
Happy reading.
Sudah genap dua bulan Aira menetap di tempat tinggal keluarganya. Wanita berbadan dua itu bisa menyesuaikan dirinya dengan tempat tinggal barunya. Mami Dita dan Reno memperlakukan Aira dengan sangat baik.
Sudah dua bulan pula Ilham seringkali mengunjungi rumah Mami Dita. Walaupun yang lelaki itu dapatkan hanya penolakan dan cacian dari Reno.
“Ai, nanti siang kita jadi ‘kan buat belanja pakaian baby?” tanya Mami Dita.
Aira mengangguk singkat. “Jadi Mi,” jawabnya seraya memakan potongan buah naga.
Seperti itulah panggilan Aira kepada Tantenya. Saking sudah sangat dekatnya mereka sampai-sampai Mami Dita memintanya untuk memanggilnya dengan panggilan ‘Mami’ bukan Tante.
“Kalau gitu, Mami mau siap-siap dulu. Kamu juga siap-siap ya.” ujar Mami Dita berdiri dari duduknya menuju kamar.
Aira bersendewa cukup keras. Wanita berbadan dua itu mengelus perutnya yang sudah sangat buncit. Kini, kandungannya sudah berjalan tujuh bulan.
Setelah minggu lalu memeriksa kandungannya kepada dokter, Aira menjadi tahu jenis kelamin sang anak. Ah, rasanya Aira sangat tidak sabar untuk bertemu calon anaknya itu.
Aira beranjak dari duduknya. Wanita itu melangkah menuju kamarnya dengan langkah hati-hati.
Perutnya yang semakin besar membuatnya terasa sulit untuk melakukan hal apa pun. Tak jarang jika Aira sering mengeluh pegal di pinggangnya.
Setelah dua puluh menit bersiap-siap, kini Mami Dita serta Aira sudah siap dengan penampilannya masing-masing. Niatnya mereka akan mengunjungi sebuah mall ternama di Kota Metropolitan ini.
Setelah membuka pintu mobil, Aira dan Mama Dita duduk di kursi penumpang. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Pak Man pun melesat pergi meninggalkan kawasan rumah mewah nan megah itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menempuh sekitar setengah jam lamanya. Kini mobil yang ditumpangi Aira dan Mami Dita telah sampai di parkiran sebuah mall. Kedua wanita berbeda usia itu pun keluar dari mobil tersebut.
“Pak Man tunggu disini ya, saya sama Aira masuk dulu.” ucap Mami Dita.
Lelaki paruh baya itu menganggukkan kepalanya patuh. “Siap Bu.” Jawabnya.
Aira dan Mami Dita perlahan memasuki mall tersebut. Banyak orang-orang yang mendatangi mall ini. Maklum, sekarang hari minggu. Banyak sekali yang mengajak keluarganya untuk mengisi waktu luangnya disini.
Aira beserta Mami Dita menaiki eskalator yang membawa mereka ke lantai dua. Kedua wanita berbeda generasi itu menghampiri stan pakaian khusus untuk anak bayi.
Kedua mata Aira berbinar melihat banyaknya baju bayi di depannya. Aira melangkah kecil membuat Mami Dita meringis ngilu menatap perut Aira yang semakin membesar.
“Hati-hati Ai, jalannya.” tegur Mami Dita membuat Aira menampilkan cengirannya.
Aira memilah milih pakaian bayi untuk calon anaknya. Pandangannya tertuju pada baju bayi berwarna biru. Tangan wanita berbadan dua itu terulur mengambil pakaian bayi tersebut.
“Ai, warna ini bagus loh untuk anak kamu,” celetuk Mami Dita seraya memperlihatkan baju bayi berwarna pink.
“Mi, kan anakku cowok. Masa mau dipakein baju warna pink?” Aira menggelengkan kepalanya seraya terkekeh kecil.
“Oh iyaya, Mami lupa.” ujar Mami Dita menepuk keningnya pelan.
“Maklum Ai, Mami kepingin banget punya cucu perempuan.” tutur Mami Dita.
“Mami suruh aja Reno nikah. Terus minta cucu perempuan sama dia.” celetuk Aira.
“Ah, kalau nunggu dari Reno mah lama.” gerutu wanita yang akan memasuki kepala lima itu.
