HEART

HEART
6



Psyche mengerjap pelan.


Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Hanya ada sinar rembulan yang menyinari keremangan kamar tidurnya melalui celah jendela.


Psyche menoleh ke samping. Berniat untuk bangkit namun terhenti ketika menemukan Adam berbaring di sana.


Memunggunginya tanpa menggunakan kaos hitam yang digunakannya tadi pagi.


Lama Psyche menatapi bahu lebar pria itu. Ingin rasanya memukuli berulang kali, menjadikannya pelampiasan atas rasa sakit yang diterimanya selama ini.


Dan kenapa mereka bisa kembali berakhir di tempat yang sama setelah debat kusir yang tak ada ujungnya itu?


Psyche menghela napas.


Ia berpikir jika mandi dengan air hangat mungkin bisa membuat otot-otot kakunya menjadi sedikit lebih rileks. Pun pikirannya menjadi lebih tenang.


Untuk sementara waktu, ia akan membiarkan Adam tidur sampai pria itu terbangun dengan sendirinya.


Drrt—drrt.


Perhatian Psyche kembali teralih ketika ponselnya berkedip beberapa kali di atas nakas.


Adam sepertinya benar-benar tertidur dengan pulas, karena getaran ponsel yang cukup nyaring tak pelak membuatnya terbangun.


Dengan tergesa Psyche meraih ponselnya, membuat suara nyaring itu terhenti.


Dahinya mengernyit mendapati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab atas nama Leon.


‘Kau baik-baik saja? Kenapa menolak panggilanku?’


Menolak?


Psyche terbelalak.


Mungkinkah...


Psyche buru-buru mengecek kotak masuk dan menemukan beberapa pesan dari Leon yang pasti sudah dibaca oleh Adam.


‘Hari ini kau libur, kan? Bagaimana jika menonton bersama?’


Psyche rasa ini tak akan mudah.


Tetapi, selain itu, bagaimana Adam bisa mengetahui kata kunci ponselnya?


.


.


.


Saat Psyche mematikan kompor, Adam keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang sama. Yang membuat berbeda adalah rambutnya yang basah dan aroma sabun milik Psyche yang menguar dari tubuh pria itu.


Psyche menoleh sebentar sambil menuang bumbu ke dalam mie instannya.


“Aku sudah pesankan pizza dan burger untukmu, tunggulah sebentar.”


Adam tak segera menyahut. Matanya mengikuti Psyche yang kini berjalan menuju sofa dengan sekaleng soda juga mie yang masih mengepul.


“Kau pesan pizza dan burger lalu kau makan mie instan itu?” Adam menghampiri Psyche dan berdiri di sampingnya.


Psyche mendongak. Pandangannya sabar dan tenang. “Aku bilang aku pesan untukmu.” Jelasnya sebelum kembali fokus pada tayangan yang tergambar di televisi.


Adam melipat kedua tangan di dada. Matanya menyipit ketika otaknya mengingat sesuatu. “Apakah itu semacam sogokan karena aku berhasil memergokimu berselingkuh?”


Bahkan Psyche sudah siap dengan segala tuduhan yang telah ia prediksi sebelumnya.


“Dia teman lamaku, tidak usah melebih-lebihkan.”


“Bukankah dia yang berlebihan dengan mengajak teman wanitanya menonton?”


Psyche menyeruput mie-nya dengan tenang. “Lalu apa yang harus ku katakan pada seorang pria yang membiarkan teman wanitanya memeluknya di depan kekasihnya sendiri?”


Adam tertawa sinis. “Oh? Kau mau balas dendam?”


Psyche menggeleng cepat. “Aku sudah jujur padamu. Tolong biarkan aku makan dengan tenang.”


Adam mendengus.


“Makan malammu.” Ia menaruh bingkisan itu di meja. Sementara Adam sudah duduk di sofa dengan kaki menyilang.


Pria itu tak bereaksi.


Psyche menghela napas. Tanpa banyak kata ia mengeluarkan semua makanan yang ada dalam bingkisan itu dan mengarahkan satu hamburger ke mulut Adam. Berniat menyuapinya, namun lagi-lagi pria itu hanya menatapnya datar.


Psyche berdecak untuk segala sifat keras kepala pria itu. Demi apapun ia bisa saja melempar pria itu dari apartemennya sekarang juga.


Tapi ia masih waras. Bukan cara seperti itu untuk menjinakkan Adam.


“Buatlah semua ini menjadi lebih mudah, Adam.”


Psyche menggunakan sebelah tangannya untuk menahan tengkuk pria itu dan menjejalkan burger ke dalam mulutnya.


Adam mendelik dengan pipi mengembung, tapi pria itu tetap mengunyah makanannya.


Psyche tersenyum puas.


Setidaknya Adam tidak memuntahkan makanan itu.


Sebuah kemajuan yang bagus.


.


.


.


“Psyche Heartfillia?”


Psyche sedikit berjengit ketika sebuah suara mengagetkannya dari belakang. Tubuhnya otomatis berbalik, menghadap seorang wanita berambut merah yang jelas ia kenali.


Sangat kebetulan sekali. Ia pasti sedang s*al karena akhir-akhir ini harus berhadapan dengan wanita-wanita yang pernah menjadi gandengan kekasihnya.


“Kau Psyche Heartfillia, kan?”


Psyche mengangguk dalam kebingungannya. “Kau mengenalku?”


“Tentu saja.” Karin tersenyum singkat. “Semua pria di kantor membicarakanmu.”


Psyche tidak merasa bahwa itu adalah sebuah pujian karena Karin terlihat tidak berniat untuk menyanjungnya juga.


Itu ibarat fakta yang menegaskan bahwa karyawan baru sepertinya memang selalu menjadi incaran para pria hidung belang.


“Semua orang di kantor juga membicarakanmu saat kau berkencan dengan atasanku, Nyonya Karin.”


Seperti yang diduga, ekspresi wanita itu dengan cepat berubah.


“Adam, ya?” Katanya sambil buang muka. “Itu sudah menjadi masa lalu. Lagi pula siapa pun wanita yang berkencan dengannya pasti selalu jadi bahan pembicaraan.”


Kedua bahu Psyche terangkat. “Well, aku rasa kau yang paling mengejutkan semua orang karena akhirnya—malah—menikahi pria lain.” Psyche kembali berbalik sambil mendorong trolinya. “Maaf, aku tidak punya banyak waktu karena seseorang sedang menungguku di bawah.”


“Adam tahu aku akan menikah.”


Tutur Karin tiba-tiba yang membuat langkah Psyche kembali terhenti.


Wanita itu memutar kepalanya. Merasa tidak mengerti dengan apa yang Karin ucapkan.


“Maaf?” Tanya Psyche dengan alis terangkat.


“Selama ini orang-orang berpikir bahwa aku adalah wanita malang yang dicampakkan Adam dan pada akhirnya memilih untuk menikah dengan pria lain...” Karin menahan kata-katanya dan membuat Psyche semakin tidak ingin mendengar kelanjutannya.


Ia tidak siap. Apalagi saat Karin terlihat sedikit menahan senyum gelinya di sana.


“Tapi sebenarnya yang terjadi adalah aku menikahi pria yang aku kencani selama lima tahun terakhir. Dan Adam?” Karin mengibas sambil tertawa hambar. “Kami hanya mencari kesenangan semata. Aku tahu dia juga menjalin hubungan dengan Miranda saat itu.”


.


.


.


“Tidak ada yang salah dengan cinta, terkadang manusialah yang menyalahgunakan cinta itu sendiri.”