HEART

HEART
Welcome Baby A



Happy reading.


Suara tangisan bayi menggema di seluruh penjuru ruangan Aira. Bahkan terdengar sampai ke luar membuat seorang wanita yang tak lain ialah Mami Dita menangis haru.


Saat ini, bayi yang baru lahir beberapa menit itu sedang dibersihkan oleh perawat setelah tadi diberikan adzan dan iqomah oleh sang ayah.


“I-itu suara bayi Aira ‘kan?” tanya Mami Dita setelah suara tangis bayi tidak lagi terdengar.


Tanpa ragu Reno menganggukkan kepalanya kuat. “Iya, Mi.” jawab laki-laki itu.


Nindia menengadahkan kedua tangannya mengucap syukur atas kelahiran anak Mbak-nya dengan lancar dan selamat.


“Terus sekarang bayinya mana? Mami pengen lihat.” ujar Mami Dita seraya menatap Aira lewat kaca.


“Sabar dong Mi, bayi Aira ‘kan lagi dibersihkan dulu sama perawat.” gerutu Reno yang kesal dengan tingkah Maminya.


Mami Dita menekuk wajahnya setelah mendengar jawaban sang putra. Memang dasar putranya itu tidak memiliki rasa perhatian dan empati yang besar untuk Maminya.


Ceklek..


Ketiga orang yang berdiri di depan pintu ruangan persalinan sontak menoleh setelah mendengar suara pintu terbuka. Disana, Nampak wajah Ilham yang menampilkan raut berseri-seri. Reno melihat kedua mata laki-laki itu sedikit memerah.


“Cengeng lo,” celetuk Reno mengejek Ilham.


Sontak Ilham terkekeh kecil mendengar kata sambutan berupa ejekan itu.


“Nanti juga kamu ngerasain di posisi saya.” ujar Ilham santai.


“Ham, Aira nggak-papa ‘kan? Mami mau lihat dia..” rengek Mami Dita dengan wajah memelas.


“Alhamdulillah Aira baik-baik aja. Nanti setelah Aira dipindahkan ke ruangan inap, kalian boleh lihat.” ucap Ilham.


“Anak kalian sehat juga ‘kan? Nggak kekurangan apa pun?” tanya Mami Dita cemas.


“Iya, Alhamdulillah. Anakku dan Aira sehat, tidak ada yang kurang satu pun.” tutur Ilham dengan sabar menjawab semua runtuyan pertanyaan yang diberikan wanita paruh baya itu.


“Syukurlah…” Mami Dita menghela napas lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 malam. Mami Dita beserta Nindia dan Reno sudah pulang sejak pukul 8 malam tadi. Kini di dalam ruang rawat inap Aira hanya menyisakan Aira, Ilham, nany beserta Irzan, dan tak lupa bayi mungil yang sedang tertidur di samping Ibunya.


Ilham merasakan kedua matanya berat. Akan tetapi, laki-laki itu berusaha sekuat tenaga menahan kantuk yang menyerangnya.


Dipandangnya anak laki-lakinya yang hari ini terlahir ke dunia. Tanpa sadar kedua matanya memanas.


Ilham mendongakkan kepalanya ke atas, berusaha menahan cairan bening yang hendak keluar dari kedua matanya. Jujur saja, hari ini ia cengeng sekali. Rasanya Ilham merasakan bahagia yang tiada tara ketika melihat bayi mungil nan merah itu.


“Oekk, oekkk!”


Suara tangisan putranya mampu membuat Ilham tersadar akan lamunan panjangnya. Laki-laki itu berusaha membawa tubuh sang putra ke dalam gendongannya dan menimang-nimangnya pelan. Tak lupa tangannya ikut menepuk pantat putranya.


“Kebangun ya Mas?” suara serak Aira terdengar membuat Ilham menoleh pada istrinya.


“Sudah kamu tidur aja, biar Mas yang tidurin anak kita.” ucap Ilham.


“Siniin Mas, mungkin dia haus. Udah jam sepuluh malam juga,” tutur Aira.


Dengan patuh Ilham pun menuruti perkataan istrinya. Ia menyerahkan bayi mungil yang masih menangis itu. Dengan sigap Aira menggendong tubuh putranya. Wanita itu sempat melirik pada suaminya seolah memberinya kode.


“Kenapa?” tanya Ilham bingung.


“M-mas bisa keluar dulu nggak? A-aku mau memberi asi buat anak kita.” ucap Aira dengan ragu dan menahan malu.


