HEART

HEART
24



Hari sudah gelap. Psyche menemukan sepatu dengan ukuran yang lebih besar dari miliknya ketika memasuki rumah. Lampu-lampu juga sudah dinyalakan, sepertinya sang suami sudah pulang tanpa ia sadari.


Aroma harum dari arah dapur membuat Psyche bergegas membuka alas kaki dan sedikit berlari menuju tempat itu.


"Ramyeon."


Pria bertubuh jangkung dibalut apron hitam itu menoleh.


"Ramyeon dari kedai favoritku, kau benar-benar membawanya?" Mata Psyche berbinar. Menarik satu kursi dan bersiap untuk menyantap makan malam. Sebuah keputusan tepat untuk tidak ikut makan malam di panti.


"Begitu caramu menyambut kepulangan suamimu?"


Mereka saling bertatapan. Terjadi keheningan beberapa saat, sebelum akhirnya Psyche mendengus pelan. Membuang muka sambil menyembunyikan senyumannya.


"Sepertinya ramyeon lebih berarti bagimu." Adam mendelik sambil kembali mengaduk kuah di panci. Mie dan topingnya sudah disiapkan di mangkuk, nanti tinggal disiram kuahnya saja. Itu yang diingatkan pemilik kedai tadi kalau tidak ingin memakan ramyeon dingin. Mereka berbaik hati memisahkan kuah dan isiannya saat ia mengatakan akan membawa ramyeonnya ke Canterbury.


Kenapa mereka memilih Canterbury? Karena Hinata selalu menyukai langit dan laut.


"Hei, kau marah?"


Psyche bangkit dari kursi dan menghampiri Adam. Seharusnya ia yang berada di posisi pria itu sekarang. Memasakkan makanan kesukaannya dan menyambut pria itu dengan pelukan hangat. Bukan sebaliknya. Adam pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan dua hari berturut-turut.


"Sini, biar aku—"


"Tidak usah." Adam menolak ketika Psyche hendak meraih spatula di tangannya. "Tanggung, sebentar lagi juga panas."


Kedua bahu Psyche terangkat, sebagai gantinya ia melingkarkan kedua tangannya di perut Adam. Bersandar di punggung lebar pria itu. Menghirup aromanya dalam-dalam, mengembalikan sesuatu yang sempat hilang selama dua hari ini.


"Kalau begini bagaimana? Boleh?"


Adam menengokkan kepalanya sedikit, bibirnya mengulas senyum tipis. "Tapi jangan sampai ketiduran, nanti ramyeon-nya kuhabiskan sendiri."


Psyche dengan cepat menegakkan tubuhnya. "Cih. Dulu kau bilang tidak suka ramyeon."


Adam belum siap saat kehangatan itu terlepas dari tubuhnya. Pria itu mematikan kompor saat kuahnya sudah mendidih, lalu berbalik menatap Psyche.


"Siapa yang bilang begitu? Jangan sembarangan bicara, ya. Aku menyukai semua yang kau sukai, kok."


Psyche memutar mata bosan, setelahnya ia terkekeh. "Jangan ngeles ya, aku masih ingat ekspresimu ketika pertama kali mengunjungi kedai ramyeon itu."


Adam berdecak. "Itu kan sudah lama, masa sih kau masih ingat."


"Tentu saja." Psyche melipat kedua tangannya di dada, bagian belakang tubuhnya menyandar pada meja makan. "Memangnya apa yang tidak kuketahui tentangmu?" Katanya dengan tatapan mengejek.


Adam membuat mimik seolah-olah ia sedang berpikir. "Mungkin kau tidak mengetahui bahwa aku benar-benar mencintaimu?"


Psyche tergelak. "Oh...ya ampun apa benar kau adalah Adam? Dari mana kau belajar semua gombalan itu?"


Ekspresi Adam langsung berubah murung. "Mana ada. Memangnya itu terdengar seperti sebuah gombalan bagimu?"


Psyche menggeleng cepat. "Tidak. Kau mengatakan sesuatu yang sudah jelas kuketahui."


