
Adam masih belum berbicara pada Sophia semenjak dua hari terakhir. Pagi-pagi sekali putranya sudah berangkat bekerja dan ia akan pulang setelah Sophia dan Ariel tertidur.
Sophia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi. Ketika ia melihat Adam di pemakaman hari itu, Sophia tahu sudah tidak ada celah untuk menyembunyikan segalanya. Sekalipun ia akan dibenci, tapi ia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang kebohongan.
Yang ia ingat hari itu adalah ekspresi datar Adam, namun jelas matanya menyiratkan ketidakpercayaan.
Ia mencintai Adam, meski hubungannya dengan suaminya adalah sebuah keterpaksaan. Meski yang ia cintai justru adalah milik orang lain.
Jadi malam itu ia menunggu Adam di ruang tengah, sengaja terjaga untuk menyelesaikan apa yang harus segera diselesaikan.
Sebelum malam semakin larut, Adam datang dengan wajah yang semakin dingin dari hari ke hari. Kepergian Psyche Heartfillia tampaknya juga berpengaruh besar pada perubahan sikap putranya itu.
"Adam."
Awalnya Adam terlihat tak acuh, tapi sebelum menaiki tangga, pria itu menghentikan langkahnya. Nadanya ketus, "Apa?"
"Kemarilah. Ibu ingin bicara."
Adam tak berkata apa pun tapi langkah yang terdengar tergesa saat ia menghampiri Sophia menandakan bahwa Adam sebenarnya tidak ingin membahas apa pun.
Ia sudah terlalu lelah.
"Duduk—"
"Apa yang ingin Ibu bicarakan?"
Sophia menghela napas pelan, ia masih bisa merasakan amarah yang tertahan di dada pria itu.
"Ibu minta maaf."
"Untuk apa Ibu minta maaf padaku?"
Sophia mendongak, "Untuk semuanya."
Adam berdecih sambil memalingkan muka. "Semuanya juga sudah terjadi, untuk apa minta maaf."
"Karena Ibu tidak ingin kehilanganmu."
Adam memijat keningnya, "Aku sudah kehilangan Ayah." Lalu menatap Sophia dengan tatapan terluka. "Mengapa Ibu tidak menikah dengan orang yang Ibu cintai saja?!"
"Adam..."
"Aku terlahir bukan atas dasar cinta, bagaimana mungkin Ibu selalu mengatakan bahwa Ibu mencintai aku dan Ariel?!"
Dan bagaimana mungkin ia bisa mencintai anak dari selingkuhan ibunya sendiri...
Ini tidak adil. Psyche sudah mengetahuinya sejak awal.
"Ibu mencintaimu, Adam! Apa pun yang terjadi di masa lalu, Ibu akan tetap mencintaimu dan Ariel!"
Kedua tangan Adam mengepal. "Maaf...aku tidak mempercayai siapa pun lagi."
Pria itu pergi, meninggalkan Sophia yang kembali menangis sendirian.
.
.
.
"Sudah saatnya makan malam, kau masih ingin di sana?"
Psyche menoleh. Ia mengangguk singkat sambil tersenyum tipis.
Jeremy menghela napas. Alih-alih pergi ke ruang makan, ia malah ikut bergabung bersama Psyche untuk melihat pemandangan dari balkon.
"Mendadak sekali kau ingin pindah ke Manchester, pasti sesuatu telah terjadi."
Jeremy adalah anak pamannya yang sudah menikah dan menetap di Manchester. Pria berambut panjang itu menempuh kuliah dengan bekerja paruh waktu seperti dirinya. Bagi genius sepertinya tak membutuhkan waktu lama untuk lulus dan bekerja di salah satu perusahaan IT terkemuka. Beruntungnya lagi, sulung keluarga Clark terpincut padanya hingga kemudian mereka menikah.
Jeremy seakan mudah untuk mendapatkan segala berkah dan kebahagiaan atas kerja kerasnya selama ini. Sementara Psyche seolah selalu memikul dosa masa lalu dan terikat pada lingkaran yang sama.
Akankah...suatu hari ia juga merasakan semua kebahagiaan itu?
Karena sejak hari ini pun ia masih meninggalkan hatinya di London.
"Apa menurutmu aku membenci Ayahku?"
Alis Jeremy terangkat, sejurus kemudian ia mengerti ke mana semua ini akan berakhir. "Kau mencintainya," jawab Jeremy tegas, tanpa ragu. "Kau hanya tidak ingin memaafkan kesalahannya."
Psyche menegakkan tubuhnya, tak lagi bertumpu pada pagar balkon. "Aku...kurasa ucapanmu benar." Angin menerpa wajahnya, terasa hangat namun sejuk secara bersamaan. "Tapi bagaimana jika aku mencintai seseorang yang tidak seharusnya aku cintai?"
"Apa maksudmu?"
Psyche menyembunyikan senyum pahitnya, "Aku mencintai pria yang dilahirkan oleh wanita selingkuhan Ayahku."
Jeremy tertegun.
"Sebelum aku mengetahui semuanya, aku dan dia sudah saling membenci, kami berada dalam satu perusahaan." Psyche tidak ingin bercerita tapi ia rasa ia perlu membagi sedikit hal ini pada Jeremy agar sedikit beban di pundaknya terangkat. "Dia selalu mempermainkan para wanita dan aku tertantang untuk menaklukkannya. Hingga tak sadar bahwa sebenarnya di balik rasa benci itu ada cinta yang begitu besar. Bahkan setelah aku tahu, tidak ada yang berubah dengan perasaan itu."
