HEART

HEART
Sadar



Happy reading.


Aira beserta Mami Dita mengikuti langkah kaki nany yang sedang menggendong Irzan. Saat ini, perasaan wanita berbadan dua itu tengah tak karuan.


Ceklek!


Penghuni ruangan serempak menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka.


“A-aira,” gumam Mama Lina menatap tak percaya.


Aira masih berdiri diambang pintu ruangan, dengan tangan bertumpu pada knop pintu tersebut. Sementara itu, Mami Dita memegang pinggang Aira agar wanita hamil itu tidak terjatuh.


Mata Aira langsung tertuju kepada seorang lelaki yang sedang terbaring lemah tak berdaya dengan beberapa jarum infus-an yang terpasang di tubuhnya.


Perlahan tapi pasti Aira melangkahkan kakinya mendekati lelaki yang sedang berbaring itu. Matanya seketika memanas, perasaannya seakan di ombang-ambing.


“M-mas Ilham,” lirih Aira dengan suara bergetar.


Tangan Mami Dita mengusap pelan bahu Aira berusaha mencoba menenangkan wanita itu.


“A-ai-ra,” panggil Ilham dengan suara lemahnya.


Aira berdiri di samping tubuh tak berdaya Ilham. Wanita itu menatap wajah suaminya yang pucat pasi bagaikan mayat yang hidup. Perlahan jari-jemari Aira mengusap pelan air mata Ilham yang turun mengenai pipinya.


“Ilham baru sadar sejak lima menit yang lalu Ra,” ujar Mama Lina memberitahu.


Tak lama kemudian dokter beserta satu suster datang memasuki ruangan Ilham untuk mengecek keadaan lelaki yang sudah koma selama satu minggu lebih.


“Syukurlah Pak Ilham sudah sadar. Sekarang tinggal pemulihan saja. Dan jangan lupa perbanyak istirahat, jangan melakukan hal berat terlebih dahulu.” tutur dokter tersebut.


“Kira-kira anak saya kapan bisa pulang dok?” tanya Mama Lina.


“Jika keadaannya sudah stabil Pak Ilham diperbolehkan untuk pulang.” Jawab dokter itu.


Mama Lina menganggukkan kepalanya paham. Saat ini di ruangan hanya ada Ilham, Mama Lina, Aira, Mami Dita, nany yang sedang menggendong Irzan, serta dokter dan suster. Papa Satria tidak bisa menjenguk keadaan putranya karena ada hal mendesak.


“Kalau begitu saya kembali ke ruangan. Kalau ada apa-apa, tinggal pencet saja tombol darurat yang berada di samping brankar.” ucap dokter.


“Baik dok, terima kasih.” ujar Mama Lina.


Dokter beserta satu suster itu pun melenggang pergi dari ruangan Ilham.


Tatapan mata Ilham sangat terlihat sayu. Matanya terus menatap wajah cantik Aira yang kini duduk di samping brankarnya. Tangannya yang masih lemas berusaha kuat menggenggam tangan Aira.


Lalu tatapan matanya beralih menuju perut Aira. Aira yang melihat Ilham sedari tadi terdiam dan menatapnya terus menerus pun perlahan mengusap punggung tangan lelaki itu.


“A-anak kita-“


“Dia sehat Mas,” ucap Aira memotong perkataan yang akan Ilham ucapkan.


“B-boleh Mas mengusap perutmu?” tanya Ilham dengan sorot penuh pengharapan.


Aira mengangguk kecil. Sontak tangan Ilham beralih menuju perut buncit Aira. Perlahan tapi pasti tangannya yang lemas itu mengusap permukaan perut Aira dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“A-anakku..” Ilham berujar lirih.


Mami Dita mendongakkan kepalanya ke atas. Wanita itu tidak kuat melihat pemandangan yang ada di depannya.


“Mas lebih baik sekarang istirahat dulu.” ucap Aira seraya menurunkan tangan Ilham dari perutnya.


Percayalah, rasa marah, sedih, kecewa yang terpendam dalam diri Aira kepada Ilham, seakan sirna begitu saja saat melihat keadaan suaminya yang tak berdaya.


“Tapi M-“


“Mas harus istirahat. Mas menjadi seperti ini karena aku.” Aira menundukkan kepalanya dalam merasa bersalah.


“Hey, Mas nggak-papa Ra,” dengan kekuatan yang tersisa, tangan Ilham berusaha mengangkat dagu Aira agar kepala wanita itu tidak menunduk.


“Mas tidak-papa jika harus mengorbankan nyawa sekalipun. Asalkan, kamu dan anak kita selamat.”


Sontak kedua mata Aira berkaca-kaca mendengar penuturan Ilham. Wanita berbadan dua itu terisak kecil dalam diamnya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis di depan banyak orang. Aira tidak ingin terlihat lemah.


