
Happy reading.
Mobil yang ditumpangi oleh Mami Dita pun sudah memasuki kawasan rumah miliknya. Mami Dita membuka pintu mobil dan mengajak perempuan yang dibawanya untuk keluar mobil.
“Ini rumah saya.” ucap Mami Dita seraya menunjuk rumahnya.
Perempuan itu menatap kagum rumah mewah dan megah milik Mami Dita. Matanya menatap sekitar yang menampilkan pekarangan asri yang membuat matanya menjadi sejuk untuk melihatnya.
“Ayo kita masuk.” ajak Mami Dita yang diangguki kepala oleh perempuan itu.
Mami Dita dan perempuan dengan tangan yang membawa satu kopernya mulai memasuki rumah tersebut. Mami Dita membawa perempuan itu untuk duduk di ruang tamu.
“Silahkan duduk dulu.” ucap Mami Dita.
Perempuan itu pun mendudukkan pantatnya di sebuah sofa panjang. Sementara Mami Dita duduk tepat di depan perempuan tersebut.
“Kalau boleh tahu, namanya siapa ya?” tanya Mami Dita menatap perempuan di depannya lekat.
“Nama saya Nindia Bu.” Jawab perempuan itu yang memiliki nama Nindia.
Kepala Mami Dita mengangguk paham.
“Sebelumnya kamu ke Jakarta mau melamar kerja sebagai apa?” tanya Mami Dita.
“Em, untuk itu saya belum terfikirkan.” ucap Nindia seraya menampilkan senyum kecil.
“Ah ya, tadi saya bilang ‘kan kalau saya sedang membutuhkan asisten rumah tangga di rumah saya.” ujar Mami Dita saat mengingat perkataannya beberapa menit yang lalu.
“Kamu mau bekerja sebagai asisten di rumah saya?” tanya Mami Dita dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Tenang saja, setiap hari minggu kamu dibebaskan dari tugas dan bisa melakukan hal apa pun yang kamu suka. Dan, untuk gaji kamu tidak perlu khawatir.” sambung Mami Dita berbicara panjang lebar.
Perempuan yang bernama Nindia itu menatap kedua mata Mami Dita yang menampilkan sorot serius tidak bercanda. Senyumnya tak bisa ia tahan. Entah perbuatan apa yang pernah ia lakukan sehingga bisa mendapatkan pekerjaan lebih cepat dari perkiraannya.
“Saya mau Bu.” Nindia menganggukkan kepalanya kuat.
“Syukurlah kalau kamu bersedia.” Mami Dita menghela napasnya lega.
“Terima kasih Bu, sudah memberikan saya pekerjaan.” tutur Nindia dengan tulus.
“Sama-sama.” sahut Mami Dita.
Keduanya pun mulai berbincang-bincang kecil. Mami Dita sangat menyukai karakter Nindia. Wanita itu menatap gerak gerik Nindia tanpa sepengetahuan dari perempuan tersebut.
“Ada siapa Mi?” tanya seorang wanita sambil memegang pinggangnya yang terasa pegal.
Mami Dita dan Nindia menoleh pada sumber suara. Nindia memandang wanita hamil itu dengan tatapan terkejut sekaligus haru. Perempuan itu berdiri dari duduknya. Tanpa aba-aba ia langsung memeluk wanita berbadan dua tersebut.
“Mbak Aira,” cicit Nindia yang kini memeluk Aira.
“Loh, ini Nindi ‘kan?” tanya Aira sembari melepaskan pelukan mereka.
“Iya Mbak, aku Nindi.” Kepala Nindia mengangguk membenarkan.
“Ya ampun, kamu sama siapa ke sini Nin?” tanya Aira sambil mendudukkan tubuhnya.
“Aku sendiri Mbak. Mau cari pekerjaan di Jakarta.” ujar Nindia seraya mengulas senyumnya simpul.
Aira menganggukkan kepalanya paham. Mami Dita yang melihat interaksi keponakannya dengan Nindia pun lantas bertanya.
“Kalian sedeket itu ya?” tanyanya heran.
Aira tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan Tantenya.
“Iya Mi. Dulu waktu di panti, aku sama Nindia itu deket banget. Sampai-sampai banyak yang ngira kalau kita itu saudaraan.” Kata Aira sambil terkekeh kecil.
“Oh begitu ya,” Mami Dita menganggukkan kepalanya.
“Eh, terus Nin kamu mau lamar kerja dimana?” tanya Aira menoleh pada Nindia.