Aira kembali fokus dengan aktivitasnya. Beberapa baju bayi yang menurutnya bagus dan menggemaskan ia masukan ke dalam tas plastik mall khusus untuk berbelanja.
Lalu, tatapannya tidak sengaja menatap pakaian untuk usia batita. Aira menjadi ingat dengan Irzan, putra suaminya. Tentu putranya juga bukan?
Tangannya mengambil beberapa baju untuk usia batita. Senyumnya mengembang kala mengingat tawa serta senyuman manis Irzan. Ah, rasanya Aira sangat merindukan bocah penyuka cokelat itu.
“Sudah Mi,” jawab Aira seraya memperlihatkan hasil belanjaannya.
“Banyak banget,” seru Mami Dita.
“Hehe iya Mi,” Aira terkekeh geli.
“Itu baju yang ukurannya agak gede buat siapa Ai? Kan anakmu nanti masih lama gedenya.” tanya Mami Dita penasaran.
“Oh, ini untuk Irzan.” Jawab Aira ringan.
“Ngapain kamu beliin anak itu baju? Ingat Ai, Ibunya udah merebut suami kamu.” cibir Mami Dita dengan mulut memberengut kesal.
“Nggak-papa Mi, Aira jadi ingat sama Irzan aja.”
“Lagian, Irzan nggak salah kok Mi. Memangnya Irzan tahu jika ia akan hadir ke dunia dengan cara seperti itu?” Aira menaikkan sebelah alisnya.
“Kamu baik banget Ai, kayak Mbak Airin.” Puji Mami Dita menatap Aira penuh kekaguman.
“Ya dong, dia kan Mamaku.” Aira mengulum senyumnya.
“Ya sudah, kalau udah selesai belanjanya. Kita bayar sekarang.” ajak Mami Dita.
Setelah membeli semua kebutuhan bayi pun Aira dan Mami Dita segera mengantri di kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Aira dan Mami Dita menenteng hasil belanjaannya yang sangat banyak. Mereka memasukkan semua barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil.
“Mau pulang sekarang Bu?” tanya Pak Man dengan sopan.
“Boleh, yuk Ai masuk mobil.” ajak Mami Dita.
Saat Aira hendak memasuki mobil tersebut, tak sengaja pandangan matanya tertuju kepada seorang anak laki-laki yang sedang berada di dekat jalan raya.
Parkiran mall dan jalan raya tidak begitu jauh. Kedua mata Aira membola tatkala melihat sebuah mobil truk yang akan melintas melewati anak kecil tersebut. Artinya, anak itu akan tertabrak? Pikir Aira.
Instingnya mengatakan jika Aira harus menyelamatkan anak kecil itu. Entah karena apa Aira mengikuti insting tersebut.
Tanpa menghiraukan panggilan dari Mami Dita dan Pak Man, kaki Aira melangkah mendekati anak kecil tersebut. Wanita berbadan dua itu sedikit berlari kecil untuk membawa tubuh kecil itu ke dalam dekapannya.
Kini Aira sudah membawa tubuh anak kecil itu ke dalam dekapannya. Aira tidak menyadari jika saat ini dirinya tengah berada di tengah-tengah jalan raya. Pekikan serta seruan dari Mami Dita menyadarkan Aira dari melamunnya.
Mobil truk yang akan melintasi jalan raya itu perlahan semakin mendekat. Aira memejamkan matanya saat truk itu berada tak jauh darinya.
BRAKKK!!!
Suara dentuman truk itu berbunyi keras dan nyaring. Truk itu terguling menabrak beberapa mobil di depannya.
Tubuh Aira melemas seakan menjadi jelly. Pandangannya sangat kabur. Kedua matanya berkaca-kaca.
Bukan, bukan Aira dan anak kecil itu yang tertabrak. Melainkan orang yang sudah menolong Aira. Siapa gerangan yang sudah menolongnya dan berkorban untuk menyelamatkan nyawanya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Aira.
Sayup-sayup Aira melihat orang yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan dengan banyaknya darah bersimpuh di tubuhnya. Air mata Aira bercucuran tatkala melihat siapa orang tersebut.
“M-mas Ilham,” gumam Aira lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Gimana sama bab 31 nya?...
...Semoga feel-nya dapet ya 😭😭...
...Awas ada typo ⚠️...
...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😍...