HEART

HEART
Menemani Makan



Happy reading.


“Ada apa ini? Kenapa kamu mengusir Nindia?” suara bass terdengar membuat sekelilingnya menjadi terdiam ketakutan.


Satpam yang sedang memegang kedua tangan Nindia sontak melepaskan cekalan tangannya. Satpam itu sangat ketakutan saat melihat tatapan tajam yang diberikan Reno kepadanya.


“M-maaf Pak, s-saya hanya memenuhi keinginan Mbak Sita.” ucap Satpam itu dengan nada bergetar.


Perempuan yang bernama Sita itu tubuhnya seketika menegang. Dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Reno-Atasannya.


“Jawab saya!” ucap Reno dengan suara cukup keras.


Sita mendongak menatap iris mata Reno. “M-maaf Pak, saya tidak tahu kalau cew-Mbak ini sudah kenal dengan a-anda.” ujar Sita dengan terbata-bata.


“Sita… datang ke ruanganku setelah jam makan siang.” Perintah Reno yang tidak ingin dibantah sama sekali.


“B-baik Pak.” jawab Sita pasrah.


Reno menggenggam jari-jemari milik Nindia. Laki-laki itu membawa Nindia menuju ruangannya. Setelah sampai di dalam ruangannya, Reno tak juga melepaskan genggaman tangannya pada Nindia.


“T-tuan, tangannya.” ucap Nindia sambil meringis kecil.


Reno menunduk melihat tangannya yang masih setia menggenggam tangan Nindia. Sontak laki-laki itu langsung melepaskan tautan tangan mereka.


Keadaan menjadi sangat canggung. Hawa dalam ruangan dingin ini terasa sangat panas sekali. Padahal, AC sudah dinyalakan.


“S-saya membawa apa yang Tuan inginkan.” ucap Nindia seraya menyerahkan sebuah rantang putih.


“Terima kasih.” balas Reno sambil menerima rantang itu.


Reno mendudukkan pantatnya di sofa panjang yang terdapat di ruangannya. Laki-laki itu membuka satu persatu rantang yang diberikan Nindia tadi.


Kedua matanya berbinar tatkala melihat berbagai jenis sajian makanan kesukaannya. Ia pun mendongak menatap Nindia yang sedang menatapnya balik.


“Kamu… tahu makanan kesukaan saya?” tanya Reno dengan tidak percaya.


“Ibu memberitahu semua yang disukai dan yang tidak disukai Tuan,” ujar Nindia.


“Ah, ternyata begitu.” sahut Reno yang mendapat anggukan kepala dari Nindia.


“Kalau begitu saya pamit pulang Tuan.” ucap Nindia yang hendak keluar menuju pintu.


“Tunggu!” seru Reno dengan suara keras.


Nindia membalikkan tubuhnya menatap Reno dengan alis saling bertaut.


“Ada apa lagi ya, Tuan?” tanya perempuan itu dengan bingung.


“Duduk disini. Temani aku makan.” titah Reno sambil menepuk sofa disampingnya.


“T-tapi—“


“Kamu tahu ‘kan kalau aku tidak suka dibantah?” Reno menaikkan salah satu alisnya.


Dengan perasaan campur aduk dan pasrah, Nindia pun kembali berjalan dan duduk tepat di samping Reno. Reno yang melihat itu pun mengulum senyumnya. Ia tahu, pasti perempuan itu sedang menggerutu dalam hatinya.


Reno menyantap makanan yang dibuatkan oleh Nindia dengan sangat lahap. Sementara itu, Nindia hanya berdiam diri sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah di ruangan ini.


Perempuan itu kembali dibuat kagum setelah mengamati ruangan Reno yang menurutnya sangat nyaman dan menarik.


Suara ketukan pintu membuat Reno menghentikan acara makannya. Begitu pun dengan Nindia, perempuan itu melirik pada pintu ruangan yang tadi diketuk oleh seseorang.


Setelah meneguk air mineral hingga setengahnya, Reno pun membiarkan orang yang berada di depan pintu ruangannya agar masuk.


“Masuk!” ucap Reno dengan suara keras.


