bayi yang baru saja lahir ke dunia beberapa detik yang lalu.


Ilham mengecup seluruh permukaan wajah Aira dengan sayang dan penuh cinta. Laki-laki itu sangat beruntung sekali mendapatkan wanita sebaik serta sesabar Aira.


“Terima kasih sayang,” ucap Ilham tulus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Akhirnya baby Aira sudah lahir! ...


...Kira-kira siapa ya namanya? ...


Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