
Sophia tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah pertemuannya dengan wanita yang menyandang marga Heartfillia itu. Yang diketahuinya sebagai kekasih putra kandungnya sendiri.
Semua mata Heartfillia memang sama. Tapi tatapan tajam dan cara bicaranya mengingatkannya pada seseorang. Mike Heartfillia, cinta pertamanya sejak sekolah menengah atas.
Sophia sadar bahwa keluarganya tidak pernah seharmonis yang dilihat para tetangga ataupun anak-anaknya. Ia bersikap sebagai ibu yang baik, penurut dan sempurna. Harga diri klan menuntutnya untuk menutupi semua kelakuan busuknya selama berumah tangga.
Ia ingat hari itu, beberapa minggu sebelum suaminya meninggalkan dunia ini.
Ia menemukan sebuah amplop putih, berisi tulisan yang menyatakan bahwa suaminya mengidap penyakit jantung.
Sophia murka sekaligus sedih. Bahkan ia yang selalu menjaga nada bicara agar tetap terdengar halus malah membentak suaminya dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya. Beruntung karena kekayaan yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk membangun kamar yang kedap suara. Setidaknya, anak-anaknya tidak akan tahu.
"Sejak kapan?! Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?!"
Yang diingatnya dengan jelas saat itu adalah suara tenang suaminya dan tatapan dingin yang membuat Adam selalu mengira bahwa ayahnya tak pernah mencintai sang ibu.
"Kenapa kau marah? Bukankah ini sama seperti kau menyembunyikan hubunganmu dengannya dariku?"
Bahkan hingga sekarang perkataan itu masih sering menghantui malamnya. Sophia tahu ia tidak bisa dimaafkan, tapi ia benar-benar menyesal apalagi setelah tahu bahwa Mike dan istrinya tewas karena bunuh diri. Dan suaminya masih menerima dirinya meski tatapannya tak pernah sehangat saat mereka mengucap janji pernikahan.
Suaminya sangat mencintainya, sikap tak acuhnya selama ini jelas karena kesalahannya. Ia yang telah menghancurkan pernikahannya sendiri.
Adam pernah menyindir perlakuan ayahnya yang terkadang kelewat cuek pada Sophia. Seperti saat pria itu memilih menginap di kantor daripada pulang ke rumah dan membiarkan makan malam buatan ibunya terbuang sia-sia.
Tapi itu karena ia tidak tahu, bahwa ayahnya hanyalah korban dari pengkhianatan ibunya bersama cinta dari masa lalu.
Seandainya Psyche memang putri Mike, apakah ia telah mengetahui semuanya? Tatapan dan gestur tubuh wanita itu...
Dia mengetahui sesuatu.
"Ibu melamun?"
Tepukan di bahunya membuat Sophia terkesiap. Adam berdiri di sampingnya dengan setelah kerja yang masih terlihat rapi.
"Sudah pulang? Apa ibu perlu hangatkan makan malam?"
Adam menggeleng. "Aku sudah makan bersama Psyche."
Sophia tidak pernah mencium lagi bau alkohol dari tubuh Adam atau melihat Miranda mengekor di belakangnya setelah Psyche datang ke rumah mereka.
Sama saat ia tidak bisa menolak pesona Mike, apakah Adam juga merasakan hal yang sama pada Psyche?
"Kelihatannya anak ibu sangat menyukai Psyche."
Langkah Adam terhenti sebelum sempat menyentuh tangga pertama. Kepalanya kembali diputar, menemukan Sophia tersenyum tipis padanya.
"Psyche itu pembangkang dan susah diatur," kata Adam menerawang. "Tapi saat dia jauh dariku, ada sesuatu yang lebih menjengkelkan dari semua sikapnya."
Sophia mengerti. Ia pernah mengalaminya, jatuh cinta pada seseorang kadang tidak bisa dijelaskan dengan akal. Tapi Sophia mengenal anaknya. Adam tidak mudah jatuh cinta, Adam tidak mudah untuk mempercayai seseorang. Apalagi merendahkan kepalanya untuk seorang wanita.
"Kau serius padanya, Adam?"
Adam tahu ibunya tidak pernah ikut campur dalam urusan asmaranya. Pun tidak pernah memaksanya untuk berhubungan dengan seseorang yang dipilihnya—layaknya anak para petinggi yang sering dijodohkan.
Tapi kali ini wanita itu tampaknya menaruh perhatian lebih. Entah karena merasa kesepian dan mulai menginginkan cucu, atau karena ada sesuatu yang menarik dari Psyche.
