HEART

HEART
8



“Kenapa masih di sana?” Psyche menepuk bangku kosong di sampingnya. “Ayo, duduklah.”


Adam menghela napas. Wajahnya memerah menahan kesal yang hampir sampai ke ubun-ubun. “Ternyata tempat seperti ini yang ingin kau datangi?” Katanya sambil duduk di sebelah Psyche dengan ogah-ogahan. “Kalau ingin makan ramyeon mending di tempatmu saja.”


Ia masih kesal dengan wanita itu karena pakaiannya, dan sekarang bertambah kesal dengan warung kedai ramyeon yang direkomendasikan Psyche. Wanita itu memang terobsesi dengan makanan-makanan Korea.


Demi Tuhan ia bisa membelikan Psyche makanan yang layak dari tempat yang lebih layak pula.


Dan bagai orang dungu, ia tidak bisa melakukan apa pun selain duduk di samping wanita yang sekarang sedang memesan makanannya pada seorang pelayan.


“Kau mau apa Adam?” Psyche meliriknya dengan antusias, seolah tak mengacuhkan ekspresi pria itu. Rambutnya sudah diikat tinggi karena lehernya berkeringat. Tentu saja kedai ini tidak memiliki pendingin ruangan seperti restoran mewah.


“Apa aku punya pilihan?” Jawab Adam dengan nada galak. “Sama kan saja denganmu.”


“Baiklah. Tolong dua porsi ramyeon dan satu pangsit rebus, ya.”


Pelayan itu tersenyum kikuk sambil kembali mencatat pesanan. Wajah pria itu ternyata berbanding terbalik dengan sikapnya.


Psyche mengalihkan perhatiannya pada Adam saat pelayan perempuan itu berlalu. Pria itu memainkan ponsel dengan wajah bosan. Kakinya tampak mengetuk-ngetuk lantai, seolah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat itu.


“Kau tidak senang ku ajak ke sini karena makanannya murah?”


Adam mengangkat kepalanya lalu berdecak. “Ada banyak faktor, selain itu tempatnya juga panas.”


Pria itu bahkan tak berpikir bahwa pemilik kedai ini mungkin saja mendengar ucapannya.


“Jadi mau pulang saja?“ Tawar Psyche kalem.


Adam tertawa hambar. Tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu. Menawarkan pulang bahkan setelah ia memesan makanan?!


“Kau benar-benar—“


“Psyche?”


Keduanya sama-sama menoleh pada pria berambut putih yang memandang mereka dengan tatapan terkejut.


Tentu saja terkejut jika melihat pria dengan kemeja hitam itu justru yang mendampingi Psyche di tempat tak terduga seperti ini.


Psyche berkedip, sempat melirik Adam dengan ekor matanya. “Leon?”


Tatapan dari dua bola mata kelam itu menajam. Mengarah pada Psyche yang baru saja mengucapkan nama seseorang yang hampir membuat hubungan keduanya usai di tengah jalan.


Menarik sekali. Akhirnya mereka dapat bertemu secara langsung.


Namun berbeda dengan Psyche, ia lebih tertarik pada sosok seorang wanita yang berdiri di belakang bahu pria berambut putih itu.


“Kenapa Leo—eh? Adam?”


Kali ini ketiganya tertegun.


Wanita berambut merah muda itu sungguh pandai membuat kejutan.


.


.


.


Psyche benar-benar tak habis pikir, mengapa Leon bisa terlibat dengan wanita itu. Seingatnya Leon masih sibuk dengan kafe dan cita-citanya menjadi seorang barista handal—tentu setelah Psyche sempat menolak pengakuan cintanya.


Pria itu pasti populer. Tapi Miranda bukanlah seseorang yang Psyche bayangkan dapat bersisian dengan Leon.


Ia tidak benci wanita itu. Tapi, kedekatan Psyche dengan orang-orang di sekelilingnya kadang membuat ia iri.


“Jadi kalian berkencan?”


