
Adam tiba-tiba terbangun. Mengerjap dalam kegelapan kamar Psyche yang tidur di sampingnya dengan dengkuran halus.
Wanita itu membelakanginya. Membiarkan ia memeluk punggungnya yang kecil dan terlihat rapuh.
Setidaknya Psyche masih ada di sini dan ia menyadari bahwa kepergian wanita itu hanya mimpi buruk semata.
Setelah insiden tadi sore, Psyche meminta untuk dipeluk sampai tertidur setelah menghabiskan makan malamnya. Tidak ada perdebatan lagi kala itu, hanya napas saling bersahutan dan kecupan-kecupan kecil yang sesekali dilayangkan Adam.
Ia sudah tidak peduli lagi tentang libur musim panas yang telah disusun dengan rapi. Meski tidak ada acara berjemur atau berenang di pantai, nyatanya ia senang bisa menghabiskan waktu seharian di penginapan dengan Psyche.
Ia memutuskan untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Hatinya terenyuh tiap kali melihat luka di kepala wanita itu. Bukan sekadar perasaan bersalah, melainkan sebuah ketakutan yang selalu membuat tidurnya gelisah.
"Jika kau tidak mempercayaiku..." Adam menyentuh perban itu dan berbisik pelan, "Kenapa kau mau menyelamatkanku?"
Katanya mereka selalu ingin saling menghancurkan. Katanya mereka selalu membenci ego masing-masing.
"Apa yang sudah kau lakukan, Psyche..." Tenggorokannya tercekat saat mengucapkan nama wanita itu. "Setelah semua ini, bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu?"
Tak ada jawaban.
Adam kembali terlelap sambil memeluk Psyche lebih erat. Mengurung tubuh mungil wanita itu dengan lengan kekarnya.
Tanpa disadari Adam, kedua manik Psyche telah terbuka cukup lama. Menatap langit berbintang dari balik jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.
Lalu, setetes air mengaburkan pandangannya. Bayangan bintang-bintang itu hilang.
Psyche menangis tanpa suara.
.
.
.
Semua mimpi buruknya tak lagi sekadar menjadi mimpi buruk.
Setelah libur musim panas usai, Adam kembali ke kantor dan mendapati rumor dirinya yang berkencan dengan bawahannya sendiri merebak secepat kilat.
Tapi bukan itu yang membuatnya terganggu, melainkan sebuah surat pengunduran diri dari seorang Psyche Heartfillia.
Tak ada yang tahu bagaimana surat itu sudah ada di atas meja kerjanya dan tak ada yang tahu ke mana wanita itu pergi.
Setelah seharian Adam mengetuk pintu apartemennya seperti orang kesetanan. Mencoba menghubunginya meski ia tahu nomornya tidak aktif. Mengemudikan mobilnya ke setiap sudut London, berharap ia menemukan sosok Psyche di sana.
Tapi semuanya percuma. Bahkan Leon telah bersumpah bahwa ia tidak mengetahui tentang kepergian Psyche.
Adam memang sudah gila. Ia mencaci maki wanita itu di sepanjang jalan, mengumpatinya dengan segala serapah. Menendang mobilnya sebagai bentuk keputusasaan untuk bisa menemukan wanita itu.
Di tepi jalan, ketika hari menuju senja, ia menyalakan rokoknya dan duduk di atas kap mobil. Mencoba menenangkan gemuruh dalam dadanya, tapi kemudian dalam satu sampai dua isapan, ia membuang benda itu.
Bukan itu yang ia butuhkan. Jelas-jelas hatinya begitu sakit setelah dicampakkan Psyche dengan cara seperti ini. Tanpa pamit, tanpa perpisahan, bahkan tanpa perdebatan apa pun.
Hubungannya sangat baik-baik saja.
"S*ALAN KAU PSYCHE!" Adam berdiri di tepi pembatas jembatan jalan itu dan berteriak tanpa memikirkan tatapan orang yang berlalu lalang.
"PIKIRMU KAU SIAPA HAH?!" Dadanya tak berhenti berdenyut, semakin ditahan semakin nyeri. "KAU AKAN MERASAKAN AKIBATNYA KARENA TELAH MENCAMPAKANKU SEPERTI INI!"
"AKU MEMBENCIMU!" bibirnya bergetar menahan sesuatu yang membuat napasnya sesak. "AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU J*LANG!"