Adam melengos, lebih memilih deretan tangga daripada meladeni tatapan ibunya. "Aku tidak tahu," katanya setengah berbisik.
Sophia menghela napas sambil mengangguk pelan. "Kalau begitu istirahatlah."
Adam kembali meliriknya sebentar sebelum kakinya mengabsen deretan tangga dan meninggalkan ibunya yang masih setia duduk di salah satu sofa.
Setelah memastikan Adam hilang dari pandangan, Sophia tampak meraih ponsel yang terletak di atas meja. Menekan beberapa angka, kemudian menempelkan benda itu ke telinga kirinya.
"Antar aku ke tempat wanita itu, sekarang juga."
.
.
.
Psyche hampir mematikan lampu kamarnya ketika bel apartemen berbunyi. Dengan gaun tidur yang menjadi saksi pernyataan cinta—tak langsung—dari Adam, ia berjalan menuju pintu. Setelah sebelumnya mengambil kardigan untuk menutupi bahunya yang terbuka.
Seperti dugaannya, itu bukan Adam atau Leon yang berkunjung.
Sophia masih bisa menampilkan senyumannya ketika Psyche membuka pintu dengan ekspresi terlanjur datar.
"Maaf mengganggu sebelumnya," Wanita itu tak pernah melupakan tata krama dalam setiap ucapannya, "Tapi, bisakah kita bicara sebentar?"
Psyche tahu malam ini mungkin ia tak akan tidur, tapi ia rasa perlu melihat apa yang akan dilakukan Sophia.
Ia yakin wanita itu telah menyadarinya.
.
.
.
Ponselnya berdering beberapa kali saat Adam keluar dari kamar mandi dengan jubah hitam yang membungkus tubuhnya. Sambil menyingkap rambut yang setengah basah, ia meraih benda persegi yang terletak di atas tempat tidur.
Entah mengapa hatinya sedikit kecewa mendapati nama Jacob yang muncul di layar ponselnya—bukan nama seseorang yang sedang dipikirkannya saat ini.
"Apa yang telah kau lakukan padanya, Adam? Dia menghubungiku tapi terus meracau tentangmu."
Ada foto Miranda yang sedang tengkurap di atas meja bersama beberapa botol minuman yang ia tahu persis mengandung alkohol. Wanita itu sedang di bar, Adam meyakini setelah melihat latar di belakang tubuh sang wanita.
Pria itu menghela napas. Tak pernah terpikir bahwa semuanya akan menjadi rumit seperti ini. Miranda tetaplah wanita. Dan ia memilih untuk berpura-pura dungu dengan perasaannya selama ini. Tidak lain untuk tetap bisa bersamanya.
Tapi hatinya menolak, meski akalnya menyuarakan bahwa Miranda lebih pantas mendapat perhatiannya.
Send?
Yes.
Setelah mengirim pesan singkat itu, Adam malah kehilangan minat untuk segera berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Langkahnya malah membawa ia ke lantai bawah, menuju dapur, memilih gelas dan menuang sedikit anggur milik ibunya.
Ngomong-ngomong masalah ibunya, apa Adam perlu mengajak wanita itu untuk minum sedikit? Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan Sophia akhir-akhir ini. Dia jadi lebih banyak melamun.
Kebetulan karena kamar Sophia terletak di lantai bawah, jadi Adam tak perlu menaiki tangga untuk menemukan pintu kayu bercat putih yang selalu terkunci rapat itu.
Kenopnya diputar pelan dan ajaibnya kali ini pintu itu tidak terkunci.
Adam mengernyit, setelah langkahnya dibawa lebih dalam, ia baru menyadari bahwa Sophia tidak ada di sana.
.
.
.
"Apa kau benar-benar mencintai putraku?"
Mereka duduk bersebrangan. Saling menatap lurus dengan eskpresi berbeda.
Dalam sudut pandang Psyche, Shopia akan tetap menjaga harga dirinya sebagai seorang kelas atas dengan merapatkan kedua kakinya dan duduk tegak seolah ia tak akan goyah oleh badai sekalipun.
Dan ia bisa mengerti darimana Adam mendapatkan perangainya. Sebagian besar pasti dari ibunya.
"Saya yakin, Anda jauh-jauh datang kemari bukan sekadar untuk menanyakan hal itu, bukan?"
Sophia mengerjap, ia bisa melihat Mike dalam diri Psyche. Ekspresi mereka sangat sama.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?"
