
Happy reading.
Keesokan harinya, seperti yang direncanakan Reno bahwa ia akan mengurung Aira agar tidak keluar rumah. Rencana tersebut benar-benar terjadi. Reno tidak main-main dengan ucapannya.
Jam dinding masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Reno dan Mami Dita sedang menyantap sarapan yang dibuatkan oleh asisten barunya. Tentu saja tanpa kehadiran Aira.
“Ren, apa tidak berlebihan kamu mengurung Aira di kamarnya?” tanya Mami Dita sambil meringis kecil.
Reno yang hendak menyuapkan sarapannya pun terhenti setelah mendengar pertanyaan Maminya.
“Nggak Mi. Kalau aku nggak mengurung Aira, dia bisa aja kabur tanpa sepengetahuanku dan Mami.” Jawabnya dengan raut wajah serius.
Mami Dita hanya mampu menganggukkan kepalanya paham. Mau bagaimana pun, putranya turut andil untuk menjaga sang keponakannya agar tetap aman di rumah ini.
“Nin, kamu sudah antar sarapan untuk Aira?” Mami Dita melirik Nindia saat perempuan itu sedang mengupas beberapa buah-buahan.
“Sudah Bu, tadi sudah Nindia antarkan.” balas Nindia sopan.
Mami Dita menghembuskan napasnya lega. Wanita itu kembali menyantap sarapannya yang tadi sempat tertunda.
Reno menarik diri dari kursi makan. Lelaki itu beranjak mendekati Nindia yang masih sibuk dengan kegiatannya.
“Ini kunci cadangan kamar Aira.” ujar Reno seraya menyerahkan duplikat kunci cadangan kamar Aira.
“Saya tahu kamu dekat dengan Aira. Jadi, saya sangat mohon sangat bantuanmu. Jangan pernah membukakan pintu kamar Aira selain untuk mengantarkan makan.” Pesan Reno saat Nindia menerima kunci darinya.
Mau tidak mau Nindia menganggukkan kepalanya pasrah. Apalah daya, ia hanyalah seorang pembantu yang harus siap jika ditugaskan seperti ini.
“Mi, aku berangkat dulu ke kantor.” ucap Reno menghampiri Mami Dita dan meraih punggung tangan wanita itu untuk diciumnya.
“Hati-hati ya Ren.” ucap Mami Dita yang direspon oleh anggukkan kepala.
Setelah itu pun, Reno melangkah keluar rumah menuju mobilnya yang sudah terparkir manis di halaman rumah. Reno membuka pintu mobil dan mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi. Tak lama, mobil Reno pun melesat meninggalkan kawasan rumahnya setelah pintu gerbang dibuka oleh satpam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang wanita dengan perut buncitnya meringkuk di balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Sarapan yang dibuatkan oleh Nindia kini sudah mendingin.
Wanita itu mengabaikan seruan bunyi perutnya yang berdemo untuk segera diisi asupan. Entahlah, moodnya memburuk ketika semalam ia mengetahui jika dirinya dikurung di kamar ini.
“Reno jahat,” cicit Aira dengan suara pelan.
“Kenapa dia harus ngurung aku di kamar ini.” gumamnya dengan mulut mengerucut kecil.
Dia melirik ke arah nakas yang sudah ada sebuah sajian makanan untuknya. Karena tidak tahan dengan perutnya yang sejak tadi berdemo meminta untuk diisi, ia pun bangkit dari posisi nyamannya.
Tangannya meraih sebuah mangkuk yang berisi bubur ayam yang tersimpan di atas nakas samping tempat tidurnya. Jari-jemarinya memegang sendok plastik dan mulai menyuapkan bubur ayam tersebut ke dalam mulutnya.
Setelah beberapa menit Aira pun berhasil menghabiskan bubur ayam tersebut. Wanita itu kembali meletakkan mangkuk tadi dan meraih gelas berisi air mineral. Ia meneguknya hingga setengahnya.
“Ah,” desis Aira saat air tersebut berhasil membasahi kerongkongannya.
Tangan Aira mengelus perutnya dengan lembut. Ia meringis kecil tatkala dirinya merasakan sebuah tendangan dari perutnya.
“Adek udah nggak sabar ya ketemu Bunda?” Aira mencoba berkomukasi dengan sang jabang bayi.
“Bunda juga sama udah nggak sabar,” lanjutnya lagi saat kembali merasakan sebuah tendangan kecil.
“Sebentar lagi kita ketemu kok.” ucap Aira dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya.
“Nanti kita kumpul ya sama Kak Irzan, sama Ayah sam-“
“Awhh,” ringis Aira kala bayi dalam kandungannya menendang cukup kuat.
“Adek kenapa? Adek kangen ya sama Ayah?” ujar Aira dengan raut wajah sendu.
“Bunda—“
“Bunda juga kangen sama Ayah,” Aira kembali mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.
“Tapi, kita nggak boleh ketemu Ayah dulu.” ujar Aira pelan.
“Nanti Ayah dipukulin lagi sama Om Reno.” celetuk Aira dengan nada rendah.
