HEART

HEART
Kepergok



Happy reading.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Pagi ini Aira sedang keluar bersama Mami Dita. Hari ini Aira ada jadwal senam ibu hamil yang dilakukan di dekat bale desa.


Sementara itu, Nindia mulai melakukan pekerjaan barunya sebagai asisten di rumah Mami Dita. Perempuan yang memakai jilbab berwarna abu-abu itu mulai menyapu lantai demi lantai dan tak lupa mengepelnya juga.


Setelah selesai menyapu dan mengepel, Nindia beralih menuju wastapel untuk mencuci semua piring kotor bekas sarapan pagi tadi. Tangannya dengan lihai dan hati-hati melakukan pekerjaannya sebaik mungkin.


Setelah selesai dengan kegiatan mencuci piringnya, niatnya Nindia akan membeli bahan-bahan makanan di tukang sayur yang suka berkeliling di sekitar rumah majikannya.


Perempuan berparas ayu itu membenarkan letak jilbabnya dan melangkah keluar rumah. Saat melewati pos satpam, tak lupa ia menyapa Pak Man dengan ramah.


“Selamat pagi Pak Man,” sapa Nindia diiringi senyum ramahnya.


“Pagi neng Nindi, pagi-pagi begini mau pergi kemana?” tanya Pak Man.


“Aku mau belanja ke depan Pak,” ucap Nindia.


“Oh begitu ya.” Pak Man menganggukkan kepalanya.


Setelah percakapan mereka usai, Nindia kembali melangkah keluar gerbang dan menuju tukang sayur yang sedang dikerubungi ibu-ibu yang tak jauh dari area rumah majikannya.


“Eh, denger-denger anaknya Ibu Dita belum menikah loh,” ujar salah satu Ibu-Ibu yang sedang berbelanja sayur.


“Begitu ya? Kalau gitu saya suruh anak saya deketin aja anaknya Bu Dita. Kan lumayan bisa dapat menantu ganteng plus tajir.” Sahut Ibu-Ibu yang memakai daster berwarna kuning.


Nindia yang mendengar percakapan itu hanya bisa diam. Perempuan itu memilah-milih sayuran yang akan ia beli untuk memasak nanti.


“Neng, baru ya disini?” tanya penjual sayur itu kepada Nindia.


Nindia melirik sekilas pada penjual sayur itu kemudian berkata, “Iya Bu, saya baru disini.” sahut Nindia seadanaya.


“Dari mana neng? Saya baru lihat soalnya. Cantik ya, bisa dong jadi istri kedua anak saya.” timpal Ibu-Ibu yang memiliki tompel di pipinya.


Nindia meringis kecil mendengar ucapan Ibu tersebut. Dalam hatinya, ia bergidik ngeri. Mana mungkin ia mau dijadikan istri kedua. Memikirkannya saja Nindia tidak mau.


“Gimana neng? Mau nggak? Nanti biar saya bilang sama anak saya. Neng tenang aja, soal istri pertamanya pasti dia akan setuju kok.” tutur Ibu-Ibu yang memiliki tompel itu.


Nindia kira Ibu itu hanya mengatakan candaan semata saja. Ternyata dugaannya salah besar. Ibu itu menginginkannya untuk menjadikan ia istri kedua anaknya.


“Ah, maaf Bu sebelumnya. S-saya sudah mempunyai c-calon.” tukas Nindia sambil menatap Ibu tersebut.


Bahu Ibu itu meluruh tatkala mendengar perkataan Nindia. Tak lama sebuah senyuman terpatri di bibirnya.


“Nggak-papa neng. Nanti kalau si neng nya nggak jadi nikah sama calonnya, kabarin Ibu ya. Biar Ibu nikahin sama anak Ibu.” ucap Ibu itu lagi.


Nindia benar-benar tidak habis pikir dengan Ibu itu. Sudah sinting apa menjadikannya sebagai istri kedua anaknya? pikir Nindia.


“Bu, saya sudah selesai belanjanya. Totalnya jadi berapa ya?” tanya Nindia dengan terburu-buru.


“Sebentar neng, saya hitung dulu.” sahut penjual sayur tersebut.


Penjual sayur pun mulai menghitung belanjaan yang dibeli oleh Nindia.


“Totalnya jadi lima puluh ribu rupiah neng.” ucap penjual sayur.


