HEART

HEART
Kekecewaan Reno



Happy reading.


Tangan Aira ditarik paksa oleh Mami Dita agar wanita berbadan dua itu memasuki taxi yang sudah di pesannya beberapa menit yang lalu.


Aira melepaskan cekalan tangan Mami Dita.


Wanita berbadan dua itu menatap Tantenya dengan pandangan bertanya-tanya. Untuk apa Tantenya menariknya dan membawanya kesini? Pikirnya.


“Jalan Pak.” ucap Mami Dita kepada supir.


“Baik Bu.” sahut supir itu.


Mobil yang Aira dan Mami Dita tumpangi pun melesat pergi meninggalkan kawasan rumah sakit. Selama berada di perjalanan menuju rumah, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Mami Dita menoleh ke samping menatap jalanan yang sangat ramai.


Sementara itu Aira hanya mampu menundukkan kepalanya dalam. Wanita itu tidak tahu dengan perasaannya sekarang. Ia menyadari jika Tantenya-Mami Dita pasti kecewa dengan keputusan yang sudah dibuatnya untuk kembali kepada Ilham. Aira memaki dirinya sendiri yang selalu mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain.


Setelah menempuh waktu 20 menit di perjalanan, kini taxi pun sudah sampai di depan pagar rumah mewah nan megah. Mami Dita beserta Aira turun dari taxi tersebut setelah membayar ongkosnya.


“Mami ak-“


Aira mengehentikan perkataan yang akan diucapkannya kepada Mami Dita saat wanita itu melenggang pergi memasuki rumah. Aira menghela napasnya kasar.


Wanita dengan perut buncit itu pun melangkah memasuki rumah. Langkah kakinya terhenti saat ia bertatapan dengan sepupunya di ruang tamu. Tatapan mata Reno terlihat berbeda kali ini.


“Kenapa?” tanya Aira bingung.


“Duduk.” titah Reno dengan suara datarnya.


Aira mematuhi perkataan Reno. Wanita itu duduk tepat di hadapan Reno. Ia mengeryitkan dahinya, bingung dengan sikap Reno yang terlihat berbeda.


“Ada apa?” Setelah beberapa saat mereka terdiam, kini Aira membuka suaranya.


“Apa yang di bilang Mami itu benar? Kamu mau memaafkan Ilham dan kembali pada lelaki brengsek itu?” tanya Reno sinis.


Aira mendongakkan kepalanya menatap sorot mata Reno yang berbeda. Jika biasanya lelaki itu akan menatapnya penuh keteduhan, sekarang hanya ada sorot tajam yang diperlihatkan.


“Jawab Aira.” ujar Reno penuh penekanan.


“Iya. Aku memang memaafkan Mas Ilham dan ingin kembali bersamanya.” ucap Aira.


Sontak mendengar jawaban dari Aira membuat urat-urat leher Reno menonjol. Kedua tangannya mengepal kuat. Serta sorot matanya menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.


“Kamu gila hah?!” seru Reno yang tidak bisa mengontrol emosinya.


“Aku nggak gila.” bantah Aira dengan lantang.


“Terus kalau kamu nggak gila, sebutan apa yang cocok untukmu? Bodoh? Atau lemah?” tukas Reno dengan memaki Aira dengan tidak berperasaan.


“Reno!” bentak Aira saat lelaki di hadapannya memaki dirinya.


“APA?! Aku benar ‘kan?” Reno menaikkan sebelah alisnya.


“Kamu itu jangan terlalu baik jadi orang Ra.” tutur Reno mengubah suaranya menjadi lebih lembut.


“Kamu jangan mudah memaafkan lelaki seperti dia.” lanjutnya lagi dengan tangan mengusap wajahnya kasar.


“Kamu tahu? Mami kecewa sama sikap kamu yang nggak tegas sama Ilham.” sambar Reno membuat Aira terdiam.


“Ibu mana coba yang mau anak perempuannya hidup bersama dengan lelaki yang sudah menyakiti hatinya?”


“Aku pun sama kecewanya. Aku sudah berjanji untuk selalu melindungi kamu. Tapi, kamu bersikap seolah tidak memerlukan perlindunganku dan Mami.”