Psyche menahan napas, setelah itu memalingkan wajah. Mungkin sudah cukup, ia tidak bisa membiarkan Jeremy melihat air matanya.
"Apa ia juga mencintaimu?"
Napas Psyche terdengar berat, diiringi kekehan hambar wanita itu menjawab, "Ya."
Psyche terdiam. Mencerna setiap ucapan yang ditangkap pendengarannya. Mungkin saja ia memang sudah ikhlas, tapi bagaimana dengan Adam yang pasti sudah mengetahuinya juga?
"Apa kau sudah siap untuk melupakannya dan membuka hatimu untuk orang lain?" Jeremy menepuk sebelah bahunya, "Aku rasa kau belum siap dengan itu."
Cinta dan konsekuensinya.
.
.
.
Musim gugur mulai menyapa. Angin berembus kencang dan menjatuhkan helai daun berwarna coklat dan kekuningan.
Dalam balutan long coat hitam, Adam berdiri di depan pusara sang ayah setelah berdoa dan menyimpan sebuket bunga di atasnya. Hampir seminggu sekali ia mengunjungi makam ayahnya. Tak jarang juga menemukan buket bunga bekas ibunya sendiri.
Hubungan mereka memang tidak sehangat dulu, tapi juga tidak begitu buruk. Semuanya harus terlihat baik-baik saja karena Ariel masih belum memahami semua ini.
Sepertinya waktu terasa cepat berlalu. Hari demi hari seakan tak berarti. Seperti monoton, bahkan Adam hampir lupa caranya untuk tersenyum.
Katanya waktu bisa menyembuhkan luka, tapi lubang hitam dalam dadanya masih terasa menganga hingga sekarang.
Ia tidak tahu apakah itu benci atau rindu, yang jelas perasaan itu yang selalu membuatnya tak bisa tidur setiap malam.
Saat keluar dari area pemakaman, langkah Adam terhenti oleh sebuah pemandangan yang membuat semua orang iri.
Dua pasangan muda yang menggandeng seorang anak di tengah-tengah mereka. Ketiganya berjalan sambil sesekali tertawa, sesekali juga mengangkat tubuh sang anak hingga berteriak gembira.
Adam ingin tersenyum tapi bibirnya terasa kaku sehingga ia hanya memalingkan wajah.
Mereka begitu hangat dan saling mencintai.
Saling mencintai...
Adam termenung. Ia kembali menoleh pada ketiga orang yang sudah terlihat jauh dari pandangan.
Sekejap semua seolah berganti menjadi bayangan dirinya dan Psyche yang saling bergandengan—bersama anak mereka kelak.
Setitik air mata kembali jatuh.
Adam bisa tersenyum, ia memiliki harapan itu kembali.
Ternyata cintanya memang begitu besar.
.
.
.
"Kau yakin tidak ikut malam ini?" Kai, pria berwajah bayi itu menyusul Psyche yang berjalan dua langkah di depannya. "Jarang-jarang lho bos mentraktir kita."
Psyche menggeleng pelan. "Aku tidak tertarik."
Kai berdecak, "Payah sekali. Sebenarnya dia mau mentraktir kita karena dia ada rasa padamu tah—s*al! Aku keceplosan."
Psyche mendengus pelan. Namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya. Sedikit terhibur oleh kepolosan pria itu.
"Maaf karena sudah mengacaukan rencana bosmu, ya."
Kai cemberut. "Aku serius, Psyche. Bos itu suka padamu. Tapi kelihatannya kau sama sekali tidak tertarik."
Alis Psyche bertaut. Well, kisah cinta bos dan bawahan sepertinya sudah tidak asing. Mana mungkin ia akan terjebak di lubang yang sama.
"Kalau sudah tahu mengapa masih memaksaku untuk ikut? Jangan-jangan kau disogok olehnya ya?"
Kai mengibas cepat. "Tentu saja tidak! Aku hanya merasa kau itu cocok dengannya."
Psyche angkat bahu, "Terlihat cocok bukan berarti bisa saling menyukai."
"Yeah. Kau yang tidak menyukainya." Kai menghentikan langkahnya di kelokan, "Atau mungkin saja di hatimu telah ada orang lain," katanya dengan nada bercanda.
Pria itu melambai, sebelum hilang di kelokan. Meninggalkan Psyche yang mematung dengan tatapan penuh arti.
Orang lain...
Psyche berbalik saat angin berembus dengan kencang. Menerbangkan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai.
Lalu waktu seakan terhenti. Aroma familier berembus terbawa angin. Memaksa Psyche untuk kembali menghentikan langkah. Air matanya tiba-tiba mengalir, menetes membasahi tanah.
Dadanya bergemuruh ketika ia kembali membalikkan tubuh. Menatap sosok itu tanpa suara, sementara air matanya tak henti menetes.
Adam berdiri kokoh di ujung sana, menatapnya tanpa ekspresi apa pun. Namun kehadirannya membuat Psyche percaya bahwa mereka masih memiliki perasaan itu.
.
.
.
"Terkadang memaafkan tak semudah mencintai. Tapi karena mencintai, kita selalu bisa memaafkan."