"Kalau begitu kuperjelas lagi biar kau selalu ingat."


Keduanya saling melempar senyum. Sepertinya isi perut sudah tak dipermasalahkan lagi. Melepas rindu dengan bercakap seperti ini sudah membuat mereka merasa senang dan tenang.


"Maaf dan terima kasih." Kata Psyche tulus.


Alis Adam terangkat. "Untuk?"


"Semuanya." Psyche hanya perlu dua langkah untuk kembali menjangkau Adam. Memeluk leher pria itu dan memberinya pelukan erat. "Selamat datang."


Adam terkekeh sambil membalas pelukan Psyche. Mencium puncak kepalanya berulang kali. "Aku pulang."


.


.


.


Adam panik. Wajahnya pucat ketika menatap seprei putih di bawah tempat duduk Psyche. Wanita itu masih mengenakan kaos putih miliknya dari semalam. Belum beranjak dari tempat tidur karena Adam menyuruhnya untuk diam di tempat.


"Aku harus menghubungi dokter." Pria itu keluar dari dalam kamar dengan ponsel yang di taruh di telinga kirinya.


Sementara Psyche masih terduduk di ranjang, mengamati bercak darah itu sekali lagi. Seingatnya bulan kemarin ia tidak menstruasi. Apakah akibat pola makan yang tidak teratur menstruasinya jadi terlambat begini ya?


Atau mungkin...


"Dokter sedang menuju kemari." Adam kembali dengan napas terengah. "Sekarang apa yang harus kulakukan?"


Psyche mengerjap. Menyadari kegelisahan berlebihan yang ditunjukkan pria itu. Ia mengulum senyum, memberikan isyarat kepada Adam, bahwa ia akan baik-baik saja.


"Kurasa kau harus mandi dan berganti pakaian sebelum dokter itu kemari." Psyche melirik celana pendek yang dikenakan Adam. Hanya benda itu satu-satunya yang melekat di tubuh pria itu. "Aku yakin kau memanggil dokter perempuan 'kan?"


Mana rela ia memberikan tontonan sixpack gratis.


.


.


.


Psyche tertegun. Sementara Adam hanya menelan ludah saking gugup dan tidak percaya.


"Istriku...hamil?"


Sylvia mengangguk. Hampir tertawa geli melihat wajah bingung Adam.


"Jadi itu bukan darah menstruasi?" Psyche menimpali.


Sylvia menggeleng pasti. "Setelah ini lebih baik panggil dokter kandungan, supaya bisa lebih jelas. Takutnya terjadi sesuatu yang lebih serius. Kandungannya masih sangat muda dan rawan."


Psyche mengangguk. Tiba-tiba tangan Adam terulur untuk mengelus perutnya yang masih terlihat rata dibalik kaos panjang yang dikenakannya.


"Ini...bukan mimpi 'kan?"


Psyche tersenyum tapi air matanya mengalir. "Tentu Sayang, Tuhan telah mengabulkan permohonan kita."


Adam tak berkata apa pun lagi, hanya memeluk Psyche dengan penuh kasih sayang sambil melafalkan syukur dalam hati.


Hampir tujuh tahun mereka menanti untuk memiliki momongan. Karena hal yang belum terwujud itu makanya Psyche mengusulkan untuk membangun sebuah panti, tepat di depan rumah mereka. Karena Psyche adalah anak tunggal dan seorang yatim piatu, maka Psyche ingin berbagi sedikit kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang beruntung seperti dirinya.


Lalu sejak itu Adam sadar, bahwa Psyche lebih kuat dan tangguh di bandingkan dirinya sendiri.


Hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Pernikahan mereka memang masih sering dibumbui dengan pertengkaran kecil tapi tidak sampai menjadi perpecahan di antara keduanya. Bila ada kesalahpahaman dengan cepat diluruskan, bila tidak ada yang berkenan di hati dengan cepat diutarakan.