Seorang lelaki menatap layar laptop di depannya dengan tatapan sulit diartikan. Lelaki itu ialah Reno. Reno memang sengaja memasang sebuah kamera kecil yang disimpan di dekat pigura foto pernikahan kedua orang tua Aira.
“Pak Reno?” panggil sekertarisnya setelah beberapa saat Reno mengabaikan ucapannya.
Reno mendongakkan kepalanya menatap sang sekertaris perempuan yang ada di depannya.
“Ah, maaf. Tadi kamu bicara apa?” sahut Reno saat lelaki itu mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
“Rapat dengan para investor akan dimulai sepuluh menit lagi. Dan, kali ini Pak Reno yang menjadi penanggung jawab rapat.” tutur sekertaris tersebut dengan sabar.
Reno menganggukkan kepalanya paham.”Kamu keluar duluan. Nanti lima menit lagi saya nyusul.” ucap Reno.
“Kalau begitu saya permisi Pak.” ucap sekertaris itu sambil melangkah keluar dari ruangan Reno.
Reno menyugar rambutnya yang sudah acak-acakan. Bunyi notifikasi yang berasal dari ponselnya membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya menatap ponsel miliknya.
Tertera nama kekasihnya yang memberikannya sebuah pesan. Lelaki itu mengerang frustasi setelah membaca pesan yang diberikan Elin-kekasihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ilham menyandarkan kepalanya yang terasa masih pening. Lelaki itu mengusap pangkal hidungnya pelan. Suara pintu ruangan terbuka membuatnya mengalihkan pandangannya menatap pada seseorang yang sudah memasuki ruangan ini.
“Irzan sudah Mama titipkan pada nany. Sekarang kamu fokus pada kesehatanmu dulu. Jangan mikir yang macam-macam.” ucap Mama Lina setelah wanita itu mendudukkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari brankar Ilham.
“Hm.” sahut Ilham dengan dehaman.
Ting!
Ilham melirik sekilas pada ponselnya. Saat lelaki itu akan meraih benda gepeng tersebut, seruan Mami Lina terdengar memekikan telinganya.
“Jangan ambil itu!” seru Mama Lina dengan suara cukup keras.
Ilham memejamkan matanya saat mendengar suara Ibunya yang membuat kepalanya bertambah pening. Lalu Mama Lina meraih ponsel milik Ilham dan membukanya. Kedua mata wanita itu terkejut bukan main setelah membaca sesuatu pada ponsel Ilham.
“Kenapa Ma?” tanya Ilham penasaran karena milhat reaksi Ibunya.
“Ng-nggak papa.” ucap Mama Lina berusaha bersikap biasa saja.
“Aku tahu Mama sedang menyembunyikan sesuatu. Tolong berikan ponsel Ilham.” ucap Ilham merubah nada suaranya.
Mama Lina menghela napasnya lelah. Sungguh, ia tidak sanggup jika putranya mengetahui sesuatu yang akan membuat putranya itu kepikiran. Ia tidak ingin kondisi sang putra semakin memburuk.
“Ma, tolong berikan ponsel Ilham.” ujar Ilham datar.
Karena tidak ingin memulai perdebatan dengan sang putra, Mama Lina pun melangkah mendekati brankar putranya. Tangannya memberikan ponsel milik Ilham yang langsung diambil dengan cepat oleh putranya itu.
Ilham dengan teliti membaca rangkaian kata yang disampaikan oleh sekertarisnya-Devan. Memang, selama dirinya di rumah sakit, Devanlah yang menghandel dan memantau pekerjaan di Perusahaan Nugraha.
Kedua mata Ilham menajam setelah membaca pesan yang dikirimkan Devan.
“Ham, sudah kamu jangan pikirkan masalah ini.” ucap Mama Lina mendekati Ilham.
“Biar Devan yang mengurus semuanya. Kamu sekarang hanya perlu fokus dengan kesehatanmu.” ucap Mama Lina lagi.
“Tidak Ma. Ilham harus turun tangan mengenai masalah ini.” tukas Ilham dengan suara dingin.
“Nggak Ilham! Kamu masih belum sepenuhnya pulih!” seru Mama Lina yang tidak menyetujui usulan putranya itu.
“Biarkan Devan yang menangani masalah korupsi ini.” tutur Mama Lina dengan nada rendah.
Devan-sekertarisnya memberitahukan pesan lewat ponsel jika salah satu karyawannya membawa sejumlah uang lumayan besar dan kabur membawa uang tersebut.
Ilham memejamkan kedua matanya kala rasa pening kembali terasa. Sungguh rasanya Ilham ingin kembali saja menjadi anak kecil, yang tidak perlu memikirkan setiap masalah yang datang menghampiri.
Padahal ia belum bisa membawa Aira sutuhnya untuk kembali bersamanya, ternyata masalah lain datang membuatnya menghela napas kasar. Pikiran lelaki itu berkecamuk kemana-mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...
Jujurly aku suka sedih waktu tahu yg baca ceritaku banyak, tapi yg like sedikit huhu:(
...⚠️awas ada typo⚠️...