“Reno,” bisik Aira lirih.


“Kalau itu yang kamu mau, silahkan. Aku sudah tidak mau berurusan dengan setiap masalah yang menghampirimu. Silahkan kamu pikirkan sendiri apa yang akan kamu rencanakan untuk rumah tanggamu itu.”


“Kamu nggak akan bisa ngertiin aku Ren.” gumam Aira yang masih dapat di dengar oleh Reno.


“Kamu nggak akan pernah bisa rasain gimana sedihnya menjadi aku.” bisiknya lirih.


“Aku nggak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuaku. Aku nggak pernah merasakan pelukan dari seorang Ibu. Aku nggak pernah merasakan-“


“Ra, kamu bisa anggap Mami aku sebagai Ibu kamu Ra.” ucap Reno memotong ucapan Aira.


“Kamu nggak akan paham Ren,” Aira menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan air matanya yang perlahan turun.


Reno mendongakkan kepalanya ke atas. Lelaki itu tidak bisa melihat sepupunya sedih dan menangis seperti ini. Sudah cukup penderitaan yang dirasakan oleh Aira. Kini, saatnya wanita itu merasakan kebahagiaan.


Reno melangkah mendekati Aira. Tangannya perlahan membawa tubuh wanita berbadan dua itu ke dalam dekapannya. Ia mengusap-usap punggung Aira naik turun.


“Maaf,” bisik Reno.


“Maaf sudah berbicara kasar.” ucapnya menyesali perbuatannya tadi.


“Aku hanya ingin menyadarkanmu Ra, masih banyak laki-laki lain yang bisa membahagiakan kamu dan anakmu.” lanjutnya lagi dengan bergumam.


“Aku hanya ingin bersama Mas Ilham,” lirih Aira dengan kepala bersandar di dada bidang Reno.


Reno termenung saat mendengar ucapan Aira. Lelaki itu menghela napas lelah.


“Kalau kamu ingin kembali bersama Ilham...”


Aira mendongak menatap mata Reno dan mendengarkan ucapan yang akan disampaikan adik sepupunya itu.


“Dia harus bisa memperjuangkanmu kembali.” ucap Reno dengan nada tegas.


“Aku nggak akan membiarkan lelaki itu kembali bersamamu, tanpa sedikitpun perjuangan yang dilakukannya.” Lanjutnya.


“Jika Ilham benar-benar menyesal atas perbuatannya, maka dia harus bisa memperjuangkanmu dengan layak.”


“Jika lelaki itu menginginkanmu kembali, dia harus bisa melangkahi mayatku dulu.” tutur Reno dengan nada tenang.


"Kamu tidak pantas disakiti Aira, kamu pantas dicintai." ujar Reno dengan lirih.


Reno tidak akan membiarkan Aira kembali dengan lelaki brengsek itu begitu saja. Ia akan melakukan segala rencana agar Aira tidak kembali bersama lelaki itu. Jika bisa, ia akan mengurung Aira di rumah agar lelaki itu tidak memiliki peluang untuk bertemu dengan Aira.


Senyum miring terpatri di wajah Reno.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ilham baru saja menyelesaikan makan buburnya dengan disuapi oleh Mama Lina.


Lelaki itu terus menerus menatap ke arah pintu ruangannya berharap jika istrinya akan kembali.


“Ma, kok Aira nggak kesini lagi?” tanya Ilham dengan raut wajah sedih.


Mama Lina hanya mampu menghela napasnya berat. Semenjak Mami Dita membawa Aira keluar dari ruangan ini, sampai saat ini pun mereka belum kembali kesini. Dan, Ilham selalu memantau pintu tersebut berharap Aira akan datang lagi.


“Mungkin nanti besok Aira jenguk? Kan sekarang dia lagi hamil, harus banyak istirahat agar tidak terjadi apa-apa dengan anak kalian.” ucap Mama Dita mencoba meyakinkan sang putra.


“Kalau dia nggak kesini lagi gimana,” gumam Ilham dengan nada lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Ternyata Reno tidak menyetujui jika Aira kembali bersama Ilham 😶...


...Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 😊...