
Mobil berhenti di halaman sekolah SMA yang cukup luas dan terlihat bagus itu, Dewi turun dari dalam mobil, melangkah berjalan memasuki pelataran koridor sekolah menuju ruang kelasnya.
Mulai saat itu, Dewi selalu diantar dan di jaga oleh personil polisi setiap hari , berangkat dan pulang sekolah. Paman Mulyono tidak ingin melihat Yana, keponakannya setiap hari cemas akan keselamatan Dewi anaknya yang harus sekolah, untuk itu, paman Mulyono meminta bantuan kepolisian agar bersedia memberikan perlindungan pada Dewi.
Setiap hari, berangkat sekolah dan pulang sekolah Dewi selalu di jemput personil polisi, Randi yang selama ini mengawasi Dewi di sekolah membaca dan mempelajari situasi itu, dia menandai setiap jam berapa Dewi tiba di sekolahnya dan jam berapa dia pulang sekolah serta di jemput oleh polisi yang menjaganya, Randi mengabadikan dengan camera dan mencatat dibuku semua tentang Dewi , mulai dari datang dan masuk ke sekolahnya sampai bubaran sekolah dan dimana dia biasa menunggu mobil yang menjemputnya.
Randi tidak ingin bertindak gegabah menculik Dewi, karena Dewi selalu di jaga polisi. Satu satunya cara, Randi harus membuat suatu rencana agar bisa segera menculik Dewi dari sekolahnya tanpa diketahui siapapun.
Randi berfikir, sudah cukup waktu beberapa minggu ini dia mengikuti serta mengawasi Dewi di sekolahannya, dia sudah mempelajari kebiasaan Dewi di sekolahnya, tinggal menyusun rencana dan menunggu waktu yang tepat guna menjalankan aksinya.
Yana saat itu berada di butiknya, dia sudah mulai beraktifitas kembali dan mengurus serta menjalankan usaha butiknya, Gunawan yang menjaganya selalu ada didekat Yana, sementara dua orang polisi berjaga di depan butik, bertugas sebagai keamanan di butik itu.
Perlindungan yang diberikan polisi kepada Yana cukup ketat, tidak ada ruang sedikitpun buat Randi untuk meringkus Yana di butik itu, karena itu, Randi mengurungkan niatnya untuk menculik Yana di butiknya dan membuat rencana ulang untuk dapat menjebak dan menculik Yana.
Beberapa minggu ini keadaan aman dan terkendali, tidak ada teror dan ancaman dari Randi, sehingga membuat Yana bisa bernafas lega dan sedikit tenang menjalankan usaha bisnisnya.
Di lain hari, terlihat suasana sekolahan Dewi yang riuh dan ramai, saat itu bubaran sekolah, para pelajar yang ada di sekolah itu melangkah keluar dari dalam kelas masing masing, wajah wajah mereka terlihat ceria, menghampiri jemputan mereka yang menunggu di halaman parkir di dalam sekolahan itu.
Diantara pelajar pelajar itu, terlihat Dewi melangkah keluar dari dalam sekolah, dia berjalan santai menuju halaman parkir sekolah, dia tidak melihat mobil yang biasa menjemputnya di halaman itu, Dewi berdiri di dekat pohon besar yang ada di halaman parkir sekolahnya, matanya mencari cari pak Handoko, supir mobil yang biasa menjemputnya ditempat biasa dia menunggu.
Dewi duduk disebuah batu, dia menunggu, suasana disekolahan mulai sepi dan hening, sudah tak ada anak anak lain di sekolahan itu, para pelajar beserta guru guru yang mengajar sudah pulang semua, hanya tinggal Dewi yang duduk menunggu , karena merasa lama menunggu ditempat itu, Dewi merasa bosan, dia pun memutuskan untuk pergi, Dewi melangkahkan kakinya keluar pintu gerbang sekolahan.
Di depan pintu gerbang sekolahannya, di pinggir jalan raya, Dewi berdiri menunggu, menatap ke jalanan, berharap, mobil yang menjemputnya segera datang. Beberapa menit berdiri ditempatnya, mobil tak juga datang, Dewi melangkah ke trotoar jalan depan sekolahnya, berdiri diatas trotoar jalanan, berpindah tempat, berteduh dari panas terik matahari.
Beberapa saat, mobil yang melaju di kejauhan, melihat Dewi yang berada di atas trotoar berdiri menunggu, mobil itu sudah berada ditempatnya dari tadi, menunggu saat Dewi keluar dari sekolahnya, orang yang didalam mobil tahu, bahwa Dewi pasti bosan sendiri di dalam sekolah dan memilih menunggu diluar sekolah, karena itu, setelah dia benar dan melihat Dewi ada diluar sekolahan, mobil itu pun segera mendekatinya, lalu membunyikan klakson, membuka kaca jendela depan mobil, Dewi melihat kearah mobil itu.
