
Happy reading.
Setelah sampai di kawasan rumahnya, Reno menyimpan mobilnya di garasi. Laki-laki itu melangkah memasuki rumahnya yang terlihat sangat sepi. Ia membuka kunci pintu utama dan menutupnya kembali. Langkahnya sangat pelan.
Tenggorokan laki-laki itu sangat kering. Hal itu, membuatnya berjalan menuju ke arah dapur berniat mengambil beberapa minuman dingin dari kulkas. Keadaan pencahayaan dapur yang remang-remang membuat bulu kuduk Reno berdiri.
Langkah laki-laki tersebut terhenti saat melihat sosok perempuan yang sedang membelakanginya. Jangan lupakan rambut panjangnya yang menjuntai hingga pinggang. Kaki Reno bergetar bagaikan jelly.
“K-kamu siapa? P-please deh Mbak kun, jangan nakut-nakuti aku.” ujar Reno sembari memejamkan kedua matanya.
Perempuan itu pun membalikkan tubuhnya menatap laki-laki di hadapannya yang masih memejamkan kedua matanya. Saat tidak mendapati respon apa pun, Reno pun memberanikan diri mengintip perempuan itu dengan sebelah matanya.
“Loh ternyata kamu Nin. Kamu ngapain malam-malam di dapur Nin?” tanya Reno sambil mengusap dadanya yang berdetak tak karuan.
Sementara itu, Nindia hanya mampu menundukkan kepalanya dalam. Perempuan itu tidak berani menatap anak majikannya. Terlebih saat ini, ia sedang tidak memakai jilbab. Ini tidak benar.
Dengan cepat dan tergesa-gesa Nindia berlari menuju kamarnya meninggalkan Reno yang masih berdiri di ruangan dapur.
Reno menatap kepergian perempuan itu dengan kening mengeryit heran. Pasalnya, ketika ia bertemu dengan Nindia, perempuan itu selalu saja melakukan hal-hal aneh yang membuatnya geleng-geleng kepala.
“Eh, tapi tadi dia kan nggak pakai kerudung?” gumam Reno dnegan suara kecil.
“Cantik juga ternyata.” gumamnya lagi sambil menahan senyumannya.
Dengan sekilat mungkin, Reno menggelengkan kepalanya kuat.
“Gue kan udah punya Elin..” bisik Reno lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Aira menggeliat kecil dalam tidurnya. Kedua mata wanita itu mengerjap kecil. Kepalanya menunduk saat merasakan sepasang lengan kekar melingkar di perutnya.
Sontak wajahnya memerah dan senyum merekah terpatri di wajahnya. Sudah berapa lama ia tidak tidur senyenyak ini dan tidur dalam pelukan suaminya? Pikir Aira.
Perlahan Aira meletakkan tangannya diatas punggung tangan suaminya. Ia mengelus punggung tangan sang suami dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Saat merasakan pergerakan kecil dari suaminya, Aira pun lantas menarik tangannya dan kembali memejamkan kedua matanya.
Ilham yang memang sudah terbangun sedari tadi terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan istrinya. Karena sudah tidak tahan akan kegemasannya, ia pun mendekatkan kepalanya pada leher putih Aira.
Laki-laki itu mengendus-ngendus leher sang istri membuat Aira merasakan geli. Tak lama kemudian, benda kenyal menempel di leher putih Aira. Untuk seperkian detik, tubuh Aira menegang saat merasakan itu.
“M-mas,” desis Aira tanpa menolehkan kepalanya pada Ilham.
“Hm,” sahut Ilham yang masih asik dengan kegiatannya sendiri.
Ilham mengecup kecil leher putih sang istri berulangkali. Rasanya ia sudah sangat lama tidak saling memadu kasih dengan Aira.
“H-hentikan Mas,” gumam Aira yang sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya.
Bagaimana pun juga, ia hanyalah seorang wanita biasa yang membutuhkan nafkah lahir dan batin. Apalagi, hormonnya sekarang sangat meningkat sekali. Ia akan mudah sensitif. Seperti saat ini contohnya, suaminya itu seakan memancingnya.
“Kenapa? Mas suka.” bisik Ilham tepat di telinga Aira.
Aira memegang kedua pipinya yang terasa memanas. Wajahnya sontak memerah mendengar ucapan suaminya. Tidak bisakah suaminya itu tidak membuatnya resah? Pikir Aira.
