HEART

HEART
7



Psyche mengambil alih ciuman itu dengan mendudukkan dirinya di atas pangkuan Adam.


Pria itu menyambutnya dengan gairah yang meluap-luap. Meskipun Psyche bertingkah agresif, Adam jelas lebih unggul dalam urusan seperti ini.


Psyche hampir kehabisan napas ketika Adam menekan tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka. Kedua tangannya yang semula memeluk leher pria itu kini berganti meremas bagian depan kemejanya.


Ciuman mereka terlepas.


Hanya terdengar suara napas Psyche yang memburu di antara keheningan itu.


Wanita itu menunduk, menumpukkan kepalanya di dada bidang sang pria.


Ia dapat mendengar detak jantung pria itu. Sama sekali teratur seperti embusan napasnya yang membentur telinga Psyche.


Terlalu tenang.


Kenyataan itu membuatnya lebih memilih untuk memejamkan mata sambil mencoba mengusir segala prasangka buruk yang membuatnya menjadi seorang pesimis.


“Sampai kapan kau akan duduk di pangkuanku?”


Sampai Adam bersuara, Psyche kembali membuka matanya dan mendongak.


Tatapannya terlihat lembut, seperti bukan Psyche pada biasanya.


“Sebentar lagi, biarkan seperti ini.”


Wanita itu kembali melingkarkan tangannya di pinggang Adam dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman.


Adam sempat tertegun beberapa saat, namun tangan yang balas memeluk pinggang Psyche adalah bentuk persetujuan non-verbalnya.


Samar-samar ia mendengar Adam bergumam, “Hari ini kau aneh sekali.”


Ia menghirup aroma pria itu dalam-dalam. Bahkan tanpa melihat pria ini pun, ia bisa mengenali hanya dari wangi parfumnya. “Kenapa kalau aku aneh? Apa kau membencinya juga?” Katanya diselingi kekehan.


Adam melirik Psyche untuk dapat menatap ke dalam dua matanya, namun yang ia dapati hanya puncak kepala gadis itu.


Wangi rambutnya tidak terlalu Adam sukai. Psyche lebih memilih wangi lemon dan mint daripada sampo yang memiliki wangi lebih feminin dan manis.


Tidak seperti kebanyakan wanita, Psyche juga tidak mengecat warna rambutnya atau melakukan perawatan khusus yang membuatnya harus duduk berjam-jam di salon.


Psyche pernah bilang, penampilan bukan yang utama baginya. Katanya cantik itu bisa dibuat. Tapi Adam pernah menertawakannya karena pernyataan yang menurutnya terlalu ‘munafik’ itu.


Faktanya semua wanita memang selalu ingin terlihat cantik dan modis.


Meski Adam akui bahwa Psyche sama sekali jauh dari standarnya, tapi wanita itu memang cantik. Kulit mulus dan putihnya mungkin bisa membuat wanita lain iri.


Selain itu, meskipun pendek, tubuh Psyche terbilang cukup ideal dengan beberapa bagian yang berisi di tempat yang tepat.


Adam pria normal dan ia selalu jujur dalam menilai orang.


“Hei, kau tidur?”


Adam mengerjap pelan. Tepukan halus di punggungnya membuat ia tersadar.


Psyche mendongak, puncak kepalanya hampir membentur dagu pria itu. “Kau belum menjawab pertanyaanku, lho.”


Sang Louvander kemudian menyandarkan kepalanya di kursi dan menatap langit-langit mobilnya. Helaan napasnya yang begitu pelan nyaris tak terdengar.


“Ya. Mungkin saja.”


.


.


.


Psychr melambai singkat saat mobil Adam mulai menjauh dari apartemennya.


Senyumnya memudar beserta tangan yang terkulai lemah setelah semua hilang dalam pandangan.


Kepalanya mendongak. Menatap langit malam yang hari ini tampak gelap tanpa satu pun bintang.