Ceklek…


Seorang perempuan yang tak lain ialah Sita memasuki ruangan Reno. Perempuan itu melangkah mendekati Reno dan berdiri tepat di hadapan laki-laki itu.


“M-maaf Pak, ada apa ya memanggil saya kemari?” tanya Sita dengan takut.


“Kamu saya pecat.” ucap Reno ringan.


Sita membelalakan kedua matanya yang belo. Perempuan itu hendak protes. Namun urung, saat tangan Reno menginterupsikannya untuk diam.


“Jika kamu mengira karena kejadian tadi … itu memang benar.” ujar Reno tanpa berbasa-basi.


“Tidak hanya itu, kamu sudah bersikap keterlaluan terhadap semua orang yang berada di kantor ini. Saya tahu kamu sudah 2 tahun lamanya bekerja di perusahaan saya. Tapi, sikap kamu sangat tidak mencerminkan sekali kalau kamu salah satu karyawan saya.” Lanjut Reno dengan cepat.


“Pakaian ketat, terbuka, riasan yang berlebihan, angkuh, sombong, tidak sopan.” sarkas Reno membuat Sita menunduk malu.


“Sekarang, bereskan barang-barangmu dan segera pergi dari sini. Saya sudah muak melihat tingkah karyawan saya yang seperti kamu.” tukas Reno jujur.


Saat ini juga, Sita ingin sekali rasanya menghilang dari hadapan Reno. Harga dirinya seolah diinjak-ijak saat laki-laki itu mengucapkan semua sikapnya. Akan tetapi, membantah pun tak ada gunanya karena itu memanglah fakta.


“Ah ya, satu lagi.” ucap Reno membuat Sita mau tak mau mendongakkan kepalanya.


“Kamu harus meminta maaf kepada Nindia.” ucap Reno dengan santai.


Sita terdiam sambil memandang perempuan yang duduk di sebelah Reno. DI dalam hatinya, ia mengumpati perempuan itu.


“Kenapa? Tidak mau?” tanya Reno.


“S-saya akan meminta maaf.” sahut Sita dengan cepat.


“Ehm, s-saya minta maaf atas kejadian tadi di lobi.” Sita berusaha keras mengucapkan kalimat yang membuat harga dirinya serasa jatuh.


“Iya, tidak apa-apa. Saya sudah memaafkanmu.” ucap Nindia ramah.


Sontak Sita menampilkan senyuman manisnya kepada Nindia. Tentu saja ia terpaksa.


“Ambil ini sebagai uang pesangon.” titah Reno seraya melemparkan segepok uang di atas meja.


Mata Sita lantas berbinar kala melihat itu. Dengan secepat kilat ia mengambil uang tersebut.


“Silahkan keluar.” ucap Reno.


Tanpa berlama-lama Sita pun keluar dari ruangan Reno.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang wanita yang sudah memasuki usia kepala lima itu tengah membereskan semua pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper yang sudah disiapkan. Ia sangat kalut dan takut jika Ilham benar-benar akan memasukannya ke dalam jeruji besi.


“Mi, sudahlah kita tidak perlu kabur-kaburan seperti ini.” ucap Lelaki yang tak lain ialah suaminya.


“Kamu gila Pi?! Aku nggak mau di penjara.” seru Gretta dengan kesal.


John—suami Gretta sontak menghela napasnya lelah.


“Cepat kemasi barang-barangmu. Malam ini, kita akan pergi menuju sebuah tempat yang sulit ditemukan oleh Ilham.” gumam Gretta yang masih dapat didengar oleh suaminya.


John hanya mampu menganggukkan kepalanya pasrah. Laki-laki itu menuruti setiap kemauan yang istrinya ucapkan.


“Kamu sudah pesan tiket yang aku minta ‘kan?” tanya Gretta seraya menatap wajah suaminya.


“Ya, sudah.” Jawab John singkat.


“Bagus. Aku yakin, Ilham tidak akan pernah menemukan kita.” Senyum miring terpatri di wajah wanita licik itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Alhamdulillah hari ini aku bisa triple-update 😍...


...Jangan lupa mampir ke cs ku judulnya Kisah Cinta Olivia 😊🙏🏻...


Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga 😊


...Jangan lupa hadiah dan votenya ya hehe :)...