HEART

HEART
15



"Kau sudah gila!"


Leon tahu sosok pria yang berdiri di depan kafenya itu adalah Adam. Bukan halusinasi semata karena ia masih terbayang insiden beberapa waktu lalu—yang meninggalkan bekas di sudut bibirnya hingga sekarang. Dengan tatapan angkuh yang masih sama, pria itu sesekali memperhatikannya dengan tatapan dingin. Lalu melempar kembali pandangannya pada jalanan di sekitarnya, mengambil rokok dari saku celana dan menghisapnya untuk menghilangkan kebosanan.


"Aku percaya bahwa kau memang benar-benar mencintainya, tapi aku berpikir bahwa sejak beberapa hari lalu, kau sudah mulai melupakannya."


Tatapan Psyche masih sama dinginnya sejak wanita itu mengatakan bahwa hubungannya telah berakhir. Tapi kehadiran Adam membuat Leon semakin tak mengerti, apa yang sebenarnya dilakukan wanita itu.


"Apa kau ingin membalas rasa sakit hatimu pada Adam? Jawab aku, Psyche! Jika itu memang yang ingin kau lakukan aku sarankan kau berhenti sekarang juga! Demi Tuhan kau akan semakin terluka!"


Psyche menundukkan kepalanya untuk menatap cangkir kopi yang belum tersentuh sama sekali.


Leon jelas kecewa padanya. Dan ia memang pantas dikatai orang gila seperti tadi.


"Aku bahkan membenci diriku sendiri."


Pria berambut putih itu mendengus kasar. "Itulah mengapa kau melakukan semua ini. Kau tidak pernah mencintai dirimu sendiri, Psyche." Kemudian tatapannya melunak, bersama helaan napas ia kembali berkata, "Kau benar. Aku tidak pernah bisa memahamimu."


Psyche tersenyum pahit. Ia yang tak pernah membiarkan Leon memahami dirinya. Ia yang membuat batasan dengan Leon karena takut membuat pria itu lebih terluka oleh dirinya. Cukup cinta sepihak itu yang membuat hatinya patah, jangan biarkan luka lain membuat hatinya hancur menjadi kepingan.


"Dia datang kesini untuk meminta maaf," Psyche menyesap sedikit kopi hitam yang akhir-akhir ini selalu menemaninya. Padahal ia benar-benar membenci minuman itu karena pahitnya. "Aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua. Bagaimanapun Adam harus meminta maaf atas perbuatannya tempo hari."


Leon tertawa sumbang. Ia melihat Psyche keluar dan berbicara dengan pria itu sebentar. Lalu dalam sekejap mata, sosok yang selalu menjadi perhatian dari dua wanita yang pernah dan sedang disukainya itu sudah duduk dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Aku melakukan ini karena aku malas berdebat dengan Psyche." Kata Adam tanpa basa-basi. "Aku minta maaf."


Leon memejamkan matanya sejenak. Ia berusaha berpikir sejernih mungkin. Dalam hati memang ada niatan untuk membalas pukulan pria itu, tapi Adam menyelipkan nama Psyche dalam perkataannya. Dan itu yang membuatnya hanya bisa kembali menghela napas.


"Kau yang memintanya untuk kembali padamu?"


Adam menyeringai, "Bukankah dengan kembalinya Psyche padaku, kau bisa bersama Miranda?"


"Ini tidak ada hubungannya dengan Miranda."


"Tentu ada," Adam tersenyum remeh. "Wanita itu menyukaiku."


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Leon tenang. "Apa selama ini hubunganmu dengannya semacam friend with benefit?"


Ajaibnya, Adam malah terkekeh alih-alih merasa tersinggung dengan ucapan pria itu. "Rupanya kau penasaran sekali, ya."


Leon mendengus, "Tidak. Aku hanya memikirkan perasaan Psyche selama ini."