Psyche tahu sekarang, bahwa Adam dan Miranda ternyata memiliki persamaan dalam beberapa hal.


Contohnya ketika mereka berbicara tanpa canggung dan ragu. Langsung pada inti dan begitu jujur hingga kadang menyinggung perasaan lawannya.


“Seperti yang kau lihat.” Adam menjawab tenang sebelum Psyche bersuara.


Mereka sudah tak mungkin mengelak lagi. Psyche pasti tahu persis bagaimana Adam, jadi percuma membohonginya dengan alasan—kebetulan bertemu di kedai—atau yang lainnya.


“Aku memang sudah curiga pada kalian berdua. Terutama pada Adam yang selalu sibuk saat kuajak pergi.”


Inilah risiko jika mereka menyembunyikan hubungan mereka dari orang-orang, khususnya rekan kantor. Sungguh sulit untuk memilih antara membiarkan mereka mengetahuinya—demi hilangnya pengganggu Adam—atau tetap merahasiakannya dan membiarkan Adam digoda oleh wanita lain.


“Dan hal yang sama juga terjadi padamu, Miranda?” Adam melirik Leon yang sibuk menghabiskan ramyeon-nya tanpa peduli tatapan tajam yang mengarah padanya.


“Kami hanya berteman, itu saja.”


Adam mengangguk tanpa minat. “Oh. Sudah kuduga.”


Psyche mendengus melihat percakapan kedua orang itu. Biasanya ia akan menghabiskan semangkuk ramyeon yang ia pesan sampai kuahnya tak tersisa. Tapi yang terjadi sekarang nafsu makannya seolah hilang begitu saja.


Ataukah masih? Entahlah...


Adam mulai menyadari bahwa Psyche menjadi lebih pendiam sambil sesekali menyesap minumannya. Seperti pria berambut putih itu juga, keduanya kompak memilih bungkam. Padahal seingatnya pria itu pernah mengirimkan pesan yang begitu hangat pada Psyche. Tentu bagian mengajaknya menonton adalah hal yang ia garisbawahi.


“Kenapa diam saja, Psyche? Bukankah sahabatmu ada di sini?”


Wanita berponi itu mendongak. Tatapannya berserobok dengan Leon yang sama-sama mengangkat kepala setelah Adam menekan kata ‘sahabat’ dalam ucapannya.


Alis Miranda terangkat, lalu wanita itu terkekeh pelan. “Ternyata dunia ini sempit sekali, ya,” katanya sambil memutar-mutar sedotan dalam gelas. “Pantas saja Leon tampak terkejut saat bertemu dengan kekasihmu, Adam.”


Tak seperti Miranda yang terlihat mengabaikan dirinya, Psyche mengambil keberanian untuk langsung menatap wanita itu dengan tatapan datarnya.


“Dan kenapa kau juga tampak terkejut saat menemukan Adam bersamaku, Senior?” Kedua manik berbeda warna itu bertemu. “Apa kau tidak menyangka bahwa Adam berkencan dengan bawahannya atau karena aku berkencan dengan seseorang yang pernah menjadi kekasihmu?”


Psyche menyadari bahwa ketiga orang itu saat ini tengah menatapnya.


Adam hendak memperingati Psyche ketika Miranda terlebih dahulu menyela dengan seringai di bibirnya. “Wah...wah...gosip dari mana itu?” Matanya mengerling ke arah Adam. “Memangnya kita pernah berkencan, Adam?”


Leon mengusap tengkuknya dan menghela napas pelan. Suasana tegang ini sangat merepotkan. Ia melihat bagaimana cara kedua wanita itu saling bertatapan dan melihat bagaimana cara Adam menatap salah satunya dengan rahang mengeras.


Untuk kali ini Leon tak punya pilihan selain cari aman. Dan untuk masalah Miranda ia bisa meminta penjelasan Psyche nanti.


Pria itu berdeham pelan sambil mendorong kursi. “Aku sudah selesai. Bagaimana denganmu, Miranda? Masih ingin di sini atau pergi denganku?”


