HEART

HEART
Halusinasi?



Happy reading.


Pukul delapan pagi Ilham dan Devan sudah berada di sebuah restoran tempat perjanjian mereka bertemu dengan salah satu kliennya. Ilham melirik jam yang melingkar ditangannya. Sudah pukul 8 lebih 9 menit, namun orang yang ditunggu-tunggu belum menampakkan hidungnya juga.


“Sudah di hubungi?” tanya Ilham kepada Devan.


“Sudah Pak, kata beliau masih berada di perjalanan.” Jawab Devan seraya menganggukkan kepalanya.


Tangan Ilham mengetuk-ngetuk meja. Sungguh, Ilham paling tidak suka jika kliennya sangat tidak professional, terlambat.


“Sudah menunggu lama Pak Ilham?” tanya seorang lelaki paruh baya yang baru saja datang dari arah pintu.


Ilham dan Devan sontak berdiri sebagai tanda hormat. Ilham menampilkan senyum simpul.


“Ah, tidak Pak.” ujar Ilham singkat.


Lelaki paruh baya itu pun duduk diikuti Ilham dan Devan yang duduk juga. Di belakang lelaki paruh baya itu terdapat dua orang bodyguard yang selalu setia menemaninya kemana pun ia pergi.


“Boleh saya mulai Pak?” tanya Ilham.


“Silahkan Pak Ilham.” sahut lelaki paruh baya itu tersenyum tipis.


Mereka pun mulai membicarakan tentang kerja sama antara perusahaan Nughara dengan perusahaan lelaki paruh baya itu mengenai bisnis industri. Lelaki paruh baya itu mengamati pembicaraan Ilham dan Devan dengan baik.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Pembicaraan mengenai kerja sama sudah selesai. Mereka memutuskan hari esok akan memulai bisnis tersebut. Ilham dan Devan berdiri dari duduknya tatkala melihat lelaki paruh baya itu berdiri.


“Besok kita akan turun langsung melihat bisnis yang akan kita jalani.” Ujar lelaki paruh baya tersebut.


“Baik, Pak.” balas Ilham dan Devan bersamaan.


“Terima kasih atas kerja samanya. Saya minta maaf karena datang sedikit terlambat tadi.” tutur lelaki paruh baya itu.


“Tidak apa-apa Pak, saya memaklumi.” Ilham menampilkan senyuman terbaiknya.


“Kalau begitu, saya permisi untuk ke perusahaan lagi Pak Ilham, Pak Devan.”


“Silahkan Pak. Hati-hati dijalan.” Lelaki paruh baya itu pun berjalan keluar restoran diikuti oleh kedua bodyguardnya.


“Setelah ini, ada jadwal apa?” tanya Ilham.


“Hari ini jadwalnya hanya pertemuan dengan beliau. Mulai besok sampai beberapa hari ke depan kita akan turun tangan menangani bisnis kerja sama ini.” Jawab Devan yang diangguki kepala oleh Ilham.


“Baiklah, kalau begitu. Kamu duluan saja kalau mau pulang ke hotel. Saya mau mencari udara segar dulu.” Ucap Ilham.


Ilham berdiri menuju keluar restoran. Lelaki itu menaiki taxi menuju sebuah pantai. Saat ini, Ilham membutuhkan pemandangan yang indah serta udara yang segar.


Setelah membayar ongkos taxi, Ilham keluar dari taxi itu. Lelaki dewasa itu menyusuri bibir pantai tanpa mengenakan alas kaki. Ilham menatap sekitarnya. Senyum miris terpampang diwajahnya. Bagaimana tidak? Kebanyakan pengunjung datang bersama pasangan atau bahkan keluarga mereka.


Lelaki itu duduk di atas pasir. Pantai adalah tempat favorit istrinya, Aira. Ilham masih ingat jelas jika wanita tercintanya sangat menyukai tempat ini. Ilham berjanji akan segera menemui Aira dan membawanya pulang kembali ke dalam pelukannya.


Ilham menatap ke segala arah. Tatapan matanya berhenti saat melihat sekumpulan nelayan yang sedang mencari ikan. Matanya menajam saat melihat seorang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Aira. Ilham berdiri dari duduknya untuk menghampiri wanita itu.


Bugh!


Sebuah bola voli mengenai kepalanya. Ilham melihat segerombolan anak muda yang meghampirinya untuk mengambil bola voli tersebut.


“Sorry, Sir.” ucap salah satu dari mereka.


Ilham hanya menganggukkan kepalanya singkat. Lelaki itu kembali menoleh pada sekumpulan nelayan. Akan tetapi, Ilham tidak menemukan wanita tadi yang mirip dengan Aira.


“Ah, sial.” umpat Ilham pada dirinya sendiri.


“Aku sangat merindukan istriku, sampai-sampai mengira jika orang lain tadi ialah Aira.” gumam Ilham


“Halusinasi, sialan.” umpatnya lagi.


