HEART

HEART
10



Manusia selalu mempunyai dua sisi berlawanan dalam dirinya. Baik dan buruk bisa bergantian di waktu yang tak terduga. Bahkan dalam satu kedipan mata, seseorang bisa berubah.


Ia mengira, mengenal Psyche bertahun-tahun akan membuatnya mengetahui sisi terdalam dari wanita itu. Tapi saat yang bersangkutan kini duduk di salah satu kursi di kafenya, ia sepenuhnya sadar bahwa mengenal seseorang tak bisa diukur dengan waktu.


Psyche boleh terlihat labil beberapa hari lalu saat berhadapan dengan Miranda. Berbeda dengan sore ini, ekspresinya terlalu tenang bahkan untuk seseorang yang mengaku cinta mati pada Adam.


"Syukurlah kau baik-baik saja." Pria itu membuka percakapan. Matanya tak pernah lepas memandang kedua mata sewarna perak itu. "Aku jadi merasa bersalah padamu."


Psyche membalas tatapan itu dari balik uap kopi panas yang mengepul. "Jangan menatapku seolah aku adalah wanita yang paling menyedihkan." Ia sesap kopi itu untuk sesaat, rasa pahit dan manisnya seolah menggambarkan kehidupan. "Tidak ada yang salah dan benar di sini. Bukankah orang-orang selalu berkata bahwa semuanya adil dalam cinta dan perang?"


Leon tak langsung menyahut. Ia mencoba mengenali siapa wanita yang sedang berbicara padanya saat ini. Sorot mata itu tak pernah sehangat saat mereka pertama kali bertemu.


"Kau tahu aku menyukainya, Psyche?" Katanya tiba-tiba.


Psyche memutar sendok di cangkir kopinya dengan tempo pelan. "Yang aku pastikan, ia tak menyukaimu."


Leon tersenyum pahit. "Aku tidak bisa ikut membencinya meski kau membencinya."


"Kenapa aku harus membencinya?"


Kepala Leon terangkat. Psyche menoleh padanya dan mengerjap. "Apa karena dua orang pria yang kukenal ternyata mengagumi orang yang sama?" Ia terkekeh. "Aku senang kau bisa bergerak cepat. Tak terpuruk pada perasaan yang tak terbalas."


Leon melengos. Cintanya selalu untuk Psyche. Wanita itu yang akan selalu dikaguminya. Tapi kenyataan bahwa tidak akan ada celah untuk dirinya, membuat perasaan itu bagaikan sebuah peti usang yang berada di sudut ruangan gelap yang tak berpenghuni. Masih utuh namun mulai terlupakan.


Tapi sebagai sahabat, ia mengerti perasaan wanita itu. Terlalu banyak cinta kadang bisa membuat orang buta. Apa lagi pria macam Adam tak kenal kata 'peka'. Meski ia mendapati bahwa kedua orang itu sama-sama menatap dengan kecemburuan yang besar.


Leon menyandarkan tubuhnya pada kursi. Cahaya senja memancar melewati jendela kaca dan menyorot langsung pada Psyche. Rambut dan kulitnya tampak bersinar. Dia cantik.


"Seandainya...kau mencintaiku, mungkin semuanya akan mudah."


Psyche menutup kedua matanya dan menghela napas. "Seandainya aku mencintaimu..." Ia menahan kata-katanya sambil menoleh. "Mungkin kita akan saling melupakan suatu saat nanti."


Karena benci bisa menjadi cinta dan cinta bisa menjadi benci. Perputaran yang selalu sama dan menciptakan dendam yang tak berkesudahan.


Leon mengangguk sambil berdiri dan mendorong kursi. Ia tersenyum tipis. "Aku senang kau masih mau menjaga hubungan baik denganku. Mulai hari ini aku akan mencoba untuk lebih memahamimu lagi."


Psyche mendengus, sementara kedua tangannya terlipat di dada. "Aku memang orang yang mudah ditebak, tapi barangkali itu hanya pengalihan."


Alis Leon terangkat. "Begitukah?" Katanya sambil berbalik. "Ah, berapa banyak yang tidak kuketahui sebenarnya?"


Wanita itu mengibas. "Sudah-sudah. Kerja sana."


Leon menganggap bahwa Psyche mungkin sedang bergurau. Ketika ia hendak menoleh untuk membalas ucapan wanita itu, pipinya tiba-tiba dihantam oleh sesuatu yang sangat keras. Tubuhnya sampai terjungkal saat menerima serangan mendadak itu. Bibirnya kebas dan ia merasakan perih yang teramat.


Dalam keterkejutannya Leon mendengar Psyche meneriakkan namanya dan orang-orang di sekitarnya memekik. Lalu ketika ia sadar sepenuhnya, sosok tinggi itu sedang menatapnya dengan pandangan dingin dan remeh.


"Bersyukurlah karena aku tidak membunuhmu."


Leon mengusap darah yang keluar dari salah satu sudut bibirnya. "Apa masalahmu, Bung?!"


Kalimat pria itu tertahan saat Psyche melewatinya dan lebih memilih si pria berambut putih. Wanita itu berjongkok dan melihat keadaan Leon dengan saksama. Darah itu sebagai simbol bahwa pria di belakangnya benar-benar berniat membunuh Leon.


Payche menulikan diri. "Jangan dengarkan Asam. Lebih baik kita obati lukamu."


"Aku bilang minggir, kalau tidak ingin aku akan memukulmu."


Payche mendelik. Ia dapati kedua tangan besar pria itu terkepal erat. "Benar kata Leon, apa masalahmu, Adam?" Wanita itu berdiri dan menatap datar kedua jelaga yang bagai mengeluarkan kobaran api. "Kau tidak berhak menyakitinya."


"Psyche!" Leon menahan napas ketika Adam menarik kerah baju wanita itu sehingga membuatnya sedikit berjinjit.


Tapi tanda dari sebelah tangan Psyche yang terangkat di belakang tubuhnya membuat gerakan Leon terhenti. Wanita itu memilih untuk menghadapi Adam seorang diri.


"Kau—apa kau ingin mati bersamanya?!" Napas kasar Adam terasa membentur wajahnya. Cengkeraman di kedua kerahnya membuat Psyche cukup kesulitan untuk bernapas.


Alih-alih meringis, wanita itu malah terkekeh. "Kenapa aku harus mati?" Tak ada ketakutan dalam melawan tatapan Adam. "Kenapa juga dia harus mati?"


"Kau semakin membuatku muak." Adam bergumam pelan sambil menghempaskan cengkeramannya. "Ucapanku tidak pernah salah, pada akhirnya kau selalu sama dengan mereka."


Pria itu menatapnya dan Leon secara bergantian, lalu berbalik dengan langkah yang terdengar nyaring.


"Aku beritahu sesuatu padamu Adam..." Psyche tak pernah menyangka bahwa Adam yang terbawa emosi masih bisa menghentikan langkah hanya untuk mendengarnya bersuara.


Wanita itu menyembunyikan seringainya seraya berkata, "Apa yang kau pikirkan bisa menjadi kenyataan dan apa yang kupikirkan juga bisa menjadi kenyataan." Ia melihat Adam mulai menyentuh gagang pintu besi itu dengan tangan kanannya. "Kau mencintaiku, Adam. Dan kau sangat menyedihkan karena tidak pernah ingin mengakuinya."


Lonceng berbunyi. Adam telah pergi dari pandangannya—lagi.


.


.


.


"Sudah lama menunggu?"


Angin malam sedikit menerbangkan rambut Psyche yang tergerai bebas. Ia menyandarkan tubuhnya pada pembatas jembatan dan menoleh pada sang pria berkulit pucat.


"Tidak juga." Psyche kembali mengalihkan perhatiannya pada genangan air yang memantulkan sinar dari lampu di sepanjang jembatan. "Mau bertaruh?"


Pria itu berdiri di sampingnya dan mengangkat alis. "Tentang?"


"Sepupumu."


Pria itu terkekeh. "Kalau yang itu aku sudah tahu akhirnya, Sayang."


Psyche mendengus lalu ikut terkekeh pelan. "Selesaikan pekerjaanmu. Tapi kupastikan sainganmu bertambah."


Kedua alis pria itu kembali bertaut. Sedikit terganggu dengan kata 'saingan'. "Apa maksudmu?"


Payche hanya tersenyum simpul sebagai jawaban. Gaunnya tampak berkobar saat wanita itu menyusuri jembatan.


Sungguh, mereka tidak tahu bahwa cinta bisa membuatnya se-mengerikan itu.