.


.


.


“Apa kau gila?!”


Psyche melipat kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. Tatapannya lurus ke depan, padahal Adam memberikan tatapan seolah ia ingin menghancurkannya saat itu juga.


“Untuk apa kau berkata seperti itu pada Miranda, hah?! Sengaja mau cari masalah?!”


Psyche melengos.


“Jawab, s*alan!”


Sudah habis. Psyche tak bisa bersabar lagi.


“Aku hanya bertanya padanya, salah?!”


Adam tertawa sumbang. “Bertanya katamu? Yang kau lakukan itu cari masalah namanya!” tuduhnya keras. “Apa kau pernah berpikir bagaimana Miranda bisa saja balik membencimu dan membocorkan hubungan kita, hmm?!”


Apa sebenarnya alasan Adam membuat kesepakatan itu? Apa benar-benar atas sikap profesionalismenya atau hanya karena ia malu berkencan dengan bawahan sepertinya?


Napas Psyche terengah, menahan emosi yang menumpuk di dada. Perkataan pria itu telah melucuti semua harga dirinya. “Terserah! Lagi pula kau tidak akan membelaku sampai kapan pun!”


Bagaimana mungkin Miranda begitu santai mengatakan bahwa wanita itu pernah mengajak kekasihnya pergi beberapa kali?! Pun mereka sering bersentuhan secara intim di depan publik.


“Kenapa juga aku harus membelamu?!” Tangan Adam sampai memutih karena memegang kemudi terlalu kuat. “Jelas-jelas kau yang salah di sini—oh apa jangan-jangan kau cemburu melihat si putih itu bersama Miranda?!"


“Aku cemburu melihatmu bersamanya, b*jingan!” Air matanya tak terbendung lagi. “Saat aku melakukan segalanya untukmu aku masih selalu kurang di matamu! Padahal aku tak pernah memintamu untuk menjadi apa yang kuinginkan! Kau selalu bebas mengatakan apa yang ingin kau katakan! Tapi aku bahkan tak boleh menyuarakan apa yang ingin kukatakan! Kau memang egois! Bisa-bisanya kau bersikap santai pada wanita lain dan bersikap semena-mena padaku!”


“Kalau begitu tidak usah berpacaran denganku.” Jawab Adam dengan nada dingin. “Cari saja pria lain—yang tak egois!”


Psyche terbelalak. Adam bahkan tidak memiliki niatan untuk mempertahankannya dan malah meminta berpisah seperti yang sering pria itu lakukan.


Mengapa? Padahal ia yakin bahwa Adam memiliki perasaan padanya...


“Itukah inginmu?” Psyche tersenyum pahit di antara lelehan air mata yang semakin deras. “Baiklah...” katanya sambil mengusap air mata dengan kasar. “Karena kau yang terus meminta akan kupenuhi kali ini. Lagi pula aku sudah bosan mengejar pria yang tak bisa mencintaiku.”


Adam tiba-tiba menghentikan mobilnya. Ekspresi pria itu tak terbaca tapi Psyche bisa merasakan aura yang membuatnya sulit untuk menelan ludah.


“Turun.” Perintahnya kemudian. Dingin dan tegas.


Psyche sudah menduga bahwa Adam bisa melakukan apa pun ketika pria itu marah. Tapi ia sendiri juga tidak ingin menahan apa pun lagi. Semakin ditahan, emosi dalam dadanya semakin membuatnya sesak.


Tanpa mengatakan apa pun, ia melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil Adam setelah menutup pintunya dengan kasar.


Mobil pria itu dalam sekejap menghilang, bergabung bersama kendaraan lain yang mulai mengabur dalam pandangannya.


Apa ini benar-benar berakhir, Adam?


.


.


.


“Menangis itu cara wanita mengatasi sakit hatinya, meski sesakit apa pun mereka tidak pernah akan jera untuk mencinta.”