Berkaca dari masa lalu membuat mereka paham, bahwa hidup tak selalu berjalan dengan apa yang mereka harapkan. Untuk itu mereka selalu berdoa untuk kehidupan pernikahan mereka dan untuk orang-orang yang mereka sayangi. Semoga mereka selalu bersabar dalam setiap ujian yang Tuhan berikan.


Lalu, suatu masa, anak pertama mereka lahir. Seorang bayi laki-laki yang sangat mirip dengan Adam, tapi senyumnya sehangat milik Psyche. Mereka memberikan nama anak itu Noah.


Noah tumbuh dengan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dididik dengan tegas namun penuh cinta dan perhatian. Psyche kadang menangis haru, tak menyangka bahwa ia akan memiliki seorang putra yang tumbuh dengan keluarga yang lengkap.


Dari musim ke musim, Noah semakin bertambah tinggi. Lebih sering bermain bersama anak panti, bahkan setiap sore Psyche melihatnya bermain sepak bola di lapangan.


Bibi Olla sudah mulai pensiun, sebagai gantinya Merry yang menjadi kepala panti. Dari tahun ke tahun dilakukan renovasi. Panti semakin besar, semakin banyak anak, semakin sering Psyche duduk di depan teras rumah sambil memandangi tempat itu.


Sampai ia tak sadar bahwa keriput mulai terbentuk di wajah cantiknya. Sampai ia tak sadar bahwa satu persatu mulai menghilang dari dunia ini. Sampai ia tak sadar bahwa Noah telah meminang seorang wanita dan membangun rumah sendiri. Tapi Adam masih setia tidur di sampingnya, menemaninya minum teh, bahkan berdansa dengan langkah tertatih.


Setiap libur musim panas, cucu-cucunya akan berkunjung, lalu Psyche akan menyaksikan Adam duduk di kursi goyang. Memangku salah satu cucunya dan membacakan cerita sampai anak itu tertidur.


Psyche merekam setiap detiknya, mencoba untuk tak melewatkan satu momen pun. Tapi semakin usianya bertambah, semakin ia lupa pada hal-hal yang selalu ingin diingatnya.


Suatu sore, di depan teras, Psyche duduk di kursi sambil memandang senja. Adam sempat mengalungkan syal berwarna cokelat di lehernya, karena musim gugur sebentar lagi akan berakhir.


Udara mulai terasa dingin, tapi Psyche selalu merasa hangat karena Adam akan selalu menggenggam tangannya dengan erat. Mengucapkan kata cinta setiap detiknya dan menciumnya seolah itu tak akan membuatnya jemu.


"Kalau aku pergi duluan, apa kau akan menangis?"


Mereka sering bercakap tentang hal itu, tapi Adam tak pernah menganggapnya serius.


Psyche tidak takut mati, pun dengan Adam. Tapi mereka selalu bersama-sama, seakan tak lengkap jika salah satunya tiba-tiba menghilang.


"Aku tidak tahu." Adam selalu mengatakan hal yang sama, tapi wajahnya akan selalu terlihat muram. "Bagaimana denganmu? Jika aku mati apa kau akan menangis?"


Psyche menggeleng.


"Kenapa?"


"Karena sampai akhir hayatmu, akulah yang kau cintai. Dan sampai akhir hayatku, kaulah yang kucintai."


Genggaman mereka mengerat. Senyum hangat mengalahkan sinar senja yang menyorot mereka yang duduk berdampingan.


Semilir angin berembus. Suara gelak tawa anak panti yang bermain di depan rumah seolah menjadi lagu yang mendamaikan jiwa.


Mereka tersenyum damai. Menyandar di kursi dengan tangan yang masih setia menggenggam.


Lalu semua terasa buram. Rasanya kantuk memaksa kelopak mata mereka untuk terpejam. Mengantarkan mereka pada mimpi panjang dan tak akan pernah terbangun lagi.


Samar-sama suara terdengar,


"Aku akan selalu...mencintaimu."


.


.


.


.


.


.


"Raga boleh mati dan musnah, tapi cinta akan selalu abadi."