
Psyche ada di antara kerumunan orang-orang itu seolah ia tidak terlihat.
Setelan kerjanya begitu kontras dengan pakaian serba hitam yang dikenakan para pelayat.
Ia menatap punggung lebar Adam dengan pandangan sendu. Ia mengerti rasanya kehilangan. Tapi bedanya, Adam tak akan menunjukkan kesedihannya dengan menangis.
Kepala pria itu tertunduk rendah. Di sampingnya seorang wanita paruh baya mengusap punggungnya beberapa kali.
Itu ibunya, Sophia Louvander. Dan di sisi lain pria itu adalah Ariel Louvander, adik perempuan yang paling Adam kasihi.
Psyche sempat berpikir untuk pergi diam-diam dan membiarkan Adam bersama keluarganya. Ia rasa ini adalah privasi yang tak perlu campur tangannya. Mengingat bagaimana Psyche tidak memiliki ikatan yang berarti dengan pria itu.
Namun entah mengapa, kejadian yang tak pernah ia harapkan selalu datang di waktu yang tepat.
Beberapa rekan kantor mulai berdatangan dan mengungkapkan bela sungkawa kepada keluarga Louvander.
Yang paling membuat Psyche ingin cepat-cepat pergi adalah kedatangan Miranda dan pelukan eratnya kepada pria itu.
Kepada Adam—nya.
.
.
.
Minggu pagi, pintu apartemennya diketuk pelan namun berulang.
Psyche mendapati Adam berdiri di depan pintu apartemennya dengan setelan kasual.
Semenjak insiden kelabu beberapa hari lalu, komunikasi mereka terputus. Adam mengambil cuti dan tidak datang ke kantor.
Pria itu mengangkat sebelah tangannya dan masuk ke dalam apartemen setelah menyimpan sepatunya di rak. Psyche sempat melirik bagaimana pria itu duduk di sofa sebelum menutup pintu.
Psyche berjalan menuju dapur dan menuang segelas jus jeruk dingin ke dalam gelas tinggi.
“Sudah melupakanku, hmm?” Tanya Adam ketika wanita itu menaruh gelas di hadapannya.
Psyche menghela napas. “Kau datang ke sini untuk berdebat?”
Pertanyaan di jawab pertanyaan.
Adam mendengus. “Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku.”
Psyche melengos. Ia menduduki sofa yang berseberangan dengan tempat duduk pria itu.
“Dengan pergi diam-diam di hari pemakaman Ayahku dan mengabaikanku tanpa mengirimi satu pesan pun?” Kedua alis tebal Adam bertaut.
Psyche tersenyum frustrasi. “Tidakkah kau mengerti dengan perkataanku tadi?” Tanyanya berusaha tak terpancing. “Aku hanya memberikanmu waktu untuk menenangkan diri.”
Adam berdecih. “Kau selalu banyak alasan, Psyche. Dan aku benci itu.”
Psyche menatap Adam yang memalingkan wajah dan kembali tersenyum—hambar. “Ya. Sejak awal kita memang saling membenci, bukan?”
Adam menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
“Dan rasa benci itulah yang membuatmu mencintaiku.”
Adam selalu melakukan hal yang sama. Ia akan memenangkan setiap perdebatan karena Psyche akan mengalah padanya oleh alasan cinta.
Tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Psyche memutus kontak mata mereka. Mengalihkan pandangannya pada jendela apartemen yang terbuka.
“Dan kenapa kalau aku mencintaimu, Adam?”
Adam menggeleng. “Kali ini aku meragukannya—cintamu itu,” katanya sambil berusaha menarik atensi Psyche kembali. “Semua yang kau tunjukkan kepadaku bukanlah cinta.”
“Begitukah?” Psyche tertawa pahit.
Sungguh, Adam tak berhak menilai apa pun. Tidak, setelah semua perlakuannya pada Psyche.
“Semua yang kau ucapkan hanya kebohongan.” Adam melanjutkan. “Sudah ku bilangkan, aku tahu, apa yang kau inginkan sama seperti yang lainnya.”
Psyche menyadari bahwa Adam sedang berusaha memancingnya. Entah untuk meruntuhkan harga dirinya atau merasa khawatir akan sesuatu yang mulai hilang.
Pria itu...
Tanpa sadar telah terjebak dengan perasaannya sendiri...
Sikap egoisnya selalu menginginkan segala perhatian dan cinta Psyche. Menginginkan dirinya dipuja dan dipuji wanita itu. Menginginkan dirinya berlutut di hadapan pria itu.
Memberikan semua cintanya hingga ia sanggup mati.
“Katakan apapun yang kau ingin katakan, Adam.” Psyche memberikan senyum terbaiknya pada pria itu. Terkesan misterius dan Adam lebih membencinya berkali lipat.
“Tapi orang egois sepertimu tidak berhak menghakimi orang lain.”