Hujan turun di waktu yang tepat.
Adam sudah tak peduli dengan apa pun, bahkan ketika bajunya kotor saat tubuhnya merosot ke tanah.
Air matanya bercampur dengan hujan.
"Saat pulang ke London nanti, ayo kita perbaiki semuanya."
"Aku selalu berharap ini yang kita lakukan sejak dulu."
Apa yang ia ketahui sebenarnya? Bahkan ia tidak tahu apa yang dipikirkan Psyche. Senyumnya, tawanya, diamnya, apa yang dapat ia mengerti dari wanita itu?
"Tentu, akan kukirimkan alamatnya."
"Apa maksudmu? Kita bisa pergi bersama, bukan?"
Alamat.
Adam baru ingat. Ia buru-buru mengangkat kepalanya. Berlari ke arah mobil untuk meraih ponsel dan mencari pesan terakhir dari Psyche. Tak peduli dengan keadaan basah kuyup yang membuatnya terlihat menyedihkan.
Malam sebelum kepergian Psyche, mereka sempat berbincang tentang rencana untuk mengunjungi orang tua wanita itu. Adam ingin mengenal wanita itu lebih dekat, ingin memahaminya dan memberikan wanita itu kesempatan untuk mendapatkan kepercayaannya.
"Alamat ini..."
Setelah mendapatkan apa yang ia cari tanpa buang-buang waktu Adam kembali menginjak gas. Mengikuti arah GPS dengan kecepatan bukan main. Sesekali ia hampir bertabrakan dengan kendaraan lain yang berakhir dengan mengumpatinya.
Dadanya kembali bergemuruh, tertegun oleh pemandangan yang ia dapatkan ketika sampai di tempat tujuan.
Menepikan mobilnya, Adam kembali menerobos hujan, menatap sekeliling tempatnya berdiri yang dipenuhi batu nisan.
Tidak mungkin!
Ini tidak mungkin.
Tempat ini adalah pemakaman khusus untuk klan Heartfillia.
Ia tidak mengerti semua ini. Sama sekali tidak mengerti.
Mata Adam menatap nyalang pada setiap sudut pemakaman dan berharap menemukan Psyche di sana. Ia harus menemui wanita itu dan meminta penjelasan padanya.
Lalu ketika ia membalikkan tubuh, mengedarkan pandangannya pada arah lain, ia menemukan sesosok wanita yang tengah berdiri memunggunginya dengan sebuah payung hitam.
Jantungnya berdetak lebih kencang, Adam mengambil langkah cepat, menaiki pemakaman yang sedikit berbukit hingga ia bisa melihat sosok itu lebih jelas.
Dia...
Mata Adam membulat. Wanita itu berbalik, seolah menyadari kehadirannya. Menampilkan wajahnya yang semula terhalangi oleh payung hitam.
Sesaat kupingnya terasa berdengung dan waktu seolah berhenti di tempat.
"Ibu...?"
.
.
.
Sudah beberapa hari ini Miranda tidak masuk ke kantor. Kepalanya terasa pusing dan sempat muntah beberapa kali. Beberapa orang berpikir bahwa ia patah hati karena kabar Adam dan Psyche yang berkencan ternyata sudah menyebar. Entah dari siapa gosip itu beredar, tapi ia sudah tak memikirkannya sama sekali.
Sepertinya ia kelelahan dan masuk angin, mualnya benar-benar parah. Bahkan kemarin malam ia sampai tak bisa tidur karena muntah terus. Untuk itulah ia terpaksa pergi ke klinik terdekat.
"Kau tidak boleh terlambat makan dan harus istirahat dengan teratur." Maria, dokter berambut hitam itu tersenyum ramah. "Meminum teh dengan campuran madu dan lemon bisa meredakan mualmu."
Alis Miranda terangkat, "Tidak ada resep untukku?"
Kali ini Maria mengernyit, "Tunggu, jangan-jangan kau tidak mengetahuinya?"
Sakura mengerjap pelan, "Apa? Apa maksud Anda?"
Maria menghela napas pelan sambil terkekeh. "Nyonya Miranda, Anda sedang hamil, usianya sudah dua minggu."
.
.
.
"Kita sudah terbiasa untuk saling menyakiti, tapi dengan itu kita tahu, bahwa kita saling mencintai."