"Mbak Dewi, naik." Ujar Supir mobil itu, Dewi ragu masuk kedalam mobil itu, karena dia melihat supir berbeda, yang datang bukan pak Handoko, supir yang biasa menjemputnya, Dewi berdiri diam, orang yang ada di dalam mobil akhirnya turun dari dalam mobil, dia menghampiri Dewi.
"Saya Arifin, dari kepolisian, pak Handoko lagi di bengkel, tadi dia telpon saya, minta digantikan buat jemput mbak Dewi di sekolah." Ujar orang yang bernama Arifin itu, Dewi memperhatikan wajah Arifin yang tersenyum padanya, terlihat wajahnya biasa saja, tidak menyeramkan atau berbahaya, akhirnya Dewi pun mau masuk kedalam mobil, Arifin segera membuka pintu belakang mobil, Dewi masuk dan duduk di jok belakang mobil, kemudian Arifin segera bergegas masuk kedalam mobilnya, didalam mobil, Dewi kaget karena ada seorang pria yang duduk di jok belakang, disampingnya.
"Dia Purnomo mbak, sama seperti saya, ditugasi ngawal mbak Dewi." Ujar Arifin menjelaskan pada Dewi yang kaget dan heran, Arifin paham situasi itu, tidak ingin buat Dewi curiga, dia cepat menjelaskan siapa orang yang duduk disampingnya itu.
Akhirnya, mobil pun berjalan meninggalkan sekolahan Dewi, mobil mengambil arah putar balik, menuju dijalan ke arah rumah paman Mulyono.
Saat di perempatan jalan, mobil berbelok ke kanan jalan, Dewi yang melihat itu heran.
"Loh, kok gak belok kiri pak ? Rumahnya kan belok ke kiri tadi harusnya." Ujar Dewi pada Arifin yang menyupir mobil.
"Kita ambil jalan pintas mbak." Ujar Arifin terus menjalankan mobilnya.
Dewi terdiam, dia berfikir, ada rasa curiga dihatinya, Dewi tahu dan hafal jalanan menuju kerumah kakeknya, tidak ada jalan pintas yang bisa ke rumah kakek Mulyono jika mengambil arah jalan yang sekarang dia lalui, perlahan tangannya hendak membuka pintu mobil, tapi terkunci otomatis, Dewi tak bisa membuka pintu itu. Wajah Dewi berubah takut.
"Siapa kalian ? hentikan mobil ini!!" Ujar Dewi mulai panik berusaha membuka pintu.
"Cepat berhenti, buka pintu ini, atau aku teriak !!" Ujar Dewi kalap, dia meronta ronta, melihat itu, Purnomo yang duduk disampingnya dengan cepat menutup mulut Dewi dengan sapu tangan yang sudah disiapkannya, Dewi di bius, beberapa saat kemudian, Dewi terkulai lemas, dia pingsan. Purnomo menyenderkan tubuh Dewi di jok, Arifin melirik dari kaca spion depan mobil, melihat Dewi yang pingsan dia lantas mempercepat laju mobilnya dijalanan itu. Mereka ternyata orang orang bayaran yang ditugasi menyamar menjadi polisi menjemput Dewi. Purnomo menelpon seseorang.
"Target udah diamankan." Ujar Purnomo memberitahukan pada seseorang.
Di jalanan lain, Seseorang yang bernama Maman, di hubungi purnomo menutup teleponnya, dia memasukkan ponselnya kedalam kantong celana, lalu berdiri menatap wajah Handoko yang berdiri dihadapannya. Terlihat tangan Maman terluka.
"Jadi, bagaimana pak ? Mau saya antar ke rumah sakit untuk petanggung jawaban saya ?" Tanya Handoko, supir Dewi yang biasa menjemput dan mengantar kesekolah.
Mengapa Handoko saat ini berada dijalanan itu bersama Maman yang terluka tangannya? Apa yang terjadi ?
Kita kembali ke beberapa jam sebelumnya, mengapa Handoko terlambat menjemput Dewi di sekolahnya.
Saat itu, mobil Handoko melintas dijalanan dengan kecepatan sedang, dia mau menjemput Dewi, melihat jam, sebentar lagi bubaran sekolahan, dia merasa hampir terlambat menjemput Dewi jika berjalan lambat, Handoko pun menambah kecepatan mobilnya agar tiba tepat waktu dan tidak terlambat, namun, dari arah lain, sebuah motor melaju, Handoko tidak menyangka motor itu tiba tiba muncul dari arah persimpangan jalan, Mobil Handoko menabrak sipengendara Motor hingga jatuh ke aspal, si pengendara motor yang tak lain adalah Maman terguling jatuh di aspal, lengan tangannya terluka, berdarah, Handoko menghentikan mobilnya, lalu cepat turun dari mobilnya, dia sebagai petugas polisi tidak bisa membiarkan hal itu begitu saja, dengan cepat Handoko berlari ke arah Maman yang berusaha bangun dari aspal jalan memegang luka ditangannya.
"Maaf pak, bapak terluka?" Tanya Handoko pada Maman yang meringis kesakitan. Handoko membantu Maman berdiri dan memapahnya untuk ke pinggir jalan.
"Maaf pak, saya buru buru, gak liat motor bapak tadi." Ujar Handoko merasa bersalah.
Maman meringis menahan sakitnya, melihat luka di tangannya, Handoko khawatir Maman ada luka dalam tubuhnya.
"Bapak kalo naik mobil itu liat liat dong, jangan main tancap gas aja, kalo saya mati bapak mau tanggung jawab gimana ?!" Ujar Maman kesal pada Handoko. Maman melepaskan helm dan memegang helm itu di tangannya.
"Iya pak, saya minta maaf, saya akan bertanggung jawab." Ujar Handoko.
"Tanggung jawab dalam hal apa ? ganti rugi ? berapa bapak sanggup bayar ganti rugi motor saya yang rusak itu, termasuk saya yang terluka ? Bapak mau biayai perawatan dan pengobatan saya sampai sembuh ?" Ujar Maman berusaha mengintimidasi Handoko yang merasa bersalah.
"Iya pak, kita bisa bicarakan baik baik masalah ini." Ujar Handoko.
"Mari saya bawa bapak kerumah sakit untuk diobati." Ujar Handoko, Maman melepaskan pegangan tangan Handoko yang memapahnya, Maman duduk di trotoar pinggir jalan, memegang luka di tangannya, dia meringis kesakitan memegang dadanya yang terasa nyeri, Handoko mendekatinya.
"Saya akan menanggung biaya pengobatan bapak, ayo ikut saya kerumah sakit pak." Ujar Handoko mengajak Maman agar mau dibawanya kerumah sakit.
"Tunggu, saya istirahat sebentar, sakit nih." Ujar Maman meringis. Handoko menghela nafasnya, mau gak mau dia mengikuti perkataan Maman, Handoko melihat jam ditangannya, dia tahu, Dewi pasti menunggu lama di sekolah karena dia terlambat menjemputnya, untuk meninggalkan Maman dengan keadaan terluka karena kesalahannya tidak mungkin, karena dia seorang polisi, tidak mungkin dia lari dari tanggung jawab, itu sama saja memberikan contoh buruk pada masyarakat, karena itu, Handoko memutuskan untuk bertanggung jawab dan mau tidak mau menunggu Maman agar mau dibawanya ke rumah sakit.
" Gimana , udah beres ?" Tanya Maman pada si penelpon.
Kembali ke waktu saat ini juga.
Begitulah, setelah Maman mendapatkan kabar dari Purnomo, Maman langsung berdiri dan menatap Handoko yang bertanya pada Maman apakah sekarang sudah mau dibawa ke rumah sakit.
"Gak perlu kerumah sakit, saya maafkan bapak kali ini, lain kali hati hati bawa mobil pak." Ujar Maman melangkah mengambil motornya yang ada di aspal jalan, Maman naik ke atas motornya, memakai helmnya kembali, menyalakan mesin motor, Handoko heran dan mendekatinya.
"Yakin, bapak gak mau saya bawa kerumah sakit ?" Tanya Handoko.
"Bapak yakin gak perpanjang masalah ini ?" Tanya Handoko ingin memastikan pada Maman.
"Iya, bapak tenang aja, saya gak apa apa ." Ujar Maman lalu menjalankan motornya, pergi meninggalkan Handoko yang bengong melihat hal itu. Dia lantas teringat Dewi, dengan cepat Handoko melangkah bergegas masuk kedalam mobilnya, lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil , pergi dari tempat itu agar segera tiba di sekolah Dewi.
Mobil Handoko masuk ke halaman sekolah SMA Dewi, sekolah itu sudah sepi, yang terlihat hanya petugas kebersihan saja yang sedang menyapu halaman sekolah, Handoko turun dari mobilnya, melangķah keluar, tidak ada Dewi di situ, wajah Handoko cemas, merasa bersalah karena terlambat menjemput karena kecelakaan tadi. Handoko mendekati petugas kebersihan.
"Maaf pak, apa bapak melihat anak gadis yang nunggu di sini ?" Tanya Handoko.
"Gak liat pak, semua anak anak udah pulang sekolah dari tadi." Ujar petugas kebersihan pada Handoko yang semakin cemas.