Psyche tersenyum kecil. Sophia lebih berani dari yang ia kira.
"Apa maksud Anda, Nyonya?"
Raut wajah Sophia yang tadi terlihat sangat tenang berubah menjadi kepanikan yang berusaha ditutupinya.
Psyche menikmati itu. Saat ini ia satu ruangan dengan orang yang menyebabkan ibunya depresi, setelah anaknya hampir membuatnya depresi juga.
"Tidak usah berpura-pura lagi, Psyche." Nadanya terdengar tegas tanpa sopan santun yang mati-matian selalu dijaganya. "Kita semua sama-sama tahu, kau putri dari Mike Heartfillia."
Senyum Psyche menjadi lebih lebar. Akhirnya wanita itu menyebut nama ayahnya juga.
"Sepertinya kau sangat mengenal Ayahku," Psyche sedikit memiringkan kepalanya dan menatap Sophia dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Psyche—"
"Kau tak perlu menjelaskan apapun padaku." Senyumnya kemudian memudar, "Aku mengerti kau hanya mengkhawatirkan putramu."
Sophia menelan ludah, "Jika kau mendekati putraku untuk tujuan lain, maaf saja, aku tidak bisa berdiam diri."
Psyche terkekeh. Ayolah, siapa yang tahu jika Adam adalah anak dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangga ibunya?
Apakah ia bisa memilih untuk melabuhkan hatinya pada seseorang? Jika ia bisa, sejak dulu ia akan memilih Leon sebagai orang yang akan ia cintai sepenuhnya.
Bukan Adam yang memiliki emosi seolah bom waktu yang bisa meledak kapanpun. Bukan Adam yang memiliki harga diri setinggi gedung-gedung pencakar langit. Bukan juga Adam yang terlahir dari rahim wanita itu.
Tapi jauh di dalam hatinya ia juga mengutuk perlakuan ayahnya. Mungkin mendiang suaminya juga akan menuduh Mikd sebagai penghancur rumah tangganya.
Psyche tak bisa menyalahkan perasaan yang mereka miliki, tapi jalan yang mereka ambil benar-benar tidak bisa dibenarkan.
"Kau terlalu cepat menarik kesimpulan, Nyonya." Kata Psyche kemudian. Mencoba menarik kembali kesadarannya meski rasa sakit hati mulai menjalar ke dalam dada. "Kau takut anakmu terluka karena ku? Atau kau takut anakmu terluka karena dosa di masa lalumu?"
Sophia memalingkan wajah. Matanya memerah dan rahangnya mengeras.
Psyche tersenyum sinis, "Tenang saja, aku tidak akan membiarkan Adam tahu tentang hal ini." Ia memalingkan wajah. Bagaimanapun Sophia adalah seorang wanita yang sama dengannya. Ia tidak bisa memaki wanita itu sama seperti saat ia tidak bisa memaki ayahnya sendiri.
"Kau tidak tahu apapun Psyche. Bagaimana hubungan rumit kami di masa lalu—"
"Sungguh aku tidak peduli!" Psyche memotong dengan cepat. Luka itu kini terlihat di kedua matanya, "Jika aku mampu menghapus semua kenangan buruk itu maka akan ku hapus."
Setetes air mata turun mengalir di pipi Sophia. "Aku...maafkan aku."
Payche mengigit bibirnya. Ia teringat bagaimana ibunya menangis sendirian di kamar setiap malam. Bagaimana ia sendiri juga merasakan hal yang sama atas perlakuan Adam.
Apakah ini karma atas kesalahan ayahnya? Semuanya yang terjadi seolah terpola dengan rapi.
Ia mati-matian memaafkan masa lalu yang telah merenggut segala yang berharga dari hidupnya. Lalu saat ia dewasa, ia dihadapkan pada sesuatu yang sama beratnya.
"Ku rasa sudah cukup, lagipula ini sudah malam." Psyche beranjak dari kursi untuk berjalan ke arah pintu. "Silahkan, Nyonya."
Sophia menutup matanya sejenak. Masih banyak yang ingin ia sampaikan, tapi keduanya tahu, itu hanya akan menggali luka lebih dalam.
Dengan tegak ia berjalan kemana arah Psyche berdiri. Saat wanita itu membuka pintu, tanpa diduga seseorang telah berdiri di luar.
"Apa yang Ibu lakukan di sini?"
.
.
.
"Meskipun banyak luka yang ku terima, entah mengapa hatiku selalu meneriakkan namamu."