Ilham menendang pasir dengan kesal. Terlebih saat lelaki itu melihat keuwuan yang saat ini ada di sekitarnya. Banyak pula wanita-wanita yang berpakaian kurang bahan. Ilham menggerang frustasi. Mata sucinya sudah ternodai. Hanya tubuh molek Aira yang ingin Ilham lihat. Bukan tubuh para wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Mi, Mamiii!” teriak Reno memecahkan keheningan rumah berlantai tiga itu.


“Ada apa sih? Teriak-teriak mulu deh perasaan.” ujar Mami Dita yang datang dari arah tangga.


“Sini Mi,” ucap Reno tidak santai.


“Apasih Reno?” tanya Mami Dita menatap putra semata wayangnya penuh keheranan.


“Aira Mi, kita harus cepat-cepat jemput dia.” tutur Reno.


“Jangan lusa Mi, kita harus secepatnya jemput Aira. Kalau bisa sekarang saja.” ucap Reno yang mendapat geplakan tangan dari Mami Dita.


“Sembarangan kalau ngomong. Terus nanti yang handle perusahaan siapa hah?” omel Mami Dita.


Reno menggaruk tengkuk lehernya yang terasa tak gatal.


“Memangnya kenapa sih Ren? Ngebet banget pengen jemput Aira.” ucap Mami Dita.


“Ini loh Mi, Reno dapat kabar dari salah satu anak buah Reno. Katanya kemarin Ilham datang ke Bali untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan lain.” ujar reno.


“Terus? Masalahnya apa?” tanya Mami Dita yang masih belum mengerti arah pembicaraan Reno.


“Ish Mami, kan Aira ada di Bali. Nanti kalau mereka ketemu gimana coba?” Reno mendesah frustasi.


Mami Dita membulatkan matanya. Benar juga apa yang dikatakan Reno, ucapnya dalam hati. Wanita itu tidak akan membiarkan Ilham menemui keponakannya begitu saja.


“Nanti besok, kita berangkat jemput Aira.” telak Mami Dita.


“Kalau bisa sekarang, kenapa harus besok?” Reno menaikkan salah satu alisnya.


“Anak Mami pinter banget sih,” seru Mami Dita.


“Ya sudah, kamu urus dulu buat tiket pesawatnya dan booking hotelnya.” suruh Mami Dita.


“Okay, gampang itu mah, serahkan semuanya sama Reno.” Reno menepuk dadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah lebih dari dua minggu Mama Lina dan Papa Satria menginap di rumah Ilham. Saat ini keduanya tengah bermain bersama cucu laki-lakinya. Irzan berlari tertatih-tatih menuju Papa Satria-Opa nya. Anak batita itu menyerahkan satu lembar foto kepada Papa Satria.


Papa Satria menerima foto yang diberikan Irzan padanya. Keningnya berkerut saat melihat foto itu. Saat melihat tanggal dalam foto tersebut, senyum haru terpatri di wajahnya.


“Ma,” panggil Papa Satria kepada Mama Lina yang masih asik dengan siaran televisi.


“Sini dulu deh Ma, Papa punya kabar bahagia.” ujar Papa Satria.


Wanita paruh baya itu pun menghampiri suaminya.


“Kabar bahagia apa sih Pa?” tanyanya penasaran.


“Coba Mama lihat.” suruh Papa Satria seraya menyerahkan lembar foto yang diberikan Irzan tadi.


Mama Lina menerima uluran foto tersebut. Kedua matanya membola.


“I-ini punya s-siapa?” tanya Mama Lina terbata-bata.


“Mama lihat tanggal yang ada di foto itu.” ujar Papa Satria.


Saat Mama Lina melirik tanggal tersebut, ingatannya berkelana pada saat kejadian Arabella yang dibawa ke rumah sakit.


“Ini ‘kan waktu kita membawa Bella ke rumah sakit.” tutur Mama Lina dengan kening mengeryit.


“Coba Mama ingat lagi, selain kita dan Ilham yang mengantar Arabella ke rumah sakit. Ada siapa lagi?” pancing Papa Satria melontarkan pertanyaan itu.


“Aira.” Jawab Mama Lina.


Wanita paruh baya itu membuka mulutnya tak percaya. Matanya menatap sang suami seolah memintanya untuk memastikan. Papa Satria menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“A-aira hamil?” pekik Mama Lina tertahan.


“Ya ampun! Mama sudah sangat berdosa kepadanya. Mama sudah hina wanita sebaik dia Pa.” lirih Mama Lina yang kini mengusap foto itu.


Foto yang diberikan Irzan kepada Papa Satria ialah foto usg milik Aira. Irzan tak sengaja menemukannya di dekat tempat mainannya.


Mama Lina membawa tubuh cucunya ke dalam pangkuannya.


“Irzan mau punya adek,” gumam Mama Lina.


“Ilham ….. sudah tahu Pa?” tanya Mama Lina.


“Ilham sepertinya tidak tahu.” Jawab suaminya itu.


“Kita beri tahu dia saat sudah pulang saja. Anak itu pasti sangat senang mendengar kabar ini.” timpal Papa Satria.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like+komen+vote+hadiah+share cerita ini ke teman/sahabat/keluarga kalian 🤗