“Em, anu Mbak-“
“Nindia bekerja di sini Ai.” celetuk Mami Dita membuat Aira menatap ke arahnya.
“Iya Mbak, sekarang aku kerja di rumah Ibu D-dita.” ujar Nindia dengan tersenyum malu.
“Akhirnya aku punya teman juga di rumah..” Aira menghela napasnya lega. Wanita berbadan dua itu tak bisa menahan senyum senangnya.
“Kalau begitu, kamu bisa mulai kerja mulai besok ya. Hari ini kamu istirahat saja.” ucap Mami Dita.
“Baik, Bu.” balas Nindia cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Aira dan Nindia sedang berada di kamar yang ditempati oleh Nindia. Aira langsung membawa Nindia untuk melihat kamar barunya serta menyimpan barang yang dibawa oleh perempuan itu.
“Mbak apa kabar?” tanya Nindia memandang Aira dengan haru.
Pasalnya semenjak Aira menikah dengan Ilham, Nindia tidak pernah melihat wanita berbadan dua itu lagi. Hanya sesekali jika Aira akan mengunjungi panti. Dan sekarang, dirinya sudah dipertemukan kembali dengan Aira.
“Mbak baik Nin. Ibu, Bapak, sama adek-adek di panti baik ‘kan?” tanya Aira balik.
Nindia menganggukkan kepalanya. “Alhamdulillah mereka baik Mbak.” ucapnya.
Mata Nindia mengarah pada perut buncit Aira. Aira yang paham dengan itu pun kembali membuka suara.
“Alhamdulillah, Mbak sudah mengandung Nin.” ucap Aira sambil tersenyum lebar.
Nindia yang mendengar itu pun balas tersenyum tipis. Kini, ada keponakannya di dalam perut Mbaknya.
“Boleh aku usap Mbak perutnya?” tanya Nindia.
“Boleh banget,” jawab Aira cepat.
Aira membawa salah satu tangan Nindia dan meletakkannya diatas perutnya yang sudah membesar. Perlahan tangan Nindia pun mengusap lembut permukaan perut Aira.
“Wah dia nendang Mbak!” pekik Nindia penuh kegirangan.
“Dia pasti tahu kalau yang lagi ngusap perut Bundanya itu Tantenya,” ujar Aira lembut.
Nindia pun menarik kembali tangannya saat dirasa sudah cukup mengusap perut Aira.Perempuan itu menatap pada Aira dengan tatapan berbeda. Aira menatap Nindia yang seperti sedang menahan sesuatu.
“Kenapa Nin?” tanya Aira bingung dengan satu alis terangkat.
“Ah, nggak-papa Mbak.” elak Nindia seraya menggelengkan kepalanya.
“Bilang aja sama Mbak. Kamu mau bicara apa?” desak Aira kepada Nindia.
“E-emm, su-suami Mbak tahu kalau … Mbak lagi hamil?” tanya Nindia dengan suara pelan.
Aira menghela napasnya pelan. Ia sudah tahu jika Nindia pasti akan menanyakan hal seperti ini. Lalu Aira pun menatap kedua mata Nindia dengan lekat.
“Mas Ilham tahu jika Mbak sedang mengandung.” tutur Aira membuat Nindia menatapnya.
“Mbak Aira sama suami Mbak sudah kembali baikan ‘kan?” tanya Nindia.
Ya, Nindia mendengarkan semua pembicaraan antara Ibu Sumi dan Mami Dita tempo lalu. Jujur saja, saat itu dirinya sangat ingin sekali bertemu dengan Aira dan mendekap wanita itu.
“Mbak … nggak-papa?” cicit Nindia dengan suara pelan.
Aira menghela napasnya berat lalu menghembuskannya secara perlahan. Wanita berbadan dua itu menampilkan senyum manisnya seolah mengatakan jika ia baik-baik saja.
“Mbak kalau ada apa-apa cerita aja ke aku.” ucap Nindia menggebu-gebu.
“Aku siap kok jadi sandaran buat Mbak. Aku siap mendengar setiap keluh kesah yang Mbak Aira ceritakan.” ujarnya lagi.
“Ya, Mbak?” desak Nindia menunggu jawaban dari wanita berbadan dua itu.
“Iya. Nanti Mbak akan ceritakan semua keluh kesah Mbak sama kamu.” Kata Aira membuat Nindia tersenyum.
Mbak sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Aku akan berusaha menjadi tempat untuk berkeluh kesah buat Mbak. Ucap Nindia di dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 🤗