Senyum pria itu memudar. Matanya melirik punggung Psyche yang terlihat lebih kecil dari jarak sejauh ini. Helaian rambut panjangnya tampak beterbangan karena tertiup angin. Dan sesekali kepalanya mendongak, menatap langit yang terlihat teduh. Ia baru sadar, kalau sebentar lagi menginjak musim gugur.


Leon menyadari itu. Menyadari bagaimana cara Adam menatap Psyche. Dalam kedua manik hitam yang selalu terlihat dingin itu ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Entah membuat dirinya lega, atau malah membuatnya menjadi lebih takut. Takut karena perangai dua orang itu bisa menjadi bumerang bagi keduanya. Takut kalau suatu saat alasan mereka kembali bersama adalah alasan yang akan membuat mereka saling menghancurkan.


Tapi bolehkah ia sedikit berharap setelah ia melihat tatapan Adam pada Psyche hari ini? Bolehkah ia memberi sedikit celah pada pria itu untuk dapat sekali lagi memperbaiki kesalahannya?


Meski ia tahu Adam meminta maaf padanya bukan inisiatif dirinya sendiri, melainkan desakan Psyche yang merasa bersalah padanya.


Tapi justru itulah yang membuat dirinya berpikir ulang, bagaimana jika benar bahwa perasaan Adam telah berubah?


Bukankah Adam tidak pernah mengalah pada wanita?


.


.


.


"Kau kembali padanya."


Psyche mendapati Miranda keesokan harinya saat ia keluar dari toilet. Hanya untuk membahas hubungan asmaranya dengan Adam, wanita itu sampai nekat mencegatnya meski ia tahu betapa sibuknya sang sekretaris.


"Jadi malam itu, dia pulang ke tempatmu."


"Maksudmu—malam di mana kau menyatakan perasaanmu yang sesungguhnya?"


Keadaan toilet yang sepi menguntungkan mereka berdua.


Miranda berdiri di depan cermin dan menatapnya lewat pantulan benda itu. Ia tampak berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Kau bersikap seolah kau benar-benar telah mengenalnya," Psyche terkekeh, "Pikirmu Adam tidak tahu bahwa selama ini kau tertarik padanya?" Kepalanya menggeleng, "Ah, tidak, tidak. Kau mencintainya. Sayangnya cinta itu hanya sepihak."


"Kau—" Miranda berbalik. Telunjuk yang siap mengarah pada Psyche nyatanya malah kembali terkepal di sisi tubuh. Ia sekarang menyesali perkataannya pada Adam. Ia pikir pria itu akan terus berada di sisinya, meski tanpa ikatan sekalipun.


Psyche menatapnya dengan datar. Tak ada tatapan remeh atau ejekan di sana. Namun perkataannya tentang cinta sepihak itu sangat memukul ulu hatinya. Terasa nyeri apalagi setelah tahu bahwa keduanya bersatu kembali.


"Sebenarnya hubungan kalian berdua sangat membuatku muak." Psyche maju selangkah. Tanpa gentar menatap kedua manik seniornya. "Kau bisa membuat Adam nyaman, tapi kau tidak pernah dicintainya. Dan aku selalu membuat Adam marah, tapi aku justru orang yang dipilih olehnya."


"Kau tahu Adam sejak awal hanya bermain-main denganmu. Adam selalu seperti itu. Dia hanya penasaran pada apa yang terlihat baru dan asing." Miranda tahu ia sudah kalah. Tapi perkataannya adalah kebenaran.


Pun Psyche tak menampik, "Tak masalah, akan kubuat dia jera untuk bermain-main."


Wanita itu kemudian berlalu, meninggalkan Miranda yang menahan desakan air mata di pelupuk matanya.


Ini lebih sakit daripada kegagalan rumah tangganya dulu. Setidaknya, ia sempat memiliki sebelum hancur. Tapi yang terjadi sekarang ia sudah hancur bahkan sebelum semuanya dimulai.