Nindia langsung memberikan uangnya kepada penjual sayur. Dengan segera perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat menuju rumah majikannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak sampai lima menit, Nindia sudah sampai di area rumah majikannya dengan menenteng sebuah kresek berisikan belanjaannya tadi.


“Sinting kali Ibu tadi. Mana mau aku dijadiin istri kedua buat anaknya.” gerutu Nindia saat mengingat kembali percakapan beberapa menit lalu.


Pak Man yang tidak sengaja mendengar gerutuan Nindia pun lantas bertanya penuh keheranan.


“Itu loh Pak, masa tadi waktu aku belanja ada Ibu-Ibu yang bilang mau jadiin aku istri kedua anaknya.” adu Nindia dengan napas menggebu-gebu.


Pak Man tergelak kecil mendengar perkataan yang diucapkan oleh Nindia. Hal itu, membuat perempuan tersebut semakin dongkol.


“Hahahaha…. Ibu yang bilang itu yang punya tompel di pipinya ya neng?” tebak Pak Man.


Nindia menganggukkan kepalanya membenarkan. “Bapak tahu?” tanya Nindia memicingkan matanya.


“Iya, dia memang seperti itu. Setiap ada perempuan selalu bilang ingin menjadikannya istri kedua anaknya. Padahal anaknya udah punya lima anak kalau tidak salah.” ungkap Pak Man sedikit bercerita.


Nindia bergidik ngeri mendengar cerita dari lelaki paruh baya di depannya. Tatapan perempuan itu beralih pada sebuah mobil berwarna putih yang terparkir manis.


“Itu mobil siapa Pak?” Nindia mengerutkan keningnya bingung.


“Oh itu, mobilnya den Reno.” Jawab Pak Man.


“Reno?” gumam Nindia dengan suara pelan.


“Iya, anaknya Ibu Dita.” ujar Pak Man membuat Nindia menganggukkan kepalanya.


“Ya sudah deh, aku masuk ke dalam dulu ya Pak. Masih banyak kerjaan yang harus dikerjakan.” pamit Nindia.


“Iya neng.” sahut Pak Man.


Setelah itu pun, Nindia melangkahkan kakinya memasuki rumah majikannya. Perempuan itu membuka knop pintu rumah dengan pelan. Tak lupa ia menutup kembali pintu tersebut.


Saat Nindia akan melewati ruang tamu, matanya tiba-tiba melotot sempurna saat melihat pemandangan di depannya.


“Astagfirullah!” pekik Nindia yang tidak bisa menutupi keterkejutannya.


Sontak kedua orang berbeda jenis yang saling memagut bibir itu melepaskan bibirnya masing-masing dan menghentikkan kegiatan panas mereka.


Mata Reno melotot sempurna saat melihat perempuan yang pernah dilihatnya kala di panti asuhan waktu itu. Tersadar akan posisinya yang terbilang intim, Reno segera menurunkan pacarnya dari pangkuannya.


“Ah, m-maaf jika s-saya me-mengganggu kalian,” ucap Nindia sambil meringis kecil.


Seketika Reno terpaku saat mendengar suara halus, lembut bahkan selembut sutera.


“S-saya permisi d-dulu.” ucap Nindia yang ingin cepat-cepat meninggalkan kedua orang di depannya ini.


Setelah kepergian Nindia dari ruang tamu, Reno menjadi melamun sendiri. Perempuan di sebelah Reno yang merupakan pacarnya pun berdecak sebal saat aktivitasnya bersama sang pacar harus terganggu.


“Ganggu banget sih dia,” ujar perempuan di sebelah Reno dengan sinis.


“Lin, mending kamu sekarang pulang deh. Nanti siang aku udah harus ke kantor lagi.” ucap Reno kepada Elin-Pacarnya.


“Kamu ngusir aku?” Elin menatap tak percaya pada Reno.


“Please Lin, kamu ngertiin aku ‘kan?” Reno mengusap kasar rambutnya.


Dengan perasaan dongkol dan raut wajah cemberut Elin menganggukkan kepalanya lesu. Tak lama, Elin pun melangkah meninggalkan area rumah tersebut.


Sementara itu, Reno menjadi gugup sendiri. Lelaki itu menggigit jari jempolnya. Pikiran negatif melayang-layang di kepalanya.


"Duh, gimana kalau dia ilfeel sama cowok kayak gue?" gumam Reno lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Part 35 khusus untuk Nindia ya 🤗...


...Jangan lupa like+komen+vote+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 🤗🤗...