Lalu rintik hujan mulai turun. Tangannya terangkat untuk merasakan titik-titik air yang mulai membesar.


“Tidak ada wanita yang benar-benar bisa membuat Adam berubah. Semua wanita yang ia kencani pun tahu, bahwa Adam tidak serius dengan mereka.”


Psyche tersenyum pahit.


Karin salah.


Wanita itu tidak mengerti karena ia juga berniat main-main. Tapi dirinya berbeda.


Meski hatinya menjerit bahwa sebagian besar yang dikatakan Karin adalah fakta, tapi separuh hati kecilnya kembali meyakini bahwa ia mampu dan bisa membuat Adam berubah.


Karena setelah semua hal yang terjadi belakangan ini membuat Psyche mau tak mau kembali menengok pada jalan yang telah ia lalui.


Adam yang mengetahui kata kunci ponselnya...


Adam yang mendatangi apartemennya di pagi buta...


Adam yang membiarkan dirinya memegang kendali atas ciuman dalam mobil...


Adam yang—


Drrt. Drrt.


—mulai selalu mengirimnya pesan terlebih dahulu bahkan setelah mereka baru bertemu.


‘Karena malam ini hujan, jangan jadikan alasan untuk menyeduh mie instan sebelum tidur.’


Psyche terkekeh.


Pria itu tidak akan mengirimkan pesan manis atau apa pun yang membuat pipimu merona.


Dan kemungkinan ia sudah menang. Ia sudah sanggup membuat pria itu menurunkan sebagian egonya yang tinggi.


Ia sudah mematahkan semua asumsi orang—bahkan asumsi pria itu sendiri.


Tapi mengapa... di antara air hujan yang membasahi wajahnya, air mata ikut turun mengalir di pipinya?


.


.


.


“Apa pakaianmu tidak terlalu terbuka?”


Adam menatap Psyche yang sedang menutup pintu mobilnya dengan pandangan risi.


Wanita itu tampak tak terganggu dengan pandangan itu dan memilih untuk sibuk dengan sabuk pengamannya.


“Dulu seseorang pernah bilang bahwa ia menyukai wanita yang modis dan seksi.”


Adam mendengus. Sindiran itu jelas untuk dirinya, tapi ia menulikan diri. Tidak mau ambil pusing dengan sindiran sang wanita.


Ia akan senang jika Psyche menggunakan pakaian seperti itu saat sedang bersamanya saja. Mana mungkin ia membiarkan para pria di luar sana menikmati leher dan paha mulus wanita itu dengan gratis.


“Kenapa? Tidak jadi pergi?” Tanya Psyche ketika Adam tidak kunjung menjalankan kendaraannya.


“Baiklah.” Adam menginjak gas tanpa aba-aba. “Biarkan kau pamer dengan para lelaki di luar sana. Aku tak peduli.”


Psyche mengalihkan pandangannya keluar jendela tanpa ekspresi yang berarti.


Alih-alih menyakiti harga dirinya, perkataan pria itu jelas mengandung kecemburuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan cara yang benar.


“Aku hanya mencoba untuk membuatmu senang.”


Rahang Adam mengeras. “Apa kau pikir aku terlihat senang sekarang?!”


Psyche melirik pria itu melalui ekor matanya. “Jadi kau mau aku bagaimana?”


Adam tak menjawab. Hanya terdengar napas kasar pria itu selama beberapa saat. Dalam benaknya, Psyche sekarang menjadi seorang yang pintar membalikkan kata-kata. Memutar situasi. Tak jarang memberikan sindiran pedas tanpa segan.


Katanya, wanita itu mencoba menjadi apa yang ia inginkan. Tapi entah mengapa ia malah merasa bahwa ia membenci perubahan itu. Seolah menjilat ludahnya sendiri, ia malah merasa menyesali semua perkataan yang pernah dilemparkannya pada Psyche.


Kepalanya pening seketika. Ada perasaan tidak nyaman yang mengusik hatinya.