“Mas minta maaf,” rasanya tenggorokan Ilham tercekat saat akan mengucapkan sesuatu.


“Mas minta maaf, karena sudah menyakiti kamu Aira. M-mas sadar perbuatan Mas sudah sangat fatal. Tapi, Mas mau memperbaiki semuanya Ra,” tutur Ilham dengan lirih.


“M-mas brengsek Ra.” ucap Ilham memaki dirinya sendiri.


“M-mas bodoh sudah sia-siakan istri sesabar kamu.” bahu lelaki itu bergetar kecil. Suaranya berubah menjadi serak.


“K-kamu mau ‘kan maafin lelaki brengsek ini?” tanya Ilham menatap Aira dengan sendu.


Sejenak Aira terdiam saat mendengar ucapan Ilham. Wanita itu tidak bergeming sama sekali membuat Ilham menatapnya sedih.


“Ah, k-kamu nggak mau ya maafin lelaki brengsek seperti a-aku?” Ilham mengalihkan pandangannya dari wajah Aira.


Lelaki itu menatap ke arah lain. Sungguh saat ini Ilham hanya menginginkan agar Aira kembali bersamanya. Akan tetapi, mengingat betapa brengseknya dan jahatnya ia kepada Aira, membuat Ilham meruntuhkan harapan itu.


“Aku mau.” ucap Aira membuat seluruh atensi menatap ke arahnya.


Ilham menoleh pada Aira dengan tidak percaya. “K-kamu bercanda Ra,” ujarnya tidak mempercayai ucapan Aira.


Aira sudah memantapkan hatinya untuk memulai kembali lembaran baru bersama Ilham-suaminya beserta anak-anaknya. Wanita berbadan dua itu memberikan kesempatan kedua kepada Ilham. Bukankah setiap manusia berhak memiliki kesempatan kedua?


Dan, bukankah setiap kesalahan patut untuk dimaafkan? Tuhan saja memafkan setiap hamba-Nya yang selalu berbuat salah.


“Mas lihat aku sedang bercanda?” Aira menatap Ilham dengan raut wajah serius.


Sontak lelaki itu menggelengkan kepalanya kuat. “A-artinya,kamu-“


“Iya, aku mau memperbaiki rumah tangga kita Mas.” tutur Aira sembari tersenyum simpul.


“Ma, aku nggak lagi mimpi ‘kan?” Ilham bertanya kepada Mama Lina memastikan bahwa sekarang ia sedang tidak bermimpi.


“Nggak Ham,” ujar Mama Lina dengan suara bergetar menahan tangis haru.


“Makasih sayang … makasih udah mau memafkan dan kembali pada lelaki seperti aku.” ujar Ilham dengan tangan menutup matanya. Lelaki itu tidak ingin istrinya melihat sisi rapuhnya.


Mami Dita menggigit bibirnya dalam. Ia tidak sanggup melihat keponakannya yang berada dalam situasi seperti ini. Saat ini, biarkanlah ia tidak bertindak untuk memisahkan keduanya. Ia akan memberi waktu dan ruang untuk mereka berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Reno melangkah menuju dapur untuk sekedar minum air putih. Saat ini tenggorokannya sangat kering. Ia membuka kulkas dan membawa botol berisi air putih. Lalu lelaki itu meneguknya hingga jakunnya naik turun.


Nindia yang berada tak jauh dari posisi Reno seketika mematung. Perempuan itu menelan ludahnya saat melihat betapa tampannya Reno saat meneguk air putih itu.


“Sadar Nin, kamu nggak boleh mikir yang aneh-aneh.” ucapnya pada diri sendiri seraya menepuk-nepuk pipinya.


Reno membalikan tubuhnya yang langsung disuguhi pemandangan Nindia yang sedang menepuk-nepuk pipinya. Keningnya mengeryit kecil menatap perempuan di depannya dengan tatapan penasaran.


“Kamu kenapa?”


Nindia tersentak kaget saat menyadari jika anak majikannya sudah berada tepat di depannya. Perempuan itu mundur selangkah agar jarak antara dirinya dengan lelaki di depannya tidak terlalu dekat.


“Kamu kenapa?” tanya Reno sekali lagi.


“A-ah, saya nggak-papa.” alibi Nindia seraya menggelengkan kepalanya.


“S-saya permisi ke dapur dulu T-tuan.” ucap Nindia yang langsung melenggang pergi meninggalkan Reno.


“Dia kenapa sih,” gumam Reno menatap kepergian Nindia yang menurutnya aneh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jujurly aku udh gatel banget pengen nyatuin Ilham sama Aira:( mereka sama-sama terluka tapi dalam persoalan yang berbeda.


...Kolom untuk menghujat Ilham 👉...


Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian :)