
Para petugas polisi segera bergerak untuk memburu Via yang membunuh Yana, salah seorang petugas polisi mendobrak paksa pintu rumah kontrakan Via, polisi berhasil mencium jejak persembunyian Via selama ini, untuk itu mereka mendatangi rumah Via agar bisa segera menangkap Via yang telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Yana.
Setelah pintu terbuka karena di dobrak paksa, Manto beserta lima petugas kepolisian segera masuk ke dalam rumah, mereka segera bergerak memencar menyusuri seluruh ruangan untuk mencari Via.
Di dalam rumah itu tidak mereka temukan Via yang lebih dulu sudah pergi melarikan diri, Manto masuk ke dalam kamar, dia melihat ada bekas genangan darah yang mengering di atas tempat tidur, ada juga pisau tergeletak di lantai kamar, Manto tahu, di kamar itulah Via menjalankan aksinya membunuh Yana, dengan keadaan terikat dan terbaring di atas tempat tidur, wajah Manto terlihat kesal karena dia tidak menemukan Via di dalam rumahnya.
Seorang petugas polisi masuk ke kamar menemui Manto, memberitahu bahwa tidak ditemukan Via, Manto menghela nafasnya, saat dia berbalik hendak jalan keluar kamar, pandangan matanya tertuju pada secarik kertas di atas meja, diatas secarik kertas itu ada pisau berdiri tegak menancap, merasa aneh melihat itu Manto melangkah mendekat, dia mencabut pisau yang menancap di secarik kertas, lalu mengambilnya dan membaca tulisan yang ada pada secarik kertas.
"Ada hadiah special buat Gunawan, datanglah ke rumah Lurah Mulyono." Begitu membaca isi pesan di secarik kertas itu Manto geram, dia marah, dia tahu bahwa itu semua perbuatan Via. Dengan cepat dia melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar dengan menahan amarahnya karena merasa sedang dipermainkan Via.
Dibandara Adi Sucipto, Via terlihat berjalan dengan santainya, memakai kaca mata hitam dan topi, wajahnya tersenyum bahagia, air mukanya terlihat cerah. Via sedang menerima telepon saat itu.
"Ya Ma, aku pulang hari ini, sekarang udah di bandara, sampe ketemu dirumah ya Ma." Ujar Via dengan wajah ceria menutup teleponnya lalu memasukkan kembali ponselnya di dalam tas kecil yang menggantung dilengan kirinya.
Dirumah paman Mulyono, Manto beserta petugas kepolisian masuk ke dalam rumah, memeriksa kondisi dalam rumah, Manto yang tak bisa menghubungi paman Mulyono sangat khawatir telah terjadi sesuatu hal pada paman Mulyono.
Saat Manto membuka pintu kamar paman Mulyono, dia terhenyak kaget melihat sosok paman Mulyono tergantung di dalam kamar seperti orang yang bunuh diri.
Melihat itu para petugas kepolisian cepat masuk ke dalam kamar, hendak menurunkan paman Mulyono yang tergantung, darah kering berceceran dilantai kamar. Manto mencegah petugas polisi, agar tidak menurunkan paman Mulyono yang tergantung, dia menyuruh agar segera memanggil petugas paramedis dan tim forensik untuk menyelidiki penyebab kematian paman Mulyono.
Manto melihat ada secarik kertas yang tergantung di dinding kamar, menancap pada paku yang ada di dinding kamar, segera Manto membaca tulisan di kertas yang menancap pada paku dinding.
"Ini hadiah buat Gunawan, maaf, aku harus membunuhnya, karena aku gak mau ada orang yang dekat dengan Yana tetap hidup.Mulyono pantas mati karena dia juga ingin papahku mati. Aku ingin Gunawan bermain denganku, permainan yang kunamakan : siapa yang memburu dan siapa yang diburu sebenarnya ?" Begitu isi pesan di kertas tersebut yang sengaja ditulis dan di tinggalkan Via agar polisi mengetahui semua perbuatannya. Berbeda dengan cara yang dilakukan Randi, yang tidak meninggalkan jejak dan bukti, Via dengan secara terang terangan menunjukkan dan memberitahukan serta meninggalkan jejak bukti dengan sengaja, agar polisi mengetahui perbuatan yang sudah dilakukannya. Dengan cara itu, Via bermaksud ingin bermain main dengan para polisi, sebuah permainan berbahaya, "Siapa yang memburu dan siapa yang diburu sebenarnya ?"
Manto berfikir, dia tahu Gunawan sudah tidak lagi bekerja sebagai polisi, tapi dengan aksi Via yang sengaja menantang Gunawan untuk mengejarnya itu, Manto harus memberitahu pada Gunawan tentang semuanya, agar Gunawan tahu, dan dirinya bisa waspada, karena Manto berfikir pastilah Via akan mengejar Gunawan suatu hari kelak.
Dirumah Sita, terlihat Sita wajahnya tegang dan cemas setelah menerima telepon dari anaknya, Via, Jumirah, ibunya Sita mendekatinya.
"Telepon dari siapa ?" Tanya Jumirah pada Sita.
"Via, katanya dia pulang hari ini." Ujar Sita resah.
"Kok firasatku gak enak ya Ma, kayak ada yang terjadi, aku merasa aneh dengan sikap Via..." Ujar Sita, Jumirah menatapnya heran karena melihat Sita seperti orang yang cemas.
"Memang kamu merasakan apa ?" Tanya Jumirah pada Sita.
"Aku khawatir, Via berbuat hal buruk selama ini Ma." Ujar Sita.
"Saat aku tau dia ada di klaten, menemui Yana, mantan istri Randi, jantungku berdegup cepat, aku takut, aku takut Via sengaja kesana karena merencanakan sesuatu hal." ujar Sita menatap lekat wajah Jumirah.
"Maksudmu ?" Tanya Jumirah tidak mengerti yang dikatakan Sita.
"Aku takut Via melakukan hal buruk, aku takut Via melakukan hal yang sama dengan papahnya, mengingat masa lalu dia yang dulu sempat terganggu kejiwaannya dan sering menyelakai dirinya sendiri juga teman teman sekolahnya." Ujar Sita, wajahnya terlihat semakin cemas, dia tak ingin Via melakukan perbuatan buruk, dia tak ingin penyakit gangguan kejiwaan anaknya kambuh, setelah sekian tahun sudah menghilang.
"Kenapa kamu berfikiran begitu pada Via ?" Ujar Jumirah lembut pada Sita, Sita menatap lekat wajah ibunya, dia menarik nafas berat.
"Jujur Ma, aku sempat beberapa kali memergoki Via seperti orang lain, di kamarnya, dia sering duduk diam, tatapan matanya kosong, dia menusuk nusukkan pulpen yang dipegangnya ke boneka yang ada dipangkuannya. Kadang juga aku melihat Via dengan wajah marah mencoret coret wajah bonekanya." Ujar Sita memberi penjelasan pada Jumirah yang kaget mendengarnya.
"Selama ini Via sangat suka dengan boneka cantik yang besar miliknya, gak mau bonekanya kotor sedikitpun, tapi kadang, aku melihatnya mencoret coret wajah bonekanya dan menusuk nusuk perut serta dada boneka dengan pulpen, seolah olah boneka itu seseorang." Ujar Sita.
"Lihat Ma, bekas tusukan tusukan pulpen di perut dan dada boneka ini, mukanya penuh coretan, sayatan pisau, aku jadi ngeri Ma." Ujar Sita terlihat takut, Jumirah yang melihat kondisi boneka yang sudah rusak dan jelek, tidak cantik lagi seperti sebelumnya hanya bisa diam. Jumirah tak tahu harus berkata apa saat itu.
"Saat aku melihat sikap aneh Via, aku gak berani masuk ke kamar, aku membiarkannya berbuat sesuka hatinya pada bonekanya, aku takut saat itu Ma." Ujar Sita menjelaskan. Dia lalu menatap wajah Jumirah dengan rasa khawatir.
"Aku takut Via membunuh Yana, aku tau Via, dia begitu sayang sama papahnya, pasti dia juga marah dan dendam ke Yana karena udah nyakiti papahnya." Ujar Sita dengan wajah takutnya, dia menangis, Jumirah memeluk tubuh Sita.
"Kita tunggu Via pulang ya, nanti kita liat perubahan sikapnya." Ujar Jumirah memeluk Sita, menepuk bahunya lembut, memberi ketenangan pada Sita yang terlihat menangis sedih, dia tak ingin, sisi gelap Via kembali muncul, karena sebelumnya dia sudah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri gejala gejalanya sudah mulai muncul pada diri Via sejak dia mengetahui permasalahan rumah tangga papahnya.
Via duduk santai dan tenang di dalam pesawat, tak ada penumpang lain yang duduk disampingnya, dia duduk sendirian di bangku pesawat, Sesaat kemudian, dia membuka kaca matanya, tersenyum senang, dia menatap keluar jendela pesawat yang saat itu sedang terbang di angkasa, pandangan mata Via terlihat berbinar melihat awan awan bergumpal melayang dan pesawat terbang menembus awan awan itu, Via pulang dengan membawa sejuta kebahagiaan dalam dirinya karena sudah selesai menjalankan semua rencana yang selama ini dipersiapkan dan dibuatnya tanpa ada yang mengetahuinya.
Di dalam pesawat, Via mengambil lembaran kertas dari dalam tas kecilnya, dia membuka lembaran kertas itu, lembaran kertas berisi tulisan tangan Randi, dia temukan dan diambilnya dari dalam kamar papahnya, saat dulu Via datang kerumah papahnya setelah dia mengetahui adanya pembunuhan di komplek perumahan tempat tinggal Randi, papahnya. Saat Via berada dalam kamar Randi, selain dia menemukan secarik kertas yang bertuliskan tentang kerinduan papahnya dan meminta agar Via menemuinya dulu seperti yang sudah diceritakan di bab awal cerita ini, Via juga menemukan lembaran kertas yang berisi tentang coretan kata hati papahnya.
