
"Kenapa kita ke sini?"
Psyche masih berdiri di depan pintu mobil Adam ketika pria itu bergegas berjalan menuju pintu masuk.
"Tidakkah kau ingin mengenalku lebih jauh?" Katanya sambil kembali berbalik dan menarik tangan Psyche dengan tidak sabar. Saat membuka pintu, seorang pelayan tua sudah menyambut mereka dan membungkuk hormat.
"Kau ingin mengenalkanku pada keluargamu?" Psyche menahan tangannya dan berhenti. "Sebagai rekan kerjamu lagi?"
Adam mendesis. "Tidak." Katanya tegas. "Bukankah kau ingin sebuah pengakuan? Seharusnya kau senang karena kau adalah wanita pertama yang kukenalkan pada Ibuku—sebagai kekasih tentunya."
Psyche buang muka. Ia merasa tidak bangga sama sekali. Justru ia menghindari segala yang berkaitan dengan keluarga Adam. Terutama perihal ibunya.
"Adam?"
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Wanita paruh baya itu menuruni tangga dengan langkah anggun. Rambutnya tergerai bebas dan terlihat begitu halus. Tidak terlihat depresi atas kematian suaminya, sebaliknya Psyche merasa Sophia lebih terlihat menawan.
"Syukurlah kau pulang ke rumah."
Psyche tak menyadari bahwa ia menatap wanita itu hingga kini Sophia sudah berada di samping Adam dan menatap penuh khawatir pada putranya.
"Iya, Ibu. Maaf karena akhir-akhir ini aku lebih sering menginap di rumah Jacob."
Psyche mendelik. Demi menutupi kelakuan bejatnya, pria itu bahkan berlindung di balik nama kerabatnya sendiri.
Adam yang angkuh ternyata seorang anak teladan dalam keluarganya.
"Tidak apa-apa." Pandangan Sophia beralih, "Siapa dia?"
Psyche mengerjap pelan.
Adam tersenyum kaku sambil merangkul Psyche dengan sebelah tangannya. "Masa Ibu lupa, aku pernah membawanya kemari saat hari berkabung."
Sophia mengernyit. "Maaf Ibu sama sekali tidak ingat." Katanya dengan senyum tak enak.
Psyche melepaskan rangkulan Adam dan maju selangkah ke hadapan wanita itu. Ia bisa melihat wajah Sophia dengan jelas sekarang. "Kalau begitu aku harus memperkenalkan diriku lagi."
Tubuhnya membungkuk dalam, "Saya Psyche..." Ia menatap ujung sepatu Sophia dengan pandangan datar. Lalu mengangkat tubuhnya dan beralih pada sepasang mata serupa milik Adam.
Sophia tersenyum lembut padanya.
"Psyche Heartfillia."
Lalu, senyum wanita itu luntur saat mengetahui nama belakangnya.
.
.
.
Psyche tidak mengerti, mengapa ibunya selalu masih bisa tersenyum meski ayahnya ketahuan bermain api. Memperlakukannya dengan lembut dan hormat meski pria itu bahkan semakin dingin setiap harinya.
Sejak kecil ia mengira bahwa pernikahan yang dilandasi cinta akan berakhir seperti cerita-cerita bahagia di dalam dongeng.
Tapi kenyataannya, ia melihat kedua orang tuanya mati setelah meminum puluhan pil anti depresi. Saat itulah semuanya hancur. Keluarganya bangkrut dan ia diurus oleh sang paman yang bekerja sebagai petani di desa.
Dalam usia yang masih begitu muda, Psyche telah mengalami banyak hal pahit dalam hidupnya. Tidak ada yang tahu tentang kematian kedua orang tuanya, bahkan ia tidak pernah menceritakan latar belakang hidupnya pada Leon yang sudah ia anggap seperti saudara.
Psyche tidak ingin membebani sang paman dengan hidup di desa dan bergantung padanya, untuk itu ia memutuskan kembali ke London saat ia menginjak bangku kedua sekolah menengah atas. Dengan sisa harta peninggalan kedua orang tuanya, ia menyewa sebuah apartemen sederhana dan bekerja paruh waktu hingga lulus kuliah.
Psyche tidak pernah menjadi sosok broken home. Sebisa mungkin ia menerima apa pun yang telah terjadi dengan lapang dada. Ia bertekad untuk menjadi wanita yang lebih kuat dari ibunya.
Sampai ia bertemu Adam, meski benci berkobar dalam dada, nyatanya ia telah jatuh pada pria itu sedalam-dalamnya.
Mungkin inilah yang dirasakan sang ibu kepada ayahnya. Cinta membutakan akal dan pikiran. Menutup semua logika tentang salah dan benar. Sehingga tawa dan tangis tak pernah lagi selaras dengan yang dirasakan.
"Mengapa Ayah tidak pernah makan malam dengan kita, Bu?"
Saat itu ia hanya mendapati senyum lembut ibunya yang teduh, tanpa mengetahui bahwa pertanyaannya telah membuat luka yang semakin dalam di hati sang ibu.
"Ayah harus bekerja untuk kita, Psyche."
Kenyataannya, sang ayah makan malam dengan wanita lain. Sungguh, ibunya pandai berpura-pura. Meski ia hanyalah bocah tapi ia tak akan mudah dibohongi begitu saja.
Lalu, suatu hari, ia mendengar sang ayah bercakap dengan seseorang melalui telepon. Nada suaranya begitu halus dan pelan.
"Elise sudah mengetahui semuanya, tapi ia tampaknya tidak peduli."
Setelah kejadian itu Psyche tidak mengerti mengapa dirinya berani menyusup ke dalam kamar dan mencuri ponsel sang ayah untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Jantungnya berdegup kencang, dengan tangan gemetar ia pandangi sebuah foto yang terselip di antara foto-foto dirinya dan sang ibu dalam galeri ayahnya.
Wanita cantik itu merangkul ayahnya dengan mesra. Dan sang ayah memandanginya dengan tatapan yang tak pernah ia berikan pada ibunya.
"Wanita itu adalah ibuku dan di sebelahnya Ariel, Adikku. Beri salam pada mereka dan perkenalkan dirimu sebagai rekan kerja. Kau mengerti bahwa keluargaku sedang berkabung, bukan?"
Cintanya pada Adam adalah nyata. Ia sempat berpikir untuk melupakan segala kebenciannya pada pria itu karena semua perlakuan buruknya dan memilih untuk memahami Adam.
Tapi ia tak pernah mengira, bahwa hari berkabung Adam atas meninggalnya sang ayah akan mengantarkannya pada sebuah kenangan lama yang telah membuat ia kehilangan segalanya.
Selain karena kehadiran Miranda yang tampak akrab dengan keluarga Louvander itu, ada sesuatu yang baru ia sadari sejak hari itu.
Sesuatu yang lebih buruk dari apa pun. Alasan sebenarnya yang membuatnya pergi tanpa pamit bahkan sebelum pemakaman Tuan Louvander.
Wanita itu—yang dikenalkan Adam sebagai ibunya—ternyata adalah orang yang sama dengan yang ia lihat di dalam ponsel ayahnya.
Saat itu Psyche menangis seharian.
Sungguh, Tuhan, ia hanyalah manusia biasa.
.
.
.
"Sesungguhnya tidak pernah ada yang sesederhana itu. Apalagi soal urusan hati."