“Mas, ingin menjenguk anak kita.” gumam Ilham dengan suara terdengar serak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tumben, bangunnya siang Ra?” ujar Mami Dita seraya memangku tubuh batita yang hendak memasuki usia 3 tahun.
Aira meringis kecil mendengar itu. Ia hanya bisa memberikan senyum simpul kepada Tantenya. Tak lama kemudian, Ilham pun keluar dari kamarnya dengan pakaian santainya. Jangan lupakan rambut basah laki-laki itu yang sedikit bercucuran di lantai.
Ilham menarik kursi makan dan duduk di samping Aira. Mami Dita menatap pasangan suami istri di depannya ini berulang kali. Sesaat ia menganggukkan kepalanya setelah menyadari sesuatu.
“Ekhem,” Mami Dita berdeham kecil untuk meregangkan kecanggungan yang terjadi saat ini.
“Ilham,” panggil Mami Dita untuk pertama kalinya.
Ilham mendongak menatap wanita yang sedang memangku putranya. Sesaat tidak ada yang membuka suara. Laki-laki itu menunggu Mami Dita untuk menyampaikan sesuatu setelah memanggil namaanya tadi.
“Pesan saya, jangan terlalu membuat Aira lelah. Kasihan dia kalau jalannya harus sedikit kesulitan. Terlebih perutnya yang sudah membesar membuatnya sulit melakukan aktivitas apa pun.” tutur Mami Dita.
Tidak ada sorot kebencian yang diperlihat oleh Mami Dita kepada Ilham. Aira yang menyadari kemana arah pembicaraan yang dilontarkan Tantenya pun tersipu malu. Bagaimana bisa ia kepergok telah melakukan hubungan suami istri?
Ah ya, Aira lupa jika rambutnya dan rambut suaminya terlihat basah karena sama-sama habis keramas. Sontak Aira menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Mami Dita.
Ilham mengangguk singkat. “Iya, saya tidak akan membuat Aira kelelahan.” balas Ilham sembari melirik pada istrinya.
Aira dan Ilham pun melanjutkan sarapan paginya yang tertunda. Sungguh, saat ini perut Aira sudah berdemo sejak dari tadi. Tak heran jika ia menambah porsi sarapannya mengingat jika ia tidak hanya makan untuk dirinya saja. Melainkan, untuk calon anaknya juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Mas, ini weekend loh. Masa mau ke kantor sih,” gerutu Aira mencegah agar suaminya tidak berangkat bekerja.
“Mas nggak bisa sayang. Ada beberapa masalah di kantor yang harus cepat-cepat Mas selesaikan.” tutur Ilham dengan lembut.
“Ya sudah kalau begitu.” Putus Aira dengan kedua bahunya yang terasa melemas.
“Kamu mau dibawakan apa? Biar nanti Mas belikan.” tanya Ilham.
Mami Dita yang sedang berdiri tak jauh dari pasangan suami istri itu pun tersenyum tipis. Ia sangat lega mengetahui jika suami keponakannya sangat perhatian kepada Aira.
“Aku nggak mau apa-apa Mas,” ucap Aira.
“Aku hanya ingin, Mas pulang dengan keadaan selamat.” ucapnya lagi.
Sudut bibir Ilham berkedut tak kuasa menahan senyumnya. Ia mendekatkan wajahnya pada perut buncit Aira. Salah satu tangannya mengusap dengan sayang perut tersebut.
“Nak, Ayah berangkat dulu ya. Kamu jangan rewel, kasihan Bunda.” ujarnya kepada jabang bayi yang ada di dalam perut Aira.
Aira tersenyum melihat tingkah suaminya. Ilham pun kembali berdiri dan mendekatkan wajahnya pada wajah Aira. Sesaat, Aira memejamkan kedua matanya saat ia meraskaan sebuah benda kenyal menempel di atas keningnya.
“Kalau begitu, Mas berangkat dulu ya sayang.” ucap Ilham sambil menatap wajah istrinya lekat.
Kepala Aira mengangguk kecil. “Hati-hati ya Mas, jangan ngebut bawa kendaraannya. Utamakan keselamatan dulu.” Pesan Aira sebelum suaminya pergi menuju kantor.
“Iya, Mas akan ingat pesan istri tercinta Mas ini,” gurau Ilham seraya menoel pucuk hidung Aira.
Aira terkekeh kecil melihat guyonan suaminya. Wanita itu menatap punggung tegap Ilham yang perlahan menjauh dari pandangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