Dengan sikap tenang, Via membaca tulisan yang ada pada lembaran kertas yang dipegangnya.
" Dalam hidupku, Aku hanya berusaha untuk selalu bisa tertawa di luar diriku. Senyumku hanya sedalam kulit. Jika orang bisa melihat ke dalam, orang itu tentu tau, bahwa aku benar-benar menangis. Aku sadar, Jika aku tidak mencintai, tentu aku tidak akan kehilangan apapun. Aku hanyalah seorang pria yang tidak memiliki ketakutan, karena itu aku tidak memiliki cinta dari seorang wanita.
Aku bukanlah seseorang yang dicintai. Aku hanyalah sebuah kondisi pikiran yang berbeda dari kebanyakan orang diluar sana.
Aku menahan semua rasa sakit yang ku derita karena racun yang kau berikan padaku, Aku tak bisa menerima alasan yang membuatmu begitu benci dan melihatku seperti sampah busuk, karena itu, aku akan memberi kamu sebuah alasan, mengapa aku membunuhmu.Terkadang saat melihatmu berselingkuh, aku berfikir, bahwa aku harus memainkan peran sebagai orang bodoh untuk membodohi kamu yang bodoh, yang berpikir bahwa kamu berhasil membodohiku dengan menutupi kebenaran tentang perselingkuhanmu dengan menyalahkan semua karena salahku. Saat itu, aku mencoba bergantung pada kenyataan, namun di sisi lain, aku menolak fakta yang ada dalam situasi yang buruk saat menerima talakmu. Saat itu juga aku menyadari, bahwa monster di dalam diriku, terbangun dari tidur panjangnya, merasa terusik dengan segala perlakuanmu.
Bagiku, perpisahan kita adalah kesedihan yang begitu manis, tersayang. Namun, kamu tidak dapat mengatakan aku tidak menunjukkan waktu yang baik kepada kamu. Nikmatilah diri kamu di luar sana, bersamanya, Jangan lupa jika hubunganmu menjadi terlalu sulit dengannya, akan selalu ada tempat untuk kamu di sini. di hatiku.
Sejak berpisah denganmu, aku sudah tidak bisa lagi merasa kehilangan, karena aku sudah tidak memiliki apa-apa. Saat itu juga, tidak ada yang bisa melukai aku lagi.
Jika kamu mati ditanganku nanti, maka kematian itu pantas kau terima.
Aku tidak punya tujuan hidup, Satu-satunya cara yang masuk akal bagiku untuk hidup di dunia ini adalah hidup tanpa aturan.
Sepanjang hidupku, aku tidak tahu apakah aku benar-benar ada. Tapi, aku tahu dan orang-orang mulai memperhatikanku dengan sejuta ekspresi wajah yang memandangku rendah.
Saat nanti aku memilih untuk mengakhiri hidup karena penyakit yang ku derita ini, Aku akan tersenyum dalam kematian, dengan begitu, aku hanya tidak ingin merasa begitu buruk lagi.
Aku harap, kematianku nantinya lebih masuk akal dari pada hidupku sendiri. ( Randi )" Via melipat lembaran kertas setelah mengakhiri bacaannya, memasukkan lembaran kertas kedalam tasnya, wajah Via terlihat dingin, sikapnya tetap dalam keadaan tenang, seakan tak ada yang terjadi, dia pun tidak merasakan apapun juga saat membaca tulisan papahnya di lembaran lembaran kertas yang ada ditangannya.
"Selamat Istirahat panjang pah, tenanglah disana. Via akan menyusulmu kelak." Ujar Via pada dirinya sendiri, tatapan matanya memandang awan awan yang bergerak indah, dari jendela pesawat dia melihat begitu jelas gumpalan gumpalan awan dan hembusan angin yang sangat kencang. Via memejamkan matanya, Sesaat kemudian, dia membuka matanya kembali, menatap tajam ke luar jendela pesawat.
Begitulah perjalanan hidup Randi selama ini di ceritakan, keperihan, penderitaan serta segala hinaan yang didapat Randi membuat keinginan membunuh kembali muncul dalam dirinya.
Akhir kisah yang begitu tragis dialami oleh sepasang suami istri yang awalnya berbahagia, hanya karena kehadiran pria lain yang menggunakan cara tak lazim, mengambil Yana, Istrinya, maka muncullah prahara, Pengkhianatan yang mendatangkan sakit hati, membuat dendam yang begitu besar pada diri, tindakan yang dilakukan Randi menjadikan mimpi buruk yang panjang bagi kehidupan Yana, akibat mengkhianati kepercayaan dan cintanya, Yana harus menerima suatu kejadian yang merenggut nyawanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=////\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih untuk para pembaca yang sudah setia selama ini tetap terus mengikuti dan membaca cerita yang saya tulis ini, semoga dapat menikmati ceritanya.
Author berterima kasih atas waktu dan perhatiannya membaca cerita ini, sampai bertemu dengan cerita cerita Author terbaru lainnya nanti.
Salam sukses selalu buat kita bersama, tetap semangat.