"Terima kasih pak." Ujar Handoko meninggalkan petugas kebersihan yang terus menyapu halaman sekolah.
Handoko berlari keluar sekolah, dia melihat sekitar jalanan depan sekolah, tidak ada Dewi di situ, Handoko mulai resah, rasa bersalah semakin ada dalam dirinya, Handoko lalu mengambil teleponnya, menghubungi seseorang.
"Kun, mbak Dewi udah dirumah sekarang ?" Tanya Handoko.
"Belum, kenapa ?" Ujar Kuncoro dari seberang teleponnya menjawab pertanyaan Handoko.
"Duh gawat, kemana dia ya ? Mbak Dewi gak ada disekolahnya, aku telat jemput karena tadi habis kecelakaan mobilku." Ujar Handoko menjelaskan, wajahnya bingung. Apa yang harus dikatakannya pada Yana nanti jika Dewi tidak juga pulang kerumah?
"Mungkin dia pulang kerumah temannya,kan biasa anak SMA, tunggu aja, kamu balik aja sekarang." Ujar Kuncoro dari seberang telepon.
"Ok kalo gitu." Ujar Handoko, lalu dia cepat berlari menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil lalu pergi meninggalkan sekolahan Dewi.
Hari sudah mulai senja, namun Dewi belum juga kembali kerumahnya, Kuncoro dan Handoko yang ada dirumah itu diam berfikir, mereka menunggu kedatangan Yana , Gunawan dan paman Mulyono dari pulang kerja.
"Sampe udah mau malam mbak Dewi gak pulang juga, bu Yana pasti syock dan panik kalo tau, gimana ini Kun ?" Ujar Handoko pada Kuncoro, dia bingung harus bagaimana nanti menjawab pertanyaan Yana.
Suara mobil terdengar masuk kedalam garasi rumah, tak berapa lama, Yana dan Gunawan masuk kedalam rumah, melihat Kuncoro dan Handoko berdiri seperti sudah menunggunya, Yana heran menatap mereka berdua.
"Ada apa pak ?" Tanya Yana heran.
"Maaf bu, mbak Dewi sampai saat ini belum pulang kerumah." Ujar Kuncoro, Yana kaget mendengar itu.
"Apa ?! Kenapa bisa gitu ? Memangnya pak Handoko gak jemput dia ?" Tanya Yana cemas.
"Maaf bu, ini kesalahan saya, saya telat jemput kesekolah karena saya kecelakaan, nabrak motor yang tiba tiba muncul didepan mobil saya, jadi, mau gak mau saya nolongin dan bertanggung jawab dulu pada korban kecelakaan." Ujar Handoko memberi penjelasan.
"Saya tau, mbak Dewi pasti lama nunggu, setelah beres masalah, saya langsung kesekolahan, tapi mbak Dewi sudah gak ada." Ujar Handoko.
"Kemana Dewi ? Gimana saya bisa nanya dia, kalo dia ke sekolah gak bawa hape karena dilarang dari sekolahannya ?!" Ujar Yana mulai panik karena anaknya belum pulang juga.
Paman Mulyono yang baru pulang kerja heran melihat Yana yang kebingungan dan wajahnya cemas karena panik, paman Mulyono mendekati Yana.
"Ada apa Yan ?" Tanya paman Mulyono lembut, Yana cepat menatap wajah pamannya.
"Dewi paman, dia belum pulang sekolah sampe sekarang!" Ujar Yana dengan rasa cemas.
"Aku khawatir kenapa napa dengannya !" Ujar Yana panik.
"Mungkin dia main kerumah temannya, kalo diantar kan malu mungkin." Ujar paman Mulyono.
"Dewi gak pernah begitu paman, kalo dia mau ke rumah temannya, dia pasti izin dan pulang dulu kerumah, biasanya juga teman temannya yang datang kerumah, bukan Dewi yang datangi." Ujar Yana.
"Udah dicari dan nanya ke teman teman sekelasnya pak ?" Tanya paman Mulyono pada Handoko.
"Belum pak, karena saya kira mbak Dewi pulang sendiri kerumah." Ujar Handoko.
Gunawan terdiam, dia berfikir, menatap wajah Handoko dan Kuncoro.
"Kita tunggu sampai malam ini atau besok, kalo mbak Dewinya belum juga pulang dan ada kabar, kalian berdua datangi sekolah dan tanya teman teman kelasnya." Ujar Gunawan pada Kuncoro dan Handoko yang mengangguk.
"Siap !" Ujar Handoko dan Kuncoro bersamaan pada Gunawan. Paman Mulyono berusaha menenangkan Yana yang terduduk lemas di sofa dan menangis sedih.