“Mas nggak akan lihat kok.” tolak Ilham yang langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Aira.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Aira langsung membuka sebagian kancing bajunya dan memberikan putranya asi. Aira menggigit bibirnya ketika mulut kecil putranya itu menyedot putingnya dengan kuat.


Setelah 5 menit kemudian, kedua mata putra Aira dan Ilham kembali tertutup. Aira memasang kembali kancing bajunya. Wanita itu meletakkan tubuh putranya di samping tubuhnya.


“S-sudah Mas,” cicit Aira membuat Ilham sontak membalikkan tubuhnya kembali.


“Sudah tidur?” tanya Ilham seraya melirik putra keduanya yang kini terlelap.


Ilham menarik kursi di dekat brankar Aira. Laki-laki itu menatap wajah polos putra keduanya dengan senyuman merekah. Ia terkekeh geli melihat mulut putranya yang sedikit terbuka.


“Anak Bunda ganteng banget sih,” gumam Aira yang masih dapat di dengar oleh Ilham.


“Anak Ayah juga dong!” sambar Ilham membuat Aira tersenyum simpul.


“Kamu sudah siapin nama buat putra kita, Mas?” tanya Aira.


“Sudah, nanti besok saat sampai di rumah kita bicarakan lagi soal nama.” ujar Ilham.


Aira menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan usulan sang suami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keluarga kecil Ilham sudah sampai di rumahnya sekitar 20 menit yang lalu pada pukul 6 pagi. Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga.


Kedatangan putra Ilham dan Aira disambut baik oleh para tetangga. Banyak yang mendoakan agar putranya menjadi anak yang sholeh.


“Uluhh ganteng banget cucu Oma,” dengan gemas jari Mami Dita menoel-noel pipi bayi mungil itu membuat bayi tersebut menggeliat kecil.


Aira tersenyum manis melihat putranya yang menggeliat kecil. Wanita itu melirik Irzan yang sedari tadi hanya diam dalam gendongan nany.


“Irzan kenapa sayang? Sini duduk dekat Bunda.” ujar Aira seraya menepuk tempat di sampingnya.


Kepala anak batita itu menggeleng pelan. Irzan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang pengasuh. Hal itu membuat Aira menatap nany dengan tatapan bingung.


“Begini Mbak, sepertinya Irzan cemburu dengan adik bayi. Dia bilang ke nany, katanya Bunda udah nggak mau main sama Zan lagi.” tutur nany membuat Aira terkekeh dibuatnya.


Nany pun mendekat pada Aira dan meletakkan tubuh Irzan di samping wanita yang kemarin sudah melahirkan. Meski pun Irzan sempat memberontak, akan tetapi anak batita itu menuruti ucapan Bundanya yang memintanya duduk di sampingnya.


“Bunda kangen sama anak Bunda yang satu ini,” Aira memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah Irzan hingga membuat anak batita itu mengeluarkan tawa kecil.


“Ilham kerja Ra?” tanya Mami Dita seraya mengedarkan pandangannya.


“Iya Mi, nggak enak juga sama Pak Devan yang harus handel perusahaan beberapa minggu terakhir.” ujar Aira.


Mami Dita menganggukkan kepalanya paham.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aira menatap ketiga laki-laki berbeda usia di sekelilingnya dengan tatapan hangat.


Senyumnya tidak pernah luntur sama sekali. Ilham menatap wajah putra keduanya dengan senyuman manis. Tak ayal jemarinya mengusap pipi bayi itu.


Sama halnya yang dilakukan oleh Irzan. Anak batita itu menatap sang adik dengan tatapan polos. Mata bulatnya berbinar kala kedua mata sang adik mengerjap kecil.


“Irzan senang nggak punya adik?” tanya Ilham.


“Zan ceneng,” sahut anak batita itu.


Ilham melebarkan senyumnya setelah mendengar jawaban sang putra. Begitu pun dengan Aira, wanita itu mengucap banyak syukur kepada Tuhan karena telah membuatnya merasakan apa artinya sebuah keluarga.


Saat ini tugasnya bertambah. Ia tidak hanya harus berbakti kepada suaminya. Tetapi ia juga harus mampu mendidik dan membentuk karakter kedua putranya. Aira sangat berharap jika ia bisa mendidik putra-putranya menjadi anak yang baik.


Aira memang manusia biasa yang tak luput dari salah. Namun, setiap kesalahan yang ia buat, ia akan menjadikannya sebagai sebuah pelajaran.


@Airaa_azzhra



3.478 like 1.094 komentar.


Welcome to the world Baby A 🤗😍


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Ada yang penasaran nggak sama wajahnya baby A? ...


...Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...